
Dadaku bukan lagi terasa sesak karena ingin menangis. Bukan lagi nyeri karena perasaan sedih. Tapi, ini nyata. Aku susah bernafas. Begitu berat sekali rasanya.
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa keadaan dengan begitu banyak kebetulan harus kebetulan semacam ini yang hadir. Almeera yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di tempat yang jauh denganku.
Saat ingin menangis. Menangis sekeraa mungkin, bahkan meraung-raung. Melepaskan semua tekanan dan rasa sakit ini. Namun, tubuhku terasa kaku. Aku bahkan tidak bisa menangis, meskipun aku sangat ingin melakukan semua itu.
"Maah," Suara Almeera, putriku begitu dekat. Akhirnya, setelah kehampaan yang ada. Aku merasakan bola mataku bergerak dan kelopak matanya membuka secara perlahan. Dahi ku berkerut, kelopak mataku kembali tertutup karena cahaya yang menyilaukan.
"Mamaaah?" Aku merasakan punggung tanganku di cium oleh putriku. "Mamah sudah bangun ya?"
"Sayang" ucapku lemah. Setelah kelopak mataku terbuka sempurna.
"Mamah habis pingsan." Mendengar perkataan Almeera, aku mengingat kembali apa yang terakhir terjadi.
"Berapa lama?"
"Dua jam, Mah."
"Adek mana?"
Begitu mendengar pertanyaan ku, Almeera tersenyum penuh pengertian. "Adek lagi sama Om Narendra, di depan Mah. Almeera panggil dulu ya." sahut putriku.
Aku menghembuskan nafas lelah. Mencoba menggerakkan badanku dan mengubah posisi dari duduk ke bersandar. Sedangkan Almeera, putriku itu masih duduk di tempatnya. Menepuk tanganku yang menggenggam tangan Almeera yang lainnya.
"Sebentar, sayang. Mama mau bicara penting." ujar ku pelan. Almeera tersenyum, senyum yang seakan memberikan penjelasan bahwa dia siap menjadi pendengar yang baik.
"Soal Aksara yang mau ke Jepang, kamu sudah tahu?" tanyaku hati hati.
Almeera mengangguk. Anggukan kepala yang membuatku merasa di tonjok. Jangan bilang kalau lagi lagi yang tidak tahu apa apa di sini hanya aku saja. Setidak penting itukah aku bagi mereka?
"Mah, Almeera baru tahu pas pulang terus mamah pingsan." bisik Almeera. "Almeera juga kaget sekali, Om Syailendra baru kasih tahu Almeera."
Aku menghembuskan nafas lega.
"Sudah tanya sama Adek juga?"
"Sudah juga, Ma. Katanya Adek, adek mau ikut Papa."
"Cuma itu saja?" tanyaku penasaran.
"Adek bilang, kasihan papa sendirian." Ucap Almeera, putriku itu dengan suara yang bergetar. "Maafin Almeera yang egois ini, Mah. Harusnya Al kasih tahu mama dulu sebelum kasih tahu om Narendra soal keputusan Al. Al menyesal sekali, Ma. Ternyata Al justru mengecewakan dan menyakiti hati Mama." Almeera berhenti berbicara. Ada bulir air mata yang keluar dari mata indah putriku ini.
Aku menjulurkan tanganku, meraih wajah Almeera dan mengusap pelan air matanya. Jangan menangis, air mata kamu terlalu berharga untuk ibumu ini, Nak. Cukup, beri ibu sebuah senyum yang merekah di bibirmu, menghiasi wajah polos mu itu.
"Sini, Mama pengen peluk putri kesayangan Mama ini." pintaku, Almeera mendekat dan aku memeluknya erat. Membiarkan putriku menyembunyikan wajahnya di pelukanku, menumpahkan semua isak tangisnya.
"Jujur, Mama sempat kecewa begitu Putri kesayangan Mama ini lebih memilih Om Narendra nya sebagai tempat curhat dan tempat diskusi hal sepenting ini. Kemudian, Papanya Aksara bilang sama Mama, kalau putri Mama ini, sudah mulai beranjak remaja. Biasanya para remaja itu suka curhat gitu kan sama teman teman nya yang lain. Mulai asyik dengan teman temannya di bandingkan dengan orangtuanya. Jadi, Mama berusaha memahami, kalau putri Mama ini memiliki alasan khusus dan tidak berniat menomorduakan Mama." Aku terus menjelaskan dengan detail, sambil memeluk tubuh Almeera.
Perasaan baru kemarin, aku memeluk tubuh Almeera yang terjatuh karena berlatih berjalan. Sekarang sudah sebesar ini.
"Dan saat Almeera bercerita dengan Om Narendra, beliau janji kok Ma, mau bilang sama Mama pelan pelan."
Degh.
__ADS_1
Nyerinya hatiku.
Secara tidak langsung, sebetulnya Narendra sudah melakukan sesuatu yang seharusnya di lakukan oleh Ayahnya Almeera. Narendra, memberikan Almeera merasakan adanya figur sosok Ayah yang bisa di jadikan tempat mengadu dan juga merajuk.
"Maafkan Almeera, Mama." bisik putriku lagi.
"Maafkan Mama, Al. Mama kurang perhatian ya sama Almeera?" tanyaku pelan.
Aku merasakan gelengan kepala, "Tentu saja tidak. Mama sangat perhatian dan Mama adalah Mama terbaik di muka bumi ini. Bahkan semenjak Ada Aksara, Al jadi merasa sangat bahagia."
"Ah, sayangnya kita ini siapa, Nak. Sedekat apapun kita dengan mereka, Kita tetap lah orang asing bagi mereka." Batin ku kacau.
Aku, besar di lingkungan yang tidak memiliki kehangatan cinta. Selalu tidak pernah di anggap penting kehadirannya, tidak ada satupun yang membuatku merasa menjadi prioritas.
Aku berjuang tetap waras dan baik baik saja. Aku berjuang bertahan dengan begitu banyak luka yang menganga. Bukankah luka yang tak terlihat itu justru tidak ada obatnya?
Fokus ku saat itu hanya terus berjalan, menikmati setiap detik, meskipun itu penuh dengan luka. Aku mengabaikan setiap sayatan yang berasal dari kekerasan verbal.
"Almeera sayang banget sama Mamah, makasih ya Mah, selama ini sudah menjadi Mama dan juga Papa buat Al."
"Dengar sayang, kita sudah berjuang bersama. Kita sama sama hebat kok. Terima kasih, sudah menjadi putri Mama yang begitu luar biasa." ucapku. "Sana gabung sama Adek dulu, besok adek sudah berangkat ke Jepang kan?"
"Terus Mama?"
"Mama nanti juga gabung kok, Mama mau mandi dulu ya."
Putriku mengangguk. Kemudian membalas senyumanku.
****
Memang tadi saat mandi, aku memutuskan untuk berendam. Lumayan lama. Sepertinya tidak hanya sepuluh menit. Entah berapa menit lamanya.
"Nteeee!" teriak Aksara begitu menyadari keberadaan ku. Bocah tampan itu meletakkan lego yang sedang di mainkan nya dengan sembarangan. Dan berlari, menghambur ke arahku.
"Kata Om Narendra sama Katanya Papa juga, Tante kecapean jadi tidurnya lama banget." adu bocah imut itu dengan mimik wajah yang khawatir. Membuat hatiku mencelos seperti keluar dari tempatnya.
Aku sampai harus berkedip berkali-kali demi mengusir embun yang mulai muncul di kelopak mata. Bahkan rela menahan nafas lebih lama supaya desiran tidak nyaman ini menghilang.
Ku bingkai wajah mungil Aksara dengan kedua tanganku. Pandangannya yang begitu sendu, membuat hatiku meleleh. Jantungku bahkan berdetak tidak karuan. Aku menyayangi bocah kecil ini, aku mencintai nya seperti aku mencintai Almeera.
Bagaimana seorang ibu di jauhkan dari putranya sendiri?
Bagaimana seorang ibu menerima kenyataan seperti ini?
Egois kah jika aku menginginkan bocah mungil ini tetap di sisiku. Bersamaku hingga dewasa nanti. Duniaku beberapa saat ini terasa begitu sangat indah dan sempurna, bersama putriku dan juga putraku.
"Sayang--" aku berhenti. Saat tenggorokan ku terasa begitu tercekat. "Ya, Tante?" jawab Aksara pelan. Menatap bingung ke arahku.
"Sayang besok mau ke Jepang sama Papa ya?" tanyaku. Akhirnya kalimat yang ingin aku ucapkan bisa lolos dengan sempurna. Keluar dari mulutku tanpa harus membuat air mataku jatuh dan membuat suasana jadi berantakan.
Tentu saja, Aksara ... Bocah laki-laki ini akan panik jika melihatku menangis. Makanya, sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak menangis. Tetap tersenyum meskipun terasa begitu kaku.
Ujung mataku melirik ke arah Almeera yang kini duduk di sebelah Narendra. Mereka berdua kenapa harus terlihat sangat mirip. Bahkan Ekspresi wajah mereka saat ini juga terlihat sama.
"Iya, Nte. Kasihan Papa, katanya Papa. Papa kesepian, papa sedih kalau harus sendirian terus. Papa pengen di temani Aksara, Ntee." curhat Aksara dengan suara sedih. "Tapi Aksara juga pengen di sini, sama tante juga sama kakak."
__ADS_1
Ciut nyaliku. Bahkan aku sudah tidak lagi punya nyali untuk berdiri gagah berani tanpa meneteskan air mata. Ku peluk tubuh ini, erat. Ku cium setiap senti kepalanya. Aku menangis. Ya, akhirnya aku menangis. Terlebih saat pelukan dari lengan mungil Aksara terasa lebih kuat.
Terlebih saat bocah kecil itu menangis karena bingung. Aku tahu, dia tidak hanya sedih. Tapi juga bingung. Putraku ini, bukan seperti anak kecil pada umumnya yang akan bertingkah seusianya. Rewel ketika tidak menginginkan sesuatu yang di tunjukkan padanya, tidak. Aksara maupun Almeera tidak seperti itu. Karakter mereka yang terlalu lebih dewasa di bandingkan usianya membuatku semakin merasa hancur.
"Aksara pengen jadi anak yang berbakti, Nte!" bisik Aksara sambil sesenggukan. Aku berusaha menenangkan Aksara, menepuk lembut kepala belakangnya.
Kalau sudah seperti ini, aku bisa apa? Jika wajahku semakin terlihat keberatan dengan keputusan spontanitas Syailendra yang membawa Putranya ikut serta ke Jepang, tentu saja itu akan membuat Aksara merasa hancur. Bocah mungil itu terlalu peka dengan keadaan yang ada.
"Kesayangan Tante" ucapku pelan. Merengkuh tubuh mungil Aksara ke dalam gendongan ku. Kalau sudah nangis seperti ini, biasanya Aksara cepat mengantuk dan tidur.
"Syailendra di mana?" tanyaku ke arah Narendra pelan.
"Lagi beres beres buat besok." jawab Narendra tenang. "Aku heran aja, dia nggak biasa gitu."
Aku hanya diam. Tersenyum ke arah Almeera yang sepertinya masih sesenggukan. Meskipun kini wajahnya sudah tersenyum.
"Ambilin Mama minum, Dek. Tolong." pinta Narendra. Tanpa bertanya dulu kepadaku.
Almeera menganggukkan dan beranjak ke arah dapur.
"Sama makan juga, Dek. Mama belum makan." ujar Narendra sambil menoleh ke arahku. "Iya kan? Makan ya?"
"Repot, Ren. Aksara mulai merem ini." bisik ku pelan.
"Nanti bisa di suapin aku atau adek. Laper kan perutnya?"
Aku mengangguk. "Iya."
"Soal Almeera, aku mau minta maaf kalau tiba-tiba kamu tahu dengan cara yang kurang tepat. Awalnya aku mau bilang ke kamu pelan pelan." sahut pria itu setelah menghembuskan nafas kasar. Wajahnya begitu menyesal. "Aku nggak nyangka, kamu ternyata se terkejut dan sesalah paham itu."
"Aku juga minta maaf, Ren."
Narendra menggeleng. "Kamu nggak salah sama sekali. Aku yang kurang peka dan kurang bergerak cepat." Narendra berhenti berbicara dan kembali menoleh ke arahku. "Maaf, aku tahu kamu merasa terabaikan. Obsesi ku sebagai Papanya Almeera ternyata tidak sengaja menyakiti Mamanya."
Wajah sedih, penuh penyesalan Narendra membuatku luluh. "Kita bahas nanti ya." ujarku pelan. Kali ini, bukan saat yang tepat untuk membahas apapun. Entah bagaimana, hatiku sudah merelakan keputusan Almeera. Akun juga tidak lagi mempermasalahkan persoalan yang memicu drama itu.
Aku percaya, aku percaya kepada Narendra jika pria itu memang akan menjelaskan padaku secara perlahan. Selama ini bukankah sudah seperti itu. Narendra menjadi nomor pertama yang akan di hubungi Almeera. Layaknya super hero bagi putriku itu.
Hubungan mereka juga terlalu erat. Bahkan sampai aku sendiri heran, bagaimana bisa mereka lebih terlihat seperti ayah dan anak perempuan di bandingkan dua orang asing. Jika bukan karena aku yang selama ini terlalu paranoid, ketakutan kalau kalau nanti putriku akan kecewa. Patah hati karena sosok ayah yang selama ini ia puja puja, berubah menjadi berbeda.Yang aku takutkan seperti itu.
"Narendra?" panggil ku pelan.
"Hmm?"
"Seberapa besar, kamu menginginkan Almeera menjadi putrimu?" tanyaku tiba-tiba. Pertanyaan yang bukan hanya kali ini saja aku tanyakan.
"Seluruh hidupku. Aku akan memilih Almeera di bandingkan jiwaku sendiri."
Aku menatap Narendra nanar. Pria itu begitu teguh dengan pendiriannya.
"Jika kamu harus memilih antara Almeera atau Shofia? Kamu milih mana?" tanyaku memastikan.
"Almeera," jawab Narendra cepat.
"Jika aku dan--" Suaraku terpotong oleh langkah kaki Almeera yang terdengar semakin dekat. Aku memberikan tatapan Narendra supaya berhenti membahas ini. Narendra mengangguk.
__ADS_1