
Sudah satu Minggu sejak kejadian mengerikan yang menimpa Lyana. Sekarang Lyana menjadi sosok wanita yang dingin tanpa ada senyuman di bibir indahnya. Hari hari Lyana menjadi begitu murung dan seperti kehilangan semangatnya untuk tetap menjalani kehidupan ini.
Putri yang melihat sikap perubahan Lyana menjadi tidak tega, karena Lyana juga sering murung dan lebih suka berdiam diri didalam kamar. Kehilangan kesuciannya membuat Lyana benar benar sangat terpuruk, apalagi saat ini Lyana sudah mengalami begitu banyak masalah dalam hidupnya dan kini dia harus kembali menerima kenyataan bahwa kehidupannya akan terjadi seperti ini.
''Ana, ayo kita berangkat bekerja.'' ajak Putri pada Lyana yang saat ini tengah menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
''Baiklah.'' jawab Lyana singkat.
Sedangkan di tempat lain, saat ini Max tengah memberikan sebuah dokumen untuk ditandatangani oleh Justin.
''Max, kapan kau akan menemui wanita itu??'' tanya Justin pada Max yang saat ini berada di ruangannya.
''Setelah saya menyelesaikan pekerjaan ini, Tuan.'' jawab Max sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Selama beberapa hari ini Justin merasa tidak tenang. Dia tidak bisa tidur, bahkan hatinya sangat gelisah karena merasa bersalah pada wanita yang telah dia nodai.
Max merasa heran dengan pertanyaan Justin yang mengatakan tentang wanita itu. Karena sejak kejadian waktu Justi memarahinya karena membahas Lyana, Max tidak pernah lagi berani untuk membahas masalah kejadian yang menimpa Tuannya.
''Aku akan ikut dengan mu.'' ucap Justin dan membuat Max terkejut sambil menatap kearah Justin dengan tatapan tidak percaya.
Mendapat tatapan dari Max, Justin berdehem sangat keras agar Max tidak menatapnya seperti itu.
Max langsung tersadar, dan dia kembali menundukkan kepalanya.
''Maafkan saya Tuan. Tapi bukanka Tuan, tidak ingin mencampuri urusan ini. Biarakan saya saja yang mengurusi semuanya Tuan.'' Max berkata dengan sangat sopan pada Justin.
''Tidak, aku ingin tau seperti apa wanita itu??. Dan aku juga ingin langsung meminta maaf padanya.'' ucap Justin dengan perasaan bersalah pada wanita yang telah dia perkosa.
__ADS_1
Max kembali mengedipkan matanya berkali kali, dia berusaha mengumpulkan nyawanya yang terbang entah kemana. Apalagi saat Max mendengar bahwa Justin mengatakan bahwa dia ingin meminta maaf pada wanita itu.
Ini baru pertama kalinya, Justin merasa bersalah pada seseorang dan ini juga pertama kalinya Max mendengar bahwa Justin ingin meminta maaf.
''Baiklah Tuan, setelah Tuan selesai dengan pekerjaannya kita akan berangkat untuk menemui wanita itu.'' kata Max berbicara pada Justin yang saat ini terlihat raut wajahnya yang tampak sedih.
Max keluar dari ruangan Justin dan Max tampak bingung dengan sikap Tuanya yang berubah.
''Apa yang terjadi dengan Tuan Justin, dia mau meminta maaf pada wanita itu??. Ini benar benar aneh, selama bertahun-tahun aku bekerja dengan Tuan Justin, satu kali pun aku tidak pernah mendengar Tuan Justin meminta maaf pada orang lain. Meskipun orang itu telah Tuan sakiti, dan sekarang Tuan mau meminta maaf pada wanita itu. Ini benar benar keajaiban yang terjadi pada Tuan Justin.'' kata Max berkata dengan dirinya sendiri tentang perubahan sikap Justin.
Sedangkan saat ini Justin, menatap keluar jendela tempat dia bekerja. Ada perasaan bersalah yang selalu mengikuti Justin, bahkan selama beberapa hari ini Justin tidak bisa memejamkan matanya karena selalu teringat ucapan yang dikatakan oleh Max yang mengatakan bahwa wanita itu mengalami trauma berat.
''Aku harus meminta maaf padanya, aku benar benar telah bersalah dengan memperkosa dia. Aku harap dia akan menerima maafku dan aku akan memberikan apapun yang dia mau asalkan dia mau memaafkan aku.'' kata Justin dengan perasaan bersalah yang begitu mendalam. Ini adalah kali pertamanya Justin membuka kesalahan yang begitu sangat fatal.
__ADS_1