Mahligai Cinta Yang Tergoyah

Mahligai Cinta Yang Tergoyah
Nasehat Dari Sahabat.


__ADS_3

๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’


... HAPPY READING......


.


.


"Papa tenang saja, aku dan Fara sudah putus. Sesuai. keinginan. Papa" ucap pemuda itu sengaja menekan kata-katanya.


"Syukurlah jika kalian sudah putus! Mungkin Papa terkesan egois tidak memikirkan perasaanmu, tapi ketahuilah, Nak. Semua ini demi kebaikanmu sendiri," jelas Tuan Marcel agar Adriel bisa memikirkan perkataannya.


"Tolong jangan pernah menyalahkan Thalita, dalam perjodohan kalian. Dia sama sepertimu tidak tahu apa-apa," berhenti sejenak, setelah itu melihat anaknya hanya diam saja beliau kembali bicara lagi.


"Alasan Papa memilih Lita menjadi istrimu, karena dia gadis yang sangat baik. Kita sudah mengenalnya sedari kecil." Tuan Marcel terus menjelaskan pada Adriel, supaya bisa merubah sikapnya yang selalu kasar pada Thalita. Sekuat apapun gadis itu, dia tetaplah seorang wanita yang memiliki kelemahan.


"Meskipun kalian seperti kucing dan anjing, tapi Papa tahu, dibalik kebencian yang kalian tunjukkan. Ada tersimpan rasa saling suka. Namun, karena kalian sama-sama memiliki sifat keras kepala, semua perasaan itu tertutupi," ucapannya menatap sang putra dengan rasa tidak menentu.


"Kembalilah ke kamar, bersihkan dirimu. Sebentar lagi kita akan makan malam," titah beliau lagi menyugikkan sedikit senyum tuanya.


Namun, dibalik senyumannya tersebut. Sedang menahan luka. Tuan Marcel sudah tahu kalau tadi siang Adriel menemui kekasihnya. Beliau juga mendengar apa saja yang diributkan oleh Adriel dan Thalita di depan rumahnya.


Hanya saja beliau berpura-pura buta dan tuli. Egois, ya dia egois! Untuk menjaga Adriel dari kelicikan Fara. Tuan Marcel mengorbankan perasaan Thalita dan menjadikan gadis itu sebagai senjata untuk menentang hubungan putranya.


"Iya, kalau begitu Adriel mandi dulu," jawab pemuda tersebut. Lalu setelah itu diapun pergi kearah kamarnya di lantai dua.


"Huh!" Tuan Marcel menghela nafas berat. "Maafkan Papa harus melakukan ini pada kalian, Nak. Papa tahu Thalita sudah lama mencintaimu. Maka dari itu Papa memilih dia. Apalagi Papa sangat menyayangi Lita seperti pada adikmu sendiri," Gumamnya sambil menatap punggung Adriel yang berjalan semakin menjauh.


Sedangkan Adriel sambil menaiki tangga. Pikirannya lagi mengigat ucapan papanya yang mengatakan kalau dia dan Thalita saling memiliki perasaan satu sama lain.


Sementara dia tidak merasa menyukai sahabatnya itu. Akan tetapi kalau Thalita memang sudah mengatakan sendiri kalau mencintai dirinya.


"Agh! Aku tidak memiliki perasaan apapun pada si Burung Merak. Ini semua pasti ulahnya yang mempengaruhi papa. Benar-benar keterlaluan kamu Thalita," bukannya menyadari kesalahannya.


Bukannya menyadari perasaannya tapi ternyata Adriel malah semakin memiliki prasangka buruk terhadap sahabatnya.


"Thalita... kamu benar-benar keterlaluan," mengepal erat buku-buku tangannya sambil menatap foto Thalita yang sedang tertawa.


Dalam foto tersebut ada dia, Thalita dan Riko juga. Foto itu diambil saat mereka bertiga lulus kelas sembilan. Sebelum mereka sekolah berpisah tempat.


"Kutarik kata-kata aku yang minta maaf tadi. Kamu memang pantas ditinggal atau bahkan dibuang sekalian," rutuk Adriel seolah-olah Thalita ada dihadapannya.


Menatap foto gadis itu yang lagi tertawa. Membuat Adriel semakin jengkel, dia mengira Thalita sedang mengejeknya.


"Kita lihat saja, akan aku balas apa yang sudah kamu perbuat," dari sebuah praduga yang tidak jelas, akhirnya malam ini pemuda itu menanam bibit dendam pada gadis yang tumbuh dan besar bersama dengannya.


"Kamu tega memanfaatkan kebaikan papaku. Laki-laki yang sudah banyak membantumu. Memangnya apa salah kami? Sehingga kamu tega berbuat demikian, hanya karena kamu mencintaiku," mungkin bila Thalita ada dihadapannya, sudah Adriel habisi.


Gadis yang sudah mengusik hubungan dia dan kekasihnya. Kalau bukan karena Thalita yang menghasut orang tuanya. Maka tidak akan pernah ada perjodohan diantara mereka.


Adriel juga tidak mungkin membohongi papanya tentang hubungan dia dan Fara.


Hal itulah yang ada dibenak Adriel saat ini. Setelah puas mencecar foto Thalita. Barulah dia mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Awas kamu, Burung Merak. Aku tidak akan tinggal diam atas apa yang kamu lakukan. Benar kata Fara, jika selama ini kamu hanya berpura-pura baik," saat mandi pun Adriel masih tetap berbicara sendiri.


Pikiran buruknya tentang Thalita semakin bertambah setelah mengigat seperti apa sahabatnya itu dan Dokter Reza berpelukan.

__ADS_1


Menghakimi! Itulah yang Adriel lakukan saat ini. Dia menghakimi Thalita atas kesalahan yang tidak gadis itu perbuat.


*


*


Malam sudah berganti siang, dan siang sudah berganti Minggu. Hari bahagia yang di tunggu-tunggu oleh Tuan Marcel akan segera tiba. Padahal ini adalah hari pernikahan Adriel dan Thalita.


Sebuah pesta besar yang menggemparkan seluruh kota B. Siapa yang tidak mengenal Presdir Afkar group. Selain kaya dia juga sangat tampan, bagaikan malaikat tak bersayap.


Bukan hanya itu saja, tapi sepak terjangnya dalam dunia bisnis, yang telah berhasil mengelola perusahaan raksasa sepertiย  perusahaan Afkar milik keluarganya.


Semenjak sore itu. Sore dimana Adriel mengantar Thalita pulang. Mereka berdua tidak pernah bertemu lagi.


Aneh memang, biasanya pasangan yang akan menikah selalu ingin bertemu. Tidak seperti mereka berdua. Jangankan bertemu, bertukar kabar melalui pesan pun tidak pernah.


Jika Thalita dia memang sangat sibuk, karena harus menyelesaikan gaun pernikahan mereka dan beberapa produk terbaru yang akan diluncurkan pada akhir bulan. Di tempatnya bekerja.


Namun, tidak bagi Adriel. Pemuda itu tidak sesibuk calon istrinya. Akan tetapi memang niatnya untuk menghubungi Thalita yang tidak ada.


Semakin dekat hari pernikahan mereka. Maka rasa bencinya pada calon istrinya semakin besar. Entah apa penyebabnya, sehingga bisa seperti itu.


Riko sudah berulangkali menasehati, agar Adriel tidak membenci Thalita, karena walau bagaimanapun mereka adalah sahabat.


Akan tetapi nasehat Riko bagaikan angin lalu. Bukannya sadar, tapi Adriel mengira jika Thalita juga sudah menghasud Riko.


Ceklek!


Suara pintu kamar hotel yang dibuka oleh Riko sahabat baik Adriel dan Thalita. Dia terlihat sudah rapi dengan setelan jas rancangan dari sang sahabat.


"Sudah! Kamu bersama siapa?" Adriel kembali melemparkan pertanyaan.


"Aku datang sendiri. Kamu seperti tidak tahu saja, selain calon istrimu. Aku mana pernah pergi dengan seorang gadis." Jujur Riko yang sekarang ikut duduk disamping Adriel.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh? Jika terlihat aneh, wajar saja. Ini jas buatan si Merak." tidak sampai setengah jam lagi mereka menikah. Ternyata Adriel masih juga memanggil Thalita dengan sebutan Burung Merak.


"Tidak, bukan pakaian mu yang salah. Tapi--- aku hanya ingin menitipkan Thalita padamu," ungkap Riko sambil menahan sesak di dadanya. Bagaimana mungkin dia bisa ikhlas begitu saja gadis yang dia sukai sedari dulu menikah dengan laki-laki yang menaruh dendam pada gadis tersebut.


"Aish, memangnya dia mau kubawa kemana. Aku ada di kota ini begitu juga dirinya." jawab Adriel tidak menanggapi dengan serius permintaan sang sahabat. Padahal Riko benar-benar lagi serius.


"Adriel... Aku bicara serius. Tolong jaga Thalita, dia tidak memiliki siapa-siap lagi selain kita. Buang jauh-jauh prasangka buruk mu terhadapnya," kata Riko mengulangi perkataannya.


"Kita sudah tumbuh dan besar bersama. Jadi aku rasa, kamu pasti tahu seperti apa dirinya," menoleh kearah Adriel yang masih diam tidak menjawab ataupun menyela ucapannya.


"Aku sangat menyayangi Thalita, jadi tolong jangan sakiti dia. Bila memang kamu tidak bisa mencintainya, maka lepaskan. Agar dia bisa mencari laki-laki yang mencintai dirinya,"


"Riko, kamu sudah tertipu oleh dirinya. Thalita adalah gadis yang licik. Dulu saat kita masih bersama. Dia memang gadis yang baik, tapi sekarang Thalita sudah berubah," seru Adriel yang balik memperingati sahabatnya.


Mendengar perkataan Adriel. Pemuda itu hanya tersenyum di sudut ujung bibir atasnya. "Itu hanya perasaanmu saja, Thalita tidak pernah berubah. Sudah ayo bersiap-siap, ini sudah saatnya kita ketempat kalian mengucapkan janji suci," tidak mau berdebat dengan orang yang memiliki sifat keras kepala.


Riko langsung sa mengajak Adriel keluar dari kamar hotel tersebut. Tadi dia diminta mendampingi sahabatnya itu. Makanya Riko datang ke sana.


Sebetulnya dia ingin mendampingi Thalita. Namun, ternyata gadis itu sudah di temani oleh Dokter Reza.


"Baiklah, biar acaranya cepat selesai. Aku tidak betah berada dalam kamar seperti ini," tutur Adriel menunjukkan tidak suka pada hari yang bersejarah dalam hidupnya.


Riko cuma mengelengkan kepalanya, percuma saja berbicara dengan Adriel. Orangnya sangat susah untuk dinasehati.

__ADS_1


Berhubung waktu acaranya akan segera dimulai. Mereka berdua langsung berjalan menuju aula tempat acaranya diadakan.


Begitu keluar dari pintu kamar tempat dia menunggu. Adriel mulai merasa gugup. Saat di dalam lift, dia sampai beberapa kali menarik nafas dalam-dalam guna memenangkan degup jantungnya yang semakin berdebar-debar.


"Kenapa dengan jantungku? Mengapa aku tiba-tiba merasa gugup seperti ini?"


"Kenapa dengan jantungku, mengapa aku tiba-tiba merasa gugup seperti ini?"


Gumam Adriel didalam hatinya.


"Adriel, apa kamu baik-baik saja?" Riko yang sedari tadi melihat keanehan sang sahabat. Akhirnya bertanya juga karena merasa penasaran.


"Tentu, aku, aku baik-baik saja. Memangnya aku kenapa," mengelak karena tidak mau mengakui kalau dia merasa gugup.


"Syukurlah! Aku kira kamu sedang gugup," ucap Riko sambil berjalan keluar dari lift. Di ikuti oleh Adriel disampingnya.


Begitu melihat kedatangan mereka. Semua para tamu undangan yang hadir langsung berdiri.


Semua mata memandang penuh kekaguman. Pewaris tunggal Afkar group itu terlihat sangat tampan, di tambah dengan setelan jas yang di pakainya. Sangat pas dan cocok.


"Kita kemana dulu?" ucap Adriel setengah berbisik.


"Tentu saja ketempat kalian disatukan sebagai suami-istri, memangnya mau kemana," balas Riko ikut berbisik disela riuhnya suara para tamu.


Lalu mereka berdua pun melangkah menuju tempat disatukannya dua insan manusia. Meskipun merasa gugup. Adriel menurut saja saat Riko membawanya, ketempat mereka melakukan janji suci pernikahan.


"Tunggu sebentar Tuan Adriel. Kita menunggu calon mempelai wanitanya," ucap Laki-laki paruh baya yang akan menikahkan mereka.


Meskipun bingung, Adriel hanya mengangguk.


Selang dua menit setelahnya. Thalita datang bersama Dokter Reza yang menemaninya berjalan. Mereka berdua terlihat sangat cocok.


"Wah... pengantin wanitanya sangat cantik." puji salah satu tamu undangan.


"Iya, kamu benar. Ternyata calon istrinya, Tuan Afkar sangat cantik daripada mantan kekasihnya itu," bisik-bisik mulai terdengar.


"Jika calonnya tidak cantik. Mana mungkin dia mau," begitulah pembicaraan tamu ketika sudah melihat sosok Thalita.


Khususnya para tamu wanita, karena jika tamu laki-laki, mereka malah terpesona pada kecantikan pengantin wanitanya.


Deg!


Jantung Adriel semakin berdegup kencang. Saat Thalita semakin mendekat pada dirinya.


"Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul. Acaranya kita mulai sekarang." Si Bapak yang bertugas melihat kearah kedua mempelai dan para saksi.


"Tuan Adriel, Nona Thalita. Apakah kalian berdua sudah siap?" sebelum melakukan beberapa proses pria itu kembali bertanya, untuk menyakinkan keduanya.


"Sudah, Pak. Kami berdua sudah siap." jawab mereka dengan yakin.


Mendengar jawaban dari pasangan tersebut. Acara sakral itupun langsung di mulai. Adriel dan Thali sama-sama mengikuti proses nya dengan baik.


Dalam melakukan acara tersebut mereka seolah-olah menikah karena saling mencintai bukan karena perjodohan sepihak oleh Tuan Marcel.


"Baiklah, sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Silahkan kalian bertukar cincin sebagai pengikat hubungan kalian berdua. Namun, apabila salah satuย dari kalian ada yang melepasnya lebih dulu. Maka boleh mengajukan perceraian, di kantor pengadilan," jelas laki-laki itu lagi.


*BERSAMBUNG*...

__ADS_1


__ADS_2