Mahligai Cinta Yang Tergoyah

Mahligai Cinta Yang Tergoyah
Istri Sah VS Kekasih.


__ADS_3

💐💐💐💐💐💐


HAPPY READING...


.


.


Malam sudah berganti pagi.


Thalita sedang menyiapkan pakaian untuk Adriel berangkat ke perusahaan. Setelah perbincangan mereka tadi malam. Akhirnya Adriel setuju saja jika Thalita ingin mencoba mempertahankan pernikahan mereka.


Namun, dia tidak berjanji apa-apa selain membiarkan Thalita melakukan tugasnya sebagai seorang istri sah. Sakit! Tentu saja, yang merasakan sakit itu hanyalah Thalita sendiri. Akan tetapi sebesar apapun Badai tersebut, dia akan mencoba bertahan sampai dia lelah dan berhenti.


Sebab memang seperti itulah janji yang dia buat sendiri. Meskipun Adriel tidak menyuruh dia melakukannya.


Kleeek!


Thalita menoleh kearah pintu kamar mandi yang terbuka lebar, karena suaminya sudah selesai membersihkan tubuhnya. Rambut basah Adriel dan tampilan dari dada bidangnya yang putih mulus tanpa ada noda sedikitpun membuat gadis itu terpana.


Fiuh!


Suara Adriel meniup muka Tahlita yang menatapnya tanpa berkedip.


"Agh! A--apa yang kamu lakukan?" seru gadis itu tergagap. Dia tidak malu karena ketahuan terpana pada suaminya sendiri. Namun, Thalita takut Adriel mengejeknya.


Akan tetapi tidak lagi, pemuda itu tidak mengejeknya seperti biasanya. Adriel hanya berkata. "Mana baju ku?" karena sudah tahu jika mulai hari ini Thalita yang menyiapkan kebutuhannya makanya dia bertanya seperti itu.


"Ini, apakah mau dibawakan bekal? Biar aku siapkan?" tanya Thalita memaksakan untuk tetap tersenyum.


Dia tahu perubahan sikap Adriel tentu saja karena ingin menjaga jarak darinya. Bila tetap seperti biasa, takutnya mereka malah lebih sering bersentuhan fisik.


"Tidak masalah jika mau menyiapkan," jawab Adriel sambil memakai pakaiannya dihadapan Thalita. Entah mengapa mereka berdua tidak merasa canggung akan hal itu.

__ADS_1


Hanya Thalita saja bila berganti pakaian pergi ke ruang ganti. Mungkin karena dia ada perempuan, jadi lebih nyaman berganti baju pada tempatnya.


"Baiklah! Nanti akan aku siapkan, tadi aku sudah memasak makanan kesukaan mu," Thalita maju mendekati Adriel dan mengambil alih mengancing kameja suaminya.


Sehingga rasa mencengkam kembali mereka rasakan. Bila pasangan suami-istri lainnya, pasti akan menjadi momen yang sangat romantis. Namun, berbeda untuk mereka berdua.


Selama mengancing semua kameja tersebut. Thalita hanya bisa menarik nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan perlahan.


"Semurahan inikah aku dimata Adriel. Ibu, ayah... tolong maafkan Thalita sudah merendahkan diri sendiri hanya demi orang yang aku cintai dan untuk mempertahankan pernikahan yang sangat menyakitkan ini," gumam nya sadar diri jika apa yang dia lakukan sekarang bukan membuat Adriel jatuh cinta padanya, yang ada laki-laki itu akan memandang rendah dirinya.


Bagaimana mungkin masih mengemis cinta dari laki-laki yang sudah berterus terang sejak awal bahwa tidak mencintai nya.


"Sudah! Bawa sini dasinya, biar aku pakaikan. Begini-begini aku seorang desainer hebat, yang tahu cara memakai pakaian dan dasi dengan benar," gurau Thalita untuk mencairkan suasana.


Tidak berkata apa-apa, Adriel pun memberikan dasi yang sudah dia pegang sejak tadi. Namun, selama Thalita mengancing kameja yang ia pakai. Dia terus menatap gadis itu dengan intens.


"Sudah! Aku mau menyiapkan desain yang akan aku bawa," ucapnya melepaskan dasi Adriel dan mulai menjauhkan tubuh mereka. Akan tetapi begitu dia berbalik badan, Adriel menyerukan namanya.


"Lita,"


"Terima kasih,"


"Iya, kamu tidak perlu berterima kasih, karena itu memang tugasku," Thalita hanya tersenyum kecil dan melanjutkan niatnya untuk bersiap-siap juga. Soalnya dia bukanlah seorang nona muda ataupun Nyonya Afkar.


Adriel pun melakukan hal yang serupa. Dia berjalan kearah lemari buat memilih jam tangan mewahnya di tempat khusus koleksi jam yang harganya mencapai ratusan juta.


"Apa kamu sudah siapa?" Thalita berjalan mendekati Adriel yang sedang memakai sepatunya.


"Sudah," menjawab singkat sambil berdiri. Saat ini dia sudah rapi dengan jas yang masih ia sampir pada lengan kanannya. Dia akan memakainya nanti setelah sarapan seperti hari-hari biasanya.


"Ayo," ajak Adriel karena melihat Thalita hanya diam sambil menatap padanya.


"Huem, iya," entah sejak kapan Thalita yang biasanya banyak bicara. Sekarang cuma berkat seperlunya.

__ADS_1


Lalu mereka berjalan keluar kamar. Namun, berjalan masing-masing, tidak berpegangan tangan. Hanya saja mereka berjalan serempak. Begitu juga ketika menuruni tangga satu persatu.


Baru saja mereka tiba dilantai bawah. Faranisa yang kebetulan baru keluar dari kamarnya langsung menyambut mereka berdua. Bukan! Bukan mereka berdua! Akan tetapi dia hanya menyambut Adriel kekasihnya.


"Adriel, kamu sudah siap," sambutannya tersenyum melihat kearah Thalita.


Tidak hanya sekedar menyapa, tapi Fara langsung bergelayut manja pada lengan Adriel, yang satunya lagi. Kebetulan sekali Thalita berada di sebelah kanan pemuda itu.


"Selamat pagi... Thalita," sapa Fara yang terdengar bukan seperti ucapan selamat pagi. Namun, lebih terkesan sedang mengejek istri sah dari kekasihnya.


"Selamat pagi juga! Apakah kamu tidak pernah diajarkan sopan santun oleh orang tuamu?" jawab Thalita, sambil bertanya yang langsung membuat Faranisa menatapnya tajam.


"Apa maksudmu? Berani sekali kamu membawa nama kedua orang tuaku yang sudah meninggal," sentak Fara yang terbawa emosi. Niat hati akan membuat Thalita marah, tapi kenapa malah sebaliknya.


"Justru karena orang tuamu sudah meninggal lah makanya aku mengingatkanmu. Agar menjaga sikap, jangan menjadi perusak rumah tangga orang lain,"


"Apa katamu! Kurang ajar! Berani sekali kamu mengatai ku menjadi perusak rumah tangga orang," Fara sudah mengagat tangannya hendak menampar Thalita. Namun, tangannya sudah ditangkap oleh Talita dan langsung dihempaskan dengan kasar.


"Jika kamu bukan menjadi perusak rumah tangga orang. Kenapa pagi-pagi sudah menggoda suamiku. Dan... jangan pernah bermain kasar denganku, karena aku akan membalasnya lebih kasar daripada yang kamu lakukan," hardik Thalita dengan berani. Soalnya tadi malam dia sudah berkata pada Adriel. Bahwa dia akan menghadapi Faranisa, apabila selama wanita itu tinggal bersama mereka tidak bisa menjaga sikapnya.


"Bila kamu masih ingin tinggal di sini, lebih lama lagi. Maka jaga sikapmu. Jika kamu masih berusaha menggoda suamiku dengan alasan apapun itu. Aku tidak akan segan-segan menyuruh Papa mengusirmu," lanjut Thalita yang membuat Adriel langsung menoleh padanya.


Namun, pemuda tersebut tidak berkata apapun. Dia hanya diam saja, sambil melihat pemandangan seperti apa antara Fara dan Thalita memperebutkan dirinya.


"Adriel, kenapa kamu hanya diam saja? kamu mendengar dan melihat sendiri kan seperti apa sifat asli istrimu yang kasar," regek Fara meminta pembelaan.


"Ha... ha... Apakah kamu sudah tidak waras berkata seperti itu. Orang buta sekalipun akan tahu bahwa dirimulah yang bersalah," Thalita tertawa sumbang.


"Aku tidak bersalah, karena mempertahankan kekasihku yang telah kamu rebut. Dasar gadis murahan! Kamu sudah tahu kan jika Adriel tidak mencintaimu. tapi kenapa masih juga mengharapkan cintanya," argumen saling adu mulut pun terjadi. Untung saja Tuan Marcel tidak mendengarnya, karena beliau masih berada di dalam kamar


"CK, murahan mana antara aku dan dirimu? Aku murahan karena ingin mempertahankan suamiku," decak Thalita mengejek. "Aku memang sangat mengetahui jika Adriel tidak mencintaiku. Maka dari itu aku berusaha untuk membuatnya jatuh cinta padaku. Akan tetapi kamu malah dengan tidak tahu malunya membuat jarak diantara kami," lanjutnya tersenyum penuh kemenangan.


"Adriel, kenapa kamu diam saja dan tidak memarahinya. Apakah kamu tidak mendengar jika dia ingin mengusir dari sini," seru Fara menatap marah pada Adriel.

__ADS_1


"Fara, sudahlah! Lebih baik kamu tidak usah mencari masalah dengannya. Lagian apa yang dikatakan Thalita benar, kamu harus bisa menjaga sikap. Jangan seperti ini, takutnya nanti papaku mengetahui hubungan diantara kita," jawab Adriel meninggalkan kekasih dan istrinya yang masih berada di penghujung tangga.


...BERSAMBUNG......


__ADS_2