
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
Setelah acara pengucapan ijab Kabul atau janji suci pernikahan di ucapkan. Thalita dan Dokter Reza kini sudah sah menjadi pasangan suami-istri. Sah di agama, maupun di negara.
Senyum bahagia terus terukir di wajah mereka berdua. Termasuk juga Tuan Marcel, beliau ternyata ikut hadir membawa do'a restu dan hadia berupa bulan madu untuk sang menantu yang masih dianggap seperti putrinya sendiri.
Menurut beliau, hubungan Thalita dan Adriel saja yang berakhir. Tapi jika dengan dirinya, akan tetap memiliki hubungan baik.
"Tha, Reza, Papa pulang dulu ya, semoga keberkahan dan kebahagian selalu menyertai pernikahan kalian." do'a beliau mau sekalian berpamitan pulang.
"Iya, Papa terima kasih karena Papa sudah mau datang, jik papa ada apa-apa tolong segera kabari kami." ucap Thalita memeluk mertua lamanya.
Andaikan dulu Adriel menerimanya dan tidak pernah menyakiti Thalita. Mungkin saja saat ini mereka akan menjadi keluarga bahagia. Namun, sekarang nasi sudah menjadi bubur. Mekipun Adriel menyatakan cintanya, dan mengatakan ingin rujuk kembali. Semua itu sudah tak berguna lagi
__ADS_1
Soalnya hati Thalita sudah terlanjur sakit karena dua kali dia meminta agar diberikan kesempatan. Akan tetapi Adriel sendiri yang dengan sengaja membangun tembok pembatas diantara mereka.
"Pa, apa yang dikatakan Thalita memang benar. Bila Papa kenapa-kenapa, segera hubungi kami dan anggap Reza anak Papa juga." ucap si dokter tampan yang tahu bahwa selama ini Tuan Marcel menyayangi Thalita seperti putrinya sendiri.
"Nak Reza, apa kamu tidak marah bila Thalita---"
"Tidak! Saya tidak marah sama sekali, karena sebelum dia Saya nikahi. Thalita memang sudah menjadi putri Papa." jawaban dari Dokter Reza. Tentu saja langsung membuat Tuan Marcel memeluk pemuda itu dengan menitikaan air matanya.
Seorang laki-laki yang di tinggal mati oleh istrinya. Berusaha membesarkan Adriel sendirian dan beliau tidak mau menikah, meskipun begitu banyak wanita yang mau menjadi istrinya.
Namun, karena takut Adriel tidak mendapatkan kasih sayang dari istri barunya. Beliau rela hidup menduda. Lalu setelah putranya besar. Malah membuat kecewa.
"Sama-sama, Pa. Justru Reza yang berterima karena Papa sudah datang dan memberi restunya. Rencananya besok sore kami akan langsung berangkat ke luar negri. Jadi kapan Papa sempat, datanglah ke sana untuk melihat tempat tinggal putri Papa yang baru." kata dokter tersebut dengan tersenyum kecil.
Dokter Reza merasa kasihan dengan Tuan Marcel, karena selain Adriel, beliau tidak memiliki keluarga lainnya lagi.
"Iya, pergilah! Lebih cepat, maka akan lebih baik. Papa akan liburan ke sana secepatnya. Sekali lagi terima kasih, Nak." seru Tuan Marcel menepuk pelan pundak Dokter Reza sebelum dia benar-benar pergi dari sana dan yang tinggal hanyalah orang tua Dokter Reza yang akan kembali ke Apartemen putranya juga.
"Re, Thalita. Mama sama Papa juga akan pulang ke Apartemen. Sepertinya akan turun hujan besar dan kami malah tidak jadi pulang." ucap ibu mertua Thalita tersenyum memeluk anak dan menantunya secara bergantian.
__ADS_1
"Besok siang, kami akan datang ke sini karena kita akan berangkat ke bandara degan satu mobil saja." lanjut beliau lagi yang diiyakan oleh keduanya.
"Iya, Ma, Pa. Hati-hati di jalannya." sekarang pasangan suami-istri itu bergantian mengantar ke-dua orang tua mereka sampai ke halaman rumah. Yaitu di mana mobil mereka terparkir.
Setelah mobil tersebut hilang dari pandangan. Barulah pasangan suami-istri yang baru menikah itu masuk kedalam rumah dan mengunci pintunya.
"Huh! Akhirnya kita sudah menjadi pasangan suami-istri istri yang sah juga, Tha. Aku sangat bahagia sekali." ucap Dokter Reza kembali duduk di sofa yang ada di ruang keluarga rumah tersebut.
"Huem, aku juga sangat bahagia. Oya Re, jika kamu gerah, mandi saja duluan. Aku mau membereskan makanan ini. Takutnya bila tidak di simpan malah banyak semutnya."
"Tidak! Aku akan membantu istriku terlebih dahulu. Setelah selesai baru aku akan mandi," tolak Dokter Reza yang sudah membantu Thalita membersihkan meja dari sisa makanan bekas acaranya tadi sore.
"Re, aku bisa mengerjakannya sendiri. Ini kan pekerjaan seorang is---"
"Pekerjaan seorang istri, akan menjadi tanggung jawab suaminya. Aku menikahimu bukan untuk dijadikan pembantu, Tha" sela Dokter Reza yang membuat Thalita menatapnya lekat.
"Ya Tuhan! Aku bahagia sekali. Reza benar-benar orang yang sangat baik. Aku sangat beruntung bisa menikah dengannya. Aku berjanji akan belajar mencintaimu dengan sepenuhnya, Re." gumam Thalita degan hembusan nafas dalam-dalam.
Soalnya perasaannya terhadap Adriel. Belum seratus persen hilang, hanya saja rasa kecewanya yang besar. Membuat Thalita menolak untuk kembali rujuk.
__ADS_1
... BERSAMBUNG ... ...