
💐💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
"Huem, terima kasih jika begitu," jawab Thalita yang langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi. Soalnya sebentar lagi jam makan malam sudah tiba.
Adriel yang masih bingung apa yang hendak dia ucapkan hanya dia saja. Dia masih ingat beberapa hari lalu, ketika melihat Thalita si gadis tegas menangis karena dirinya.
Ketahuilah, malam itu setelah tiba di rumah Adriel sangat menyesal tidak mengetuk pintu rumah istrinya untuk meminta maaf dan memeluk gadis itu.
Bagaimana dia tidak merasa bersalah, polisi setempat mengirimkan rekaman cctv di lokasi tempat Talita mengalami kecelakaan. Dari pemantauan CCTV istrinya itu seperti sedang melakukan tindakan bunuh diri. Sehingga tidak melihat kendaraan yang ada di depan maupun samping mobilnya.
Akan tetapi Adriel tetaplah Adriel yang sama. Seorang suami yang plin-plan pada perasaannya sendiri dan juga tidak memiliki pendirian. Sudah jelas Faranisa adalah kekasihnya, malah dia meminta pendapat pada gadis itu. Jadi sudah pasti wanita tersebut tidak akan memberikan arahan yang benar padanya.
Setelah kurang lebih lima belas menit Thalita sudah keluar dari kamar mandi menggunakan Bathrobe dengan kepalanya dibungkus oleh handuk kecil seperti biasa.
Sehingga membuat Adriel menoleh ke arah sang istri. Dia kembali lagi menatap dengan lekat karena begitu banyak yang ingin diungkapkan pada istrinya. Namun, apapun itu tentu saja sudah tidak ada arti apa-apa lagi bagi Thalita.
Surat perceraian mereka sudah dilayangkan. Thalita telah memesan tiket ke luar negeri dan dia benar-benar sudah bulat dengan keputusan yang diambilnya.
"Mandilah! aku akan siapkan baju ganti untukmu," ucap Thalita degan tersenyum kecil. Sehingga membuat Adriel merasa bingung. Seharusnya Thalita masih marah padanya karena sudah tahu salah tapi Adriel tidak menjemput istrinya.
"Kacang panjang! Berhentilah menatapku terus, cepat mandi sana! Sebentar lagi waktunya kita makan malam. Rugi bila tidak dimakan, karena ini adalah masakan spesial dariku," ejeknya karena itulah panggilan kesayangan yang selalu ia sematkan ketika mereka masih menjadi sahabat.
Namun, setelah mereka resmi menjadi suami istri, tidak pernah mengunakan nama panggilan itu lagi. Baik Adriel ataupun Thalita sendiri.
Akan tetapi malam ini sebelum pergi Thalita ingin mengembalikan semuanya seperti semula. Dia akan menempatkan lagi dimana posisinya yang sebenarnya. Yaitu hanya gadis biasa. Bukan Nyonya Afkar yang tidak pernah diakui keberadaannya.
"Baiklah, tunggu aku mandi. Kita akan turun bersama," jawab Adriel tidak tahu sama sekali bahwa setelah ini akan ada kejutan yang akan diberikan oleh istrinya. Sebuah kebebasan karena Thalita sudah menyerah dan mengembalikan dia pada Faranisa.
Selama Adriel mandi Thalita menyiapkan pakaian ganti untuk pemuda itu. Laki-laki yang masih bisa disebutkan sebagai suami. Akan tetapi waktu untuk perpisahan mereka terus berjalan mundur.
"Huh! Semoga kamu bahagia setelah kepergian ku, Adriel." ucap Thalita menghembuskan nafas panjang. "Cinta itu tidak harus memiliki, bukan. Maka dari itu aku melepas mu." lanjutnya lagi.
Setelah itu Thalita mengeluarkan surat yang ia bawa. Dia buka lalu di tanda tangani pada namanya. Sekarang hanya tinggal menunggu Adriel. Tapi Thalita tidak akan memberikan sekarang, dia ingin menikmati makan malam terakhir bersama suaminya.
Thalita ingin melayani Adriel untuk terakhir kalinya juga. Sama hal seperti menyiapkan pakaian ganti.
Ceklek!
Suara pintu yang dibuka oleh Adriel. Dia berjalan mendekati Thalita yang sudah kembali duduk dipinggiran ranjang.
"Kamu sudah selesai! Ini pakaian mu," seru Thalita ramah. Sedikit saja tak ada riak bahwa dia menahan rasa sakitnya yang berpura-pura tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
__ADS_1
"Thalita, kamu baik-baik saja kan?" Adriel yang sudah tidak tahan melihat sikap istrinya yang seolah baik-baik saja. Akhirnya bertanya juga. Dia masih ingat betapa terpuruknya Thalita waktu itu.
Selama mereka bersahabat, sudah hampir dua puluh tahun. Baru itulah Adriel melihat Thalita menangis sambil memukul dadanya sendiri. Biasanya gadis itu begitu tegar, tidak pernah bersedih terlalu larut seperti itu.
"Huem! Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja," jawanya yang masih tetap tersenyum.
"Ayo cepatlah! Aku sudah lapar." desak gadis itu lagi untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ck, jika kamu sakit, kita bisa ke dokter malam ini juga," decak Adriel mau memakai baju yang sudah disiapkan oleh sang istri.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja, kenapa kamu bawel sekali, kacang panjang. Apakah selama aku tidak pulang. Dirimu makan teman mu sendiri," tawa Thalita. Teman yang dia maksud adalah sayuran kacang panjang sebenarnya.
Seperti itulah mereka sejak dulu, saling ejek, bertengkar dan setelahnya akan berbaikan lagi. Namun, sepertinya setelah perceraian mereka. Hal seperti itu tidak mungkin akan terjadi lagi. Meskipun berpisah secara baik-baik. Tetap saja tidak ada sejarah bersahabat dengan mantan suami yang telah banyak menorehkan luka.
"Kamu," seru Adriel ingin mengacak rambut Thalita. Namun, tangannya yang sudah terangkat dihadapan sang istri, dia turunkan lagi.
Adriel terbawa suasana, dimana mereka memiliki hubungan yang sulit dimengerti oleh orang lain.
"Tunggu sebentar aku pakai baju," kata pemuda itu memakai pakaian nya terlebih dahulu. Sedangkan Thalita langsung mengalihkan pandangannya kearah tempat lain.
Tidak lama, beberapa menit saja Adriel sudah selesai. Lalu tampa menyisir rambutnya, dia menarik lembut tangan Thalita untuk turun kelantai bawah. Gadis itu hanya diam saja dan mengikuti dari samping.
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki mereka berdua. Sehingga Tuan Marcel yang menunggu sejak tadi terperanjat melihat tangan anak dan menantunya saling bertautan.
"Selamat malam, Pa," ucap keduanya.
"Iya, selamat malam juga. Ayo duduklah!" titah beliau pada sang menantu. Thalita langsung duduk, sedangkan Adriel melihat tidak adanya Faranisa disana, pergi ke kamar gadis itu.
Sungguh hanya Thalita saja yang kuat bertahan selama kurang lebih dua bulan tinggal satu atap dengan kekasih suaminya sendiri.
"Lita, kamu b----"
"Thalita baik-baik saja, Pa. Papa tidak usah khawatir. malam ini Lita hanya ingin menghabiskan waktu sebagai istri Adriel saja," sela gadis itu karena sudah tahu apa yang ingin dikatakan oleh ayah mertuanya.
"Maafkan Papa, Nak. Kamu tidak akan merasakan patah hati apabila Papa tidak menjodohkan kalian," ungkap beliau yang selalu menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidak! Papa tidak bersalah sama sekali. Semua ini memang sudah takdir kami berdua. disatukan lalu harus berpisah lagi. Lagian kita sudah membahas hal ini. Jadi Papa jangan pernah merasa bersalah," ucap Thalita sambil tersenyum melihat kearah Adriel yang datang bersama Fara dibelakangnya.
"Selamat malam, Fara. Ayo duduklah! Aku sengaja memasak makanan kesukaan kalian," sapa Thalita bersikap hangat pada kekasih suaminya itu. Padahal belum ada satu jam yang lalu, mereka berdua sempat saling adu mulut.
"Malam juga, terima kasih karena kamu sudah repot-repot memasak semuanya," jawab Fara seakan dirinya lah nyonya di rumah itu.
Lalu dengan cekatan Thalita mengisi piring untuk Adriel dan juga buat ayah mertuanya. Sedangkan untuk Faranisa, dia biarkan wanita itu mengambil sendiri.
__ADS_1
"Ini buat mu," ucapnya memberikan piring yang diisikan dengan makanan kesukaan suaminya.
"Terima kasih, kamu ayo makan juga," ajak Adriel karena Thalita belum mengisi nasi untuk dirinya sendiri.
"Iya, ini baru saja aku mau mengambilnya." setelah melihat Thalita sudah mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Barulah Adriel ikut makan juga.
"Brengsek! Kenapa Adriel selalu memperhatikannya. Apakah ini semua adalah trik Thalita untuk merebut Adriel dariku? Tidak akan aku biarkan kamu menang dariku gadis miskin," umpat Fara di dalam hatinya jangan lupakan habis itu sampai mengepalkan buku tangannya di bawah meja.
Baru melihat Adriel menatap istrinya sendiri saja, dia sudah sakit hati. Lalu bagaimana dengan Thalita yang jelas-jelas menyaksikan ciuman panas antara Adriel dan dirinya. Menyaksikan kemesraan yang mereka lakukan. Bukan dalam waktu satu atau dua hari. Namun, dalam waktu berbulan-bulan.
Selama makan malam berlangsung, tidak ada pembicaraan apa-apa. Begitu pula Tuan Marcel, beliau malah paling dulu menghabiskan makanannya dan meninggalkan ruangan tersebut. Sebab beliau tidak tahan melihat menantunya yang sedang berpura-pura tegar.
"Thalita, Papa duluan. Jika kamu ada perlu maka panggil saja Papa," ujar beliau sebelum benar-benar pergi. Sejauh ini dia hanya berbicara dengan Thalita seja dan tidak menghiraukan putranya lagi. Meskipun anaknya sudah berulang kali mau meminta maaf.
"Sayang, aku duluan," ucap Fara karena kebetulan sekali ponselnya berbunyi. Jadi yang tinggal hanya Adriel dan Thalita saja.
"Jika kamu juga sudah selesai, kembalilah duluan ke kamar, karena ada hal yang ingin aku bicarakan," gadis itu berdiri untuk membereskan meja makan. Sebab Adriel pun sudah selesai menghabiskan makanannya.
"Baiklah! Aku duluan, Jika kamu lelah tidak usah dikerjakan. Di sini sudah ada para asisten rumah tangga, mereka semua sudah digaji oleh papa,"
"Tidak apa-apa, aku bisa mengerjakannya sendiri. Lagian ini sudah malam, mereka juga butuh waktu untuk istirahat." jawab Thalita yang dibiarkan saja oleh Adriel.
Sebab Dia juga tahu kalau istrinya itu keras kepala, sama seperti dirinya. Maka dari itulah mereka berdua sering bertengkar.
Setelah melihat jika Adriel benar-benar sudah pergi. Thalita pun menyimpan semua sisa makanan tersebut ke dalam lemari tempat khusus menyimpan makanan, yang sudah dimasak. Lalu setelah itu barulah dia mencuci peralatan yang kotor.
"Agh... akhirnya selesai juga, berat itu apabila hanya dipandang dan tidak dikerjakan." ucapnya mengelap kering kedua tangannya. Lalu setelah itu barulah dia kembali ke lantai atas untuk menyerahkan surat pengajuan cerai mereka pada sang suami.
Ceklek!
Thalita membuka pintu cukup pelan. Begitu masuk dilihatnya jika Adriel tengah bekerja melalui laptop. Saat ini suaminya itu lagi duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.
Tidak ingin membuang waktu lagi, Thalita pun langsung mengambil surat yang sudah ia tandatangani tadi.
"Adriel, ini," ucapnya menyodorkan pada suaminya. Sehingga membuat pemuda itu langsung menatap mukanya.
"Ini apa?" tanya Adriel menerimanya. Namun, belum dia buka dan baca.
"Kamu buka saja, nanti juga akan tahu sendiri," jawab gadis itu duduk di hadapan Adriel.
Deg!
Jantung Adriel tiba-tiba berdegup kencang setelah membaca tulisan pada kertas tersebut, yang menunjukkan bahwa itu adalah panggilan resmi dari kantor pengadilan agama.
"Thalita, apa maksud semua ini? serunya menutup kembali kertas tersebut dan tidak jadi untuk dibaca lagi.
"Tidak bermaksud apa-apa, Adriel. Hanya saja aku memilih untuk menyerah dan tidak melanjutkan lagi pernikahan kita,"
__ADS_1
"Tapi aku tidak mau," sentak Adriel langsung menutup kasar laptopnya yang masih menyala.
...BERSAMBUNG......