
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
"Huem, maaf Tuan, Tuan semuanya, rapat sudah mau di mulai. Jadi untuk siapapun dilarang berbicaralah sampai waktunya sesi tanya jawab tentang pendapat masing-masing," ucap Sekertaris Gio sambil melihat jam pada pergelangan tangannya.
Apalagi melihat wajah dingin sang bos membuat pria itu ingin mempercepat rapat, yang mereka adakan. Sebab dapat Sekretaris Gio tebak bahwa tuan mudanya tidak senang dengan percakapan para klien mereka.
"Baiklah! Silahkan dimulai saja, Sekretaris Gio, karena Saya juga ada pertemuan bersama keluarga istri Saya," jawab salah seorang dari mereka semua.
__ADS_1
"Iya, di sini untuk pertama kita akan membahas masalah bahan yang diproduksi oleh perusahaan Tuan Riko," kata salah seorang dari mereka.
"Tidak masalah, perusahaan kami ingin mengunakan bahan terbaik. Jadi sesuai harga, ada barang, ada uangnya," jawab Riko sebelum menyerahkan semuanya pada Thalita. Sebab sahabat sekaligus anak buahnya itulah yang lebih tahu segalanya.
"Itu sudah pasti, jadi tinggal pertimbangan diantara kita semua. Ingin memakai bahan yang mana," sambung seorang wanita yang juga ikut rapat. "Bukannya begitu, Tuan Afkar?" lanjutnya lagi meminta persetujuan pada Adriel.
"Iya," Adriel hanya menjawab singkat. "Lanjutkan saja dengan masalah lain yang jauh lebih penting. Jika masalah bahan kita bisa bicarakan nanti dan... jika Nona Thalita bersi keras ingin mengunakan bahan terbaik. Namun, bisa membuat kerugian pada perusahaan yang lainnya, maka kita bisa meminta Tuan Riko menganti dengan desainer lain, ucapan Adriel yang seakan-akan ingin memberhentikan Thalita tentu langsung menjadi sorotan.
Termasuk Riko dan istrinya sendiri. Gadis itu tidak menyangka Adriel tega berkata demikian dihadapan orang banyak. Padahal seharusnya dia menghormati permintaan Thalita, agar orang lain menyetujuinya. Jika seperti ini malah sebaliknya, justru suami Thalita sendiri yang menjatuhkan dirinya.
"Tuan Riko, tenanglah! Saya tidak berkata demikian. Tapi perusahaan harus memikirkan ulang tentang bahan yang kalian ajukan, karena bila menggunakan bahan terbaik. Maka kita harus mengeluarkan dana cukup besar sedangkan untungnya hanya sedikit," jawab Adriel masih tetap tenang. Meskipun dia tahu jika Riko sahabatnya terlihat emosi.
"Menurut Saya apa yang diusulkan Tuan Afkar ada benarnya," timpal beberapa orang yang hanya Ingin meraup keuntungan besar tanpa memikirkan kepuasaan pelanggan pada produk mereka.
__ADS_1
"Tidak! Bukan seperti itu solusinya, ini kita baru saja rapat. Jadi kita dengarkan hasil awalnya dulu. Lagian Nona Thalita pasti memiliki alasan makanya meminta bahan yang bagus," bela laki-laki yang sejak tadi memuji Thalita.
Akan tetapi dia tidak menyebutkan Nyonya Afkar lagi, karena Adriel sendiri memangil gadis itu seperti musuhnya.
"Kalau Saya lebih setuju pada pendapat Tuan Afkar," sambung klien lainya. Sehingga sebelum rapat di mulai mereka sudah ricuh. hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Padahal sejak dulu mereka semua sudah biasa bekerja sama dengan Riko dan Thalita. Jadi sudah tahu sepak terjang kedua orang itu. Namun, hari ini semuanya menjadi kacau gara-gara dendam pribadi Adriel yang tidak menyukai istrinya sendiri.
"Maaf Tuan Riko, Saya juga setuju dengan pendapat Tuan Afkar. Kali ini mohon pengertiannya, keuangan di negara kita sedang menurun pesat. Sementara semua harga barang naik menjadi dua atau tiga kali lipat," ucap wanita yang sudah berumur empat puluh tahunan. Dia adalah seorang pemegang saham juga jadi memiliki hak untuk memberi pendapat dirinya.
"Apabila kita menggunakan harga bahan yang mahal. Maka keuntungan perusahaan kita hanya sedikit. Atau boleh dikatakan kita hanya memindahkan barang saja. Sedangkan untungnya tidak ada. Lagian tugas kita hanya meluncurkan produk baru. Apabila itu semua diterima oleh masyarakat banyak, maka kita akan memproduksi lebih banyak lagi. Jadi barang bagus ataupun tidak, sebetulnya tidak membuat perusahaan kita rugi, karena yang kita cari adalah laku barang tersebut, bukan kualitasnya," papar wanita itu panjang kali lebar.
"Iya, iya! Saya sependapat dengan Anda, Nyonya Mai," seru mereka serempak yang hampir tujuh puluh persen menyetujui. Sedangkan yang tidak setuju hanya berkisar dua puluh persen saja.
__ADS_1
...BERSAMBUNG......