
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
"Pa," seru Adriel termangu karena melihat keberadaan ayahnya di ruang keluarga. Tatapan laki-laki paruh baya itu sangat tajam menatap padanya.
"Pa, Adriel bisa menjelaskan semuanya," lanjutnya karena takut jika sang ayah salah paham. Padahal meskipun dia menjelaskan seperti apapun. Tetap saja Tuan Marcel tidak percaya padanya lagi.
"Apa yang ingin kamu jelaskan Adriel. kamu akan berkata bahwa tidak pernah mencintai Thalita, karena lebih memilih wanita murahan itu daripada istrimu sendiri?" sentak beliau dengan nada tinggi.
Sepertinya baru malam ini lah Tuan Marcel berkata seperti itu. Selama ini meskipun Adriel pernah melakukan kesalahan. Dia tidak pernah berbicara kasar, karena selain dirinya Adriel tidak ada tempat untuk mengadu.
Berbeda dengan anak seumuran Adriel di luaran sana. Bila dimarah oleh sang ayah, maka mereka masih ada ibu yang membela. Sedangkan Adriel hanya memiliki satu-satunya sang ayah sekaligus ibu untuk dirinya.
Jadi sebisa mungkin Tuan Marcel membuat Adriel tidak merasa kehilangan ibunya. Begitulah cara dia menyanyangi sang putra.
"Pa!" Adriel mengusap wajahnya kasar. "Papa salah paham, Adriel marah padanya, karena Thalita berduaan di dalam mobil dengan pria lain sejak jam delapan tadi," jawab pemuda itu berharap sang ayah mengerti setelah diberi penjelasan.
"Ha... haa! Apakah kamu cemburu karena hal itu? bagaimana dengan Thalita yang harus tinggal satu rumah dengan kekasihmu? Apakah kamu pernah memikirkan hal itu?" seru beliau tertawa sumbang.
Ya, Tuan Marcel diberitahu oleh Faranisa sendiri bahwa dia dan Adriel berpacaran dan akan menikah. Meskipun sebetulnya beliau sudah mengetahui hal tersebut.
"Pa... Adriel mau istirahat dulu," jawab Adriel mengalah tidak mau berdebat dengan papanya lagi dan mengurungkan niatnya untuk mengejar Thalita yang sudah pergi menggunakan mobilnya sejak tadi.
Sehingga Tuan Marcel pun tidak jadi meluapkan amarah yang sudah dia tahan selama ini.
__ADS_1
"Kamu akan menyesal bila sampai memilih membuang permata, demi batu kerikil yang tajam, Nak," gumam Tuan Marcel sudah mulai lelah karena kebodohan anaknya.
Ceklek!
Suara pintu kamar yang dibuka oleh Adriel. Lalu setelah menutup lagi pintunya dia perjalanan lesu menuju ke arah sofa dan duduk di sana. Dengan pikiran berkecamuk memikirkan Thalita yang sudah pergi.
"Dia pergi kemana? Ck, Kenapa dia yang marah. Seharusnya kan aku yang marah, suruh siapa dia berduaan dengan Reza dalam mobil sampai selama itu," decak Adriel mencoba merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.
Berharap dengan posisi rebahan matanya bisa terpejam agar bisa melupakan Thalita. Terserah gadis itu mau pergi kemanapun, karena Adriel tahu jika istrinya memiliki banyak uang. Jadi tidak mungkin akan tidur di jalanan.
Akan tetapi hampir setengah jam setelahnya. Mata Adriel belum juga bisa terpejam, yang ada dia membayangkan hal-hal aneh tentang sang istri, karena takut bila gadis itu bunuh diri.
"Tidak, tidak! aku harus mencarinya. Bagaimana jika Thalita bunuh diri? Lalu aku akan ditanya oleh Polisi karena dia masih menjadi istri sahku," seru Adriel kembali dengan posisi duduk.
"Haruskah aku pergi mencarinya? Atau biarkan saja ya?" masih mempertimbangkan karena gengsi yang dimilikinya sangat tinggi. Adriel tidak mau niat baiknya mencari Thalita. Malah dibuat oleh gadis itu senjata untuk mengejek dirinya.
Adriel tidak mau hal seperti itu sampai terjadi. Makanya dia masih bertanya-tanya di dalam hatinya sendiri. Haruskah pergi keluar mencari tahu keberadaan sang istri atau biarkan saja.
Tidak berpikir panjang lagi Adriel pun pergi meninggalkan kamar untuk mencari kemana perginya Thalita di tengah malam seperti saat ini.
Namun, baru saja dia tiba di penghujung tetangga. Adriel sudah mendengar suara ayahnya yang lagi berbicara melalui sambungan telepon.
Sehingga dia sengaja berjalan pelan untuk mengetahui siapa yang berbicara dengan papanya.
📱 Tuan Marcel : "Kamu dimana, Nak? Pulanglah! Jangan membuat Papa khawatir seperti ini," ucap Tuan Marcel meminta agar Thalita segera pulang.
📱 Thalita : "Ini masih dijalan, Pa. Maaf Thalita tidak mau pulang ke sana lagi. Thalita tidak sanggup bila Adriel menuduh yang tidak-tidak seperti tadi," jawab gadis cantik itu masih terus menangis dari mulai meninggalkan kediaman suaminya sampai saat ini.
📱 Tuan Marcel : "Lita, Papa tahu kamu kecewa padanya, karena Papa pun merasakan hal yang sama. lebih baik kamu selesaikan dulu masalahnya. Jangan main pergi saja dalam keadaan hatimu yang tidak tenang," tutur Tuan Marcel dengan suara lembut. Seperti mana sedang berbicara dengan putrinya sendiri.
__ADS_1
📱 Thalita : "Tidak, Pa. Thalita butuh waktu untuk sendiri dulu. Bila terus-terusan bertengkar dengan Adriel, bisa-bisa Thalita akan gila, Pa." ungkap Thalita semakin menagis dan menambah kecepatan laju kendaraannya.
Jangankan ayah mertuanya. Adriel yang diam dibalik bufet saja, masih bisa mendengar suara klakson dari kendaraan lain dan mesin mobil Thalita yang berdengung semakin kencang.
Sejak tadi Thalita memang mengendarai mobilnya tanpa arah dan tujuan yang jelas, dia hanya memutari jalanan ibukota yang padat oleh kendaraan lainnya.
📱 Tuan Marcel : "Iya, Papa tahu jika kamu sangat tersiksa karena keberadaan faranisa di rumah ini. Namun, kamu tahu sendiri kan, bukannya Papa tidak melakukan sesuatu untuk menjaga hubungan kalian. Akan tetapi gadis itu sudah putus urat malunya. Sudah lebih dari lima kali Papa mengusirnya. Agar dia pergi dari rumah kita. Tapi dia tetap tidak mau pergi karena Adriel saja mengizinkan dia tinggal. Lelaki paruh baya itu panjang kali lebar.
Soalnya beliau memang sudah berulang kali mengusir Faranisa agar pergi dari sana. Namun, bukannya pergi wanita itu semakin nekat buat mendapatkan Adriel, yang matanya sudah buta tidak tahu mana yang salah dan benar.
"Apa... jadi selama ini papa sudah pernah mengusir Fara dari sini? Tapi kenapa Fara diam saja dan tidak pernah bercerita padaku?" gumam Adriel masih menguping pembicaraan antara ayah dan istrinya.
📱 Thalita : "Maka dari itu, tolong biarkan Lita menenangkan diri dulu, Pa. Thalita berjanji tidak akan lama. Nanti setelah semuanya dingin dan membaik seperti semula. Mungkin Lita akan kembali lagi ke rumah," kata Thalita meskipun ragu dengan perkataannya sendiri.
Saat ini dia benar-benar hanya ingin sendiri dan jauh dari Adriel. Thalita butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Agar bisa mengambil keputusan apa yang akan dia pilih. Tetap bertahan dengan risiko menanggung sakit hati di setiap waktu. Atau memilih pergi meninggalkan Adriel dan merelakan suaminya menjadi milik wanita lain.
📱 Tuan Marcel : "Baiklah, Papa izinkan jika kamu butuh waktu untuk menenangkan diri. Namun, berjanjilah untuk pulang kerumah dalam waktu secepatnya. Papa tidak ingin wanita ular itu merasa menang karena kamu tidak ada," terang Tuan Marcel yang tidak akan pernah merestui hubungan Adriel dan Faranisa.
📱 Thalita : "Iya, Pa, tapi Thalita tidak berjanji cepat atau lamanya," jawab gadis itu masih terus terisak.
"Thalita mau pergi kemana? Mengapa belum juga mengatakan akan tidur di mana, agar aku tidak perlu repot-repot pergi keluar untuk mencari tahu keberadaannya," kesal Adriel karena mengigat ternyata diam-diam papanya sudah mengusir sang kekasih.
Adriel kira selama ini jika semuanya baik-baik saja. Bila mereka sedang sarapan Tuan Marcel pun tidak pernah bicara apa-apa. Soalnya mereka akan berkumpul ketika di meja makan saja. Setelah itu akan sibuk dengan urusan masing-masing.
📱 Tuan Marcel : "Kamu hati-hati, kurangi kecepatan mobilnya, Nak. Apalagi kamu---"
📱 Thalita : "Aaaaaaaa..." teriakan Thalita dan suara rem mobil yang berderit nyaring membuat Tuan Marcel tidak melanjutkan lagi ucapannya.
📱 Tuan Marcel : "Thalita, apa yang terjadi, Nak? Thalita kamu masih bisa mendengar Papa, "kan?" seru Tuan Marcel dengan jantung berdetak kencang. Begitu pula dengan Adriel yang masih berdiri di samping bufet.
__ADS_1
Sebelum terdengar suara mobil mengerem dan jeritan istrinya. Adriel juga mendengar suara gas mobil yang sengaja di tambah oleh Thalita.
*BERSAMBUNG*...