
💐💐💐💐💐💐
.
.
Setelah kejadian tadi di Restoran. Adriel dan Thalita kembali ke hotel terlebih dahulu untuk mengambil barang-barang mereka. Lalu pulang ke rumah kediaman keluarga Afkar.
Di sinilah mereka saat ini.
"Thalita, pergilah ke kamar untuk istirahat," titah Tuan Marcel seraya berdiri dari tempat duduknya sebab sudah hampir dua jam mereka mengobrol di ruang keluarga termasuk adriel sendiri pemuda itu tidak dapat menghindar karena ada ayahnya.
"Baik, Om! Eh maksudnya, Pa," cicit Thalita yang belum terbiasa memanggil dengan sebutan papa. Sebab sudah belasan tahun dia memanggil Tuan Marcel dengan sebutan Om.
Sedangkan Tuan Marcel yang mendengarnya hanya tersenyum berbeda dengan Adriel. Pemuda itu malah mengatai Thalita di dalam hatinya.
"Dasar wanita bermuka dua pandai sekali dia mencari perhatian papaku awas kamu Tahlita, Aku tidak akan pernah membiarkan kamu hidup tenang di rumah ini. Suruh siapa kamu mengganggu hubunganku dan Fara,"
Gumamnya semakin merasa tidak suka pada istrinya sendiri. Entah apa yang dirasakan oleh pemuda itu terkadang dia tiba-tiba begitu sangat membenci Thalita. Namun setelahnya hilang dengan sendirinya dan bersikap biasa saja seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara mereka.
"Tidak apa-apa, kamu lantaran belum terbiasa saja. Nanti karena sudah sering pasti tidak akan keliru lagi," ujar Tuan Marcel tersenyum sebelum pergi kembali ke kamarnya lebih dulu.
"Adriel, aku mau istrirhat," ucap Thalita melihat suaminya yang hanya diam sambil bermain ponsel. Jika langsung berjalan sendiri ke kamar Adriel, tentu saja Gadis itu merasa malu. Dia memang bar-bar, tapi bukan berarti untuk tempat tinggal seperti saat ini Thalita biasa-biasa saja.
"Lalu?" bukannya punya pikiran sendiri menyuruh Thalita untuk pergi ke kamarnya. Namun, Adriel acuh tak acuh seakan tidak tahu apa maksud gadis itu.
"Adriel, aku ini istrimu! tidak bisa kah kamu menganggap ku sedikit saja, sebagaimana istri pada umumnya. Aku tahu kamu tidak menyukaiku, tapi bukan berarti seperti ini juga kan." seru Thalita kesal karena menurutnya Adriel benar-benar keterlaluan.
"Ck, istri katamu sampai kapanpun aku tidak pernah menganggap bahwa kamu adalah istriku." decak pemuda itu dengan senyum penuh ejekan.
"Huh! oke baiklah jika kamu menganggap ku seperti itu, tidak apa-apa," ucap Thalita sambil menarik Koper kecil tempat pakaian milik nya menuju ke lantai atas. Namun, tujuan gadis itu bukanlah ke kamar Adriel. Melainkan kamar yang berada di sebelahnya. Agar ayah mertuanya tidak curiga bahwa mereka memiliki masalah.
Ketahuilah Thalita sangat menyayangi Tuan Marcel sebagaimana pamannya sendiri. Makanya dia berusaha untuk menjaga perasaan laki-laki paruh baya itu.
"Hei, siapa yang menyuruhmu pergi ke kamarku?" cegah Adriel mengikuti Thalita dari belakang. Dia tidak tahu saja bahwa gadis itu bukan ingin pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Seberapa cinta pun Tahlita pada Adriel, bukan berarti dia akan mau selalu direndahkan seperti seorang pengemis, yang membutuhkan tempat tinggal.
"Jangan berisik nanti aku akan mendengarnya,"
"Wah, Wah! Sepertinya kamu sangat senang bisa memanggil orang tuaku dengan sebutan papa," cibir Adriel masih tetap mengikuti istrinya berjalan.
"Tentu saja! Apa alasanku tidak senang. Bukannya Om Marcel memang sudah menjadi mertuaku? Lalu letak kesalahannya di mana? jika kamu tidak senang dan ingin protes, bilang saja ke sana! Bilang pada papamu. Aku ingin lihat, kira-kira dia akan membelaku atau membela dirimu," tantang Thalita berhenti tepat di depan pintu kamar Adriel.
"Ternyata ini sifat aslimu! Benar kata Fara, bahwa kamu memang tidak pantas menjadi istriku," ujarnya yang tidak mungkin melaporkan pada ayahnya.
"Ya, inilah aku! sejak dulu kamu sudah tahu bahwa aku memang seperti ini. Ketidak sopan ku sekarang, adalah karena dirimu sendiri. Kamu tidak bisa menghargai ku. lalu bagaimana mungkin aku bisa bersikap baik pada orang yang setiap kali berkata hanya untuk menyakiti dan merendahkan ku," setelah berkata demikian Thalita pun melewati Adriel begitu saja, dan masuk ke arah kamar yang berada di sebelahnya. Berhubung pintu kamar tersebut tidak pernah dikunci Thalita pun langsung masuk dan menutupnya rapat.
Tok!
Tok!
"Thalita buka! Apa yang kamu lakukan di kamar ini," panggil Adriel seraya mengikuti pintu kamar yang dimasuki oleh istrinya.
"Adriel, Adriel! Aku sudah menduganya, bahwa kamu tidak akan membiarkan aku tidur di kamar ini. Suruh siapa kamu bersikap jual mahal terhadapku. Akhirnya kamu sendiri kan yang repot."
Tok!
Tok!
"Thalita, Tha! Cepat buka pintunya," panggil Adriel masih sedikit berteriak.
"Burung Merak, cepat buka pintunya," Adriel terus saja mengendor pintu kamar tersebut karena Thalita tak kunjung membukanya.
"Thalita, Thalita, ayo buka---
Ceklek!
"Berisik! Mau apalagi?" seru gadis itu menatap tajam. Padahal di dalam hatinya ingin tertawa terbahak-bahak.
"Kamu ngpain di sini? Ayo pindah," tanpa aba-aba pemuda itu menarik Thalita masuk kedalam kamarnya yang berada bersebelahan dengan kamar sebelumnya.
__ADS_1
"Adriel, lepas! Kamu apa-apaan sih," sekeras apapun gadis itu memberontak. Tetap saja tenaganya kalah jauh dari Adriel.
"Diam! Berani bergerak aku akan mencium mu," ancam Adriel setelah menutup pintu dan menguncinya lagi. Lalu salah satu tangannya menarik pinggang ramping sang istri agar menempel pada tubuhnya.
Hembusan nafas keduanya menjadi satu, sebab hanya berjarak beberapa senti. Andai saja mereka berdua bisa saling mendengarkan deguban jantung masing-masing. Maka kamar tersebut akan ramai oleh suaranya.
"Adriel, ka--kamu mau apa?" tanya gadis itu tergagap. Kedua tangannya menempel dengan sempurna pada dada bidang sang suami.
"Aku?" ulang Adriel menatap Thalita tersenyum miring.
"I--iya, ka--kamu mau apa?"
Gleeek!
Thalita menelan saliva nya sendiri. Sebab Adriel dengan sengaja mendekatkan wajahnya.
"Aku akan meminta hak ku sebagai suami mu. Bukannya tadi di Restoran kamu begitu bangga mengakui sebagai Nyonya Afkar?" Adriel sengaja berkata seperti itu untuk menakuti Thalita.
"Adriel, ka--kamu jangan macam-macam, ya!" seru Thalita memundurkan wajahnya ke belakang sampai beradu dengan tembok. Akan tetapi melihat ketakutan istrinya, membuat adriel semakin ingin mengerjai gadis itu.
"Kenapa? Bukannya ini yang kamu inginkan? Jadi ayo kita bersenang-senang,"
"Tidak! Aku tidak mau bersenang-senang dengan laki-laki yang tidak mencintaiku," tolak Thalita apa adanya. Ya, gadis itu bertekad tidak akan pernah memberikan kehormatannya sebelum Adriel mengucapkan bahwa mencintai dia.
"Thalita! Berhubungan suami istri itu tidak perlu harus saling mencintai, yang dibutuhkan adalah saling memuaskan satu sama lain, apa kamu paham?" kata Adriel membuat balita yang tadinya merasa gugup justru menjadi emosi dalam waktu seketika.
"Kamu salah orang apabila menganggap diriku seperti itu, karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah memberikan mahkotaku kepada suami yang masih memiliki seorang kekasih," ujarnya mendorong kuat tubuh adriel agar segera menjauh dari dirinya.
Mungkin karena terbawa emosi, dorongan dari Thalita mampu melepaskan pegangan tangan Adriel pada pinggangnya.
"Jika kamu ingin menyentuhku, maka putuskan dulu hubunganmu bersama Gara. Setelah itu apapun akan berikan padamu,"
"Ha... ha... Burung Merak, kamu terlalu percaya diri bahwa aku akan menyentuh mu. Jangankan memiliki syarat, tanpa syarat apapun aku tidak sudi untuk meniduri, mu," tawa Adriel pecah karena dia berhasil mengerjai Thalita dan juga balik menghina istrinya sendiri, benar-benar hal bodoh! Demi membalaskan dendamnya pada gadis itu, Adriel sampai berbuat demikian. Asalkan Thalita merasa tersakiti dengan perlahan.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1