
ππππππ
...HAPPY READING......
.
.
Di rumah sakit ternama. Thalita baru saja masuk ke ruang USG. Untuk melakukan pemeriksaan tentang kehamilan. Ya, begitu tiba di rumah sakit. Thalita langsung dibawa oleh Dokter Reza menemui rekannya yang ada di rumah sakit tempatnya bekerja selama pindah ke negara tersebut.
Maka di sinilah mereka saat ini. Lagi melakukan pemeriksaan. Tadi setelah mandi dan sedikit sarapan. Si suami idaman itu langsung membawa istrinya ke rumah sakit.
"Bagaimana, Dok?" tanya dokter muda itu sungguh tidak sabar. Sehingga membuat rekan kerjanya tersenyum, karena meskipun dia tidak menjelaskan. Tentu Dokter Reza tahu hasilnya seperti apa.
"Kehamilan Nona sehat dan ini ternyata sudah masuk Minggu ke tiga. Jadi mulai saat ini tolong dijaga dengan sangat baik. Biasanya kehamilan anak pertama seperti ini masih rentan dengan yang namanya kelelahan." terang Dokter mudah itu tersenyum pada mereka berdua.
"Re, aku bahagia sekali," seru Thalita yang jari tangannya terus digenggam oleh suaminya sejak tadi.
"Iya, sayang. Aku juga sangat bahagia sekali. Terima kasih karena sudah mau mengandung anakku." jawabnya yang tidak menyangka bahwa Thalita sudah hamil dalam waktu dekat.
"Baiklah! Sekarang tinggal Dokter Reza merawat istrinya di rumah, ya, dan setelah dari sini kalian tebus obat di apotek. Biar Saya tuliskan resep nya." ucap dokter kandungan itu ikut tersenyum bahagia melihat pasangan suami-istri yang lagi merasakan bahagia.
"Iya, Dok! Terima kasih! Saya akan menjaganya degan sangat baik." Dokter Reza yang menjawab karena Thalita hanya mengangguk mengerti saja.
Setelah melakukan pemeriksaan. Dengan hati berbahagia mereka menebus obat di apotek karena Dokter Reza bukanlah dokter kandungan. Jadi obat yang dia miliki tentu tidak sama.
Baru setelahnya mereka pulang ke rumah yang sekarang hanya di penuhi kebahagiaan. Sudah dua Minggu ini mereka pindah ke rumah yang tidak begitu jauh dari rumah orang tua Dokter Reza. Memang tidak sebesar rumah keluarga Afkar. Namun, kebahagiaan yang didapatkan oleh Thalita tidak akan pernah bisa tergantikan dengan uang.
"Tunggu ya, biar aku yang membuka pintu mobilnya. Kamu tidak boleh kelelahan." ucap si dokter muda itu cepat-cepat turun dari mobil.
"Iya, terima kasih!" jawab Thalita hanya bisa tersenyum bahagia mendengar perkataan suaminya. Bagaimana mungkin hanya membuka pintu mobil saja tidak boleh. Seperti itulah kiranya yang Thalita pikirkan saat ini.
Namun, demi menjaga perasaan suaminya, Thalita hanya mengangguk saja saat di suruh duduk dan menunggu suaminya yang membukakan pintu mobil tersebut.
Setelah itu mereka turun dan berjalan masuk kedalam rumah yang hanya di tempati oleh mereka berdua, karena asisten rumah tangga tidak tinggal di sana. Para pelayan setelah menyelesaikan pekerjaannya jam lima sore, akan pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Istrirhat ya, hari ini aku tidak akan ke rumah sakit. Aku ingin menemanimu."
"Tapi Re---"
Cup!
"Tidak ada tapi-tapian! Karena anak kita dan dirimu adalah prioritas utamaku." Dokter Reza sudah mengecup bibir istrinya agar tidak bicara apa-apa lagi. Sehingga Thalita hanya mengangguk setuju.
"Ayo sini," degan gerakan pelan. Dokter Reza menarik tubuh Thalita agar bersandar pada tubuhnya dan berkata.
"Apakah kamu mau selama hamil ini, tidak usah bekerja? Aku tidak mau kamu dan anak kita sam---"
"Tentu, karena itulah yang aku pikirkan sejak tadi. Aku ingin istirahat selama hamil. Agar bisa fokus pada kandungan ku saja." sela Thalita cepat, karena dia memang sudah berpikiran seperti itu.
"Wah, terima kasih, sayang. Tadinya aku takut kamu keberatan dengan permintaan ku. Agar kamu berhenti bekerja hanya untuk sementara waktu."
"Tidak Re, keluarga kita adalah yang nomor satu bukan. Mana mungkin aku lebih mementingkan pekerjaan daripada kesehatan aku dan anak kita." jawab Thalita langsung mengambil ponselnya yang ada di meja samping tempat tidur yang di duduki oleh mereka saat ini.
"Mau apa?"
__ADS_1
"Aku akan menelepon Riko sekarang juga. Selagi pekerjaan ku memang sudah beres sejak dua hari lalu." jawab Thalita yang sudah menghubungi sahabat sekaligus bos tempatnya bekerja, walaupun secara online.
Ttttddd!
Baru satu kali getaran. Ternyata langsung diangkat oleh pemiliknya.
π± Thalita : "Hai, apakah kamu sedang menunggu telepon dariku?" tanya Thalita tersenyum lebar ke arah kamera ponselnya. Namun, senyum itu langsung menyurut setelah melihat bahwa di perusahaan Riko ada Adriel, mantan suami dan mantan sahabatnya.
π± Riko : "Iya, aku baru mau menghubungimu karena Adriel ingin bicara pada kalian berdua. Dia mau minta maaf dan tidak lebih dari itu " jawab Riko jujur apa adanya.
π± Thalita : "Aku dan dia sudah tidak ada urusan. Aku---"
"Sayang..." seru Dokter Reza mengelengkan kepalanya. Dia tidak setuju dengan pemikiran istrinya.
"Re, aku tidak mau lagi men---'"
Cup!
"Thalita, dengarkan aku baik-baik. Kamu tidak boleh memiliki dendam seperti ini. Aku tahu kamu sakit hati padanya. Namun, sekarang Adriel sudah menerima apa yang sudah dia perbuat padamu." Dokter Reza mengecup bibir Thalita di depan ponsel yang masih terhubung dengan Riko.
"Tapi Re---
"Apakah kamu mencintaiku?"
"Apa yang kamu tanyakan, tentu saja aku sangat mencintaimu. Apalagi sekarang ada buah hati kita yang sedang aku kandung." jawab Thalita tersenyum kearah suaminya.
"Jika kamu memang mencintaiku, maka coba kamu tanyakan pada hatimu, sebetulnya kamu masih memiliki perasaan pada Adriel, atau kamu hanya kecewa padanya sebagai seorang sahabat?" Dokter Reza sudah tahu dari Riko jika sekarang Adriel sudah menikah dengan Fara dan kehidupannya sangat berantakan.
Maka dari itu dia berkata demi kian. Apalagi mendengar kalau hubungan Adriel dan Tuan Marcel tidak baik-baik saja karena beliau sangat kecewa Adriel menikahi wanita yang sudah jelas bukan hamil anaknya.
"Maka jika begitu, maafkanlah dia. Aku tidak ingin dirimu hidup dengan dendam pada orang yang sudah menderita." ujar dokter muda itu ikut tersenyum pada istrinya.
"Baiklah!" jawab Thalita mengangguk setuju. Lalu dia menatap pada layar ponselnya lagi.
π± Thalita : "Riko, aku menelepon mu, karena ingin memberikan kabar bahagia. Bahwa sekarang aku lagi hamil tiga Minggu dan karena itu aku ingin mengundurkan diri dari pekerjaan ku." ucap Thalita menyampaikan maksudnya menelepon Riko lebih dulu.
π± Riko : "Wah, benarkah? Selamat kalau begitu. Tidak apa-apa, jika tahu kamu lagi hamil, sebelum kamu meminta berhenti bekerja. Maka aku yang akan memecat mu lebih dulu," perkataan Riko tentu saja membuat Thalita dan Dokter Reza tertawa. Begitu pula dengan Adriel, pemuda itu juga menyugikkan senyum kecil.
"Aku bahagia melihatmu bahagia, Tha. Mungkin kita memang hanya ditakdirkan sebagai sahabat, karena ketika ada kesempatan untuk aku menjadi suamimu. Namun, aku malah membuang kesempatan itu."
Gumam Adriel yang lagi berusaha menata hidupnya yang sudah hancur. Dia sudah menceraikan Fara kemarin siang. Soalnya Adriel berhasil mendapatkan rekaman cctv di Apartemen Fara saat di luar negeri. Jadi apabila wanita itu berani macam-macam. Maka dia memiliki bukti untuk diumumkan pada publik bahwa bayi yang dikandung Fara bukanlah anaknya.
π± Thalita : "Dasar kamu," kata si ibu hamil masih tersenyum bahagia.
π± Riko : "Aku sangat takut diamuk oleh Reza. Jadi aku langsung memecat mu saja." jawab Riko sebelum menyerahkan ponselnya pada Adriel.
π± Riko : "Tha, ini ponselnya aku berikan pada Adriel. Bicaralah baik-baik, benar kata Reza, jika kamu sudah tidak memiliki perasaan apa-apa padanya. Maka maafkanlah dia, walau bagaimanapun kita pernah bersahabat." ucap Riko langsung memberikan ponselnya pada Adriel dan diterima oleh pemuda itu. Meskipun dengan menahan air matanya agar dia tidak menangis di depan mereka semua.
π± Adriel : "Hai... Merak, selamat, ya." ucap Adriel tersenyum getir. Namun, Thalita belum menjawabnya. Wanita itu hanya diam saja.
π± Adriel : "Aku ikut bahagia, Tha. Aku ikut bahagia melihatmu dan Reza bisa hidup bahagia." lanjutnya lagi. dengan menghirup nafas dalam-dalam agar dia tidak menagis.
Berbeda dengan Thalita, wanita itu sudah menangis terisak. Bohong bila dia tidak menginginkan agar persahabatan mereka tetap terjalin. Namun, karena tidak mau menyakiti hati Dokter Reza. Wanita itu lebih baik kehilangan sahabatnya, demi menjaga keutuhan rumah tangganya.
Soalnya Thalita mengira jika Adriel masih mau menganggu rumah tangganya bersama sang suami. Namun, ternyata Adriel memang benar-benar sudah menyesali semuanya.
π± Adriel : "Maafkan aku sebagai sahabatmu, karena rasa tidak suka ku pada perjodohan kita. Membuatku melupakan bahwa kita tumbuh besar bersama. Aku melupakan bahwa kamu adalah sahabat yang selalu aku lindungi. Lalu bagaimana mungkin aku pula yang menyakitimu. Bahkan hampir membuatmu kehilangan nyawa." ucap Adriel yang akhirnya tidak bisa menahan air matanya.
__ADS_1
Percayalah! Kita merasa kehilangan itu, setelah orang yang kita sia-siakan tidak ada lagi. Meskipun Adriel dan Thalita selalu bertengkar, tapi mereka berdua selalu saling menyanyangi satu sama lain.
π± Adriel : "Maafkan aku, semoga kalian selalu bahagia. Jika ada waktu, aku akan berangkat ke sana bersama papa untuk memberi hadiah pada calon keponakanku." perkataan Adriel membuat Thalita semakin menangis.
Namun, Dokter Reza tidak cemburu akan hal itu karena dia percaya bahwa yang ditangisi Adriel maupun Thalita. Hanyalah sebagai seorang sahabat, tidak lebih.
π± Adriel : "Hei... kenapa kamu menangis? Bukannya Buruk Merak sahabatku sangat kuat dan tidak pernah menagis." goda Adriel disertai senyuman kecilnya.
π± Adriel : "Merak, tolong maafkan aku. Aku sudah mengingkari janjiku sendiri yang akan menjagamu agar tidak menangis." Adriel kembali bicara karena Thalita belum menjawab sepatah katapun perkataannya.
π± Thalita : "Dasar kamu kacang panjang, tidak memiliki perasaan." ujar Thalita menagis tapi juga tertawa.
π± Adriel : "Agh, akhirnya kamu mengingat nama kesayangan ku juga." Adriel tersenyum sambil menyeka air matanya. Sungguh dia sangat menyesali semuanya. Namun, sekarang semuanya hancur karena egonya sendiri.
π± Thalita : "Ck, tingkat kepercayaan dirimu tidak hilang juga? Sangat menyebalkan." decak Thalita yang merasa lebih baik lagi.
π± Adriel : "Tha, apakah kamu mau memaafkan aku dan kita bersahabat seperti semula? Aku tidak akan pernah menghancurkan pernikahan sahabatku lagi. Sudah cukup luka yang pernah aku berikan padamu selama menjadi istriku." karena Thalita sudah mau bicara dan dia juga merasa lebih baik. Jadi Adriel kembali bicara tentang niatnya meminta Riko menghubungi Thalita.
π±Thalita : "Menurutmu? Setelah melihat penderitaan kacang panjang, apakah aku tega tidak memaafkan nya." jawab Thalita karena sebelum menjawab, dia menatap pada suaminya yang menganggukkan kepala dengan tersenyum kecil.
π± Adriel : "Jadi si Burung Merak sudah memaafkan aku. Wah, terima kasih! Katakan pada suamimu, bahwa aku ingin mengucapkan terima kasih padanya. Jika bukan karena dokter itu. Pasti kamu tidak akan memaafkan aku." ucap Adriel tersenyum karena melihat Thalita juga tersenyum seraya menyeka air matanya lagi.
π± Thalita : "Bicaralah padanya, karena suamiku juga ada disini." jawab Thalita langsung memberikan ponselnya pada Dokter Reza karena dia ingin masuk kedalam pelukan suaminya.
π± Dokter Reza : "Apa?" tanya dokter muda itu dengan satu tangannya mengelus kepala Thalita.
π± Adriel : "Terima kasih! Terima kasih kerena kamu sudah memberiku izin untuk bicara dengan Burung Merak." ucap Adriel degan perasaan sangat lega karena akhirnya Thalita mau memaafkan dirinya.
π± Dokter Reza : "Aku memberimu izin karena sebagai sahabat istriku. Jika sebagai mantan terburuknya, maka tidak akan pernah aku biarkan." cibir Dokter Reza untuk mencairkan suasana agar tidak terasa tegang.
π± Adriel : "Brengsek! Aku tahu aku sangat bodoh sudah menyia-nyiakan permata hanya karena sebuah batu kerikil. Jadi jangan kamu ingatkan lagi," jawab Adriel yang membuat Dokter Reza tersenyum.
π± Adriel : "Re, aku titip Thalita ya, aku tahu tanpa aku pinta sekalipun. Tentu kamu akan menjaganya lebih dari siapapun. Namun, aku meminta mu sebagai sahabatnya. Kamu tidak perlu cemburu padaku, karena aku tidak akan merebutnya darimu, karena aku tahu jika dia akan lebih bahagia bila bersama mu."
π±Dokter Reza : "Baiklah! Aku memang akan menjaganya tanpa kamu pinta. Akan tetapi sebagai permintaan dari sahabatnya, aku menerima baik permintaanmu. Bila ada waktu, datanglah ke rumah kami dan tolong bawa Om Marcel. Meskipun hubunganmu dan Thalita sudah berakhir, tapi aku tidak pernah melarang papamu menjadikan Thalita putrinya. Mau sampai kapanpun dia tetaplah anak perempuannya."
Ucap Dokter Reza yang tidak tega melihat Tuan Marcel harus ikut menderita karena perbuatan Adriel putra satu-satunya.
π± Adriel : "Baiklah! Jika kamu memang sudah memberi izin, maka akhir pekan akan aku usahakan untuk membawa papa ke sana. Sekali lagi terima kasih! Aku do'akan agar kalian selalu diberikan kebahagiaan." jawab Adriel sebelum mengakhiri panggilan mereka dan mengembalikan ponsel tersebut pada Riko.
"Ini,"
"Apakah sudah selesai?" tanya Riko menerima ponselnya.
"Iya, aku sudah selesai! Terima kasih karena sudah mau membantuku. Aku sangat bahagia karena Thalita dan Reza mau memaafkan aku." jawab Adriel merebahkan tubuhnya pada sofa.
"Mengikhlaskan jauh lebih baik. Kamu masih bisa memperbaiki semuanya dari sekarang, Adriel," ujar Riko juga merasa lega melihat kedua sahabatnya bisa berbaikan lagi.
"Huem, iya! Aku sudah bahagia mendapatkan maaf dari Thalita. Aku tidak mau membuatnya menderita lagi. Burung Merak yang sok kuat itu akan jauh bahagia bersama Reza. Jadi aku sudah ikhlas melepaskannya pada orang yang bisa menghargai sahabat kita." jawab Adriel tersenyum.
...TAMAT....
.
.
__ADS_1