
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
Setelah acara saling mengucapkan janji suci selesai, berlanjut dengan acara yang lainnya termasuk menerima tamu yang sudah berdatangan silih berganti sejak tadi. saat ini Adriel dan Thalita lagi berada di atas pelaminan. Mereka berdua bagaikan raja dan ratu yang laki-lakinya tampan dan perempuannya sangat cantik seluruh berita di televisi hari ini hanya menyiarkan pernikahan pewaris perusahaan Afkar bersama seorang desainer terkenal.
Thalita memang seorang desainer yang terkenal di ibukota B. Para tamu undangan yang datang juga orang-orang tertentu saja. Sebagian besarnya tentu saja tamu dari Tuan Marcel dan para rekan bisnisnya Adriel. Sebab jika Thalita sendiri hanya mengundang para sahabat yang bekerja di satu perusahaan dengan dirinya saja, jika keluarga dia tidak punya.
Tidak tanggung-tanggung memang, Tuan Marcel menggelar sebuah pesta mewah. Agar semua orang tahu siapa gadis yang menjadi menantunya. Bukan seperti cerita di novel-novel yang seringkali anak para pengusaha kaya raya menyembunyikan pernikahan mereka.
Tempat acara berlangsung pun adalah di hotel bintang lima. Faranisa kekasih adriel yang mengetahui hal tersebut hanya bisa menjatuhkan air matanya saja, karena untuk hidup bersama dengan kekasihnya. Gadis itu harus rela menunggu sampai Adriel berhasil menyingkirkan Thalita dari hidupnya.
Demi sang pujaan hati, tentu saja Faranisa bersedia menunggu kekasihnya itu. Sebab bagi gadis itu tidak penting menjadi istri sahnya Adriel. Apabila hati pemuda itu hanya untuk dirinya. Jadi tidak masalah gadis manapun yang menjadi istri dari Adrieil. Asalkan cinta dan uang Adriel tetap akan menjadi milik dirinya.
Hari ini yang kecewa dan terluka bukan hanya faranisa saja. Namun juga Dokter Reza dan Riko dua orang pemuda yang sama-sama mencintai satu orang gadis.
Namun, sayangnya gadis tersebut lagi bersanding duduk di pelaminan bersama pria lain. Sakit? Tentu saja, siapa yang tidak akan patah hati akan tetapi karena besarnya rasa cinta yang mereka miliki. Jadinya selagi Thalita hidup bahagia. Mereka juga ikut merasa bahagia, karena seperti itulah ketulusan cinta yang mereka miliki.
"Adriel selamat ya, aku titip Thalita padamu," dari semenjak akan menikah sampai hari ini. Sudah lebih dari puluhan kali Riko menitipkan Thalita pada sahabatnya.
"Ck, kamu ini, seperti tidak ada ucapan yang lain saja. Aku sudah muak mendengarnya, dia sudah besar. Jadi untuk apa aku menjaganya.," decak Adriel tanpa memikirkan perasaan Thalita yang berdiri di samping dirinya.
__ADS_1
"Adriel!" seru Riko mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan rasa sakitnya. Riko tidak terima Adriel berkata seperti itu di hadapan gadis yang dia sukai. Apabila di belakang Thalita, dia tidak masalah karena sudah jelas sahabatnya itu tidak akan sakit hati.
Akan tetapi ini berbeda. Thalita mendengar semuanya, karena hanya berjarak dengan Adriel dan dia beberapa puluh senti saja.
"Sudahlah, sepertinya tamu sudah tidak ada lagi. Aku sangat lelah, ingin beristirahat di kamar. Kamu pulang saja. Jika kamu mengkhawatirkan Thalita, maka bawa dia tinggal bersama mu," Adriel sudah marah lebih dulu dan pergi saja meninggalkan acara tersebut dan kembali ke kamar hotel tempat mereka menginap.
"Adriel, Adriel! Kamu tidak boleh men---"
"Riko, sudah tidak apa-apa, biarkan saja dia pergi. Aku baik-baik saja. Lagian para tamu sudah tidak ada lagi," sela Thalita menyentuh tangan Riko dan mengelengkan kepalanya. Agar sahabatnya tidak mencegah kepergian Adriel.
"Tapi Tha," berhenti tidak jadi melanjutkan ucapannya dan Riko langsung menarik Thalita kedalam pelukannya. "Jika ada apa-apa, tolong, tolong beri tahu aku. Kamu tidak perlu menyandang beban berat ini hanya karena ingin menjaga perasaan Om Marcel," ucap Riko menahan sakit karena melihat perlakuan Adriel pada sahabatnya.
Padahal Thalita sendiri baik-baik saja. Malah tersenyum, tapi entah jika di dalam hatinya. Sebab Thalita sangat pandai menyembunyikan kesedihannya.
"Iya, kamu tidak usah khawatir, aku hanya ingin mencobanya. Apabila aku lelah dan tidak kuat lagi. Maka aku akan pergi sendiri dari hidupnya," jawab Thalita balik menenangkan Riko.
Re... terima kasih," lirih Thalita tersenyum getir kearah Reza yang malah merentangkan kedua tangannya. Tidak ubah seperti Riko, dokter tampan itu juga merasakan sakit yang sama. Sebab mereka berdua mengetahui betapa cintanya Thalita pada Adriel.
"Thalita ku, pasti bisa melewati semuanya. Ada aku, ada Riko, jangan bersedih. Kamu tidak sendirian, huem!" Dokter Reza merenggangkan pelukannya dan menyapu air mata Thalita yang akhirnya menangis dalam pelukan Reza, karena merasa terharu dengan perhatian kedua sahabatnya.
"Aku baik-baik saja, terima kasih," jawab Thalita menghirup nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan perlahan. Guna menenangkan hatinya agar tidak menangis di depan orang lain. Bila dihadapan Riko ataupun Dokter Reza. Tidak jadi masalah, karena mereka berdua mengetahui apa penyebab gadis itu sampai menangis.
"Riko, ayo turun!" ajak Dokter Reza karena mereka sudah berkenalan dan sudah menjadi teman.
"Huem," Riko mengangguk dan mereka bertiga pun turun untuk duduk di meja bundar di depan pelaminan. Acara tersebut sudah selesai, hanya tinggal para pembisnis saja. Mereka memang suka mengobrol santai membahas masalah pekerjaan. Atau kata pepatah nya menyelam sambil minum air.
__ADS_1
"Tha... kamu jika mau menambah cuti masih boleh. Nanti kirim saja tambahan waktunya pada Email sekertaris pribadi ku," ucap Riko melihat perlakuan Adriel. Sudah jelas Thalita akan menenangkan hatinya. Gadis itu butuh waktu untuk bisa merenungi pernikahan yang akan ia jalani.
"Kenapa? Malahan aku berencana hanya cuti satu hari,"
"Apa, satu hari?" jawab Dokter Reza dan Riko secara bersamaan.
"Iya, satu hari," jawab Thalita nyegir kuda. "Sudah kalian berdua tidak perlu kaget seperti itu, karena aku jika lagi pusing lebih senang menyibukkan diri dengan pekerjaan. Bukannya pergi jalan-jalan seperti kebanyakan orang," tutur Thalita yang mengerti kenapa kedua sahabatnya itu memiliki reaksi seperti saat ini.
"Kamu ini, menyesal aku menawarkan waktu cuti tambahan, karena bukannya menambah waktu untuk libur. Tapi dirimu malah mengurangi waktu satu hari lagi," ujar Riko menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan cara berpikir Thalita.
Sekarang dengan posisi pekerjaan yang menjadi desainer hebat. Thalita tidak akan pernah kekurangan uang, apalagi hidup hanya seorang diri. Gadis itu juga suka menabung, jadi tidak perlu selalu memikirkan pekerjaan. begitulah menurut pikiran kedua sahabatnya.
"Huh! baiklah jika itu bagus untuk keadaanmu. Maka bekerja saja, atau kalau kamu mau, kita pergi jalan-jalan saja. Aku siap menemanimu," tawar Dokter Reza.
Plaaak!
"Kamu ini, menawarkan hal tidak benar, bagaimana mungkin kamu menawari pengantin baru untuk jalan-jalan. Nanti malah dikira kalian pergi honeymoon. Padahal yang menikah siapa dan yang pergi berbulan madu siapa," tegur Riko Setelah dia memukul bahu Dokter Reza yang kebetulan duduk di sebelahnya.
"Ha... ha... aku hanya bercanda. Lagian aku tidak ada waktu juga, jika perginya mendadak. sama seperti dirimu," tawa Dokter Reza, karena tadi dia memang hanya bercanda.
"Reza, Riko... Eum kalian pulang sekarang saja, ya. Aku---"
"Iya, kami berdua memang akan pulang, karena sudah mengantuk. Sekarang kamu kembalilah ke kamar hotel dan istirahat. Jangan sampai gara-gara sifat dingin Adriel. Kamu malah tidak istirahat dan akhirnya jatuh sakit," sela Dokter Reza berdiri lebih dulu dan menari tangan Riko untuk pergi dari sana karena tidak mau Talita merasa tak enak hati sudah menyuruh mereka berdua pulang.
"Astaga, aku lupa jika besok ada meeting bersama klien. Tha, kami pulang dulu ya, jika ada apa-apa hubungi saja aku ataupun Reza," pamit Riko setelah menyadari maksud Dokter Reza.
__ADS_1
Thalita yang mengetahui jika kedua sahabatnya itu lagi berbohong. Hanya tersenyum melihat kepergian mereka berdua. Lalu dia pun kembali ke kamar hotel tempat ia dan adriel menginap malam ini.
...BERSAMBUNG......