
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
"Pagi harinya.
Thalita tengah menunggu pesanan makanan yang sudah dipesan oleh Dokter Reza suaminya. Soalnya pemuda yang sama seperti Thalita baru melepaskan perjaka nya tadi malam. Melarang sang istri untuk masak.
Selain karena dia tahu Thalita kelelahan karena melayaninya sampai tengah malam. Mereka juga akan pergi jam sebelas nanti siang. Hanya tinggal beberapa jam lagi. Jadi bila masak sendiri pun tidak akan ada yang memakannya.
"Sayang, apakah belum datang delivery nya?" tanya Dokter Reza sudah selesai membersihkan tubuhnya dan sudah berganti baju kaos warna hitam yang dipadukan dengan celana jeans panjang.
"Belum, aku sejak tadi menunggu di sini," jawab Thalita lagi duduk di ruang tamu.
"Mungkin sebentar lagi, kita tunggu saja dulu."
"Iya, mungkin lagi dalam perjalanan. Aku masuk dulu, ya. Ada barang-barang milikku yang akan di bawa. Agar saat---"
Saat pasangan suami-istri itu lagi berbicara. Pintu rumah Thalita sudah diketuk dari luar. Sehingga membuat mereka berdua sama-sama menoleh kearah pintu.
"Itu pasti pesanan kita." ucap mereka serempak. Sehingga membuat Dokter Reza dan Thalita tertawa bersama.
"Ayo kita lihat," si dokter muda itu berdiri dari sofa seraya mengulurkan tangannya pada sang istri yang juga sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Baiklah," Thalita hanya tersenyum. Entah mengapa setelah memberikan mahkota berharganya pada Dokter Reza tadi malam. Membuatnya benar-benar merasa bahagia. Senyum kebahagiaan tidak pernah luntur dari wajah cantiknya.
Kleeek!
"Adriel" seru mereka serempak karena yang datang ternyata ada Adriel. Bukan delivery pesanan mereka.
"Iya, kenapa kalian menjadi kaget? Apaka---"
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa pagi-pagi seperti ini kamu sudah datang bertamu di rumah orang?" Thalita yang bertanya karena kalau Dokter Reza hanya diam seraya menghela nafas dalam-dalam. Agar bisa menahan emosinya yang pemuda itu yakini, bahwa Adriel datang pasti ingin mencari masalah dengannya.
Namun, meskipun begitu dia malah dengan sengaja merangkul mesra bahu Thalita. Supaya Adriel tahu, bahwa Thalita adalah miliknya secara saha. Baik itu di negara ataupun di agama.
"Tha, apakah seperti ini caramu menyambut ku? Walaupun kita sudah berpisah sebagai suami-istri. Akan tetapi kita adalah sahabat sejak ke---"
"Kita memang pernah menjadi sahabat sejak kecil. Tapi semuanya sudah berakhir setelah kita menandatangani surat perceraian satu bulan lalu. Aku tidak ingin berteman dengan laki-laki manapun lagi, karena aku sudah mendapatkan teman sejati yang pastinya akan selalu menjaga ku." ungkap Thalita yang berbicara jelas seperti mana Adriel pernah berkata seperti itu padanya.
Yaitu ketika pertama kali Faranisa tinggal bersama mereka. Jadi anggap saja sekarang Thalita hanya mengembalikan kata-kata Adriel sendiri.
"Thalita!" sentak Adriel yang memang memiliki emosi tidak stabil. Apalagi sekarang pikirannya sudah di penuhi nama mantan istrinya saja.
"Adriel, jika kau datang hanya untuk membuat kekacauan. Maka pergilah! Kau tidak berhak membentak istriku. Siapa kau? Sehingga beraninya berbuat seperti itu?" seru Dokter Reza langsung menarik Thalita agar berada di belakang tubuhnya.
Melihat Adriel membentak Tahlita di hadapannya. Membuat Dokter Reza terpancing emosi dalam waktu seketika. Pemuda itu benar-benar tidak bisa menerima perlakuan Adriel pada istrinya.
Biasanya Dokter Reza selalu berbicara dengan kata lemah lembut. Akan tetapi, hari ini dia sudah menggunakan kata kau terhadap Adriel.
"Istri apa? Apakah kau pikir---"
"Iya, aku adalah suami sah Thalita. Mulai sekarang apapun yang berurusan dengannya, adalah urusan ku juga, karena Thalita adalah tanggung jawabku." sela Dokter Reza cepat.
Jika memang Adriel akan mencari gara-gara dengannya. Maka akan dia layani. Selama ini dia diam saat Adriel menyakiti Thalita. Bukan karena Dokter Reza takut. Namun, karena tidak memiliki alasan untuk ikut campur.
Akan tetapi sekarang Thalita adalah istri sahnya. Jadi jangan harap dia akan diam saja.
"Ck, percaya diri sekali dirimu! Thalita hanya mencintai aku. Mau sampai kapanpun itu." decak Adriel dengan percaya diri.
"Adriel, aku tidak mencintaimu lagi. Satu-satunya hal yang paling aku sesali seumur hidupku adalah pernah mencintaimu. Jadi aku mohon, jangan pernah menganggu diriku lagi. Jangan pernah muncul di hadapanku," kata Thalita tegas.
"Tha, aku mohon jangan seperti ini! Aku tahu bahwa sebenarnya kamu masih mencintaiku." seru Adriel ingin maju menarik Thalita. Namun, ada Dokter Reza yang berdiri dengan tubuh kekarnya.
"Reza, menyingkir lah! Aku tidak ada urusan dengan mu. Aku dan Thalita saling mencintai. Jadi kamu jangan pernah menghalangi dia kembali bersama ku." seru Adriel tetap pada pendiriannya yang salah.
Akan tetapi Dokter Reza masih diam dan hanya menahan kesabarannya saja. Apalagi perkataan Adriel yang menyuruhnya tidak boleh ikut campur. Aneh sekali, padahal sudah jelas bahwa Thalita adalah istrinya.
__ADS_1
"Tha, meskipun Reza sudah mengambilnya. Aku tidak masalah bila kau tidak perawan lagi. Aku akan menerima dirimu apa---"
Bug!
Bug!
Dua bogem mentah dari tangan dokter tersebut langsung melayang pada muka Adriel. Sehingga darah segar mengalir dari sudut bibir Adriel yang ternyata pecah, karena Dokter Reza memukulnya cukup keras.
"Aku diam, bukan berarti aku takut. Tindakan mu ini hanya buat mempermalukan dirimu sendiri, Adriel," si dokter tersebut mendorong tubuh Adriel cukup keras. Sehingga membuat Adriel terjerembab pada lantai teras rumah mantan istrinya.
"Kemana saja kau saat Thalita mengemis cintamu? Apakah saat dia hampir mati karena kecelakaan kau datang untuk melihat apakah dia baik-baik saja atau tidak? Apakah kau berpikir seperti apa sakitnya dia saat harus tinggal satu rumah bersama kekasih suaminya?" sergah Dokter Reza ingin memukul Adriel lagi.
Namun, Thalita sudah memeluknya dari belakang dan berkata.
"Re, aku mohon, hentikan! Biarkan dia pergi. Demi papa Marcel. Aku mohon! Jangan dengarkan perkataannya, karena sekarang aku hanya mencintaimu." seru Thalita menagis karena takut suaminya kenapa-kenapa.
Ya, Thalita mengkhawatirkan keadaan Dokter Reza. Takut bila Adriel melakukan sesuatu pada suaminya. Makanya dia langsung berkata bahwa dia mencintai dokter tersebut.
"Sayang, aku ti---"
"Tidak! Kamu tidak salah dengar. Aku mencintaimu, Re. Aku sangat mencintaimu,"
Duaar!
Tubuh Adriel menegang saat mendengarkan perkataan Thalita. Dia tidak menyangka bahwa semudah itu Thalita mengatakan bahwa dia mencintai suaminya.
"Aku mencintaimu, hari ini setelah mendengar pengakuan Adriel, membuatku sadar satu hal. Yaitu bahwa diriku sudah tidak mencintainya lagi."
"Thalita!" Dokter Reza langsung menarik sang istri untuk masuk kedalam pelukannya. "Aku juga sangat mencintaimu," lanjutnya lagi.
Cup!
"Terima kasih karena kamu akhirnya, mencintaiku juga. Sekarang masuklah!" ucap Dokter Reza karena dia akan mengurus Adriel lebih dulu dan Thalita yang seakan mengerti pun langsung menganggukkan kepalanya.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1