
💐💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
"Welcome kehidupan baruku," seru Thalita begitu mereka menginjakkan kaki di negara asal orang tua Dokter Reza.
Saat ini mereka berdua sudah turun dari pesawat setelah mengudara kurang lebih enam jam. Selama dalam perjalanan, gadis itu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bohong apabila dia tidak memikirkan masalah kedua sahabatnya yang mengungkapkan perasaan mereka masing-masing disaat dia baru saja mendapatkan status barunya.
"Tha, kamu kenapa?" tanya Dokter Reza menyentuh pundaknya.
"Agh, iya. Aku baik-baik saja," dustanya yang tidak mungkin mengatakan apa yang ia rasakan saat ini.
__ADS_1
"Huem... syukurlah! Aku kira kamu sudah mau kembali." bukan hanya Thalita yang merasakan canggung diantara mereka. Pemuda itupun juga merasakannya.
"Sial! Ini semua gara-gara Riko. Jadinya gini kan, aku canggung padanya. Bagaimana bila dia berpikir bahwa kebaikan dan perhatian yang aku berikan selama ini hanya karena aku menyukainya." gerutu pria itu. Takut bila sang sahabat memiliki perasaan canggung juga.
Padahal semuanya memang benar. Thalita juga merasakan canggung terhadapnya.
"Masuklah!" titahnya begitu sampai di dekat mobil yang menjemput mereka.
"Iya, terima kasih," Thalita tersenyum masih seperti biasa. Mungkin dia sudah agak lebih baik daripada sebelumnya.
Dokter Reza menutup pintu mobilnya setelah dia menyusul masuk. Pemuda itu memilih duduk dibelakang, bersama Thalita dan si sopir tetap sendirian duduk di depan.
"Jalan Pak, kita langsung ke rumah saja," ucapnya sambil memakai salt belt pada tubuhnya sendiri, karena Thalita sudah memakainya sendiri.
"Tha, maaf ya, soal yang tadi," perkataan Dokter Reza memecah keheningan diantara mereka berdua.
__ADS_1
"it's okay... tidak masalah! Aku senang karena akhirnya kalian jujur padaku. Agar tidak ada hati yang tersakiti seperti diriku," jawabnya dalam keadaan tenang.
"Kamu serius tidak marah karena hal ini kan?" kembali bertanya. Sebab Reza lebih senang menanggung perasaan cinta dalam diam. Daripada persahabatan diantara mereka harus berakhir.
"Tidak, Re... eum mulai saat ini aku akan membuka pintu hatiku untukmu, untuk Riko dan siapapun prianya. Asalkan yang bisa mencintaiku dengan tulus. Aku tidak mau merasakan lagi yang namanya patah hati. Gara-gara cintaku yang bertepuk sebelah tangan," jujur Thalita menatap indahnya pemandangan di luar mobil.
"Baiklah! Kalau begitu aku akan sabar menanti sampai kamu siapa untuk memulai semuanya dari awal lagi. Aku juga akan berusaha buat menyakinkan mu bahwa aku benar-benar tulus mencintaimu," ungkap Dokter Reza yang langsung membuat si sopir menahan nafasnya sendiri.
Agar tidak menggangu dua pasangan muda dibelakangnya. Tuan mudanya sudah setua itu belum juga memiliki kekasih. Jadi tentu dia sangat mendukung hubungan diantara mereka.
"Huem, terima kasih! Karena kamu dan Riko lah, aku bisa setegar ini. Yang membuat ku sadar, bahwa duniaku belum berakhir," ucapnya tulus.
Hati yang terlalu sakit, tidak membuat Thalita takut untuk mencoba kembali. Gadis itu tidak sama seperti wanita yang lainya. Kegagalannya dalam pernikahan pertama, justru membuat nya ingin membuktikan pada sang mantan. Bahwa dia bisa hidup tanpa Adriel.
"Adriel, selama ini aku bertahan berada di sisimu karena ingin meyakinkan hatiku sebelum mengambil keputusan ini. Agar aku benar-benar yakin bahwa dirimu bukanlah yang terbaik untukku. Sehingga sakit yang kamu berikan ini. Itu jugalah yang akan membantuku agar bisa membenci dirimu," gumam Thalita dengan menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu dihembuskan dengan pelan.
__ADS_1
... BERSAMBUNG......