Mahligai Cinta Yang Tergoyah

Mahligai Cinta Yang Tergoyah
Selamat Tinggal Kenangan.


__ADS_3

💐💐💐💐💐💐


...HAPPY READING......


.


.


Ceklek!


Suara pintu kamar dibuka oleh Thalita pelan. Dia berjalan keluar dari kamar sambil menarik Koper bajunya. Entah mengapa, koper kecil itu seakan berat saat dia tarik. Tidak seperti biasanya, koper yang lebih besar pun terasa ringan.


"Huh! Selamat tinggal kenangan. Aku pergi," setelah menutup pintunya kembali. Thalita bersandar pada pintu kamar tersebut. Berulangkali gadis itu menarik nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan perlahan.


"Kamu pasti kuat, Tha," ucapnya memberikan semangat pada dirinya sendiri. "Ini yang terbaik untuk kamu dan Adriel. Huh!" dengan langkah pelan gadis itu mulai menuruni tangga satu persatu.


Rumah mewah itu terlihat sepi. Mungkin penghuninya masih tidur didalam kamarnya masing-masing.


Namun, disaat dia tiba diruang keluarga. Ternyata Tuan Marcel sudah duduk menunggu sang menantu. Beliau sudah menunggu di sana kurang lebih dari setengah jam yang.


Takut jika Thalita pergi lebih awal. Padahal mana mungkin gadis itu pergi tanpa berpamitan padanya.


"Papa," seru Thalita langsung memeluk Tuan Marcel yang merentangkan kedua tangannya begitu dia datang.


"Pergilah, Nak! Papa tahu kamu sangat menderita tinggal disini. Semoga kamu mendapatkan laki-laki yang mencintaimu," ucap beliau agar Thalita tidak mengkhawatirkan keadaannya.


"Iya, Pa, terima kasih untuk semuanya. Papa jaga kesehatan," jawab gadis itu seraya melepaskan pelukan mereka. Lalu dia menyugikkan senyuman kecil, sambil menyeka air disudut matanya


Setelah itu dia pun langsung pergi. Meninggalkan Tuan Marcel yang hanya bisa diam melihat Thalita sampai hilang dari pandangan.


Akan tetapi baru saja beliau mau duduk di atas sofa. Suara seseorang berlari mengema dalam rumah tersebut.


"Adriel," seru beliau kaget.


"Pa, Thalita mana?" tanya Adriel dengan nafas terengah-engah karena berlari dari lantai atas. Pemuda itu kesiangan, karena baru tidur setelah jam setengah lima pagi.


Setelah mandi dan berganti pakaian. Dia kembali ke kamarnya sendiri. Akan tetapi sang mantan sudah tidak ada.


"Thalita sudah pergi mencari kebahagiannya. Buat apa kam---"

__ADS_1


Sebelum Tuan Marcel selesai berbicara. Adriel sudah berlari keluar untuk mengejar mantan istrinya.


"Tha, Lita, tunggu!" teriaknya yang masih bertemu Thalita di teras rumah tersebut. Sehingga membuat gadis itu menoleh kebelakang.


"Ada apa?" tanya Thalita singkat.


"Biarkan aku yang mengantarmu," mendengar perkataan Adriel. Gadis itu menyugikkan senyum disudut bibirnya. Merasa jika saat ini Adriel tengah mengejeknya. Mungkin sedang membuat lelucon. Begitulah pikir Thalita.


"Biarkan aku yang mengantarmu pulang," lanjut Adriel untuk kedua kalinya.


"Terima kasih! Kamu tidak usah repot-repot. Aku bisa---"


"Thalita akan pergi bersamaku," sela Riko langsung mengambil alih koper dari tangan Thalita. Tidak lupa dia juga mengandeng mesra tangan sang sahabat.


"Riko, apakah kamu datang menjemput ku," seru Thalita tersenyum kearah pemuda itu.


"Iya, memangnya selain demi dirimu, untuk apa aku datang ke sini." jawab Riko yang dengan sengaja menekan kata demi dirimu.


"Apakah kamu sudah siap, cantik?" tanyanya lagi. Padahal tanpa dia bertanya saja tentu tahu bahwa Thalita sudah siap dan tinggal pergi saja.


"Tentu, ayo kita pergi," ajak Thalita kembali tersenyum menatap Riko. Itu semua dilakukan untuk menghilangkan kesedihannya.


"Tidak bisa! Thalita akan pulang bersamaku," cegah Adriel seperti orang bodoh. Bagaimana mungkin dia masih bisa berkata seperti itu.


Tanpa berpikir jika itu kesalahan dirinya yang tidak bisa memilih antara Fara atau Thalita istrinya.


"Adriel, Tahlita akan pergi bersamaku. Terima kasih atas niat baikmu," ujar Riko dingin.


Ya, semenjak Thalita kecelakaan malam itu. Riko mulai menjaga jarak dari Adriel. Pemuda itu kecewa pada sahabatnya. Sebab gara-gara Adriel. Gadis yang ia cintai hampir saja meregang nyawa.


"Ri, biarkan aku yang mengantarnya. Kamu langsung berangkat ke perusahaan saja," titah Adriel tetap memaksa.


"Tidak! Thalita akan pulang bersamaku," bantah Riko sudah menarik tangan Thalita lembut.


"Lita, Tha! Kamu pulang bersama ak----"


"Adriel, terima kasih! Aku akan pergi bersama Riko. Diantara kita sudah ada hubungan apa-apa lagi. Jadi mulai sekarang, jika bertemu denganku. Maka anggap saja kita tidak saling kenal," jawab Thalita yang langsung membuat Adriel membeku ditempatnya berdiri.


"Tapi di pengadilan kita masih suami-istri samping suratnya keluar," masih berusaha buat mencegah.

__ADS_1


"Hanya sampai hari ini. Mungkin sekitar jam sebelas siang, karena pengacara ku sudah mengurus semuanya." jelas gadis itu karena dia memang sudah memakai pengacara terbaik di kota itu.


Semuanya atas bantuan dari Tuan Marcel juga, karena sudah sangat marah pada Adriel. Beliau mendukung penuh keputusan Thalita untuk berpisah dengan putranya.


"Selamat tinggal," kata Thalita sebelum masuk kedalam mobil Riko sahabat baiknya. Dia meninggalkan Adriel begitu saja.


Braaak!


"Ini," Riko tersenyum seraya menyerahkan tisu. Ya, tisu karena Thalita langsung menangis begitu masuk kedalam mobil.


"Terima kasih, RI. Maaf aku hanya---"


"Menangis lah! Jika itu membuatmu merasa lebih baik. Tapi kita berangkat sekarang ya, soalnya Reza sudah menunggu di bandara," sela Riko yang mengerti bagaimana perasaan gadis itu.


"Iya, kita berangkat sekarang saja Lagian untuk apa juga berlama-lama di rumah ini," Thalita mengangguk setuju meskipun sambil menagis.


Tiiin!


Tiiin!


Riko membunyikan klakson mobil saat mulai menjalankan kendaraan tersebut. Sehingga Adriel yang tadinya membeku karena larut dalam pikirannya sendiri. Langsung tersadar kembali. Namun, pada saat itu Thalita sudah pergi membawa kekecewaan yang sudah ia toreh.


"Thalita," lirihnya yang langsung menjatuhkan air mata. Entah itu air mata bahagia karena tidak ada lagi orang yang menjadi penghalang hubungannya dan Fara. Atau juga bersedih karena sekarang dia tidak hanya kehilangan istrinya. Namun, juga sahabat dari masa kecilnya.


Tes!


Tes!


"Kamu benar-benar menyerah... Aku kira tadi malam semua yang kamu ucapkan hanya karena merasa kecewa kepadaku. Namun, ternyata kamu serius tidak main-main." Gumam Adriel menatap mobil Riko yang semakin jauh meninggalkan rumahnya.


Sementara itu di dalam mobil Thalita masih juga menangis.


"Sekarang percuma dirimu ingin mengantarku lagi, Adriel. Bila hatimu tak sanggup untuk mengerti diriku. Betapa sakitnya hatiku ini, karena dirimu," lirihnya didalam hati.


"Lupakan saja semua tentang kita. Anggap saja aku hanya tergila-gila pada indahnya wajahmu. Sehingga membuat kita saling menyakiti." gumam gadis itu lagi.


Soalnya tidak mungkin dia berbicara terang-terangan. Dihadapan Riko.


"Jujur saja, saat di awal aku tidak mampu melepas perasaan ini. Dia bagaikan sudah mendarah daging. Sudah bersatu dengan jiwa ragaku. Akan tetapi setelah rasa sakit karena tidak pernah dianggap oleh mu. Membuat rasa itu terkikis dengan sendirinya," ucap Thalita mengusap air matanya. Dia sudah merasa lebih baikan.

__ADS_1


...BERSAMBUNG......



__ADS_2