
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
Dua hari kemudian. Di kediaman Keluarga Afkar baru saja telah diadakan pernikahan Adriel dan Faranisa. Pernikahan mendadak, sebab Adrie tidak punya pilihan lain karena kekasihnya itu sudah hamil.
Walaupun sudah jelas bukan anaknya. Namun, Adriel tidak bisa menghindari tangung jawab tersebut. Soalnya benar kata Fara, jika sampai orang lain mengetahui Faranisa hamil dalam keadaan belum menikah. Maka laki-laki yang akan dituduh sebagai ayah bayi itu adalah dirinya.
Maka ancaman terbesarnya adalah perusahaan besar. Belum lagi hilang masalah skandal tentang perceraiannya dan Thalita yang disebabkan oleh orang ketiga.
Masa' iya sekarang harus mendapatkan guncangan degan berita kehamilan Faranisa lagi.
Semua orang tahu jika Adriel dan Faranisa sudah tinggal satu rumah dan perceraian Adriel dan Thalita juga karena wanita itu. Jadi atas perbuatannya yang ingin menyakiti mantan istrinya.
Adriel harus menerima konsuensi atas kesalahannya. Meskipun Thalita sekarang sudah menikah. Tapi Adriel tetap harus menerima hasil dari apa yang sudah dia tanam.
__ADS_1
"Pa," ucap Adriel setelah melihat para orang-orang yang menjadi saksi pernikahannya sudah pulang dan hanya tinggal mereka dan para asisten rumah tangga saja.
"Semoga kalian bahagia atas cinta yang kalian miliki. Cinta kalian sangat dahsyat, Nak. Sehingga kau membuang permata hanya karena sebuah batu kerikil yang sudah pecah tidak berbentuk sama sekali." setelah berkata demikian Tuan Marcel langsung pergi meninggalkan ruang tengah yang lagi dibereskan oleh para asisten rumah tangga mereka.
Beliau sengaja berkata demikian karena hatinya yang kecewa. Harus bertambah kecewa lagi karena putranya harus menikahi wanita hamil yang bukan keturunan Afkar.
"Pa, papa... tolong---"
"Adriel, sudahlah! Nanti papamu juga akan mengerti sendi---"
"Ini semua gara-gara kamu, jika bukan karena aku harus bertanggung jawab atas kehamilan mu. Maka papaku tidak akan kembali marah seperti ini." sentak pemuda itu ikut meninggalkan Fara yang hanya bisa mengepalkan tangannya erat.
Satu-satunya orang yang dia salahkan adalah Thalita. Tanpa berpikir bahwa semua itu tentu saja atas kesalahan dia dan Adriel. Lalu dengan kesal wanita itu pun ikut menyusul suaminya ke lantai atas.
Gumam wanita itu tersenyum bahagia. Sekarang dia memang hanya membutuhkan kehidupan mewah, bukan cinta lagi.
Ceklek!
"Fara, kenapa kau masuk ke kamarku?" seru Adriel yang lagi memandangi foto Thalita.
__ADS_1
"Adriel, sekarang aku adalah istrimu. Jadi sudah pasti akan tidur bersama mu. Lagian kenapa kamu harus kaget. Bukannya kita sudah biasa tidur bersama. Bahkan disaat malam pertamamu dan Thalita." mendengar ucapan Fara, membuat pemuda itu menurunkan pelan foto Thalita yang tadi dia pegang.
Lalu Adriel menyimpan kembali foto tersebut pada meja kecil samping tempat tidur.
"Bukannya katamu foto-foto Thalita sudah dia lepas sebelum pergi meninggalkan rumah ini. Lalu kenapa begitu banyak foto-fotonya yang terpasang? Apakah kamu memasangnya sendiri?" tanya Fara dengan nada kesal.
"Iya, aku memasangnya sendiri karena aku sangat menyesal sudah menyakitinya hanya karena dirimu yang tak berbeda dari tempat sampah." mendengar Adriel mengatasinya sampah. Faranisa langsung mengangkat tangannya mau menampar Adriel.
Namun, pemuda itu sudah menahan pergelangan tangannya dan di hempaskan cukup keras.
"Berani sekali kamu ingin menamparku. Jika kamu bukan tempat sampah, maka kamu tidak akan hamil anak laki-laki lain." ucap Adriel tersenyum menakutkan.
"Setelah kamu melahirkan. Maka aku akan menceraikan mu. Jadi jangan berharap lebih dari pernikahan ini." Hardik pemuda itu sebelum masuk kedalam kamar mandi.
Braaak!
Suara pintu kamar mandi yang dibanting keras oleh Adriel yang membuat Faranisa terperanjat kaget dan akhirnya dia pun meneteskan air matanya. tidak mengira jika Adriel bisa berlaku kasar padanya.
Biasanya pemuda itu akan menurut saja apa yang dia katakan. Namun, hari ini tidak lagi, tatapan Adriel padanya juga sangat tajam.
__ADS_1
...BERSAMBUNG......