Mahligai Cinta Yang Tergoyah

Mahligai Cinta Yang Tergoyah
Menyerah.


__ADS_3

πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


...HAPPY READING......


.


.


"Thalita! Dia tidak apa-apa, kan?" gumam Adriel sampai menjatuhkan kunci mobil yang ia genggam. Sehingga membuat Tuan Marcel menoleh. Namun, beliau tidak menghiraukan putranya.


πŸ“± Tuan Marcel : "Halo, Halo! Thalita, kamu baik-baik saja kan, Nak?" seru Tuan Marcel untuk kesekian kalinya.


πŸ“± Thalita : "Hick..hick... Lita baik-baik saja, Pa," tangis Thalita semakin terisak. Dia menahan rasa sakit hati dan juga kaget karena hampir menyambar pembatas jalan. Sampai mobilnya mengeluarkan asap. Untungnya dia tidak apa-apa dan baik-baik saja.


πŸ“± Tuan Marcel : "Apa yang terjadi? Apakah kamu kecelakaan?" desak pria paruh baya itu tidak sabar. Dia benar-benar merasa khawatir.


πŸ“± Thalita : "Thalita baik-baik saja, Pa. Tadi, tadi Lita hampir menabrak kendaraan lain. Namun, Lita cepat-cepat membanting setirnya dan malah menabrak pembatas jalan," jawab jujur gadis itu.


πŸ“±Tuan Marcel : "Astaga! Kamu sedang ada dimana? Ayo sebutkan Papa akan menyusul ke sana," seru beliau langsung mematikan telivisi yang masih menyala sejak tadi.


πŸ“± Thalita : "Tidak! Papa tidak perlu kesini, Lita baik-baik saja. Ini lagi menunggu asap mobilnya hilang. Setelah ini Lita akan pulang ke rumah ibu," tolak gadis itu karena saat ini dia masih duduk didalam mobil. Sambil melihat para penguna jalan yang lain mendekati mobilnya karena khawatir padanya.


πŸ“±Tuan Marcel : "Thalita, kamu tahu kan Papa menyanyangi mu seperti putri sendiri. Jadi jagan menyembunyikan jika kamu terluka, Nak." Tuan Marcel berhenti pada tempatnya berdiri.


πŸ“± Thalita : "Pa, Lita baik-baik saja. Ini juga mau pergi lagi. Soalnya Lita akan pulang ke rumah Almarhum Ibu, Papa istirahatlah, ini sudah malam," ucapnya sebelum memutuskan panggilan mereka.


πŸ“± Tuan Marcel : "Huem, baiklah! Tenangkan saja pikiran mu. Jika kamu mau Papa akan menyiapkan tiket untuk berlibur kemanapun tempat yang kamu inginkan." tawar Tuan Marcel akhirnya menyerah.

__ADS_1


πŸ“± Thalita :"Iya, terima kasih, Pa. Selamat malam," gadis itupun langsung menutup sambungan tersebut. Soalnya dia akan keluar dari mobil untuk memberitahu orang yang ingin menolongnya.


"Pa, apa yang terjadi pada Thalita? Sekarang dia ada dimana?" Adriel mendekati sang ayah dan melayangkan sejumlah pertanyaan. Padahal dia sudah mendengar sendiri jika Thalita masih mengisi dan hampir mengalami kecelakaan.


"Buat apa kamu bertanya? Apakah belum puas menyakitinya?" bukannya menjawab, tapi Tuan Marcel balik bertanya.


"Pa... Adriel minta maaf," sahut Adriel tidak bisa berkata banyak. Sebab dirinya memang sudah keterlaluan. Malam ini istrinya hampir saja mengalami kecelakaan dan itu semua gara-gara bertengkar dengan nya yang membuat Thalita marah lalu pergi dari rumah.


"Huh! Tuan Marcel menarik nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan perlahan. Seperkian detik kemudian dia pun berkata. "Papa minta maaf sudah menjodohkan kalian, Adriel. Ini kebodohan yang aku lakukan dalam seumur hidupku." lanjut beliau seperti sedang berbicara dengan orang lain.


"Padahal aku tahu jika kamu berbohong, tentang hubungan mu dan Fara. Tapi aku kira kamu adalah anak yang tahu diri dan akan kasihan pada pria tua ini. Namun, aku salah besar, karena keegoisanku. Thalita menjadi korbannya." ungkap beliau membeberkan semuanya.


"Malam ini aku mengaku kalah pada cintamu terhadap Fara. Jika kamu mau menikahinya, maka lakukanlah. Tapi lepaskan lah Thalita, biarkan dia mencari laki-laki yang bisa menghargai nya," setelah berkata seperti itu Tuan Marcel pergi meninggalkan Adriel dan tidak mendengar apapun yang diucapkan putranya.


"Papa, maafkan Adriel yang sudah keterlaluan," gumam pemuda itu sebelum pergi membawa mobilnya untuk menyusul Thalita.


Sepanjang perjalanan ke sana dia memperhatikan di kiri-kanan jalan. Mana tahu bisa melihat sosok sang istri. Soalnya dari rumah mereka ke rumah Thalita tidak begitu jauh.


Namun, dia tidak menemukan mobil istrinya, karena Thalita tadi lewat memutar. Jadi walaupun gadis itu masih berada di jalanan, juga tidak akan bertemu.


"Pantas saja tidak bertemu, ternyata dia sudah sampai," Adriel kembali bergumam. lalu dengan langkah pelan. Dia pun keluar dari mobilnya yang sengaja dia parkir di pinggir jalan saja.


Adriel yang sudah paham dengan kebiasaan Thalita, berjalan ke arah Taman kecil yang ada di rumah tersebut. Sesuai dugaannya, bahwa sang istri lagi duduk di pinggir jendela kaca besar. Sambil menangis dan memeluk foto ibunya yang sudah meninggal dunia.


"Ibu... sekarang spa yang harus Thalita lakukan. Aku sudah tidak sanggup lagi menjalani semuanya. Aku lelah dan ingin berhenti sampai di sini saja," lirih Thalita masih terus menangis.


Tanpa dia sadari jika dari luar jendela Adriel terus menatapnya. Pemuda itu merasa sakit melihat keadaan istrinya yang kacau. Belum lagi mobil Thalita yang rusak cukup parah.

__ADS_1


Menurut perkiraan Adriel jika kecelakaan itu tetap terjadi, maka keadaan Thalita pasti akan terluka parah. Soalnya bagian kap mobil yang arah samping kiri, kacanya sampai pecah. Begitu pula dengan bagian kepala mobilnya.


"Maafkan Thalita tidak bisa menjalankan amanah yang pernah ibu ajarkan selama ini. Bukan aku tidak mau mempertahankan pernikahan kami. Namun, jika diteruskan akan saling menyakiti." ucap Thalita pada foto sang ibu bersama ayahnya.


"Besar pun harapanku untuk hidup bersamanya, jika dia tidak menginginkan kehadiranku tetap saja tidak ada arti apa-apa," lirih Thalita yang masih berbicara sendiri.


"Hancur sudah semua harapan ku, Adriel. Kamu membangun sebuah benteng diantara kita. Padahal dirimu tahu bahwa aku berusaha agar bisa bersanding dengan mu," ungkap gadis itu lagi semakin terisak.


Hal itu disaksikan oleh Adriel, tapi dia tidak bisa mendengar apa yang Thalita ucapkan.


"Dia menagis seperti itu karena perbuatan ku," Adriel menyandarkan tubuhnya pada pot bunga yang ada dibelakang tubuhnya. Hatinya sangat sakit melihat Thalita yang tegar harus menagis tersedu-sedu hanya karena mencintainya.


"Jika kamu memang memilihnya, maka mulai sekarang aku akan berhenti. Seberapa besar cinta yang aku miliki, tidak akan pernah bisa memiliki dirimu seutuhnya. Apalagi yang bisa aku lakukan, karena hadirku hanya menjadi benalu buat hubungan mu dan Fara," sambung gadis itu sambil menatap cincin pernikahan mereka.


"Apakah dia memang sudah sering menangis seperti ini? Atau malam ini saja?" lain yang Thalita ucapkan. Maka lain pula yang dipertanyakan Adriel pada dirinya sendiri.


Belasan, bahkan puluhan tahun mereka bersahabat. Baru malam ini dia melihat Thalita terpuruk karena sedang berada di titik terendah. Hatinya benar-benar hancur atas semua perlakukan Adriel selama ini.


"


"Thalita, maafkan aku," ucap Adriel di dalam hatinya sebelum meninggalkan rumah tersebut.


Dia memang tidak berniat untuk menemui Thalita, karena kedatangannya ke sana hanya untuk memastikan. Apakah Thalita baik-baik saja atau tidak.


Setelah masuk ke dalam mobilnya. Adriel tidak langsung pergi. Akan tetapi dia duduk sambil meletakkan kepalanya pada setir. Sekarang pikirannya menjadi tidak karuan. Gara-gara sikapnya itu Adriel sudah menyakiti perasaan ayah dan sekaligus istrinya sendiri.


Gadis yang merupakan sahabatnya sejak kecil. Akan tetapi sekarang mereka berdua benar-benar sudah seperti dua orang yang bermusuhan.

__ADS_1


*BERSAMBUNG*...


__ADS_2