
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
Uhuuk!
Uhuuk!
Adriel terbatuk-batuk karena mendengar pertanyaan ayahnya.
"Apakah kamu mencoba ingin membohongi Papa?" ulang Tuan Marcel menatap putranya dengan tatapan kecewanya. Walaupun Adriel tidak menjawab pertanyaannya. Namun, dari cara sambutan sang putra tersedak air liurnya sendiri. Beliau sudah tahu apa yang terjadi.
"Pa... Adriel bisa menjelaskan semuanya, semua ini tidak sama seperti yang Papa pikirkan," jawab Adriel setelah meminum air putih dan merasa enakan pada tenggorokannya
"Entahlah, Papa tidak tahu harus berpikiran buruk atau baik terhadapmu. Akan tetapi satu hal yang perlu kamu ketahui. Bahwa Papa sangat kecewa padamu," ucap Tuan Marcel jujur. Tidak ada lagi yang harus dia sembunyikan. Nyatanya setelah dinikahkan dengan Thalita, putranya semakin berulah. Jauh dari perkiraan beliau, bahwa Adriel akan berubah, dan putus bersama Thalita.
"Pa, tolong maafkan Adriel, ak---"
"Kamu tidak perlu meminta maaf pada Papa, karena Papa hanya kecewa padamu. Namun, kamu harus meminta maaf pada Thalita. Dia hanya menjadi korban disini. Entah mengapa pagi ini Papa tiba-tiba menyesal telah menjodohkan kalian," ucap beliau dengan helaan nafas berat.
"Pa---"
__ADS_1
"Ayo sarapan, Papa mau pergi ke makam mama mu," Tuan Marcel kembali menyela. Menjadi orang tua tunggal bagi sang putra membuat dia menanggung sendiri apapun masalah yang terjadi. Tuan Marcel tidak bisa mengeluh kepada istrinya ataupun orang lain. Sebab biasanya sebuah keluarga itu bila ada masalah akan saling berbagi. Sedangkan Tuan Marcel adalah duda yang ditinggal mati oleh istrinya sejak puluhan tahun lalu.
"Papa, tolong maafkan Adriel," perkataan ayahnya akan pergi ke makam sang ibu. Membuat Adriel semakin merasa bersalah, dia tahu ayahnya jika ada masalah pasti akan datang ke sana. Untuk bercerita pada gundukan batu, yaitu adalah makan ibunya Adriel.
"Papa sudah bilang bukan, kamu tidak perlu minta maaf pada papa. Sekarang habiskan makananmu tidak usah banyak bicara lagi," setelah itu Tuan Marcel langsung diam dan mulai menyiapkan makanan miliknya sendiri. Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu bahkan sampai selesai, dan kembali meninggalkan meja makan.
Tuan Marcel pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap begitupun dengan Adriel. Pemuda tersebut juga kembali ke lantai atas ke kamar miliknya sendiri untuk beristirahat, karena dia masih cuti tidak berangkat ke perusahaan.
"Aagghk! suara adriel mengerang sambil menarik rambutnya ke arah muka saat ini dia lagi duduk di atas sofa di dalam kamar miliknya. "Semua ini gara-gara Thalita, andai saja dia pagi ini dia sarapan di rumah. Maka papa tidak mungkin menceramahi aku dan mengetahui semuanya," ucap Adriel malah menyalahkan istrinya.
Bukannya berpikir atas perbuatannya tadi malam yang tidak pulang ke rumah. Seharusnya sebelum dia mengambil keputusan tersebut harus berpikir bagaimana jika sampai ayahnya mengetahui bahwa dia menginap di apartemen Faranisa. Bukan menyalahkan istrinya sendiri.
*
*
"Kenapa matamu bisa menghitam seperti ini? Apakah kamu tidak bisa tidur karena perbuatan Adriel" tanya Riko sambil menyodorkan makanan milik Thalita. Riko memang selalu berangkat lebih awal daripada karyawan lainnya jadi begitu dia keluar dari mobilnya tadi pagi langsung terkejut melihat kedatangan Thalita.
Tidak seperti biasa sahabatnya itu berangkat ke perusahaan lebih awal, karena biasanya Thalita adalah satu-satunya karyawan yang datang paling terlambat. Sebab tugasnya di perusahaan itu adalah sebagai senior dari para desainer yang lain.
Riko dan Thalita sudah bersahabat semenjak kecil. Jadi dia sangat tahu bahwa Thalita pasti memiliki masalah dan tentunya tidak akan sarapan apabila berangkat sepagi itu. Alhasil Riko pun memesan sarapan buat mereka berdua dan membawa Thalita ke dalam kerjanya.
"Ck, kamu bertanya atau ingin mengejekku jika sudah tahu kenapa berpura-pura seperti ini sangat tidak lucu," decak Thalita menerima piring yang daging di dalam piring tersebut sudah dipotong kecil-kecil oleh Riko agar Thalita hanya tinggal menyuapi saja menggunakan sendok garpu.
"Ha... ha... Jika kamu marah pada Adriel, jangan bawa-bawa diriku. Santai saja aku tadi hanya bercanda," Riko tertawa melihat wajah jutek sahabatnya itu.
__ADS_1
"Huem," jawab Thalita berdehem dan mulai menyantap makanan miliknya. Sebab ia memang sangat lapar. Soalnya tadi malam Tahlita hanya makan sedikit dan lebih tepatnya cuma mengaduk makanan miliknya saja. Agar Tuan Marcel tidak tahu bahwa dia sedang memikirkan perkataan Faranisa ketika menelpon dirinya.
"Makanlah! Nanti sore setelah pulang bekerja, bagaimana jika kita pergi jalan-jalan. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." ucap Riko juga ikut menikmati makanan miliknya.
"Pergi! Pergi kemana? Lagian apa ada tempat yang tidak pernah kita datangi bersama?" cibir Thalita dengan senyuman manisnya.
"Kamu ini!" Riko ikut tersenyum, karena apa yang dikatakan oleh Thalita memang benar. Hampir semua tempat di ibukota tersebut sudah mereka datangi. "Tentu saja ada, ini tempat baru. Aku saja baru datang ke sana tadi malam. Tempatnya sangat indah apabila kita datang ke sananya malam hari. Tapi jika kamu mau jika tidak ju----"
"Eh, tidak, tidak! Aku mau," sela gadis itu cepat. Tanpa berpikir lagi Tahlita langsung mau pergi bersama Riko. Anggap saja dia menenangkan hatinya yang sudah dikecewakan oleh Adriel. Kenapa juga dia harus mempertimbangkan untuk membuat senang dirinya sendiri. Adriel saja yang menginap di Apartemen bersama kekasihnya tidak ada bertanya lebih dulu.
"Baiklah, setelah ini kamu tidak boleh galau dan bekerja lah dengan baik. Saat gajian bulan depan aku akan menambahkan bonus untukmu," Riko sengaja berkata demikian. Agar Tahlita lebih bersemangat lagi melupakan Adriel walaupun hanya sejenak. Walaupun pemuda tersebut tahu jika Thalita sedang memiliki masalah, justru dia akan lebih giat lagi untuk membuat desain terbaru.
"Oke, siap! Kamu tenang saja, tadi malam aku sudah membuat beberapa desain untuk peluncuran produk kita bulan ini. Nanti aku akan menyuruh Kinara untuk membuat satu produk mentahnya dulu. Agar tahu kira-kira akan laku di pasaran atau tidak, dan bagian mana saja yang harus ku ubah," jawab Thalita dengan semangat empat lima nya.
"Bagus! inilah yang aku suka pada dirimu. Apabila memiliki masalah, justru akan menguntungkan perusahaan," Riko tergelak karena mendengar ucapannya sendiri.
"Sialan kamu!" jangankan Riko, Thalita sendiri pun ikut tertawa. Karena yang dikatakan Riko memang benar. Apabila dia lagi memiliki masalah justru akan menghasilkan desain terbaru lebih banyak lagi.
"Thalita... Kamu benar-benar gadis yang sangat tangguh dan pekerja keras. Sungguh beruntung sekali laki-laki yang mendapatkanmu. Namun, sayangnya mata dan hati Adriel sudah dibutuhkan oleh cintanya kepada Faranisa, sehingga dia tega menyakiti sahabatnya sendiri yang sekarang sudah menjadi istrinya,"
Gumam Riko didalam hatinya, sambil memperhatikan Thalita yang tersenyum bahagia.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1