
💐💐💐💐💐💐
.
.
Pagi harinya, jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Namun, Adriel sudah meninggalkan Apartemen milik Faranisa. Hampir semalaman ini pemuda itu tidak bisa memejamkan matanya. Walaupun sudah tidur sambil memeluk kekasihnya tetap saja Adriel tidak bisa tidur.
Bukan karena masalah tempat baru, tapi memang hatinya tidak tenang seperti sudah terjadi sesuatu. Padahal hanya karena dia telah menikah dan ada rasa bersalah pada istrinya.
"Huh! Semoga papa tidak tahu," sebelum turun dari mobil Adriel menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya apabila ayahnya sudah bangun dan menanyakan dirinya yang tidak pulang.
Namun, begitu dia masuk mengunakan kunci serep yang selalu ia bawa. Di dalam rumah masih terlihat sepi. Mungkin yang bangun hanya para Asisten rumah tangga yang tinggal di rumah belakang.
Berhubung apa yang ia takutkan tidak terjadi. Adriel akhirnya berjalan kearah tangga menuju lantai atas tempat kamarnya berada.
Ceklek!
Suara pintu yang dia buka dan untungnya pintu tersebut tidak terkunci. Begitu dia masuk Adriel dikejutkan oleh Thalita yang sudah mandi dan rapi. Tanpa bertanya Adriel sudah tahu bahwa istrinya pasti mau berangkat bekerja. Sebab selain perusahaan tidak ada tempat lain yang dikunjungi oleh Thalita. Namun, yang membuat Adriel kaget seharusnya Thalita masih cuti sama seperti dirinya.
Melihat kedatangannya Thalita hanya diam dan kembali melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan kertas desain dia tadi malam. Bukan hanya Adriel yang tidak bisa tidur, Thalita pun sama. Akan tetapi gadis itu mengunakan kesempatan tersebut untuk sekalian bekerja.
"Thalita, kamu mau kemana?" meskipun sudah tahu tapi Adriel berpura-pura bertanya. Anggap saja dia lagi mencairkan kecanggungan diantara mereka berdua.
__ADS_1
"Bekerja," Thalita hanya menjawab singkat dan seperlunya.
"Kenapa sudah bekerja? Bukannya seharusnya besok pagi? Kamu ini mata duitan sekali, coba lihat para pengantin di luar sana. Apabila mengambil cuti pernikahan paling sebentar selama satu Minggu. Lah dirimu ngambil cuti dua hari. Tapi hari kedua sudah berangkat bekerja," cibir Adriel berniat ingin membuat Thalita bertengkar dengannya. Akan tetapi jawaban dari sang istri membuat dia merasa tertohok sendiri.
"Iya, aku memang matre mata duitan," jawab Thalita sudah memasukkan semua peralatan yang ia butuhkan saat bekerja. Lalu setelah itu dia kembali lagi berkata. "Mereka mengambil cuti lama, ada alasannya. Sedangkan aku, apa yang membuatku harus istrirhat. Aku hanya menikah bukan untuk merasakan menjadi seorang istri," setelah berkata demikian Thalita langsung melangkah menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti karena Adriel.
"Apa kamu lagi menyingung ku karena tadi malam tidak pulang?" tanya Adriel mengepalkan tangannya erat.
"Menurutmu? Apakah ada istri yang tidak akan marah disaat suaminya tidur di Apartemen bersama selingkuhannya?" Thalita tidak menjawab, tapi malah kembali melemparkan pertanyaan.
"Thalita, aku tidak pernah selingkuh dan---"
"Dan semua ini karena kesalahanku yang menerima perjodohan kita? Itu kan yang ingin kamu katakan," sela gadis itu tersenyum miring. Sebelum Adriel kembali mengatakan sesuatu dia sudah pergi dan menutup kembali pintu kamar Adriel.
"Thalita, Tha---" Adriel terlambat karena istrinya mengambil langkah panjang. "Agh, brengsek!" mengumpat kasar dan Adriel berjalan kearah ranjang lalu merebahkan tubuhnya di sana.
"Nak, kamu mau kemana? Apakah sudah mau berangkat bekerja?" tanya pria paruh baya itu melihat penampilan sang menantu dari atas sampai bawah.
"Pagi, Pa," sapa Thalita nyengir kuda. "Iya Pa, Thalita minta maaf karena hari ini sudah mau mulai bekerja. Soalnya ada beberapa pekerjaan yang harus Thalita kerjakan hari ini. Kasihan dengan Riko apabila terlalu lama ditunda," ucap Thalita baru menjawab pertanyaan mertuanya.
"Iya tidak apa-apa, pergilah bekerja. Asalkan baik untuk dirimu. Tapi... apakah kamu tidak ingin sarapan terlebih dahulu? Sepertinya kamu terlihat sangat buru-buru?" sudah tahu apa alasan wanita ingin bekerja hari ini Tuhan Marcell pun tidak melarangnya. Sebab beliau pun tahu jika putranya tadi malam tidak pulang ke rumah dan menginap di Apartemen Faranisa.
"Benar Pa, Thalita akan sarapan di perusahaan saja, karena tadi sudah memesan kepada asisten perusahaan untuk membeli sarapan." jawab Thalita berbohong, karena dia ingin sarapan di perusahaan dikarenakan hanya mau menghindari Adriel dan untuk menenangkan hatinya.
__ADS_1
Untuk saat ini lebih baik dia menjauh sampai hatinya benar-benar tenang. Jika terus bersama yang ada dia dan Adriel semakin bertengkar dan menyebabkan dia sendiri yang sakit hati karena perkataan pedas Adriel padanya.
"Oh seperti itu, baiklah jika begitu kamu hati-hati di jalan dan kalau bisa nanti malam makan malam di rumah saja. Tatapi bila memang kamu tidak bisa, maka jangan dipaksakan. Papa mengerti jika pekerjaanmu sangatlah dibutuhkan oleh perusahaan Rico," Tuan Marcel tersenyum kecil agar menantunya mengira bahwa beliau tidak mengetahui apa-apa.
"Akan Thalita usahakan agar bisa makan malam bersama di rumah," jawab Tahlita yang juga tersenyum. Lalu dia berpamitan menyalami tangan Ayah mertuanya sebelum meninggalkan kediaman Afkar menggunakan kendaraan dia sendiri.
Sudah biasa hidup mandiri semenjak ayahnya meninggal dunia. Membuat Thalita menjadi sosok gadis yang tegar dan tidak bergantung pada orang lain. Sehingga apapun yang dilakukan oleh Adriel padanya, tidak membuat gadis itu duduk menangisi nasibnya seorang diri.
Tap!
Tap!
"Selamat pagi, Pa?" sapa Adriel yang mandi dan bergantian secepat kilat. Dia mengira bahwa Thalita pasti ada di meja makan lagi menunggu kedatangan dirinya. Namun, alangkah terkejutnya Adriel begitu tiba di sana hanya ada ayahnya seorang diri.
"Ya, selamat pagi juga," Jawab Tuan Marcel singkat, karena dia tiba-tiba merasa malas untuk berbicara dengan putra tunggalnya itu. Kecewa, Ya Tuan Marcel kecewa pada Adriel yang tega tidur di Apartemen berama wanita lain daripada dengan gadis yang beliau pilihkan.
"Oh ya... Thalita ke mana, Pa? Kenapa tidak ada?" tanya Adriel melihat keseluruhan ruangan dapur bersih. Namun, juga tidak melihat sosok istrinya.
"Thalita sudah berangkat ke perusahaan, dia akan sarapan di sana katanya. Apakah dia tidak bilang kepadamu?"
"Tidak, dia tidak mengatakan apa-apa," Adriel menarik kursi kosong. Lalu duduk mata melihat begitu banyak menu makanan kesukaan dia dan Thalita. Namun, pagi ini karena ulahnya yang berniat menyakiti Thalita dengan cara tidur di Apartemen. Membuat istrinya itu tidak sarapan di rumah. Adriel sangat yakin jika Thalita marah padanya.
Lagian sangat aneh apabila Thalita sampai tidak marah padanya. Sebab gadis itu sudah mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai Adriel.
__ADS_1
"Adriel, tadi malam apakah kamu tidur di Apartemen Faranisa? dengan cara beralasan bahwa dirimu pergi bertemu dengan rekan bisnis dari perusahaan?" tanya Tuan Marcel ingin mengetahui apa jawaban dari putranya.
...BERSAMBUNG......