
ππππππ
...HAPPY READING......
.
.
Ceklek!
"Thalita!" seru Dokter Reza yang baru keluar dari dalam kamar mandi. Dia kaget karena melihat penampilan istrinya yang hanya mengenakan lingerie seksi. Bukan baju tidur seperti saat dia mau mandi tadi.
Gleeek!
Dokter Reza adalah pria normal. Melihat kemolekan tubuh istrinya, membuat pemuda itu menelan Saliva nya sendiri. Tubuhnya seakan langsung menegang. Aliran darahnya mengalir begitu deras. Dingin dari hujan di luar sana.
Tiba-tiba malah membuat tubuhnya merasa panas. Dokter Reza tahu apa penyebabnya. Namun, dia bagaikan seorang gadis polos yang tidak tahu apa-apa.
Apa yang dokter itu lakukan agar dia tidak bertindak gegabah yang akan membuat dia kehilangan Thalita. Soalnya setahu Dokter Reza, Thalita masih mencintai Adriel dan untuk bisa menyentuhnya. Tentu harus membutuhkan proses panjang.
Meskipun Thalita berkata sangat membenci mantan suaminya. Tapi Dokter Reza tahu bahwa semua itu hanya untuk membuang rasa sakit wanita itu saja.
"Kenapa kamu terlihat kaku? Apakah tidak suka melihat ku makai lingerie seperti ini?" Thalita berjalan untuk mendekati suaminya yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Lalu begitu sudah berada dihadapan Dokter Reza.
Thalita langsung mengalungkan tangannya pada leher sang suami yang bertelanjang dada. Dokter Reza hanya mengenakan handuk pada pinggangnya. Roti sobek terpampang jelas pada dada putih, mulus tanpa noda sedikitpun.
"Tha, apa yang kamu lakukan? Aku laki-laki normal. Jadi tolong ja---"
Cup!
Sebelum si dokter tampan menyelesaikan ucapannya. Thalita sudah menempelkan bibir mereka. Sehingga dokter tersebut langsung menahan tengkuk wanita itu. Untuk memperdalam ciuman mereka.
Namun, setelah hampir satu menit. Dokter Reza melepaskan pangutan tersebut. Dia menempelkan kepala mereka berdua dengan nafas terengah-engah karena sedang berusaha menahan hastranya yang benar-benar terasa naik ke ubun-ubun.
"Tha, kenapa kamu---"
"Ini malam pertama kita, aku ingin kita melakukannya sekarang. Meskipun mungkin bagimu aku terlihat seperti wanti murahan. Aku tidak peduli, karena aku berlaku seperti ini hanya kepadamu." sela Thalita cepat karena dia bisa menebak apa yang ada dalam pikiran suaminya.
"Tha, aku bukannya tidak mau melakukannya sekarang. Tapi---"
"Tapi kamu takut kecewa karena telah menikahi seorang janda? Jika begitu kenapa kamu menikahi ku? Bukannya kamu tahu sejak awal, bahwa aku adalah---"
__ADS_1
Cup!
Kali ini Dokter Reza yang menyambar bibir ranum Thalita lebih dulu. Setelah merasa cukup ia lepaskan lagi dan berkata.
"Aku menerima dirimu apa adanya. Aku tidak pernah memiliki pemikiran seperti itu. Aku belum mau melakukannya sekarang karena tidak ingin kamu merasa tertekan karena belum bisa melupakan Adriel sepenuhnya." ungkap si dokter menyentuh pipi istrinya.
"Re, justru aku ingin melakukannya sekarang karena aku ingin segera melupakan apapun itu tentang Adriel. Makanya aku menerima lamaran darimu karena aku sudah siap melupakan semuanya." jawab Thalita yang begitu yakin karena melihat pesan yang dikirim oleh Adriel tadi membuatnya ingin menjadi istri Dokter Reza seutuhnya.
Thalita ingin mempersembahkan mahkotanya pada laki-laki yang menjadi pelabuhan terakhir hatinya.
Mendengar jawaban Thalita. Tentu dokter tersebut tidak mau melewatkan kesempatan itu lagi. Dia langsung menggendong Thalita ala bridal style. Degan satu kali gerakan tubuhnya yang tegap. Langsung membawa gadis itu keatas tempat tidur.
Lalu ia baringkan dengan pelan di atas tempat tidur yang memang dirias seperti mana ranjang pengantin pada umumnya.
"Jika kamu sudah yakin, maka aku tidak akan pernah menolak untuk melewatkan malam pertama kita." ucapnya yang kembali lagi bersilaturahmi bibir.
Thalita pun tersenyum di dalam hatinya. Dia mengalungkan lagi tangannya pada leher pemuda itu.
"Aku sangat mencintaimu, Tha. Aku menerima dirimu apa adanya." dokter tampan tersebut kembali menyatakan perasaannya sebelum kembali mencumbu Thalita.
Sedangkan wanita itu semakin mengembangkan senyumnya. Thalita sangat bahagia karena Dokter Reza menerima dia apa adanya.
"Re..." Thalita yang belum pernah merasa sentuhan mampu membuatnya mendesah dengan mata terpejam.
Namun, mendengar suara tersebut, tidak membuat Dokter Reza menghentikan pekerjaannya. Dia mulai berani memberikan tanda kepemilikan pada leher jenjang gadis itu. Lalu setelah merasa puas mengukir Kiss Mark di berbagai tempat.
Tangan Dokter Reza mulai berani merambah turun. Untuk mulai mendaki gunung kembar tersebut. Dia harus melewati kaca mata berwarna hitam yang senada dengan lingerie yang Thalita pakai.
Wanita itu memang sudah mempersiapkannya. Namun, tidak disangka akan ia pakai malam ini juga. Soalnya jika tidak melihat pesan dari Adriel yang ingin menghancurkan rumah tangganya.
Thalita tidak akan seberani sekarang, yang terlihat seperti seorang j4 lang. Namun, demi tekadnya yang ingin melupakan Adriel sepenuhnya. Dia pun melakukan hal tersebut.
"Aagh! Re, aku..."
"Keluarkan saja sayang, tidak akan ada yang mendengar suaramu." jawab Dokter Reza yang mulia melahap gunung kembar istrinya secara bergiliran. Tangan laki-laki itu juga tidak tinggal diam, yang saat ini mulai melepas penutup aset berharga Thalita.
"Kenapa masih kencang? Bukannya kata Adriel, mereka melakukannya setiap malam?" batin dokter tersebut dengan mata terpejam merasakan sensasi apa yang dia lakukan saat ini.
Thalita yang semakin tidak tahan tentu menekan kepala suaminya agar terus melanjutkan kegiatan tersebut. Meskipun dia terus mendesah. Apalagi setelah tangan si dokter yang biasa merawat pasiennya. Malam ini mulai mencari celah untuk melakukan gladi resik di hutan belantara yang belum pernah di datangi oleh siapapun.
Aaagk!
__ADS_1
Suara Thalita yang seperti kesakitan membuat dokter itu menarik jari tangan yang baru masuk separuhnya keluar dari goa terlarang. Padahal baru saja dia akan bersilaturahmi ke sana. Dengan niat baik, bukan seperti penyusup.
"Apakah sakit?" tanyanya yang dianguki oleh Thalita.
"Aneh sekali? Apakah Thalita...? Tidak! Aku tidak akan tahu jawabannya, sebelum melakukannya. Namun, apapun itu, aku menerima istriku apa adanya." gumam Dokter Reza tersenyum kecil di sudut bibirnya yang nyaris tidak terlihat.
"Tahanlah! Nanti pasti akan terasa nikmat," bisiknya yang kembali lagi melakukan pemanasan agar Thalita bisa rileks seperti sebelumnya.
Sampai hampir sepuluh menit kemudian. Tepatnya setelah mendengar Thalita terus mendesah. Dokter Reza langsung saja menarik handuk yang dia pakai dalam satu kali tarikan.
Sehingga terlihatlah tubuh polosnya, sedangkan Thalita sudah tidak memakai sehelai benangpun karena lingerie yang ia pakai sudah robek di tarik suaminya sejak tadi.
"Aaaa... besar sekali. Apakah akan masuk?" batin Thalita begitu melihat ternak suaminya yang membesar karena lagi bagun dari tidurnya.
Dengan perlahan, tapi pasti. Dokter Reza mengarahkan tongkat tersebut pada tempat yang seharusnya. Namun, baru tiba di depannya sudah tidak bisa masuk.
Sehingga dokter tersebut harus mengunakan sedikit tenaganya untuk mendorong masuk. Namun, sampai beberapa kali dorong. Barulah bisa menembus selaput dara Thalita yang langsung membuat wanita itu menjerit kesakitan disertai air matanya.
"Aaaaghkk! Re... sa--sakit!" rintih Thalita mencengkram erat punggung suaminya. Kukunya yang panjang bahkan sudah melukai kulit mulus suaminya.
Dokter Reza pun sontak langsung melihat ke arah milik mereka yang menyatu dan benar. Darah perawan Thalita menetes pada sepray putih yang sudah kusut. Padahal gempa lokal belum terjadi.
"Tha, kamu..." dokter tampan itu tidak bisa membendung rasa bahagianya. Tidak pernah ia berpikir bahwa Thalita masih perawan. Wanita itu hanya menggangguk dengan air matanya. Menahan rasa sakit dan juga bahagia karena sudah menyerahkan mahkota berharganya pada laki-laki yang mencintainya tanpa syarat.
Cup!
"Maafkan aku, aku tidak tahu jika kamu masih perawan." Dokter Reza mencium kembali bibir istrinya. Agar Thalita bisa merasakan nikmatnya penyatuan mereka saat ini.
Setelah Thalita mulai tenang tidak merintih kesakitan. Pada saat itulah dokter tersebut mulai mengerakkan pinggulnya degan pelan, karena ternyata Thalita masih merasakan sakit.
"Aku mencintaimu," ucap pemuda itu yang sama-sama memejamkan matanya. Merasakan nikmat dunia yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Sama seperti Thalita yang belum pernah juga merasakan hal tersebut.
Malam ini mahligai cintanya yang tergoyah. Telah menemukan kembali lanjaran untuk dia tetap berdiri tegak. Tidak akan tumbang hanya karena sebuah angin.
...BERSAMBUNG......
.
.
Hai... hai... rencananya Novel ini mau Mak Author buat Tamat. Apakah kalian setuju? Paling hanya tinggal beberapa Bab lagi. Tapi jika diperpanjang kemungkinan akan ada kisah baru lagi.βΊοΈ
__ADS_1