Mahligai Cinta Yang Tergoyah

Mahligai Cinta Yang Tergoyah
Berstatus Janda.


__ADS_3

💐💐💐💐💐💐


...HAPPY READING......


.


.


"Huh! Aku sangat bersyukur pergi ke sini," Thalita menghembuskan nafasnya kasar. Saat ini gadis cantik itu tengah berada di balkon kamarnya.


"Semoga kamu bahagia Adriel, aku pun akan mencari kebahagiaan ku sendiri." lanjutnya lagi yang masih belum bisa melupakan Adriel sepenuhnya. Padahal selama berada di rumah Dokter Reza, gadis itu selalu merasa bahagia.



Saat Thalita masih bersandar pada pintu kearah balkon. Pintu kamarnya ada yang mengetuk dari luar. Sehingga janda muda itu langsung berjalan untuk membuka pintunya.


Ceklek!


"Re... kamu sudah kembali? Cepat sekali," seru Thalita melihat kedatangan Dokter Reza. Pemuda tampan itu baru pulang dari mengantar ibunya pergi ke rumah saudaranya sejak tadi pagi.


Padahal saat mau berangkat Dokter Reza sudah mengatakan bahwa mungkin dia akan pulang malam hari. Soalnya jaraknya cukup jauh.


"Huem, sudah! Karena ibu menyuruhku pulang duluan. Katanya kasihan dirimu tidak ada yang menemani," jawab Dokter Reza menatap lekat pada Thalita yang terlihat sangat cantik.


"Re--Reza... kamu ke---kenapa?" tanya gadis itu tergagap. Soalnya selama mereka bersahabat, dokter tersebut tidak pernah menatapnya seperti itu.


"Aku tidak kenapa-napa, hanya sedang menatapmu. Ternyata kamu memang sangat cantik. Hanya Adriel bodoh itu yang membuang permata demi sebuah batu kerikil yang tajam." jawab Dokter Reza jujur.

__ADS_1


Gara-gara Thalita sudah mengetahui perasaan yang ia miliki. Membuat dokter itu semakin berani untuk merayu atau berkata romantis.


"Ck, sudahlah! Jika ingin memuji aku cantik, ya puji saja. Jangan membawa-bawa nama Adriel. Aku sudah malas mendengar namanya," sahut Thalita tersenyum karena sudah dengan bangganya memuji diri sendiri cantik.


"Baiklah! Mulai sekarang aku tidak akan menyebut si bodoh itu lagi. Eum... aku hanya akan mengatakan bahwa kamu benar-benar cantik," Dokter Reza kembali menggoda Thalita. Sehingga pipi putih gadis itu menjadi bersemu kemerahan.


Ketahuilah, selama ini Thalita belum pernah berpacaran. Dia hanya baru jatuh cinta pada Adriel. Pemuda yang selalu bertengkar dengannya. Jadi hal wajar bila di goda sedikit saja dia sudah merasa malu.


"Re... berhentilah bicara hal konyol, kau membuatku malu," Thalita langsung membelakangi tubuh Dokter Reza yang tersenyum melihatnya.


Gadis itu baru saja mengambil ponselnya. Untuk berpura-pura sibuk. Namun, seperkian detik kemudian. Tangannya sudah ditarik oleh sang dokter.


"Astaga! Re, kamu mau membawaku kemana?" seru Thalita karena Dokter Reza membawanya keluar dari kamarnya.


"Ikut saja, kita akan jalan- jalan." tidak ingin membuang-buang waktu dan kesempatan. Dokter itu berniat ingin merebut hati Thalita yang masih terperangkap pada Adriel mantan suaminya.


"Kita mau pergi kemana? Aku belum membawa dompet. Bagaimana bila aku ingin sesuatu da---"


Lalu Thalita pun tidak protes lagi. Dia akan ikut kemana saja sang sahabat membawanya. Sebab Dokter Reza mana mungkin membawanya ke tempat yang salah dan berbahaya.


"Ayo masuk!" titahnya setelah membuka pintu mobil yang terparkir di halaman rumah tersebut.


"Heum," dehem Thalita degan tersenyum kecil.


"Re, kita mau pergi kemana?"


"Ke tempat yang bisa membuat hati tenang. Soalnya sebelum kita kembali bertemu, aku sering datang ke tempat itu," jawab Dokter Reza mulai menjalankan kendaraan mewahnya.

__ADS_1


"Tha, sabuk pengamannya di pasang," titah pemuda itu karena dia baru saja menyadarinya.


"Iya, aku lupa lagi," Thalita mengulum senyum karena Dokter Reza sangat perhatian padanya.


"Andai bertemu dengannya lebih dulu. Maka aku tidak akan jatuh cinta pada Adriel," gumam gadis itu dengan sesekali melirik Dokter Reza.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Dokter Reza. Kemarin malam dia sudah menelepon Riko, dan mengatakan akan berusaha membuat Thalita jatuh cinta padanya. Selama gadis itu masih berada di rumahnya.


Lalu Riko yang juga mencintai gadis yang sama. Tidak menjadikan masalah besar, dia hanya mengatakan yang penting Tahlita bisa bahagia. Tidak masalah mau bersanding dengan siapapun, karena cinta itu tidak harus saling memiliki.


Namun apabila dokter Reza tidak berhasil membuat Tahlita jatuh cinta padanya. Maka giliran Riko untuk berusaha mendapatkan hati sang sahabat. anggap saja saat ini mereka berdua sedang mencoba keberuntungannya masing-masing.


"Re, apakah ini tempatnya?" tanya Tahlita karena tempat tersebut tidak jauh dari kediaman Dokter Reza.


"Iya, ini tempatnya. Ayo kita turun," setelah melepas salt belt pada tubuhnya. dokter itu keluar lebih dulu untuk membukakan pintu mobil buat si pujaan hati.


"Aku merasa seperti tuan putri saja, karena selalu diperlakukan manis seperti ini, Re," ucap Thalita menerima uluran tangan sahabat yang secara diam-diam menaruh hati padanya.


"Kamu memang tuan putri di hatiku," jawaban Dokter Reza mampu membuat Thalita kembali tersipu. belum lagi hilang rasa panas di pipinya tiba-tiba sahabatnya itu melepaskan genggaman tangan mereka. Lalu berlari ke depan sambil memanggil namanya.


"Tha, coba lihat ini," ucapnya tersenyum mengenaskan.



"Re, apa yang kamu lakukan? Bagaimana jika ada yang melihatnya,"


"Justru aku memang ingin mereka melihatnya. Agar mereka mendoakan supaya kita berdua bisa berjodoh," seluruh Dokter Reza masih tetap pada posisi yang sama.

__ADS_1


"Re, kemarilah! Aku butuh pelukanmu," seru Thalita merentangkan kedua tangannya minta di peluk. Gadis itu menangis karena merasa terharu. Tidak disangka-sangka masih ada laki-laki yang tulus padanya yang sudah berstatus janda.


...BERSAMBUNG......


__ADS_2