
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
Ceklek!
Thalita membuka pintu kamar hotel tempat mereka menginap dengan pelan. Kebetulan gadis itu memiliki kartu akses untuk masuk ke sana.
"Adriel, kamu belum tidur?" ucap Thalita setelah menutup kembali pintu kamar tersebut. Gadis itu mengira jika suaminya sudah tidur. Akan tetapi salah, Adriel malah duduk dengan pakaian lengkap akan pergi keluar yang entah mau pergi kemana.
"Kenapa? Apa kau berharap akan malam pertama dengan ku?" cibir Adriel dengan kata-kata tajam yang mampu membuat Thalita membeku di tempatnya berdiri.
"Apa maksudmu, aku hanya bertanya. Tidak bermaksud---"
"Sudah, cukup! Apapun itu, aku tidak akan pernah percaya pada gadis licik seperti dirimu. Kau adalah satu-satunya orang yang paling aku benci Thalita," sela pemuda itu menatap istrinya seperti akan mencabik-cabik tubuh kecil tersebut.
"Adriel, apa yang kamu katakan? Aku tidak pernah---"
"Kamu dilarang untuk berbicara, karena apapun bentuk pembelaan mu, aku tidak pernah akan percaya pada gadis licik yang tega memanfaatkan kebaikan papaku," pungkasnya seraya mencengkram erat tangan dagu Thalita.
"Adriel, lepas! Apa yang kamu lakukan? Kamu menyakiti aku," seru gadis itu merasakan sakit pada dagunya yang masih dicengkeram.
"Sakit katamu? Ha... ha! Ini adalah penyambutan malam pertama penderita mu," tawa Adriel seperti seorang iblis yang tidak memiliki hati. Dia tega menyakiti istri yang tadinya adalah sahabatnya sendiri. Dengan kata-kata maupun tindakannya.
"Adriel... apa maksudmu? Kenapa kamu tega melakukan semua ini? Apa salah aku menerima perjodohan ini? Aku mencintaimu sejak dulu. Tidak bisakah kita mencobanya terlebih dahulu?" pinta gadis itu setelah Adriel melepas cengkraman nya secara kasar.
"Cih, aku lebih baik menduda seumur hidupku daripada mencobanya bersamamu. Hanya Fara wanita yang pantas menjadi istri ku, jadi jangan pernah bermimpi bisa mendapatkan cintaku," desis Adriel sambil mengambil kunci mobilnya.
__ADS_1
"Adriel, kamu mau kemana?" tanya Thalita mencoba menghalagi suaminya. Bukan tidak boleh pergi, hanya saja gadis itu takut jika Tuan Marcel mertuanya mengetahui hal tersebut.
"Aku akan pergi, kamu silahkan saja menikmati malam pertama di kamar ini. Jika kamu mau, maka aku berikan Izin kamu membawa laki-laki lain untuk memuaskan ti---"
Plaaak!
"Jika kamu tidak suka padaku, maka kamu tidak berhak menghina aku," satu buah tamparan langsung diberikan oleh Thalita pada pipi mulus suaminya. Seharusnya malam ini adalah malam bersejarah bagi keduanya. Akan tetapi ini justru awal pertengkaran mereka yang harus saling menyakiti.
"Thalita, apa kamu tahu jika---"
"Iya, aku sangat tahu jika perbuatanku salah. Namun, apakah kamu tahu bahwa kamu juga tidak benar dengan semua tuduhan dan sikapmu padaku?" sela gadis itu dengan berani. Lalu ia yang tidak tahan lagi berdebat dengan Adriel, mendorong kasar tubuh pemuda itu karena dia ingin lewat untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Braak!
Thalita menutup pintu kamar mandi dengan cara membantingnya cukup kasar. Lalu dia merosot di bawah pintu dan menangis sejadi-jadinya. Tidak peduli dengan gaun mahal yang ia pakai.
"Kamu jahat Adriel, Kenapa kamu tega berkata seperti itu padaku," ucapnya tersedu-sedu, karena menahan sesak di dalam hatinya. wanita mana yang akan baik-baik saja di saat malam pertamanya. Sang suami malah menyuruh ia membawa laki-laki lain untuk, menemaninya.
Agar mampu menghadapi sikap Adriel yang sangat berubah daripada biasanya. Sekarang pemuda itu bagaikan tidak memiliki hati, karena mulutnya selalu mengeluarkan kata-kata pedas untuk menyakiti Thalita.
Belum satu hari mereka menikah, tapi pernikahan tersebut sudah disambut dengan pertengkaran mereka malam ini.
Sementara itu di luar kamar, Adriel yang melihat Thalita begitu marah, sampai-sampai menampar pipinya. Akhirnya mengurungkan niat untuk pergi. Pemuda itu melepas jaket yang ia pakai lalu dilemparnya sembarang arah dan duduk di atas sofa sambil memikirkan tindakan yang sudah dia lakukan pada Tahlita.
Cukup lama Adriel menunggu gadis itu yang berdiam di dalam kamar mandi, mungkin kurang lebih hampir satu jam dia belum juga mau keluar dari sana. Adriel yang menunggu sejak tadi akhirnya mau tidak mau mengetuk pintu kamar mandi tersebut.
Tok!
Tok!
"Tha... kamu kenapa lama sekali?" panggilnya dengan suara cukup nyaring, karena takut bila Talita tidak mendengarnya. Apalagi dapat Adriel dengar jika air di dalam kamar mandi masih menggemericik. Pertanda bahwa kran air atau shower sedang dinyalakan.
__ADS_1
"Thalita, kamu kenapa lama sekali?" kembali berteriak dengan pikiran sudah kemana-mana takut bila istrinya itu malah bunuh diri di dalam kamar mandi.
Tok!
"Thalita, Tha, tolong buka pintunya kamu sedang apa?" sudah berulang kali pemuda itu mencoba memanggil. Namun, tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar mandi.
"Thalita, jika kamu tidak mem---"
Kleek!
Sebelum pemuda itu menyelesaikan ucapannya, pintu kamar mandi pun sudah terbuka cukup lebar. Talita keluar menggunakan bathroom dengan handuk membungkus rambutnya yang masih basah.
"Thalita, kamu---"
"Aku baik-baik saja, memangnya kamu pikir aku akan bunuh diri hanya karena menghadapi laki-laki sepertimu," cibir Thalita yang sudah bisa membuat benteng hatinya agar kuat seperti biasanya.
Gadis itu tidak mau Adriel mengetahui jika dia lemah dan bisa ditindas begitu saja. Thalita berjanji akan melawan sikap angkuh Adriel, yang mengatakan tidak suka padanya. Akan gadis itu buktikan, bahwa suaminya itu pasti jatuh cinta padanya.
"Ck, menyesal aku mengetuk pintunya," decak Adriel dengan muka kesal.
"Aku tidak ada menyuruhmu mengetuk pintunya. Jadi salah kan hatimu sendiri, kenapa bisa memiliki sifat plin plan pada perasaanmu sendiri," jawab Thalita seolah-olah dia baik-baik saja. Padahal tadi hampir dua puluh menit dia menangis. Gara-gara sakit hati mendengar ucapan Adriel.
"Apa maksudmu plin-plan? Aku tidak pernah seperti itu, karena sampai kapanpun aku memang tidak menyukaimu. Jadi kamu tidak usah kepedean. Aku tidak suka pada tubuh kurus seperti dirimu," Adriel balas mengejek Thalita, karena biasanya memang seperti itulah mereka berdua. Selalu bertengkar hanya karena hal sepele.
"Oh ya... benarkah kamu tidak tertarik pada tubuh ku? Kalau begitu mari kita buktikan," Thalita tersenyum menantang perkataan Adriel. Dia melangkah maju mendekati suaminya yang sudah berdiri di samping tempat tidur mereka.
"Tha, a--apa, apa yang akan kamu lakukan?" tanya adriel tergagap melihat Talita terus maju ke arahnya.
"Aku? Aku tidak akan melakukan apa-apa. Hanya ingin mendekatimu saja, kenapa wajahmu menjadi takut seperti itu? Apakah kamu takut, jika tiba-tiba tubuhmu tidak bisa menolak saat berdekatan denganku yang kurus kerempeng ini?" melihat wajah ketakutan Adriel membuat Thalita semakin ingin mengerjai suaminya itu.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1