
💐💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
"Tha, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Dokter Reza menyambut hangat kedatangan kedua sahabatnya. Dia sudah menunggu di bandara sejak setengah jam yang lalu.
"Tentu, aku baik-baik saja," jawab Thalita menerima pelukan dari sang sahabat. Baik Dokter Reza maupun Riko begitu mengerti tentang perasaan Thalita saat ini.
Namun, sayangnya cinta gadis itu malah berlabuh kepada Adriel. Pemuda yang tidak pernah bersikap baik kepadanya.
"Syukurlah! Aku senang mendengar apabila kamu baik-baik saja. Tadinya aku mengira kamu sudah pingsan karena tidak sanggup meninggalkan kediaman Afkar," goda Dokter Reza yang langsung mendapat cubitan di perutnya dari Thalita.
"Aag! kenapa kamu malah mencubit ku," sudah tahu salah masih saja bertanya. Dasar Dokter Reza.
"Kamu memang pantas untuk di cubit," jawab gadis itu tersenyum karena dia tahu jika Dokter Reza hanya bercanda.
"Tha, Reza... aku pulang dulu, ya. Jika sudah sampai segera beritahu aku. Soalnya jam setengah sembilan ada rapat bulanan perusahaan. Jadi aku harus membantu Sekertaris mengecek daptar selama beberapa bulan terakhir," ucap Riko setelah Thalita dan Reza sudah melepaskan pelukan mereka.
"Re..." tidak banyak bicara Thalita langsung berhamburan memeluk Riko. Dia menangis lagi memeluk sahabatnya itu. Sekarang hanya Riko dan Reza yang menjadi temannya.
Sebab bila dengan Adriel si mantan suaminya sudah tidak mungkin lagi. Mana mungkin mereka bisa bersahabat seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Menagis lah! Setelah ini kamu hanya boleh tersenyum. Aku dan Reza akan selalu ada untukmu," tangan Riko terangkat mengelus rambut panjang gadis itu.
"Terima kasih, terima kasih karena kalian berdua lah aku mampu melewati semuanya." lirih Thalita masih menangis. Padahal baru beberapa saat lalu air matanya kering.
"Itulah gunanya sahabat, tapi bila ada jodohnya maka biarkan aku atau Reza yang akan menjagamu," perkataan Riko tentu saja membuat Dokter Reza dan Thalita menatap kearahnya.
"Riko... apa---"
"Maksudnya aku dan dan Reza menyanyangi mu lebih dari seorang sahabat. Apabila ada jodohnya, entah itu denganku ataupun Reza. Biarkan kami yang menjagamu. Mendampingi mu," entah dorongan dari mana Riko malah degan beraninya mendaftarkan dirinya dan Dokter Reza kepada wanita yang baru saja bercerai dengan suaminya.
Padahal Dokter Reza sudah memberi kode lewat matanya. Agar Riko tidak mengatakan hal seperti itu.
"Pendamping hidup seperti penganti kacang panjang?" tanya Thalita kurang yakin. Takutnya dia salah tebak atau salah arti.
"Huem, ya, benar sekali. Tolong beri aku dan Reza kesempatan untuk membuatmu menyukai diantara kami berdua. Tapi bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai pengganti kacang panjang." Riko tergelak saat menyebut kata kacang panjang.
"Sudah tidak apa-apa, daripada kita berdua telat lagi, karena ditikung oleh orang lain," jawab Riko santai. Ketahuilah Riko dan Reza pernah saling bercerita bahwa mereka sama-sama mencintai Tahlita.
"Reza, Riko!" ucap si janda kembang menatap mereka berdua yang hanya menyegir kuda. "Apakah selama ini kalian berdua menyukaiku?" tanya wanita itu penuh selidik.
"Eum... iya, aku menyukaimu lebih dari seorang sahabat. Tapi tolong jangan salah paham dengan kedekatan kita selama ini," Riko yang menjawab lebih dulu.
"Karena jujur awalnya aku kira ini hanyalah perasaan biasa saja. Namun, di saat aku menyadarinya dan ingin mengungkapkan kepadamu. kamu sudah lebih dulu mengungkapkan bahwa dirimu mencintai Adriel. Jadinya aku memilih mundur demi kebahagiaanmu dan dirinya," setelah bertahun-tahun memendam perasaan itu sendiri. Akhirnya hari ini Riko pun mengungkapkan semuanya.
"A--apa! Aku... aku tidak pernah tahu," seru Thalita menghela nafas panjang dan dia hembuskan dengan pelan.
__ADS_1
"Lalu, apa hubungannya dengan Reza? Apakah kamu juga menyukaiku melebihi seorang sahabat?" sekarang bergantian bertanya pada Reza yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
"Reza, lebih baik kamu jujur saja. Agar setelah ini kita sama-sama berusaha buat mendapatkan hati janda cantik ini," seloroh Riko yang membuat mata Thalita membola keluar.
Bagaimana mungkin di hari dia mendapatkan status barunya. Malah mendengar ungkapan perasaan dari kedua sahabat baiknya juga.
"Re..." panggil Thalita menunggu jawaban dari Dokter Reza.
"Eum... a--aku juga sebetulnya sudah lama menyukaimu. Rasa sayangku ini melebihi perasaan pada seorang sahabat. Aku menyadarinya dari semenjak kita masih sekolah menengah atas. Dari saat itu perasaanku sudah ada." akhirnya Dokter Reza ikut mengungkapkan perasaannya.
Sebab sudah tidak ada gunanya lagi, karena gadis itu sudah mengetahuinya. Mulut ember Riko sudah membeberkan semua.
"Astaga! sebetulnya aku harus senang atau sedih? Disaat seperti ini kalian mengakui menyukaiku," ucap Thalita benar-benar terkejut.
"Tha, aku berkata jujur karena hanya ingin kamu tahu, bahwa didunia ini bukan cuma ada Adriel. Tapi ada aku, ada Reza yang menyukaimu lebih darinya," tutur Riko dan diangguki oleh Dokter Reza.
"Oke, oke! Untuk sekarang sudah dulu. Selain kami harus berangkat, kamu juga harus kembali ke kantor. Ingat hari ini ada rapat penting. Jangan sampai karena dirimu, perjuangan ku jadi berantakan," kata Thalita karena untuk saat ini dia ingin cepat-cepat pergi.
"Astaga! Aku jadi lupa! Baiklah kalian berangkat saja, aku juga akan pulang sekarang," seru Riko menepuk pelan keningnya sendiri.
Lalu setelah berpamitan, pemuda itu berpamitan untuk pergi lebih dulu. Begitu pula dengan Thalita dan Dokter Reza. Berhubung barang-barang mereka sudah ada yang mengurusnya. Membuat Dokter Reza bisa berjalan santai sambil mengandeng sahabatnya.
Tidak menunggu lama, sekitar tiga puluh menit kemudian pesawat yang mereka naiki mulai terbang mengudara.
Selamat tinggal, Adriel. Kepergian ku ini karena ingin mengubur semua kenangan diantara kita." gumam gadis itu memejamkan matanya.
__ADS_1
Setelah mendengar pengakuan Riko dan Dokter Reza tadi membuat kepercayaan diri gadis itu terbuka lagi. Dia akan melupakan Adriel dan membuka hatinya untuk siapa saja. Asalkan cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
...BERSAMBUNG......