
💐💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
Dua bulan kemudian.
Sejauh ini hubungan Adriel dan Thalita tidak ada yang berubah. Mereka menjalani kehidupan masing-masing. Hanya saja sampai saat ini Thalita masih menjalankan perannya sebagai seorang istri yang tidak diinginkan.
Meskipun tidur satu ranjang dan berbagi selimut yang sama. Adriel belum pernah khilaf tidur sambil memeluk sang istri. Padahal Talita tidak pernah membatasi di antara mereka berdua menggunakan guling bak cerita di novel-novel.
Gadis itu ingin melihat sampai mana Adriel akan bertahan. Akankah tidur memeluk dirinya atau tidak sama sekali. Namun, setelah dua bulan ini apa yang pernah terlintas di pikiran Thalita tidak terjadi sama sekali.
Setiap mau tidur maka Adriel selalu membelakangi istrinya. Itu pun tidak ada percakapan sama sekali. Dia dan Thalita berjarak dekat. Akan tetapi seakan ada benteng tinggi yang membatasi hubungan mereka.
Thalita yang tidak ingin memaksa lagi hanya membiarkan saja. Seolah telinganya tuli dan bermata buta. Padahal hampir setiap hari menyaksikan kemesraan Adriel dan kekasihnya.
Saat di awal dua bulan lalu Adriel masih menjaga jarak tidak pernah menunjukkan hubungan dia dan Faranisa. Akan tetapi sudah dua minggu terakhir ini Adriel kembali seperti dulu lagi. Sudah beberapa kali Thalita melihat mereka berciuman.
Semua itu Adriel lakukan karena kesal pada sang ayah yang tidak percaya padanya dan lebih percaya pada Thalita istrinya. Gara-garanya perusahaan Afkar hampir bangkrut karena para rekan kerja perusahaan mereka menarik satu persatu saham di Afkar Group.
Hal tersebut tentu saja berdampak buruk untuk perusahaan yang biasanya memiliki teman kerja sama. Namun, dengan secara mendadak harus berjalan dengan beberapa perusahaan kecil saja. Sedangkan perusahaan yang lainnya sudah pindah ke perusahaan milik Riko.
Alhasil untuk mencegah Farah bukan kerja lainnya berhenti dari akar Group. Tuan Marcel terun kembali lagi ke perusahaan dan mengatur Thalita sang menantu sebagai wakil direktur yang baru.
Sedangkan Adriel masih tetap berada di posisi yang sama. Tapi setiap pergerakannya selalu dipantau oleh Tuan Marcel. Apa yang dilakukan ayahnya hanya untuk melindunginya dari Faranisa. Wanita itu yang membiaya hidupnya adalah Adriel.
Semenjak dia bebas sudah tidak jadi sorotan para wartawan lagi. Faranisa kembali ke kehidupannya semula yang suka berfoya-foya. Namun, perbedaannya sekarang adalah uang yang dihamburkan bukan haknya. Melainkan uang Adriel yang seharusnya menjadi milik Thalita.
__ADS_1
Bukannya memberikan uang kepada istrinya sendiri. Tapi Adriel malah membiayai wanita lain. Dengan alasan jika Thalita memiliki gaji yang besar. Sementara Fara hanyalah pengangguran.
Meskipun sudah diperlakukan seperti itu, Thalita masih juga bertahan sampai saat ini. Bahkan Riko dan Reza sudah berulang kali mengatakan bahwa dia benar-benar menjadi gadis bodoh, karena cinta buta yang tidak pernah dihargai.
Setiap pagi, Thalita selalu bangun pagi untuk memasak makanan buat suami dan ayah mertuanya. Meskipun para asisten rumah tangga sudah ada. Dia tetap melakukan pekerjaan tersebut. Semua itu tentu saja untuk mengambil hati Adriel agar mau menoleh ke arah dirinya.
Thalita yang memiliki pekerjaan dua tempat. Membuat dia bisa melupakan kehidupan masalah rumah tangganya ketika di siang hari. bila sudah kembali ke kediaman keluarga Afkar. Dia hanya bisa berusaha bersabar dan bersabar.
"Thalita," Dokter Reza menahan pundak sahabatnya yang baru saja mau turun dari mobil. Malam ini mereka mengadakan makan malam bertiga dengan Riko. Namun, karena buru-buru jadinya Thalita diantar pulang oleh Dokter Reza.
"Huem, apa, Re," jawabnya tersenyum kecil.
"Bila ada apa-apa segera hubungi aku," ucap Reza yang setiap hari meneleponnya hanya untuk menayangkan kabar gadis itu. Dia hanya takut bila Adriel bukan hanya menyakiti hati Thalita, tapi juga fisiknya.
"Iya, iya! kamu tenang saja aku tidak sendirian di rumah ini. Tapi ada Papa Marcel juga." jawab Thalita meyakinkan, karena selama ini memang Adriel tidak pernah menyakiti fisiknya.
"Baiklah! Tapi kamu harus melawan bila Fara ingin menyakiti mu," meskipun kesal karena Thalita masih juga bertahan. Tetap saja Reza maupun Riko tidak bisa mengabaikan gadis itu begitu saja.
"Nah itu baru Thalita ku. Kamu harus kuat karena ada aku yang selalu setia berada di belakangmu." ujar Reza lagi.
Sehingga tanpa mereka sadari akhirnya kembali mengobrol di dalam mobil hampir satu jam. Rasanya untuk menceritakan kesedihan yang dia tanggung selama ini, Seakan tidak akan cukup waktu berhari-hari sekalipun.
Padahal itu pun tidak semua masalah rumah tangganya, yang diceritakan oleh Thalita hanya garis besarnya saja.
"Sudah jam sembilan, aku masuk dulu ya, terima kasih karena sudah mengantarku pulang, dan juga mendengarkan ceritaku setiap hari." kata gadis itu sebelum benar-benar turun dari mobil.
"Sama-sama, jangan sungkan," jawab Dokter Reza menghidupkan kembali mesin mobilnya. Baru setelah itu dia meninggalkan rumah tersebut.
"Ya Tuhan! rasanya aku lelah sekali," gumam Thalita sambil melangkah masuk. Lelah yang ia sebutkan adalah hatinya, karena bila sudah kembali ke rumah itu harus menanggung beban pikiran lagi.
Berhubung di ruang keluarga tidak ada siapapun. Padahal televisi masih menyala. Thalita pun langsung naik ke lantai atas menuju kamar dia dan Adriel.
__ADS_1
Akan tetapi begitu dia masuk kedalam kamar mereka. Adriel sudah berada dihadapannya dengan tatapan tajam.
"Ada apa? Apakah aku melakukan kesalahan?" bertanya santai dan hendak menuju sofa. Namun, Adriel mencekal pergelangan tangannya kasar. Sampai dia meringis kesakitan.
"Adriel, kamu kenapa? Cepat lepaskan tanganku. Ini sakit sekali," seru Thalita yang tidak dihiraukan oleh pemuda itu.
"Apa yang kamu lakukan di dalam mobil tadi?"
"Aku tidak melakukan apa-apa, tadi aku dan Reza hanya mengobrol biasa. Memangnya ada apa?" jelas gadis itu jujur.
"Ck, kamu selalu meminta dan menuntut ku untuk menghargai pernikahan kita. Tapi nyatanya kamu sendiri menjadi wanita murahan di luar sana."
Plaak!
"Jaga ucapan mu!" hardik Thalita setelah memberikan tamparan cukup keras pada pipi suaminya. "Jangan pernah samakan aku dengan dirimu Adriel, meskipun di luar sana aku dekat dengan laki-laki lain. Tapi aku masih bisa menjaga statusku sebagai istrimu. Aku tidak pernah berciuman seperti yang kamu lakukan bersama kekasihmu," Thalita menaikan into nasi suaranya.
"Soalnya itu aku sudah pernah menjelaskannya pada mu. Aku---"
"Tidak sengaja, karena Fara yang memulai duluan, iya? Kamu ingin bilang seperti itu? Munafik! Apakah orang yang tidak sengaja bisa masuk kedalam kamar wanita lain. Lalu menurunkan pakaian wanita itu mengunakan kedua tangannya. Huem... coba jelaskan padaku?" tanya Thalita menggebu-gebu.
Dia sudah sangat lelah harus berpura-pura tegar dan buta melihat tingkah Adriel.
"Aku bersama Fara dia memang kekasihku. Sedangkan kamu terkadang pergi bersama Riko dan malam ini dengan Reza. Apakah itu bukan murahan," Adriel yang sama keras kepalanya juga ikut berteriak.
"Ternyata kamu memang tidak pernah bisa menghargai ku, Adriel," seru Thalita menatap Adriel dengan tatapan penuh kecewa.
"Lita kamu mau kemana?" teriak Adriel melihat sang istri berlari meninggalkan kamar mereka. Namun, gadis itu tidak menghiraukan lagi teriakan nya. Dia terus berlari sehingga terjadilah kejar-kejaran di antara mereka berdua.
Akan tetapi Adriel tidak bisa mengejarnya, karena Tahlita sudah pergi mengunakan mobilnya sendiri. Sedangkan Adriel berhenti di ruang keluarga. Di sana ada Tuan Marcel sedang duduk menonton televisi.
... BERSAMBUNG......
__ADS_1