Mahligai Cinta Yang Tergoyah

Mahligai Cinta Yang Tergoyah
Apakah Harus Melepaskannya?


__ADS_3

💐💐💐💐💐💐


...HAPPY READING......


.


.


"Huh!" Dokter Reza menghembuskan nafasnya kasar. Lalu menoleh ke arah Adriel dan berkata. "Adriel, ayo duduk!" ajaknya berjalan lebih dulu ke arah kursi yang ada di teras rumah tersebut.


Untungnya si dokter bukanlah orang yang memiliki temperamental seperti Adriel. Jadi masih bisa menahan emosinya.


Berhubung Tahlita sudah masuk ke dalam rumah, jadinya mau tidak mau Adriel pun mengikuti Dokter Reza karena dia juga ingin berbicara sesuatu dengannya.


"Duduklah!" titah si dokter karena sekarang dia memang sebagai tuan rumah di sana. Tidak membantah, Adriel pun duduk dan menutup muka degan tangannya sendiri.


"Adriel, aku tidak tahu harus bicara apa padamu. Sebetulnya aku merasa kasihan padamu, karena selama kamu menjadi suami Thalita, aku sudah menganggap mu seperti sahabatku sendiri." ucap Dokter Reza menatap lurus ke depan.


Dia bicara baik-baik pada Adriel bukan karena takut kalah bila beradu otot ataupun beradu mulut. Hanya saja si dokter tersebut tidak mau menjadi omongan orang sekitar karena bertengkar memperebutkan Thalita.


Tidak masalah bila dia dan Adriel saja yang akan di cemooh. Namun, nama baik sang istri yang sedang dia lindungi.


Mendengar perkataannya, membuat Adriel menatap pada saingan yang telah memenangkan Thalita.


"Tapi... melihat mu memperlakukan Thalita bukan seperti pada istrimu sendiri, saat mengetahui kamu membawa Fara tinggal serumah dengannya. Dari sanalah aku mulai tidak menyukaimu, karena jujur. Aku jatuh cinta padanya sejak kami pertama kali bertemu." ungkap Dokter Reza tetap bicara tenang karena dia memang orangnya penyabar.


"Jika kamu ingin tahu, sebelum aku memutuskan untuk melamarnya menjadi istriku. Aku sudah menanyakan tentang perasaanya padamu. Dan apakah kamu tahu jawabnya apa?" dokter muda tersebut kembali diam sejenak. Sebelum kembali melanjutkan ucapannya, karena Adriel hanya terdiam mendengarkan.

__ADS_1


"Thalita berkata, dulu dia pernah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pernah pergi darimu, karena dia sangat mencintaimu. Akan tetapi akhirnya dia tetap memilih pergi. Apa kau tahu karena apa?" Dokter Reza menoleh kearah Adriel. Namun, pemuda itu hanya diam dengan rasa sesak dihatinya.


"Itu semua karena rasa kecewanya lebih besar daripada rasa cinta dan rasa sayangnya padamu."


"Ck, jika dia benar-benar mencintaiku, mana mungkin setelah berpisah dengan ku, tidak sampai enam Minggu dia sudah menikah denganmu." decak Adriel karena binggung harus menjawab apa. Dia tidak terima di salahkan, karena itu dia dan Thalita sering bertengkar sejak kecil.


"Dia menikah denganku karena tidak ingin menahan rasa sakit hati. Setiap hari harus melihat berita tentang dirimu dan Fara yang selalu masuk Reng populer." jawab Dokter Reza tersenyum kecil.


"Coba kamu pikir kan sendiri, seperti apa rasa sakitnya Thalita, bila terus hidup seperti itu. Apalagi dia keluar dari rumah keluarga Afkar sebagai orang yang kalah dari kekasihmu."


"Tapi aku---"


"Tapi kamu terlalu egois, Adriel. Kamu serakah ingin memiliki semuanya dan keinginanmu itu sudah semakin menyakiti Thalita. Kamu bodoh pada perasaan mu sendiri. Jadi akhirnya rasa sakit darimu itulah yang menjadi obat Thalita bisa melupakan tentang perasaanya padamu." sela si dokter yang kembali membuat Adriel terdiam.


"Sekarang dia sudah sah menjadi istriku. Terima kasih atas pesan-pesan yang kamu kirimkan padaku sejak kemarin. Karena pesan tersebut sudah membantuku untuk mendapatkan Thalita seutuhnya."


"Kenapa malah dirimu yang berkata---"


"Jika kamu benar-benar mencintainya, maka biarkan Thalita mencari kebahagiaannya sendiri yang tidak bisa kamu berikan padanya selama ini." pinta dokter tersebut membuat tubuh Adriel membeku.


"Tapi itu terserah padamu, mau tetap mengejar istriku yang akan membuatnya semakin benci padamu, atau menyerah dan biarkan aku yang akan membahagiakan dirinya." Dokter Reza sengaja berkat seperti itu agar Adriel bisa berpikir jernih dan tidak hanya mengikuti nafsunya ingin memiliki Thalita lagi.


"Aku, akan..." Adriel tidak melanjutkan lagi perkataannya. Pemuda tersebut kembali diam.


"Kalian masih bisa menjadi saudara atau teman lagi, Adriel. Thalita orang yang sangat baik dan aku tahu, bahwa kamu pasti lebih mengenalnya daripada aku."


"Tapi mana mungkin dia mau menjadi saudaraku. Untuk berteman saja, Thalita sudah tidak mau." gara-gara Dokter Reza berbicar dengan kepala dingin dan tenang. Ternyata membuat Adriel ikutan lebih tenang.

__ADS_1


Mendengar jawaban Adriel, membuat dokter muda itu tersenyum dan berkata. "Jika untuk berteman saja dia sudah tidak mau. Lalu bagaimana mungkin kamu ingin memaksanya untuk kembali bersama."


"Reza, kamu tidak tahu sep---"


"Aku memang tidak tahu perasaan seperti apa yang kamu miliki untuknya. Tapi dengarkanlah aku baik-baik. Bila kamu terus seperti ini, maka dia akan semakin membencimu. Sekarang semua keputusan ada padamu." Dokter Reza berdiri dari tempat duduknya dan memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya dan berjalan mendekati pinggir teras.


"Tapi bila kamu relakan dia hidup bersamaku. Maka aku berjanji padamu aka membujuknya untuk mau bersahabat dengan mu lagi. Setidaknya lakukanlah demi Om Marcel, papa mu sangat terpukul atas perceraian kalia." lanjut si dokter itu lagi.


"Apa maksudmu papaku kecewa? Jika dia kecewa, kenapa dia yang membantu Thalita mengurus perceraian kami?"


"Itu karena Om sangat menyayangi kalian berdua. Om Marcel menyayangi Thalita seperti mana pada putrinya sendiri. Melihat kamu terus melukai perasaan Thalita, papamu juga ikut merasakan sakit hati." jawaban Dokter Reza kembali membuat Adriel terdiam.


"Apa yang Reza katakan memang benar. Papa memang sangat menyanyangi Thalita. Apakah aku harus merelakan Thalita untuk Reza dan membiarkan mereka untuk hidup dengan tenang. Atau aku tetap berusaha merebutnya kembali, sehingga membuatku kehilangannya untuk selama-lamanya."


Gumam Adriel yang lagi berperang dengan pikirannya sendiri. Sampai dia tidak sadar bahwa Dokter Reza lagi menerima pesanannya dari seorang pengantar makanan.


"Adriel, maaf. Kami mau sarapan. Jika kamu belum sarapan, ayo masuklah! Kita bisa sarapan bersama. ini makanan---"


"Terima kasih! Aku pulang dulu," setelah itu Adriel langsung pergi dan tidak memberikan jawaban atas perkataan Dokter Reza.


"Dia kenapa? Apakah ingin merencanakan sesuatu lagi untuk merusak rumah tanggaku? Kamu salah besar Adriel, bila memilih untuk merebutnya dariku, karena aku tidak akan pernah melepaskannya untuk siapapun." gumam si dokter menatap kepergian Adriel yang terlihat buru-buru.


"Re, apakah Adriel sudah pulang? Apa yang kamu katakan, sehingga dia pergi dengan terburu-buru?" Thalita menyusul keluar setelah melihat mobil mantan suaminya pergi.


"Aku hanya mengatakan... terima kasih sudah menyakitimu, sehingga aku bisa mendapatkan mu," goda Dokter Reza yang merangkul Thalita untuk kembali masuk kedalam rumah.


...BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2