
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
"Cepat katakan kamu memiliki rencana apa?" ulang Adriel karena Thalita hanya terdiam. "Thalita... apa kau tidak dengar jika aku sedang bertanya padamu?"
"Kau bicara apa? Rencana apa yang sedang aku rencanakan. Aku hanya berencana membangun rumah tangga bersamamu, hanya itulah rencana ku," jawab Thalita sambil melepas paksa tangan Adriel dari pinggangnya dan setelah itu diapun pergi masuk keruang ganti pakaian.
Sedangkan Adriel yang mendengar hal tersebut cuma membeku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Apa yang harus ia jawab bila Thalita sudah membahas hubungan diantara mereka berdua.
"Aku sudah menduganya, Adriel,"
Gumam Thalita bersandar pada pintu ruang ganti. Dia sengaja berkata seperti itu karena tahu jika Adriel tidak akan bisa berkata apa-apa, bila ia ingin membangun keluarga bersama.
"Apalah artinya hadirku, bila kamu tidak pernah bisa menghargainya. Jadi jagan pernah kamu cemburu pada kedekatan aku dengan pria lain ataupun bersama Riko,"
Thalita kembali berucap sambil menghapus air matanya. Begitu merasa keadaannya lebih baik, barulah Thalita mengambil pakaian dia untuk berangkat bekerja.
Tidak membutuhkan waktu yang lama. Hanya sekitar sepuluh menit dia sudah keluar dengan tampilan yang tidak pernah bosan dipandang oleh laki-laki maupun perempuan.
__ADS_1
"Ayo kita berangkat," ajak Adriel karena dia juga sudah selesai. Thalita hanya mengangguk setuju. Sebab barang-barang yang akan dia bawa sudah disiapkan selama Adriel masih mandi.
"Wah, kalian berdua sudah siapa?" seru Tuan Marcel begitu melihat kedatangan anak dan menantunya. Saat ini beliau sudah duduk di kursi meja makan. Semua hidangan sudah siap termasuk kopi untuk Adriel.
"Pagi, Pa," sapa Adriel dan Thalita secara bersamaan.
"Huem, pagi juga, Nak. Ayo duduklah kita sarapan bersama. Hari ini kalian akan bekerja dan sibuk. Jadi didahulukan untuk sarapan, agar kesehatan kalian tetap terjaga," jawabanya panjang kali lebar dan hanya diangguki oleh keduanya.
"Thalita, bagaimana tempat yang kamu dan Riko kunjungi tadi malam? Apakah bagus?" Tuan Marcel kembali bertanya karena ingin Adriel mendengarnya.
"Sangat bagus, Pa. Kata Riko bila aku ingin ke sana lagi, cukup kasih tahu saja dia," sambil berbicara Thalita mengisi nasi untuk ayah mertua dan juga suaminya. Lalu yang terakhir barulah buat dirinya sendiri.
"Jadi Thalita memberitahu papa, jika dia dan Riko akan pergi. Tapi kenapa dia tidak memberitahu ku?"
"Baguslah jika dia tahu cara untuk menghibur mu. Papa sangat senang mendengarnya, karena Riko anaknya sangat baik dan yang terpenting tahu cara menghormati wanita," ucap Tuan Marcel sengaja menyingung sang putra yang kebetulan langsung tersedak makanan miliknya sendiri.
Uuuhhk!
Uuuhhk!
Pemuda yang disingung pun terbatuk-batuk sampai mengeluarkan air matanya.
"Adriel," seru Thalita khawatir. "Ini minum dulu, kenapa makannya buru-buru. Ini masih pagi, jadi makanlah pelan-pelan," lanjutnya lagi sembari memberikan air putih yang langsung diterima oleh Adriel.
__ADS_1
Berbeda dengan menantunya. Tuan Marcel malah tersenyum kecil. Dia sengaja berkata demikian. Agar putra semata wayangnya bisa berpikir bahwa dia sudah menikah dan harus membahagiakan Thalita, bukan malah sebaliknya.
"Huem, huem! Terima kasih," Adriel berdehem berulangkali guna menstabilkan suaranya.
"Sama-sama, makanlah! Thalita tersenyum dan mulai melanjutkan makannya. Begitu pula Tuan Marcel dan Adriel. Gara-gara Adriel tersedak makanan akhirnya Tuan Marcel dan Thalita tidak mengobrol lagi.
Namun, sesekali Adriel mencuri pandang pada istrinya. Entah mengapa menurutnya pagi ini Thalita terlihat begitu cantik.
Akan tetapi Thalita yang mengetahui di tatap tetap tidak bergeming. Dia hanya fokus pada makanya saja, sampai selesai dan begitu selesai mereka berdua berpamitan pada Tuan Marcel.
"Masuklah!" titah Adriel membuka pintu mobil buat Thalita. Hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Namun, lagi-lagi Thalita hanya diam saja. Sehingga Adriel merasa jengkel didalam lubuk hatinya.
"Nanti setelah pulang kamu mau bawa mobil sendiri atau mau aku jemput?" tanya pemuda itu lagi dan mulai menjalankan kendaraannya membelah jalan ibukota yang mulai ramah.
"Kenapa?" tidak menjawab tapi kembali bertanya singkat.
"Jika tidak membawa mobil, aku akan menjemput mu,"
"Baiklah! Jemput saja, soalnya aku ingin mengantar mobilku ke bengkel untuk diservis," ingat jika mobilnya sudah lama tidak diperiksa akhirnya Thalita membiarkan bika Adriel Ingin menjemputnya.
"Apa perlu dibelikan mobil yang baru?" tanya Adriel yang memiliki banyak uang dan menganggap semuanya mudah.
"Tidak, tidak perlu! Mobilku hanya perlu diservis saja," tolak gadis itu cepat.
__ADS_1
...BERSAMBUNG......