
💐💐💐💐💐💐💐
... HAPPY READING... ...
.
.
"Thalita... aku mau berbicara padamu, kenapa nomormu tidak bisa aku hubungi?" tanya Adriel berjalan mendekat.
"Untuk apa kamu menelepon ku? Sepertinya diantara kita tidak ada urusan apa-apa lagi kan?" tanya Thalita tersenyum mengejek.
"Adriel, aku ini sibuk mau bekerja. Ajaklah Riko, jika kamu butuh teman," tidak ingin ambil pusing Thalita mengabaikan Adriel yang sudah berdiri di depan meja kerjanya.
"Thalita... aku perlu bicara denganmu bukan dengan Riko," seru Adriel mungkin kesal dan malu pada Riko yang berpura-pura tidak tahu dan mendengar percakapan antara mantan suami-istri tersebut.
"Huh! Katakan, kamu ingin bicara apa? Aku rasa antara kita sudah berakhir baik itu hubungan pernikahan ataupun persahabatan," gadis itu menarik nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan kasar.
Thalita menatap nyalang pada Adriel. Sebagai pertahanan untuk melindungi hatinya yang terluka dan tidak akan membiarkan terkena luka yang baru lagi.
__ADS_1
"Jadi seperti ini setelah apa yang kamu lakukan padaku. Kamu pergi meninggalkan banyak masalah padaku. Dan sekarang saat aku mengajakmu berbicaralah pun tidak mau," Adriel yang memiliki sifat keras kepala tentu akan mudah tersulut emosi.
"Haaa... ha... Riko, tolong tutup pintunya. Aku ingin mendengar apa yang ingin Adriel katakan?" Thalita tertawa sumbang karena geli akan ucapan Adriel yang seakan-akan menyalakan dirinya.
"Baiklah! Kalian berbicara saja, karena aku juga mau bekerja," jawab Riko yang merasa malu sendiri mendengar perdebatan kedua sahabatnya.
"Eh, kamu mau kemana? Bukannya kamu belum memberikan aku ucapan selamat datang?" Thalita tersenyum bahagia saat berbicara dengan Riko.
Berbeda ketika dengan Adriel, dia seperti menatap musuh bebuyutannya.
"Nanti saja, saat makan siang aku akan mentraktir mu," Riko pun tak kalah tersenyum tampan.
"Tapi nanti siang Reza juga akan menjemputku buat makan siang,"
"Sudah, sudah! Nanti kita lanjutkan lagi. Kamu bisa protes padanya langsung," tawa Thalita karena dia memang sangat terhibur dengan sosok Dokter Reza maupun Riko.
Setelah kepergian Riko.
"Ayo bicaralah! Aku tidak ada waktu jika berlama-lama," ucap gadis itu sambil melirik jam tangannya dan duduk dihadapan Adriel yang terus menatapnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Adriel seperti seorang pecundang.
"Aku!" menunjuk dirinya sendiri. "Haa... ha..." berhenti tertawa. Lalu sekarang bergantian dia yang menatap kearah Adriel.
"Apa yang aku lakukan? Aku rasa tanpa aku jawab, kamu sudah tahu jawabannya. Jadi jangan buang-buang waktu mu hanya untuk menanyakan hal yang tidak penting, Adriel." jawab Thalita langsung membuang pandangannya lagi.
"Thalita... apa kamu tahu karena perceraian yang kamu buat sepihak, sudah membuat perusahaan ku hampir bangkrut?"
"Ck, kita hanya bercerai, lalu apa yang membuatmu rugi. Aku sudah mengatakan padamu sebelumnya. Bahwa aku akan menyerah dan pergi darimu. Bila aku sudah lelah," decak wanita itu yang sebetulnya tidak ingin lagi membahas hal tersebut.
"Tapi aku tidak ingin kamu pergi. Saat siangnya aku ke rumahmu dan ingin memberimu kesempatan. Tapi kamu sudah tidak ada dan berita tentang perceraian kita sudah menyebar luas."
"Kesempatan apa? Dua kali aku meminta kesempatan itu. Tapi kamu membangun tembok agar aku tidak bisa mendekat. Jadi semua itu bukan salahku lagi."Thalita berdiri dari tempat duduknya dan langsung berdiri membelakangi Adriel.
"Pergilah! Aku ingin bekerja, daripada kamu membicarakan hal tidak penting seperti ini. Lebih baik urus kekasihmu. Aku sudah melupakan semuanya, Adriel. Jadi jangan pernah hadir didalam hidupku. Entah sebagai mantan, maupun teman," setelah berkata seperti itu Thalita sengaja keluar dari ruangannya. Agar Adriel mau pergi tanpa dia paksa.
"Thalita, Tha! Aku belum---"
Braak!
__ADS_1
Suara pintu ruangannya dibanting keras oleh Thalita. Semua itu dia lakukan untuk meluapkan rasa kesalnya.
... BERSAMBUNG......