Mahligai Cinta Yang Tergoyah

Mahligai Cinta Yang Tergoyah
Tidak Ada Bedanya.


__ADS_3

💐💐💐💐💐💐


.


.


Sore Harinya. Thalita sudah pulang karena hari ini pekerjaan nya selesai lebih awal. Dia pulang mengunakan mobilnya sendiri. Dengan langkah pelan dia berjalan masuk yang pintu depannya memang terbuka lebar. Soalnya Adriel dan Fara juga baru saja datang sekitar lima belas menit lalu.


"Adriel, kamu jangan melampaui batasan mu sebagai seorang suami," bentar Tuan Marcel yang bisa di dengar oleh Thalita dari arah ruang tamu. Penasaran apa yang sudah terjadi. Gadis itu berjalan terus dengan langkah pelan.


"Pa, Fara hanya numpang tinggal di sini hanya sampai keadaan di luar aman. Sekarang dia tidak bisa pergi ke sembarang arah, karena para wartawan banyak yang ingin mewawancara nya." dusta Adriel yang terpaksa berbohong alasannya membawa Faranisa tinggal di sana.


Deg!


"Apakah Adriel mau membawa Thalita tinggal serumah dengan ku?" gumam Thalita berdiri sesaat sebelum bertemu dengan Adriel.


Tap!


Tap!


"Thalita, kamu sudah datang, Nak," seru Tuan Marcel menatap menantunya penuh rasa bersalah.

__ADS_1


"Selamat sore semuanya," ucap gadis itu tersenyum getir, karena di ruang keluarga sudah ada Adriel yang duduk berdekatan dengan kekasihnya. "Wah, ada Fara, kapan kau datangnya?" berbasa-basi meskipun rasa sakit mendera dirinya.


"Hai, Thalita, maaf... aku datang ke sini dibawa oleh Adriel," sapa Fara berpura-pura polos.


"Huem, kenapa harus minta maaf, kamu kan tidak bersalah padaku," Thalita yang tegar tentu tidak akan menagis dihadapan siapapun.


"Thalita, duduklah, Nak," pinta Tuan Marcel mengetahui bahwa Thalita hanya berusaha terlihat baik-baik saja.


Dengan patuhnya, gadis itupun duduk dihadapan Adriel dan Faranisa. Namun, dia tidak melihat kearah Adriel yang terus menatap padanya. Entah apa yang pria itu pikirkan.


"Ternyata kamu begitu membenci diriku, Adriel. Sehingga tidak cukup mempermalukan aku di hadapan rekan kerjamu. Sekarang kamu juga membawa Fara pulang kemari," ucap Thalita sambil meremat dress yang ia pakai.


"Itu hak mu, disini aku juga sama hanya menumpang," jawabnya dengan sedikit kata-kata. Akan tetapi begitu menyakitkan untuk orang yang dituju dan dirinya sendiri.


"Kita, disini kamu tidak pernah menumpang, karena kamu adalah putri papa," seru Tuan Marcel sengaja menekan kata putriku. Agar Fara tahu bahwa sampai kapanpun Thalita tidak akan bisa digantikan oleh siapapun.


"Aku tidak pernah bilang kamu menumpang. Fara hanya ingin tinggal di sini beberapa waktu, tapi ka---"


"Untuk apa bicara padaku. Dia mau tinggal di sini, maupun tidak. Maka tak ada bedanya bagiku," sela Thalita berdiri dari tempat duduknya dan menoleh kearah ayah mertuanya.


"Pa, Thalita mau istirahat dulu, soalnya seharian ini begitu banyak pekerjaan yang mengurus tenaga dan pikiran." pamit Thalita tidak ingin berdebat yang nantinya akan menyakiti dia sendiri.

__ADS_1


"Pergilah, kamu istrirhat saja," jawab Tuan Marcel tidak bisa melakukan apa-apa.


"Adriel, jika kamu tidak segera mencari tempat tinggal untuk Fara. Maka Papa tidak akan tinggal diam," ancaman beliau ikut pergi dari sana. Sehingga yang ada di sana hanya Adriel dan Thalita saja.


"Fara, ayo ikut aku ke kamar mu," ucap Adriel berdiri juga sambil menarik koper kecil tempat pakaian kekasihnya.


"Aku akan tidur di mana?" tanya wanita itu karena Adriel tidak membawanya ke lantai atas.


"Ke kamar tamu, untuk saat ini aku hanya bisa menempatkan kamu di kamar tamu. Tapi aku berjanji bahwa semua ini tidak akan lama," Adriel membuka pintu kamar tamu.


"Tapi---"


"Besok kita bicarakan lagi. Aku sangat lelah ingin istrirhat," sela Adriel ingin pergi ke kamarnya sendiri dan bertemu Thalita.


Cup!


Faranisa mengecup bibir Adrie sekilas dan berkata. "Baiklah! Terima kasih," Adriel tidak menjawab apapun. Dia hanya tersenyum kecil dan pergi dari kamar tamu.


Pemuda itu sangat penasaran melihat Thalita seperti baik-baik saja. Padahal dia tahu jika sang istri sangat mencintai dirinya.


...BERSAMBUNG.......

__ADS_1


__ADS_2