Mahligai Cinta Yang Tergoyah

Mahligai Cinta Yang Tergoyah
Tidak Mungkin Mundur.


__ADS_3

💐💐💐💐💐💐


...HAPPY READING......


.


.


"Thalita, jangan macam-macam kamu," seru Adriel seperti seorang wanita yang takut di nodai. Padahal biasanya mempelai wanita lah yang bersikap seperti itu. Ini malah sebaliknya, melihat ketakutan di wajah Adriel membuat Thalita semakin ingin mengerjai suaminya.


"Kenapa? Apakah kamu takut bila tubuhmu berkhianat pada tuannya?" tanya Thalita tersenyum menyeringai.


"Aku bukannya takut, tapi hanya---"


"Hanya tidak bisa menahan diri? Iya, kan Tuan Muda Adriel?" sela gadis itu sudah tiba tepat dihadapan Adriel. Jarak diantara mereka berdua hanya beberapa senti saja. Bau wangi sampo dan aromaterapi yang ia gunakan untuk mandi begitu menyeruak. Sehingga Adriel menelan Saliva nya berulangkali.


"Thalita menyingkir lah! Aku mau mandi, ini sudah malam," Adriel mencoba mencari cara agar bisa pergi dari sana. Bila terus-menerus disuguhkan dengan kecantikan Thalita, tentu dia tidak akan bisa menahannya.


Tidak dia pungkiri, malam ini Thalita terlihat sangat cantik. Padahal istrinya hanya mengunakan bathroom dengan handuk kecil membungkus rambutnya yang masih basah. Selama ini Thalita memang cantik dimatanya. Hanya saja Adriel tidak ingin mengakui hal tersebut.


Mereka sering bertengkar, bila ketahuan dia mengagumi kecantikan sahabatnya. Tentu akan menjadi bumerang bagi dirinya. Sudah pasti Thalita akan semakin semena-mena pada dirinya. Itulah menurut pemikiran Adriel sendiri.


"Bagaimana jika kita mandi bersama?" seloroh Thalita asal. Sehingga membuat Adriel semakin menelan Saliva nya sendiri.


Gleeek!

__ADS_1


"Thalita, apa yang akan kamu lakukan?" seru pemuda itu mundur kebelakang dan karena tidak ada ruang lagi. Adriel terjungkal ke belakang dan sialnya sebelum terjatuh dia menarik tubuh Thalita untuk menjadikan gadis itu pegangan agar tidak terjatuh. Namun, Adriel salah besar, Thalita bukanlah tembok atau sebuah meja. Melainkan hanya gadis bertubuh kurus dengan tingginya sebatas leher Adriel.


Aaahhk!


Teriak Thalita karena merasa kaget. Tubuhnya tiba-tiba ikut terjatuh diatas tubuh suaminya.


Gleeek!


"Badannya saja yang kecil, ternyata asetnya besar juga. Tapi aku tidak boleh terjebak oleh Thalita. Dia adalah wanita licik, pasti akan melakukan apapun agar bisa menjadi istriku seutuhnya,"


Gumam Adriel merasakan empuknya gunung kembar sang istri yang tidak mengenakan bra. Jelas saja, Thalita kan baru selesai mandi. Jadi sudah pasti tidak memakai apapun kecuali Bathroom yang ia kenakan.


"Agh, Adriel! Apa yang kamu lakukan," seru Thalita disaat Adriel menyingkirkan tubuhnya dengan kasar kearah samping. Lalu Adriel duduk dari baringnya.


Deg!


Thalita mengepalkan tangannya erat, mendengar perkataan Adriel yang sangat menyakiti dirinya.


"Apakah aku salah menduga, bahwa Adriel pasti memiliki perasaan padaku. Walaupun sedikit saja?"


Gumam Thalita ragu pada dugaannya selama ini. Sebab perlakuan Adriel sejak tadi pagi sangat terlihat jika membenci dirinya. Pemuda itu selalu berkata menyakitkan. Sampai-sampai Thalita mengira bahwa itu bukanlah sosok Adriel yang ia kenal. Mungkin saja lagi kerasukan roh jahat.


Tidak ingin larut dengan kesedihan, Thalita pun membuka cover bajunya untuk mengenakan baju tidur. Dia tidak hanya lelah pisik, tapi juga lelah batinnya. Sikap Adriel benar-benar membuat dia sakit hati.


Namun, Thalita tidak akan menyerah begitu saja, karena semuanya baru ia mulai. Berani mengambil keputusan untuk menerima perjodohan mereka. Maka dia harus siap menerima resiko apapun.

__ADS_1


Sementara itu Adriel bersolo didalam kamar mandi. Guna menidurkan adiknya yang terbangun gara-gara bergesekan dengan aset berharga milik Thalita. Bohong bila dia berkata tidak tertarik. Nyatanya sekarang Adriel harus berdiam di bawah guyuran air shower sambil mengunakan sabun.


"Sial! Hampir saja aku melakukannya,"


Umpat Adriel kesusahan sendiri, tengah malam harus menidurkan senjata pamungkasnya. Dimana-mana yang namanya pengantin baru menikmati malam pertama dengan melepas perjaka bersama sang istri. Bukannya berduaan dengan sabun cair.


Hampir empat puluh menit barulah dia keluar. Adriel membuka pintu kamar mandi cukup pelan. Dia berharap, jika Thalita sudah tidur. Untungnya nasip baik lagi berpihak padanya. Thalita tidur dengan nyenyak, tanpa takut bila tiba-tiba Adriel mengambil haknya.


"Ck, kenapa ada gadis seperti dirimu, apa kamu tidak takut aku melakukan sesuatu?" decak Adriel berjalan mengambil pakaian untuk dia pakai malam ini. Dia bertanya seperti orang bodoh. Seakan-akan mereka bukanlah pasangan suami-istri.


"Aku tidur dimana? Ais... benar-benar menyebalkan. Aku harus berbagi tempat tidur dengan si Merak," kembali bergumam. Namun, karena tidak ada pilihan dan malam pun semakin larut. Adriel akhirnya naik keatas ranjang dan menyingkirkan kelopak bunga mawar merah yang sengaja dirias seperti kamar pengantin sesungguhnya. Lalu Adriel mengambil bantal guling dan dia letakan ditengah-tengah sebagai pembatas antara dia dan Thalita.


"Awas ya, jika kamu melampaui batas ini," memberikan ancaman pada orang yang tertidur dengan nyenyak. Jangankan bicara pelan, suara orang bertengkar sekalipun Thalita tidak akan mendengarnya lagi.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Adriel sudah menyusul masuk kealam mimpi. Hari ini benar-benar hari paling buruk bagi dirinya. Bukan hari bersejarah karena dia sudah melepas masa lajangnya.


*


Pagi harinya. Tepatnya pukul tujuh pagi, Thalita baru membuka matanya. Gadis itu tidur seperti orang pingsan. Ketika dia membuka mata, pemandangan yang menyejukkan hati langsung menghiasi paginya.


"Tampan sekali! Apakah aku bisa menaklukkan dirimu? Kenapa setelah mendengar semua hinaan mu tadi malam, hatiku mulai ragu? Akan tetapi aku sudah melangkah sejauh ini, aku tidak bisa untuk mundur lagi,"


Gumam gadis itu memandang wajah damai Adriel yang lagi tertidur. Sungguh berbeda jauh apabila sudah bangunan. Pemuda itu sangatlah menjengkelkan. Akan tetapi Thalita begitu mencintainya.


...BERSAMBUNG.......

__ADS_1


__ADS_2