Mahligai Cinta Yang Tergoyah

Mahligai Cinta Yang Tergoyah
Menjaga Hati.


__ADS_3

💐💐💐💐💐💐


...HAPPY READING......


Siang harinya.


"Apakah sudah siap?" tanya Dokter Reza pada istrinya yang lagi memakai syal pada lehernya yang sudah di penuhi tanda Kiss Mark bekas jejak suaminya tadi malam.


"Sudah! Ayo kita berangkat sekarang. Kasihan mama dan papa bila menunggu kita terlalu lama." jawab Thalita sudah siapa untuk memulai kehidupan barunya dan meninggalkan masa lalu yang sangat menyakitkan.


"Oke, ayo kita berangkat sekarang," dokter tersebut mengandeng tangan sang istri dan tangan satunya menarik koper baju Thalita. Bajunya hanya beberapa lembar saja, yang lainya adalah peralatan Thalita bekerja.


"Ibu... Ayah, Thalita pergi dulu. Rumah ini akan ada yang menjaga dan merawatnya selama Lita tinggal di luar negeri."


Gumam Thalita sambil menunggu Dokter Reza mengunci pintunya.


"Sudah! Ayo kita mulai semuanya dari awal. Jika kamu merindukan rumah ini, kita masih bisa sesekali pulang ke sini sekaligus ziarah ke makam ayah dan ibu." ucap si dokter yang mengerti kesedihan istrinya.


Jika satu bulan lalu Tahlita pergi meninggalkan rumah itu hanya untuk menenangkan hatinya. Akan tetapi jika sekarang memang untuk pindah tempat tinggal yang tidak tahu entah akan kembali lagi.Meskipun pulang ke negara tersebut, hanya untuk mengunjungi maka kedua orang tuanya. Dokter Reza yang peka pun kembali menggenggam tangan Tahlita untuk menguatkan hati sang istri.


"Iya, kita mulai semuanya mulai hari ini. Untuk membangun sebuah keluarga kecil kita." Thalita tersenyum begitu merasakan kehangatan dari genggaman tangan suaminya, walaupun sambil berjalan menuju mobil mereka.


Selama perjalanan menuju bandara mereka berdua pun mengobrol seperti biasa. Sejatinya mereka berdua memang sudah cocok sejak dulu. Hanya saja harus berpisah tidak berhubungan karena sama-sama kehilangan kontak.


Sebetulnya kembalinya Dokter Reza ke negara tersebut juga karena untuk mencari Thalita. Makanya dari rumah sakit dia mengundurkan diri dan memilih membuka praktek klinik pribadi.


"Ayo turun," ajak si dokter keluar dari mobil lebih dulu. Lalu dia berjalan memutar dan membukakan pintu untuk sang istri, tidak lupa. Dokter Reza juga mengulurkan tangannya buat membantu Thalita turun dari mobil.


Siapapun pasti akan tahu, betapa besarnya cinta Dokter Reza untuk istrinya. Dia tidak pernah bicara kasar, tidak pernah berdebat dengan Thalita dan yang jelas sangat mencintai gadis itu sejak dulu. Sehingga tidak pernah menjalin kasih dengan wanita manapun.


Saking tulusnya rasa cinta terhadap Thalita, dokter itu pun rela mendampingi Thalita berjalan di atas karpet merah saat menikah dengan Adriel, karena sadar diri, bahwa cinta tidak harus memiliki.


"Ma, Pa, maaf, kami terlambat dan sudah membuat kalian menunggu." ucap Thalita dan Dokter Reza setelah tiba di ruang tunggu bandara.


"Tidak apa-apa, Nak. Kita berangkat masih tiga puluh menit lagi. Ayo duduk dulu," jawab ibu mertua Thalita yang merupakan orang yang sangat baik pula.


Satu bulan Thalita pergi liburan buat menenangkan hatinya setelah patah hati. Kedua orang tua Dokter Reza selalu menghiburnya dan memberikan semangat.


Sampai dimana Thalita benar-benar yakin untuk kembali dan siap hidup sebagai seorang janda. Adriel kembali lagi datang mengusiknya. Seakan-akan Thalita yang bersalah atas perpisahan mereka.

__ADS_1


Sehingga luka hati tersebut kembali terbuka, karena tidak ingin merasakan hal yang sama. Akhirnya Thalita langsung saja menerima lamaran Dokter Reza.


Lagian dia sudah berjanji juga pada Riko maupun Dokter Reza. Bahwa akan memberikan keduanya kesempatan untuk merebut hatinya.


Namun, setalah memberikan mahkota tadi malam. Perasaan Thalita menyanyangi sang suami, bukan sebagai seorang sahabat datang dengan sendirinya.


Mungkin rasa tersebut juga sudah ada sejak lama, hanya saja karena Thalita sudah lebih duluan jatuh cinta pada Adriel. Jadi perasaannya untuk orang lain langsung tertutup.


Selama menunggu di ruang tunggu bandara. Thalita menyadarkan kepalanya pada bahu suaminya karena merasa kantuk. Setelah ada panggilan masuk ke dalam untuk melakukan check-in sebelum melakukan penerbangan. Thalita beserta suami dan kedua mertuanya pun ikut masuk.


Untuk mengikuti peraturan yang ada, jadi harus melakukan beberapa proses seperti boarding pass dan yang lainya. Namun, baru saja Thalita duduk bersebelahan dengan suaminya. Tiba-tiba seorang pramugari memanggil namanya, karena Adriel tiba-tiba datang menyusul ke bandara.


Siapa yang tidak kenal Adriel, jadi sudah pasti tidak sulit untuk mencegah mantan istrinya pergi.


"Maaf, Nona Thalita, Anda di mohon untuk keluar dulu karena Tuan Adriel sudah menunggu Anda di dalam." ucap salah seorang pramugari mencegah Thalita.


"Saya tidak ada urusan dengannya lagi." jawab Thalita tetap duduk bersama suaminya.


"Tapi bila Anda tidak mau menemuinya, sama saja Anda membuat kita semua menjadi terhambat. Saya mohon Nona, kita berdua akan turun. Saya yang akan menemani Anda." ucap pramugari itu lagi yang juga hanya menjalankan perintah dari atasannya.


"Sayang, lebih baik kita turun saja sebentar. Selagi ada waktu lima belas menit lagi." ucap Dokter Reza pada sang istri.


"Dia suami Saya, kenapa tidak boleh. Saya tidak akan turun, bila tidak bersama suami Saya," seru Thalita merasa kesal karena si pramugari tetap saja menyuruhnya keluar.


"Iya, Saya tahu. Tapi ini permintaan Tuan Muda Adriel. Saya mohon Nona mengerti."


"Apapun itu, Saya---"


"Keluar lah, temui dia dan aku akan menunggumu di sini." sela Dokter Reza memberikan izinnya.


"Tapi, Re... bagaimana bila dia datang untuk mencegah aku pergi dan atau juga hanya mau menyakitiku? Aku---"


"Semoga saja tidak, ini tempat umum. Lagian tidak akan aku biarkan dia menyakitimu lagi. Aku pernah memberinya kesempatan untuk memilikimu. Maka setelah kamu menjadi istriku, dia tidak ada hak apapun." Dokter Reza kembali menyela.


"Apakah tidak apa-apa aku menemuinya? Apakah kamu tidak---"


"Tidak apa-apa, aku percaya pada istriku." Dokter Reza tersenyum mengelus pipi Thalita karena baru sadar bahwa wanita itu tidak mau turun pasti karena mau menjaga perasaannya.


Cup!

__ADS_1


"Terima kasih, aku turun sebentar dan tidak akan lama." seru Thalita mengecup pipi Dokter Reza sekilas. Setelah itu dia langsung berdiri dan turun bersama pramugari untuk menemui Adriel yang ingin bertemu dengannya lagi. Padahal tadi pagi, mereka sudah bertemu.


"Thalita," seru Adriel menatap Thalita degan perasaan hancurnya. "Maafkan aku," lanjutnya yang saat ini hanya ada mereka di dalam ruang tersebut, karena para pihak bandara dan pramugari tadi hanya menunggu di luar.


"Aku sudah memaafkan mu, Adriel. Untuk apa kamu mau bertemu denganku? Urusan diantara kita sudah selesai." ucap Thalita dengan helaan nafas berat.


"Aku datang karena ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kamu dan Reza. Aku menyesal telah---"


"Adriel, apakah kamu salah minum obat? Apa lagi yang kamu rencanakan? Apakah tidak cukup kamu menyakitiku saat bersamamu?" seru Thalita menyela perkataan mantan suaminya.


"Kamu sebetulnya bukan menyukaiku, tapi hanya ingin membalas dendam padaku, karena menerima perjodohan kita. Jadi sekarang bisakah membiarkan aku hidup dengan tenang. Aku akan pergi dan belum tentu akan kembali lagi ke sin lagi i atau tidak. Aku sudah melepas mu agar bisa bersama Faranisa. Jadi tolong---"


Buuuuk!


Adriel melangkah ke depan dan langsung memeluk Thalita sambil berkata.


"Tidak! Aku memang mencintaimu, hanya saja aku bodoh tidak menyadarinya sejak awal. Namun, sayangnya setelah aku tahu itu, kamu sudah pergi membawa luka yang aku berikan."


"Adriel, aku tidak akan menerima cintamu lagi, karena daripada merebut mu yang sudah kamu bentengi. Maka lebih baik aku mundur dan membiarkan kamu hidup bersamanya. Karena melihat kamu hancur bersama pilihanmu. Itu jauh membuatku bahagia."


Ucapan Thalita tentu langsung membuat Adriel melepaskan pelukannya.


"Aku tahu itu, aku datang bukan untuk membuatmu menerima cintaku karena aku sadar diri. Namun, aku datang karena ingin kita bersahabat seperti dulu lagi." imbuh Adriel yang memang datang dengan niat baik.


Tadi pagi setelah berbicara dengan Dokter Reza. Pikirannya sedikit terbuka dan begitu sampai di rumah, tanpa sengaja melihat Tuan Marcel papanya. Lagi menangis memandang foto mendiang ibunya.


Tuan Marcel meminta maaf pada istrinya karena sudah gagal mendidik Adriel. Dari sanalah pemuda itu sadar akan kesalahannya yang sudah banyak menyakiti orang-orang di sekitarnya hanya karena cintanya pada Faranisa.


"Maaf, aku tidak bisa bersahabat seperti dulu lagi, karena ada hati yang harus aku jaga. Aku bukan kamu yang akan biasa-biasa saja saat membawa kekasihmu tingal satu rumah dengan istrimu." tolak Thalita langsung.


Setelah itu dia langsung saja pergi. Namun, baru beberapa langkah, Thalita berhenti dan menoleh kearah mantan suaminya. Lalu berkata.


"Terima kasih untuk persahabatan kita dulu. Setidaknya meskipun kita selalu bertengkar. Kamu selalu menjagaku. Aku tidak akan melupakan bila tentang itu. Selamat tinggal, Adriel," sambil menagis Thalita langsung saja berlari keluar dari ruangan tersebut, karena dia tidak mau mendengar ucapan Adriel. Baik itu untuk meminta maaf, ataupun sebagainya.


...BERSAMBUNG......


.


.

__ADS_1



__ADS_2