
💐💐💐💐💐💐
.
.
Di dalam kamar yang berada di lantai dua rumah mewah kediaman keluarga Afkar. Thalita sedang membuat desain untuk meluncurkan produk terbaru dari perusahaan tempat dia bekerja. Yaitu perusahaan milik Riko sahabatnya sendiri. Tidak ingin terlalu larut memikirkan Adriel yang tak kunjung juga pulang ataupun menghubunginya. Padahal Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Akhirnya gadis itu memilih untuk mencari kesibukan karena matanya belum mengantuk.
Thalita memang seperti itu, apabila dia memiliki banyak pikiran. Satu-satunya cara agar dia bisa melupakan masalah yang sedang melanda hati dan pikirannya. Dia akan menyibukkan diri untuk membuat desain-desain pakaian terbaru.
"Apakah kamu benar-benar tidak akan pulang Adriel?" bertanya pada dirinya sendiri sambil memegang pensil untuk membuat bentuk desainnya. "Huh!" terdengar helaan nafas berat yang dihembuskan oleh Thalita.
Seberapa kuat pun Thalita ingin mencoba melupakan masalah suaminya, Tetap saja pikiran tersebut melintas di dalam benaknya.
"Malam ini aku tidak akan menghubungimu lagi Adriel, kecuali dirimu sendiri yang akan menelponku. Aku ingin tahu apa yang akan kamu katakan," lirih gadis itu sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing sakit kepala.
Lalu meskipun seperti itu Thalita kembali lagi melanjutkan pekerjaannya sampai pada jam setengah sebelas malam. Barulah ponselnya bergetar. tanpa melihat pun Tahlita sangat yakin bahwa yang menelponnya adalah Adriel.
Ttddddd!
Ttdddd!
Sampai beberapa kali ponsel tersebut berbunyi. Thalita hanya melihatnya saja, rasanya sangat malas untuk berbicara. Dia ingin tahu juga sebatas mana Adriel mencoba menghubungi dirinya. Ternyata suaminya itu tidak menyerah, hampir delapan kali ponsel tersebut terus bergetar barulah Thalita menggeser tombol hijaunya dan meletakkan benda pipih tersebut ke arah telinganya.
__ADS_1
📱 Thalita : "Huem, ada apa?" tanya Thalita seolah-olah suaranya baru saja bangun tidur.
📱 Adriel : "Ck, tidak usah berpura-pura aku tahu bahwa dirimu pasti belum tidur," decak Adriel karena kesal sudah berulang kali mencoba menelepon istrinya tidak kunjung diangkat. Padahal pemuda itu tahu jika Thalita pasti belum tidur.
📱 Thalita : "Lalu aku harus bagaimana? Menyambut telepon dari suamiku yang lagi tidur bersama selingkuhannya dengan suara riang?" cibir Thalita tidak kalah sengit dari Adriel.
📱 Adriel : "Thalita jaga ucapanmu! Aku tidak pernah selingkuh, karena Fara memang kekasihku sejak dulu. Kamu nya saja yang keras kepala masih menerima pernikahan kita," bentak Adriel tidak terima dengan tuduhan tersebut. Padahal apapun alasannya memang benar, dia berselingkuh. Sebab saat ini Adriel sudah menjadi suami sah dari Thalita. Baik dia mencintai wanita itu ataupun tidak.
📱 Thalita : "Ya, ya, ya! Terserah padamu ingin berkata apapun. Aku memang bersalah sudah menerima perjodohan kita. Tapi apa yang aku lakukan ini karena aku mencintaimu dan juga tidak bisa menolak permintaan dari papa. Aku menyayanginya sebagaimana pada ayahku sendiri." jawab Thalita apa adanya.
📱 Adriel : "Tapi aku tidak mencintaimu Tahlita, jadi buang jauh-jauh pikiranmu yang ingin menjadi istriku seutuhnya," karena mereka berdua sama-sama memiliki sifat keras kepala. Akhirnya mereka berdua bertengkar terlebih dahulu. Padahal sudah jelas niat Adriel menelepon Thalita untuk memberitahu bahwa dia malam ini tidak akan pulang.
📱 Thalita : "Iya, aku sudah tahu, jadi kamu tidak perlu menjelaskannya lagi. sekarang kamu menelponku hanya ingin mengajak bertengkar atau mau mengatakan sesuatu?" Thalita yang malas berdebat karena menyakiti hatinya sendiri pun akhirnya memilih mengalah.
📱 Thalita : "Huem, aku sudah tahu. kamu tidak pulang karena ingin menemani Fara di Apartemennya, kan?" sela Thalita tersenyum getir sambil mengigit bibirnya sendiri.
Sakit Thalita benar-benar merasakan sakit hati yang sangat mendalam. Ternyata perkataan Adriel untuk membuat dia sakit hati tidaklah bohong. Baru saja dua hari mereka menikah. Adriel sudah menyakiti batinnya dengan tidur bersama Faranisa. seperti itulah yang ada di pikiran gadis itu.
📱 Adriel : "Kamu tahu dari mana bahwa aku mengingat di Apartemen Fara? apakah kamu mengikutiku?" tanya Adriel disertai tuduhan.
📱 Thalita : "hahaha.. aku tidak segila itu Adriel. Aku memang mencintaimu, tapi bukan berarti sampai harus mengikutimu," Thalita tertawa sumbang.
📱 Adriel : "Wanita seperti dirimu pasti akan melakukan berbagai cara agar semua rencana licikmu bisa terwujud. Jangan salahkan aku bila menuduh mu yang bukan-bukan, karena apa yang aku katakan ini adalah buah dari hasil perbuatanmu sendiri,"
__ADS_1
📱 Thalita : "Iya, benar! Anggap saja seperti itu. Terserah padamu ingin menuduhku seperti apa saja Adriel, karena seberapapun aku berusaha untuk membela diriku, semuanya tidak ada gunanya bagi dirimu. Jadi lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Begitupun dengan diriku," setelah berkata seperti itu Thalita pun langsung mematikan telepon mereka secara sepihak. Sebab bila diteruskan yang ada dia dan Adriel akan semakin bertengkar. Masalah yang ada saja dia sudah pusing.
"Hick... hick...! Lakukanlah sesuka hatimu Adriel. Aku memang bersalah sudah memaksakan diri masuk diantara hubungan kamu dan Fara. Tapi apa salah jika aku mencoba memperjuangkan cintaku?" Thalita menangis sambil memukul dadanya yang terasa begitu sesak.
"Seharusnya walaupun kamu tidak mencintaiku bukan seperti ini caranya. Bukan berarti kamu bisa tidur dengan Fara sesuka hatimu," ucap Thalita untuk meluapkan rasa kecewanya terhadap Adriel.
Thalita benar-benar tidak menyangka bahwa pemuda itu akan berbuat demikian. Selama ini meskipun mereka sering bertengkar, tapi Thalita tahu bahwa Adriel sebetulnya menyayangi dia walaupun hanya sebagai sahabat.
Berbeda yang dilakukan Thalita, maka berbeda pula dengan Adriel. Pemuda itu terdiam membeku setelah mendengar perkataan Thalita, yang menunjukkan bahwa tidak peduli lagi akan dirinya.
Sebetulnya Adriel sudah bangun sejak tadi. Hanya saja pemuda itu sengaja akan menghubungi Thalita setelah Faranisa tidur terlebih dahulu, karena dia tidak ingin menyakiti hati kekasihnya. Namun, tidak memikirkan perasaan istrinya sendiri yang jauh lebih tersakiti.
"Maafkan aku Tahlita, bukannya aku tidak menghargai cinta yang kamu miliki. Namun, perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Aku tidak mencintaimu karena kamu tahu sendiri bahwa aku sudah lama mencintai Fara kekasihku. Aku membencimu karena kamu tega membohongi aku dan papa hanya untuk bisa menjadi Nyonya Afkar."
Gumam Adriel menghela nafas panjang. Sejujurnya di balik sikap jahatnya terhadap Thalita. Adriel tidak ingin melakukan semua itu. Sebab jauh di lubuk hatinya paling dalam Adriel merasakan sakit sendiri setelah berhasil membuat istrinya terluka. Namun, rasa egonya yang tinggi membuat Adriel melupakan semuanya.
Satu kata yang pantas diucapkan untuk dirinya, yaitu adalah plin-plan dengan keputusan dan hatinya sendiri. Di sisi lain dia tidak ingin kehilangan Faranisa hanya karena sudah menikah dengan gadis lain. Di satu sisinya lagi Adriel juga berat menyakiti Thalita.
"Ya Tuhan! Setelah ini kau uji aku dengan apa lagi. Aku benar-benar tidak bisa menerima Tahlita sebagai istriku."
Adriel kembali bergumam, saat ini dia lagi duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Fara, dia tinggal di dalam kamar. Ya, kamar! Adriel dan Faranisa memang tidur bersama dalam satu kamar dan berbagi tempat tidur. Akan tetapi hanya sebatas tidur saja. Sebab Adriel sudah berkata tegas, bahwa dirinya tidak akan melakukan lebih dari ciuman. Sebelum dia dan Faranisa menikah.
Berhubung Fara pun menyetujui perkataannya, makanya juga Adriel mau menemani gadis itu malam ini. Anggap saja sebagai maafnya pada wanita itu, karena sudah menikahi Thalita.
__ADS_1