Mahligai Cinta Yang Tergoyah

Mahligai Cinta Yang Tergoyah
Keputusanku. ( Thalita )


__ADS_3

💐💐💐💐💐💐💐


... HAPPY READING......


.


.


Lima hari sudah berlalu.


Setelah pertengkaran malam itu. Thalita belum ada pulang kekediaman keluar Afkar. Dia benar-benar menyendiri sesuai perkataannya pada ayah mertuanya.


Akan tetapi dia masih tetap berangkat ke perusahaan milik Riko seperti biasanya. Hanya saja jika di perusahaan milik Afkar group dia sudah mengundurkan dirinya. Thalita tidak ingin lagi membantu perusahaan tersebut. Tuan Marcel mertuanya pun memberikan izin. Beliau tidak ingin membuat menantunya tersiksa karena keegoisan yang ia miliki.


Hanya demi melindungi Adriel putranya dari Faranisa. Beliau harus mengorbankan Thalita. Jadi Tuan Marcel tidak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi. Dia juga sudah menyerahkan perusahaan tersebut pada Adriel sepenuhnya. Terserah mau dibawa kemana dan mau diapakan.


Sebab batas kesabaran seseorang itu ada kalanya lelah dan memilih untuk berhenti. Jadi hanya Talita yang menyerah. Namun, juga Tuan Marcel. sekarang beliau hanya ingin menikmati sisa hidupnya.


Tanpa ada beban apapun. Padahal tujuannya menjodohkan Adriel dan Thalita demi kebaikan sang putra itu sendiri. Agar dia tenang meninggalkan putranya ketika ajal sudah menjemputnya nanti.


Akan tetapi Adriel sendiri tak mengerti dengan niat baik sang ayah. sehingga perselisihan di antara mereka terus terjadi.


"Apakah kamu yakin?" tanya Riko setelah mendengar cerita sahabat sekaligus partner kerjanya.


"Huem, iya! Aku serius! Aku lelah dan akan menyerah," jawab Talita yakin dengan keputusannya.


"Tapi apakah kamu sudah memikirkan matang-matang keputusanmu ini? Jangan sampai kamu menyesal setelah kalian resmi berpisah," meskipun Riko mencintai Thalita dan anggap saja dia senang dengan perceraian kedua sahabatnya itu. Namun, tetap saja dia masih menasihati agar Thalita memikirkan kembali keputusannya. Supaya tidak salah mengambil jalan hidupnya.


"Sudah! Aku sudah memikirkan berulang kali. Kamu pikir apa yang kulakukan di rumah sendirian, selama beberapa hari ini," jawab Thalita menyugikkan senyuman paksa.


Soalnya mana mungkin dia merasa bahagia dengan perceraian mereka. Akan tetapi daripada terus tersakiti. Lagi dan lagi, lebih baik hanya merasakan sakit hati sekali sebelum mengakhiri semuanya.


"Baiklah semuanya terserah padamu. Aku sebagai sahabat hanya bisa memberikan dukungan saja, karena semuanya kalian berdua yang menjalani. Semoga keputusanmu untuk menyerah adalah jalan terbaik untuk kamu dan Adriel." Riko akhirnya hanya bisa mendoakan dan mensuport sang sahabat yang akhir-akhir ini tubuhnya semakin kurus.

__ADS_1


Siapapun itu akan mengetahui bahwa Thalita sedang menghadapi masalah dengan hatinya. Soalnya turun berat badannya benar-benar drastis.


"Huem, terima kasih," gadis itu kembali tersenyum kecil.


"Lalu kapan kamu akan memberitahu Adriel?" Riko kembali bertanya.


"Malam ini, nanti sore aku akan pulang ke sana. Sekalian mengambil semua barang-barang milikku. Anggap saja nanti malam adalah malam terakhirku tidur di sana." Ya, Thalita memang berniat nanti sore akan kembali ke kediaman Afkar untuk mengambil barang yang di bawahnya dari rumah. Soalnya jika barang yang pernah dibeli oleh Adriel dan mertuanya akan dia tinggal.


"Apa tanggapan Om Marcel? Kamu sudah memberitahu dia kan?"


"Tentu saja sudah, waktu makan siang kemarin aku sudah mengatakan padanya. Maka dari itu aku bisa mendapatkan surat dari pengadilan dalam waktu satu hari," jawab Thalita sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Ini, aku sudah memiliki surat gugatanku terhadap Adriel. Nanti malam aku sendiri yang akan memberikan padanya." gadis itu memperlihatkan pada sahabatnya. Agar Riko percaya bahwa dia serius dan tidak main-main dengan keputusan yang diambil.


"Secepat itu?" seru Riko membolak-balikkan surat tersebut yang terbungkus rapi dengan amplop dari kantor pengadilan resmi kota tersebut.


Tuan Marcel adalah orang nomor satu di kota itu. Jadi jika hanya untuk mendapatkan surat pengadilan seperti itu. Tentu saja bukan hal sulit. Beliau cukup menelpon pengacaranya maka semua akan beres dalam waktu satu hari.


"Iya, aku tahu bahwa Om Marcel bisa melakukan apapun. Namun, yang menjadi pertanyaanku adalah kamu mengambil keputusan secepat itu?" imbuh Riko sebelum meminum jus miliknya.


Saat ini mereka berdua lagi berada di ruangan Thalita. Hal yang sudah sering mereka lakukan sebelumnya.


"Menurutku tidak terlalu cepat karena aku sudah memikirkannya selama beberapa hari. Lagian aku juga sudah bertanya pada Om Marcel. Apakah keputusanku benar atau tidak. Namun, dia malah menyuruh agar aku mengikuti kata hatiku sendiri, karena baik untuk orang lain belum tentu baik untuk diri kita sendiri." papara Thalita karena dia memang belum bercerita pada Riko. Hal apa saja yang dia bicarakan dengan ayah mertuanya dua hari lalu.


"Oke, aku mulai paham! Tapi kamu akan tetap bekerja bersamaku, kan?" tanya pemuda itu karena merasa was-was bila Thalita mengundurkan dirinya.


"Tentu saja aku masih bekerja, jika tidak bekerja lagi mau makan apa. Tapi... aku ingin mengambil cuti pernikahan yang pernah aku tolak waktu itu," ucapnya yang membuat Riko menjadi tertawa.


"Ha... haa... Thalita, kamu membuatku geli," tawa Riko, karena tidak menyangka Thalita masih meminta jatah cuti pernikahannya di saat waktu perceraian dia dan Adriel.


"Kenapa kamu malah tertawa? Apanya yang lucu?" menatap Riko kesal.


"Jika ingin meminta cuti, maka cuti saja. Aku pasti akan memberimu izin. Jadi jangan berkata ingin meminta jatah cuti pernikahanmu, karena kamu cuti sekarang karena perceraian kalian," jelas Riko merasa Thalita begitu konyol berkata meminta jatah cuti pernikahannya.

__ADS_1


"Agh, sama saja, tidak ada bedanya. Oya apakah kamu tidak ingin ikut aku liburan? Soalnya aku dan Reza akan pergi bersama,"


"Benarkah? Ah, sayang sekali, aku mana bisa pergi liburan apabila di perusahaan tidak ada dirimu." Riko memperlihatkan wajah lesu.


"Hei, sudahlah jangan bersedih karena lain waktu kita masih bisa liburan bersama," hibur Thalita sambil menghabiskan sisa jam kerja mereka.


*


*


Sementara itu di tempat yang berbeda. Adriel dan Faranisa tengah menikmati makanan yang dipesan lewat jasa delivery oleh wanita itu. Ya, karena Thalita sudah resmi mengundurkan diri dari perusahaan Afkar.


Faranisa dengan terang-terangan datang ke perusahaan tersebut untuk menemui kekasihnya. Mereka berdua juga sering mengumbar kebersamaan saat masuk ataupun keluar dari perusahaan. Dengan saling bergandengan tangan cukup mesra.


Sehingga gosip-gosip murahan pun mulai terdengar dari mulut para karyawan Adriel sendiri. Namun, dia tidak ambil pusing akan hal itu.


Soalnya Faranisa sudah berkata pada Adriel, bahwa Thalita pasti akan kembali ke rumah. Sebab jika dia tidak pulang lagi, maka semua rencana liciknya tidak akan berjalan lancar. begitulah menurut hasutan dari wanita itu agar Adriel tidak menjemput Thalita dari rumah istrinya sendiri.


Adriel yang tidak tahu rencana istrinya pun percaya begitu saja. Makanya dia tidak jadi menjemput Thalita. Padahal sebelum itu Adriel ingin membawa istrinya kembali dan meminta maaf atas ucapannya tempo hari, yang menghina istrinya adalah wanita murahan.


"Adriel, jika Thalita benar-benar tidak pulang lagi ke rumah itu artinya kita sudah bisa menikah kan?" tanya wanita itu setelah mereka berdua sama-sama sudah selesai menghabiskan makanan masing-masing.


"Entahlah soal itu aku belum bisa menjawabnya. Bukannya kamu sendiri yang berkata. Jika dia pasti akan kembali?" jawab Adriel bingung mau berkata apa.


Sejujurnya di hati Adriel paling dalam, dia merasa takut jika sampai istrinya tidak pulang lagi. Namun, di sisi lain hatinya lagi, Adriel senang karena tidak ada yang mengganggu hubungan dia dan Faranisa lagi.


"Ya, itu kan menurut perkiraanku. Tapi semoga saja benar dia tidak kembali lagi. Agar kita bisa segera menikah, karena aku sudah tidak sabar ingin menjadi istrimu." ungkap wanita itu yang sudah menempel pada dada bidang kekasihnya.


"Huem," Adriel hanya bisa berdehem kecil.


"Jika Thalita tidak pulang, maka aku akan menjemputnya dalam waktu dua hari dari sekarang. Jika tidak, maka papa pasti semakin marah padaku." gumam adriel di dalam hatinya. Akhir-akhir ini pemuda itu lain yang ia katakan dari mulut, maka lain pula yang ada di dalam pikirannya.


...BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2