
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Thalita yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Gadis itu masih memakai Bathroom dengan handuk kecil diatas kepalanya.
Begitulah dia dan Adriel. Meskipun beberapa waktu lalu baru saja bertengkar, tapi setelah itu sudah biasa-biasa saja.
"Aku ingin mengajakmu sarapan di Restoran XC. Tapi tunggu aku mandi sebentar dan kamu bersiap-siaplah!" jawab pemuda itu mengambil handuknya dan masuk kedalam kamar mandi sebelum sang istri menjawab mau atau tidaknya.
Adriel buru-buru karena tidak ingin kekasihnya menunggu terlalu lama. Bila dia tidak pergi membawa Thalita, maka Fara akan curiga dan menuduh yang bukan-bukan.
Namun, bukan hal itu saja yang membuat Adriel takut. Dia tidak mau masuk berita jika Presdir perusahaan Afkar sarapan bersama mantan kekasihnya. Padahal baru saja menikah kemarin siang.
Aneh memang, Adriel memiliki pemikiran seperti itu. Namun, dia tetap melanjutkan kesalahan yang dia sengaja. Yaitu tetap menjalan hubungan dengan Fara disaat dia sudah menjadi seorang suami.
Tidak sampai sepuluh menit. Di saat Thalita baru saja mengeringkan rambutnya mengunakan alat pengering rambut. Adriel sudah keluar dengan tampilan yang bisa mencemari pikiran Thalita.
Akan tetapi Adriel terlihat cuek karena dia sudah memiliki janji. Thalita sendiri pun melanjutkan merias sedikit wajahnya yang sudah cantik. Meskipun tanpa peralatan make up sekalipun.
"Apa kamu akan memakai pakaian seperti itu?" tanya Adriel berjalan mendekati istrinya yang baru saja berdiri dari meja rias.
"Iya, memangnya apa yang salah dengan pakaian ini?" gadis itu membalikkan tubuhnya kearah cermin. Lalu memutar tubuhnya untuk melihat dimana letak kesalahan dress yang ia pakai. Namun, tidak menemukan kesalahan apapun pada gaun buatanya sendiri.
"Tidak ada apa-apa dengan pakaiannya. Ini aku sendiri yang membuatnya, jadi kemungkinan tidak cocok sangatlah kecil," ucap Thalita melihat kearah sang suami yang menyisir rambutnya ke belakang.
__ADS_1
"Pakaiannya bagus, cuma terlalu singkat, Tha. Seperti kekurangan bahan saja," jawab Adriel jujur. Entah mengapa dia tidak suka paha mulus sang istri harus dilihat oleh laki-laki lain.
"Benarkah? Wah, wah! Jangan bilang kamu cemburu. Kamu takut bila ada pemuda yang melihat kearah ku?" gadis itu mengalungkan tangannya pada leher Adriel dengan tersenyum mengenaskan.
"Baiklah-baiklah! Jika memang seperti itu, aku akan menganti dengan yang lebih panjang daripada ini. Jadi kamu tenang saja, aku memiliki banyak dress, karena aku adalah perancangannya." lanjut Thalita lagi. Dia sangat yakin bahwa Adriel pasti takut bila ada pria yang melihat kearah dirinya.
Anggap saja Thalita terlalu percaya diri akan kecantikan dirinya sendiri. Sebab dia memang sangat cantik. Akan tetapi sifat arogan Adriel tidak mau kalah dari siapapun. Membuang jauh pikiran bahwa Thalita sangat cantik.
"Ck, kamu bukan cantik dan aku tidak pernah cemburu pada siapapun. Terserah mau siapapun yang melirik mu," decak Adriel menyangkal apa yang dikatakan Thalita dan perasaannya sendiri.
"Kamu itu sangat kurus, jadi bila memakai pakaian singkat. Paha mu akan terlihat seperti burung puyuh," sambungnya lagi yang membuat Thalita melepaskan tangannya yang tadi sempat ia lingkarkan pada leher Adriel.
Sedangkan Adriel membiarkan hal tersebut. Dia tidak melarang Thalita berbuat begitu intim pada dirinya. Justru Adriel sangat menikmati bau harum dari tubuh sang istri.
"Agh, kamu ini selalu menghina diriku! Tidak bisakah memuji diriku sedikit saja. Seperti Riko selalu mengatakan bahwa aku sangat cantik," Thalita berjalan meninggalkan Adriel yang masih berdiri di depan meja rias. Gadis itu mengenakan jam tangannya lalu memasukkan ponselnya pada tas kecil tempat barang-barang penting miliknya. Seorang kunci mobil, ponsel dan dompet.
"Huh! Kamu yang tidak normal," gerutu Thalita mengikuti Adriel dari belakang. Rencananya siang ini mereka baru akan kembali ke kediaman Adriel. Sebab Thalita juga akan tinggal di sana.
Sekarang dia sudah resmi menjadi menantu Afkar. Meskipun Adriel tidak mencintainya, gadis itu tetap harus tinggal bersama suaminya. Tidak mungkin tinggal pisah rumah.
Braak!
"Adriel, kenapa kita harus makan di Restoran XC? Kenapa tidak di hotel ini saja?" tanya Thalita setelah dia menutup pintu mobil sang suami.
"Disana lebih enak karena ada Fara juga," jawab Adriel sambil menjalankan kendaraan roda empat miliknya.
"Apakah kita akan makan bersamanya?" seru Thalita dengan tatapan tidak menentu. Bagaimana mungkin Adriel mengajak dia makan bersama dengan mantan kekasihnya.
"Iya, dia sudah menunggu di sana dan mengajak sarapan bersama untuk membuktikan bahwa tadi malam tidak..."
__ADS_1
Adriel tidak melanjutkan lagi ucapannya. Dia justru membawa kendaraannya lebih kencang.
"Kenapa tidak diteruskan? Untuk membuktikan apa?" tanya Thalita semakin penasaran.
"Tidak ada, diamlah! Jika tidak, aku akan menurunkan dirimu di jalanan," acam pemuda itu. Sebab dia tidak mungkin berkata jujur.
"Kamu benar-benar sudah gila. Bagaimana mungkin mengajakku makan bersama mantan kekasihmu," kata Thalita hanya menggelengkan kepalanya.
"Siapa bilang Fara mantan kekasihku? Dia masih menjadi pacar aku, karena sampai kapanpun aku mana mungkin putus sama dirinya," jawab Adriel sudah mematikan mesin mobilnya.. Sebab mereka sudah tiba di Restoran XC.
"A--apa! Adriel jadi kamu belum putus juga sama Fara? Kamu berbohong pada Om Marcel?" menata penuh selidik. Sebab tiga hari lalu ayah mertuanya mengatakan pada Thalita. Bahwa Adriel mengatakan pada beliau jika dirinya dan Fara benar-benar sudah putus.
"Iya, aku berbohong pada papa, karena tidak ingin membuat keadaanya drob gara-gara ulah mu,"
"Adriel! Aku tidak pernah melakukan apapun. Jadi jangan as---"
"Sudah ayo turun! Aku tidak butuh nasehat atau apapun itu, karena aku berada di jalan yang benar." sela Adriel turun lebih dulu, yang diikuti oleh Thalita.
Gadis tersebut begitu penasaran apa yang akan dilakukan oleh Adriel dan para kekasihnya. Jadi mau tidak mau ikut masuk juga.
Begitu mereka tiba di dalam Restoran tersebut, langsung disambut ramah oleh Faranisa. Wanita itu seolah-olah tidak melakukan kesalahan apapun, sehingga masih bisa bersikap ramah Thalita.
Entahlah! Tidak tahu rencana apa yang akan dilakukan oleh Fara terhadap saingannya itu. Sebab apabila tidak memiliki rencana apapun, mana mungkin dia mengajak Adriel bertemu bersama Thalita. Sebetulnya dari dulu saja wanita itu sudah tidak menyukai sahabat kekasihnya itu, karena ia merasa selalu di nomor duakan oleh Thalita.
"Sayang, kamu sudah datang!" ucap Fara berdiri dari duduknya dan langsung memeluk Adriel dihadapan istrinya.
"Iya sayang! Maaf kami sedikit terlambat," jawab pemuda itu balas memeluk sang kekasih.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1