
ππππππ
...HAPPY READING......
.
.
"Thalita..." panggilan Adriel sudah tidak dihiraukan lagi oleh Thalita. Dia terus berjalan karena tidak ingin memiliki masalah apapun bersama mantan suaminya lagi.
"Agh! Kenapa bisa seperti ini," Adriel mengusap wajahnya kasar. "Kenapa Thalita berubah seperti ini," sesalnya sambil menendang angin dengan kasar.
"Apakah karena dia sudah memiliki kekasih? Atau dia sengaja menghindar dariku? Tidak, tidak! Thalita tidak boleh dimiliki oleh siapapun," seru Adriel berlari keluar dari ruangan mantan istrinya.
"Kemana dia? Apakah..." tidak ingin membuang-buang waktu.. Adriel menyusul Thalita keluar gedung perusahaan tersebut.
"Selamat pagi menjelang siang, Tuan Afkar" sapa para karyawan yang berpapasan dengan pemuda yang sudah berstatus duda tersebut.
"Huem, pagi juga," jawabnya singkat karena sekarang Adriel benar-benar tidak memiliki waktu buat berbasa-basi bersama orang lain.
Setibanya di luar perusahaan. Adriel berjalan mengelilingi setiap mobil yang terparkir karena takutnya mantan istrinya berada di dalamnya. Namun, baru saja dia ingin memeriksa mobil lainya. Ponsel pemuda itu bergetar. Menandakan ada yang menelpon.
__ADS_1
"Ck, Fara, mau apa dia," Gumam Adriel malas untuk berbicara dengan kekasihnya yang sudah selama sebulan ini tidak dia perhatikan seperti dulu lagi.
π± Adriel : "Iya, ada apa?" tanya pemuda itu singkat.
π± Faranisa : "Sayang, kamu ada dimana? Nanti aku ingin kita makan siang bersama." ucap manja wanita itu.
π±Adriel : "Aku lagi di perusahaan Riko. Maaf, aku tidak bisa, Fara. Kamu makan sendirian saja," tolak Adriel sambil kembali memeriksa setiap mobil. Namun, dia lupa jika mobil yang berada di sampingnya belum diperiksa.
π± Faranisa : "Adriel, aku ingin makan siang bersamamu. Pokoknya aku tidak mau tahu, karena pagi ini kita juga tidak sarapan bersama." keluh Faranisa yang tetap pada keinginannya.
π± Adriel : "Fara... jika aku bilang tidak bisa, maka jangan pernah memaksaku. Paham!" seru Adriel langsung memutuskan sambungan telepon mereka.
"Thalita kemana ya? Apa dia sudah pergi, atau masih berada didalam gedung ini?" tanya Adriel pada dirinya sendiri.
"Jika memang cinta itu buta, maka selama ini aku sudah buta oleh cintaku, Adriel. Sehingga tidak melihat bahwa dirimu yang selalu mengagungkan wanita lain. Meskipun kamu sudah menjadi suamiku." gumam Thalita memejamkan matanya dan berusaha melupakan semua pedih yang ia rasakan.
"Akan tetapi, aku tidak akan mengulangi kebodohan ku. Aku sudah memiliki tongkat buat menuntunku ke jalan yang terbaik. Jalan yang di persimpangan, kita tidak akan bertemu lagi." Thalita kembali bergumam sambil melihat Adriel memeriksa mobil lainya.
Setelah tidak menemukan Thalita di parkir mobil. Adriel kembali masuk kedalam perusahaan. Dia akan memeriksanya di dalam. Sehingga membuat Thalita bertahan di dalam mobilnya.
__ADS_1
Ttttddd!
π± Thalita : Iya, Rik?" sapa gadis itu karena Riko yang menghubunginya.
π± Riko : "Kamu lagi dimana?" terdengar Riko bertanya khawatir.
π± Thalita : "Aku ada di mobil, apakah Adriel keruangan mu? Tolong diam saja ya,"
π± Adriel : "Iya, dia baru saja keluar dari ruangan kerjaku. Aku tidak akan memberitahu nya bila kamu tidak ingin berbicara dengan nya."
π± Thalita : "Oke, terima kasih kalau begitu," Thalita tersenyum seakan Riko bisa melihat wajahnya.
π± Riko : "Tha, memangnya mau sampai kapan kamu menghindarinya seperti ini. Apakah tidak lebih baik jika kamu katakan secara langsung bahwa kamu tidak mau bertemu dengannya lagi.
π± Thalita : "Sampai aku sudah menemukan pengantinnya. Aku tidak akan pernah menoleh pada orang yang sudah membuang ku lagi, Rik... makanya aku lagi menyakinkan hatiku saja." akhirnya Thalita yang menunggu Adriel pergi dari perusahaan tersebut. Malah berbicara degan Riko lewat ponselnya masing-masing.
π± Riko : "Jadi Reza sudah selangkah lebih maju daripada aku?" Riko berpura-pura marah.
Padahal di dalam hatinya begitu senang jika Thalita bisa membuka pintu hatinya buat pria lain. Meskipun bukan Untuknya.
π± Thalita : "Haa... ha... itu bukan salahku, karena kalian sendiri yang membuat peraturan aneh," tawa Thalita yang sudah merasa lebih baik.
__ADS_1
...BERSAMBUNG......