
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
Ttddddd!
Ttttddd!
Suara ponsel Adriel terus berdering disaat Thalita sedang mengeringkan rambutnya mengunakan Hair Dryer alat pengering rambut. Dia baru saja selesai mandi. Sedangkan Adriel sudah sejak tadi, pemuda itu bangun lebih awal daripada istrinya sendiri, karena dia memiliki sedikit pekerjaan.
"Pasti itu Fara," gumam Thalita sambil melihat ponsel Adriel yang berada di atas meja nakas samping tempat tidur. Gadis itu tidak berbalik arah, hanya saja dia melihat dari pantulan kaca meja riasnya.
"Adriel, ponselmu berbunyi," ucapnya lagi karena dibalik rasa jengkel Thalita juga penasaran siapa yang menghubungi suaminya. Jika dugaannya benar, bahwa yang menelepon berulang kali itu adalah Faranisa. Thalita ingin tahu kekasih suaminya mau apa.
"Ck, Huh! Menganggu saja," seru Adriel berdiri dari sofa, karena dia sedang memeriksa beberapa dokumen yang akan di bawa saat rapat nanti siang. Ya, hari ini Adrie juga akan berangkat bekerja. Sebab dia juga hanya mengambil cuti selama dua hari.
__ADS_1
"Fara... tidak! Jagan sekarang. Thalita bisa-bisa bertambah marah dan kabur ke kamar sebelah lagi bila pagi-pagi sudah menerima telepon dari kekasihku,"
Batin Adriel tidak jadi menerima telepon dari Fara. Melihat Thalita pindah kamar tadi malam membuat pemuda itu tiba-tiba memiliki rasa takut jika Thalita melakukan hal itu lagi.
"Sudah cepat bersiap-siap biar aku antar ke perusahaan Riko," ucapnya melihat Thalita belum juga berganti pakaian.
"Apa! Benarkah kamu akan mengantarku?" seru Thalita langsung berdiri dan menghadap kearah suaminya.
"Ya, tentu saja benar! Kenapa? Apa kamu tidak mau aku antar saat bekerja?" mulai kesal karena Thalita tidak percaya pada ucapannya.
"Tidak apa-apa sih, hanya saja rasanya aneh sekali kamu mau mengantarku," menjawab jujur karena terkadang ucapan Adriel hanya Ingin mengerjainya.
Thalita tersenyum sambil berjalan mendekati Adriel yang sudah rapi dengan kemeja nya. Hanya saja dia belum memakai dasi dan juga jas kerjanya.
"Mau apa?" tanya pemuda itu karena Thalita begitu terlihat menggoda walaupun cuma mengenakan jubah mandinya.
"Tidak mau apa-apa! Aku... hanya ingin masang dasi mu," jawab gadis itu tersenyum miring karena dia menduga jika Adriel cemburu karena dia pulang bersama Riko.
"Aku bisa memakannya sendiri. Kamu pergi bersiap-siap bia---"
__ADS_1
"Biarkan aku melakukannya. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena kamu mau mengantarku berangkat bekerja. Sebab aku tidak ingin memiliki hutang Budi pada siapapun," sela gadis itu sudah mengalungkan dasi ke leher Adriel, yang kebetulan sudah ada diatas meja.
Deg!
"Kenapa dia berbicaralah seperti itu? Sebetulnya apa yang sedang direncanakan olehnya?"
Pemuda itu kembali bergumam karena mendengar perkataan istrinya tidak mau memiliki hutang budi. Dada Adriel bagaikan tersentil yang dia sendiri tidak tahu kenapa.
"Sudah selesai," ucap Thalita akan menjauh karena dia harus bersiap-siap juga. Namun, dia tidak bisa kemana-mana karena Adriel menahan pinggangnya agar tetap pada posisinya sekarang.
"Adriel, lepas! Apa yang kamu lakukan? Aku mau bersiap-siap ke perusahaan juga,"
"Thalita... katakan! Katakan sebetulnya kamu memiliki rencana apa?" jawab Adriel tidak bisa untuk diam saja.
"Rencana yang mana? Aku tidak mengerti maksudmu?" kembali bertanya karena Thalita memang tidak tahu maksud perkataan suaminya.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1