Mahligai Cinta Yang Tergoyah

Mahligai Cinta Yang Tergoyah
Bersikap Profesional.


__ADS_3

💐💐💐💐💐💐


...HAPPY READING......


.


.


"Sudahlah! Jangan menangisi orang yang tidak bisa menghargai mu," ucap Riko menenangkan Thalita yang menangis begitu mereka tiba di dalam mobil.


"Riko, tolong maafkan aku, kamu kehilangan kesempatan bekerja sama dengan Afkar grup, gara-gara masalah pribadiku dan Adriel." Thalita menyeka air matanya sendiri. Dia menangis bukan hanya karena sikap Adriel yang ingin mempermalukan dirinya saja. Namun, menyesali kenapa dia harus menerima tawaran dari Riko. Andai dia tahu hasil akhirnya akan seperti ini. maka Talita akan menyuruh Riko mencari pengganti dirinya.


"Hey, maaf buat apa? Aku justru bersyukur karena hal ini aku bisa memutuskan kerjasama bersama dengan Adriel," ujar Riko tidak terima bila Thalita menyalahkan dirinya sendiri.


"Ma--maksudnya?"


"Huem! Maksudnya aku memang sudah lama ingin berjalan sendiri dan tidak bergantung pada perusahaan Afkar Group. Soalnya kamu tahu sendiri begitu banyak klien yang ingin bekerja dengan produktion milik kita."

__ADS_1


"Jadi kamu tidak kecewa padaku, 'kan?" Thalita kembali memastikan. dia benar-benar merasa sudah mengacaukan pekerjaan Riko.


"Tentu saja tidak! Lagian yang memutuskan kerjasama ini kan aku sendiri. Lalu salahmu di mana?"


"Riko... ayo kita pergi dari sini. Aku membutuhkan makanan yang pedas untuk meluapkan emosi ku pada Adriel," seru gadis itu mengajak Riko meninggalkan perusahaan Afkar Group. Akan tetapi dia malah memeluk tubuh Riko yang menghadap ke arah dirinya.


"Tha, jika kamu memeluk tubuhku seperti ini bagaimana kita bisa pergi," Riko tergelak karena setiap ada masalah yang tidak bisa dia luapkan pada Adriel. Maka Thalita akan minta diantar mencari makanan pedas ataupun es krim kepadanya.


"Eh, iya aku lupa," gadis itu melepaskan pelukan mereka sambil tersenyum dan berkata. "Ayo kita pergi dari sini,"


"Huem, pasang sabuk pengamannya lebih dulu," titah Riko yang juga memasang sabuk pengaman pada tumbuhnya.


Berbeda dengan Adriel yang masih berada di dalam ruangan rapat. Gara-gara Riko memutuskan kerjasama mereka. Tuan Burhan dan beberapa orang lagi juga ikut memutuskan kerjasama tersebut.


"Maaf Tuan Afkar, Saya juga mengundurkan diri dari kerjasama kita dan menarik semua saham perusahaan kami. Soalnya Anda tahu sendiri Tuan Riko merekomendasikan Nona Thalita yang merupakan istri Anda sendiri, karena sudah tahu cara kerjanya yang tidak pernah mengecewakan kita semua," ucap laki-laki yang seumuran juga dengan Adriel.


"Bahan yang dimintai oleh Nona Thalita memang sangat mahal. Namun, meskipun begitu kita masih mendapat keuntungan yang besar karena semua konsumen merasa puas dengan barang yang kita luncurkan," lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Iya, benar! Menurut Saya seharusnya tadi Anda tidak bersikap seperti itu. Seolah-olah sedang menjatuhkan istri Anda sendiri. Jika saja semuanya tidak kacau seperti ini, maka kita masih bisa membicarakan secara baik-baik pada Nona Thalita untuk masalah bahan yang akan digunakan," sambung rekan satunya lagi yang tidak sependapat dengan cara berpikir Adriel ataupun rekan mereka yang lain.


"Inilah gunanya rapat ini diadakan. Agar kita bisa berbagi dan bertukar pendapat supaya yang berat terasa ringan. Bukan malah menyudutkan satu orang saja, ya... beginilah akhirnya," kata laki-laki bernama Burhan yang sangat kecewa dengan keputusan Adriel.


Setelah berkata demikian, beliau langsung berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan tersebut tanpa berpamitan seperti biasanya.


"Apa ini? Saya berkata seperti itu hanya sebagai saran, bukan menyudutkan istri Saya," bela Adriel untuk dirinya sendiri.


"Mungkin ya, menurut Anda sebagai saran saja, Tuan Afkar. Namun, bagi rekan kerja kita yang lainnya justru mendapatkan celah untuk menggantikan Nona Thalita dengan desainer lain." terang mereka yang masih bisa berpikiran secara benar.


"Sudahlah! Saya permisi dulu! Terima kasih untuk kerjasama kita selama ini," ucapnya yang sudah malas untuk kembali berdebat.


Namun, sebelum benar-benar pergi laki-laki itu menatap ke arah Adriel. "Dan... buat Anda Tuan Afkar, jika sedang ada masalah dengan istri Anda. Maka selesaikan secara baik-baik. Soalnya wanita itu ingin dimengerti, bukan meminta untuk dia yang mengerti kita sebagai laki-laki," ucapnya dan setelah berhenti sejenak dia berkata lagi


"Jujur, melihat sikap Anda hari ini, Saya menjadi berpihak pada Nona Thalita. Seharusnya Anda selesaikanlah masalah kalian di rumah. Bukan harus di bawah ke tempat kerja seperti ini. Jadi pesan Saya, untuk kedepannya bersikaplah profesional," setelah berkata panjang kali lebar barulah pria tersebut ikut menyusul meninggalkan perusahaan Afkar Group.


Jangankan orang dewasa, anak kecil pun mungkin akan tahu jika Adriel dan Thalita sedang memiliki masalah dalam rumah tangga mereka. Apalagi walaupun tempat kerja mereka terpisah, Adriel dan Thalita tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG......



__ADS_2