Mahligai Cinta Yang Tergoyah

Mahligai Cinta Yang Tergoyah
Hitam - Putih.


__ADS_3

💐💐💐💐💐💐


.


.


Dengan amarah dan kecewanya pada perbuatan Adriel. Thalita masuk kedalam rumah suaminya dan langsung saja menuju lantai atas. Dia masuk ke kamar Adriel hanya untuk mengambil koper bajunya dan di bawa ke kamar sebelahnya lagi.


Untuk saat ini Thalita tidak mau berdekatan dengan Adriel. Sebab bila mereka terus bersama, maka sangat tidak mungkin bila mereka tidak akan bertengkar.


Sementara itu di halaman rumah tersebut. Adriel hanya bisa mengepalkan tangannya. Untuk menahan emosi gara-gara Thalita sudah berani menamparnya di hadapan Riko. Menurut Adriel walaupun dia bersalah, seharusnya Thalita tidak boleh melakukan hal tersebut. Apalagi di hadapan orang lain.


Namun, semua itu kembali lagi ke Thalita. Cuma dia yang tahu sakitnya dibuat oleh suaminya seperti tidak berharga sama sekali.


"Adriel, kamu mengenal Thalita sejak dulu. Tapi tidak pernah mengerti juga seperti apa dirinya," ucap Riko menghela nafas panjang.


"Pulanglah!" titah Adriel tidak ingin mendengar nasehat apapun dari sahabatnya. "Riko, sepertinya hati kamu benar-benar sudah dibutakan oleh Thalita. Dia tidak sebaik yang kamu dan papaku kira," lanjutnya lagi sebelum meninggalkan Riko di halaman rumahnya.


Adriel yang kesal tidak menawarkan sang sahabat untuk masuk. Sebab dia dan Thalita harus bicara. Tadinya Adriel mau minta maaf karena tadi malam tidak pulang ke rumah. Namun, sekarang dia tarik kembali pemikiran untuk meminta maaf pada Tahlita.


Justru Adriel merasa harus melakukan hal itu lagi agar bisa tambah menyakiti hati istrinya.


"Adriel, apakah Thalita sudah pulang?" tanya Tuan Marcel yang kebetulan baru keluar dari ruang kerjanya. Jadi beliau belum tahu bahwa menantunya sudah pulang.


"Sudah," jawab Adriel singkat. Gara-gara suasana hatinya lagi buruk. Jadi Adriel tidak ingin berbicara dengan ayahnya juga.


"Apa yang terjadi? Apakah kamu tidak minta maaf dan malah mengajak Thalita bertengkar?" tanya Tuan Marcel yang sangat tahu seperti apa putranya apabila lagi kesal.


"Pa, jangan pernah meminta Adriel meminta maaf pada Thalita. Dia pantas menerimanya," ujar Adriel pergi menaiki tangga menuju ke kamarnya. Dia tidak perduli apapun yang dikatakan oleh papanya.


"Adriel, Adriel! Papa belum selesai bicara," seru Tuan Marcel. Namun, bukannya berhenti, justru Adriel semakin mempercepat langkahnya.


Braaak!

__ADS_1


Membuka pintu dengan kasar dan Adriel menutup pintunya kembali. Dia belum tahu jika Thalita berada di kamar sebelah.


"Kenapa sepi? Apakah dia bunuh diri di dalam kamar mandi?" Adriel bertanya pada dirinya sendiri. Lalu karena tidak sabar untuk menyelesaikan masalah mereka. Pemuda itu mengetuk pintu kamar mandi berulangkali. Akan tetapi tetap tidak mendapat sahutan dari dalam sana.


Tok!


Tok!


"Thalita, Thalita buka pintunya. Cepat keluar! Kita perlu bicara," ucap Adriel kembali emosi. "Thalita, jangan menguji kesabaran ku," ketika Adriel ingin mendobrak pintu kamar mandi tersebut. Dia mencoba memutar gagang pintunya yang ternyata tidak dikunci.


Kleek!


"Hah! Tidak ada orang?" seru Adriel memeriksa kamar mandinya. "Dia kemana?" pemuda itu keluar dari kamar mandi dan disaat dia mau pergi mencari ke kamar sebelah.


Mata Adriel melihat koper baju milik istrinya sudah tidak ada di pojokan kamar tersebut.


"Dia pergi, atau pindah kamar?" sambil bertanya pada dirinya sendiri. Adriel pun melanjutkan niatnya untuk mencari Thalita di kamar sebelah.


Tok!


Tok!


"Thalita, cepat buka pintunya?" berteriak agar Thalita mau keluar. "Tha---"


Ceklek!


"Apa? Mau minta ditampar lagi?" seru Thalita yang sudah mandi dan berganti pakaian mengunakan baju piyama tidurnya.


Bau harum dari tubuh dan rambutnya yang baru selesai mandi. Menyeruak masuk kedalam Indra penciuman suaminya.


"Semakin kesini kamu ternyata semakin berani," jawab Adriel mendorong tubuh istrinya masuk dan dia tutup kembali pintu kamar tersebut. Namun, emosinya tadi entah lenyap kemana.


"Adriel, apa yang kamu lakukan? Cepat keluar dari sini, aku mau tidur," usir gadis itu karena sudah malas untuk berdebat.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidur di sini? Ayo pindah," padahal niat Adriel mencari Thalita untuk marah. Namun, apa ini? Setelah melihat istrinya malah mengajak pindah ke kamarnya lagi.


"Aku malas berada di dekat mu, jadi pergilah! Jika kita terus bersama, maka ujung-ujungnya kita akan bertengkar,"


"Kamu yang mengajak bertengkar, bukan aku. Ayo cepat pindah ke kamar ku. Jika tidak, maka aku akan bilang pada papa," sebelum Thalita menjawab iya, Adriel sudah menarik tangan gadis itu dan juga koper baju sang istri menuju kamarnya.


"Adriel, kamu kenapa sih? Dasar aneh," seru Thalita merasa ingin berteriak melihat perubahan sikap Adriel dalam waktu satu jam. Benar-benar aneh dan sayangnya itu semua nyata.


"Sudah diam dan tidurlah! Besok pagi kita baru bicarakan masalah kita," pemuda itu membawa Thalita langsung kearah ranjang tempat tidur dan menahan tubuh istrinya agar tidak pergi kemana-mana. Lalu tidak membutuhkan waktu lama, kira-kira kurang lebih setengah jam Adriel sudah tidur. Mungkin karena dari kemarin malam tidak tidur dan lelah seharian ini memikirkan Thalita.


Di lubuk hatinya paling dalam, merasa takut Thalita mengira jika dia dan Fara tidur bersama. Akan tetapi di sisi hatinya yang masih marah pada Thalita, karena menerima perjodohan mereka. Merasa sangat senang bisa menyakiti hati istrinya.


"Huh! Adriel, kamu ini kemasukan setan atau bagaimana? Tadi marah-marah tidak jelas. Datang ke kamar sebelah aku kira mau di tampar lagi. Tapi malah membawaku ke kamarmu lagi," lirih Thalita akhirnya ikut terpejam. Sebab kemaren malam dia sama-sama tidak bisa tidur.


*


Berbeda dengan Thalita dan Adriel baru mulai tidur.


Di Apartemennya Fara baru saja selesai melayani nafsu Tuan Albert yang kembali menggempurnya untuk kedua kali. Namun, dengan durasi cukup satu jam. Setelah itu dia langsung membersihkan tubuhnya karena mau pergi dari sana. Meskipun di sana sudah hampir pagi.


Sedangkan Fara hanya terbaring lemah karena kelelahan dan juga merasakan sakit pada pangkal pahanya akibat Tuan Albert melakukannya dengan kasar. Tanpa memikirkan bahwa Fara masih perawan.


"Om, jadi bagaimana dengan kerjasama kita? Kalau bisa jangan besok pagi, karena inti Saya masih sakit," tanya Fara menunggu Tuan Albert sejak tadi. Saat ini pria paruh baya itu baru selesai memakai pakaiannya yang berserak diatas lantai.


"Kamu tidak perlu datang ke perusahaan Agensi," jawabanya santai, karena sejak awal lelaki itu memang hanya ingin balas dendam saja.


"Maksudnya Saya boleh libur dulu, kan?" sedikit merasa girang. Fara kira pelayanannya mendapatkan perlakuan istimewa.


"Tidak, kita tidak akan pernah melakukan kerjasama lagi, Fara. Apa yang kita lakukan tadi sebagai ganti rugi perusahaan Saya gara-gara ulah kamu yang keluar tanpa pemberitahuan,"


Namun, setelah mendengar perkataan Tuan Albert dia langsung berteriak histeris. "Apa maksud Anda? Saya sudah membayar mahal untuk kerjasama yang Anda janjikan tadi, Om. Jadi jangan main-main," seru Fara dengan perasaan takutnya. Takut jika Tuan Albert serius dan tidak main-main pada ucapannya.


"Soal itu, kamu saja bisa membatalkan kontrak kerjasama. Padahal jelas-jelas memiliki bukti tanda tangan diatas kertas hitam putih. Apalagi Saya yang hanya memberikan kamu kepuasan. Ini bukti ucapan kamu yang mengatakan tidak akan pernah menyesal dengan apa yang kita lakukan sejak tadi,' Tuan Albert memutar rekaman yang dia letakan di saku jas yang ia pakai.

__ADS_1


Sehingga Faranisa gemetar setelah mendengar perkataannya sendiri. Karier nya sudah hancur dan sekarang juga hidupnya.


...BERSAMBUNG......


__ADS_2