Mahligai Cinta Yang Tergoyah

Mahligai Cinta Yang Tergoyah
Terjebak Pada Ucapan Sendiri.


__ADS_3

💐💐💐💐💐💐


...HAPPY READING......


.


.


"Thalita, bagaimana kabarmu?" sapa Fara setelah dia dan Adriel berpelukan. Kedua pasangan kekasih itu seakan tidak malu dengan perbuatan mereka.


"Sangat baik! Seperti yang kamu lihat. Cuma sayang sekali disaat hari bahagia ku dan Adriel, dirimu tidak hadir. Jika datang kita bisa berfoto saling bergandengan tangan," jawab Thalita santai, lalu sebelum disuruh untuk duduk, dia sudah duduk lebih dulu.


Sehingga Adriel tidak habis pikir degan sikap Thalita. Mana ada seorang istri bisa sesantai itu setelah melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain.


"Kenapa dia terlihat begitu santai sih. Seharusnya dia marah kan? Tapi apa ini, dia cuek. Tidak sesuai dengan perkataannya yang mengatakan mencintai aku. Apakah Thalita hanya membual? Tapi saat itu dia terlihat sangat serius."


Gumam Adriel menatap Thalita lekat. Sampai-sampai dia tidak menghiraukan perkataan Fara. Sedangkan yang ditatap malah terlihat cuek dan seakan-akan tidak menganggap adanya kehadiran Fara diantara mereka.


"Adriel!" seru Fara mulai kesal karena Adriel mengabaikan dia. Thalita yang tahu hal itu hanya tersenyum kecil.


"Agh, i--iya, ada apa? Kenapa kamu berteriak, aku belum tuli," jawab Adriel tergagap, dia merasa malu karena sudah ketahuan melihat Thalita tanpa berkedip.


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu melihat kearah Thalita? Jangan macam-macam kamu," ancam wanita itu sedikit mengancam. Fara bukanlah gadis remaja yang tidak tahu arti tatapan kekasihnya. Dari sorot mata Adriel, anak yang baru pacaran saja akan tahu. Bahwa itu adalah pandangan yang memiliki rasa. Baik benci ataupun cinta.


"A--aku tidak melihat Thalita, tapi itu. Aku sedang melihat anak kecil itu sangat lucu," elak Adriel menunjuk di belakang tubuh istrinya ada sepasang suami-istri lagi sarapan bersama anak mereka. Ya, Thalita duduk sendirian, sedangkan Adriel duduk bersebelahan dengan kekasihnya.


"Ck, pagi-pagi sudah bikin drama," decak Thalita ingin tertawa mengejek keduanya. "Fara, jika Adriel melihat diriku tidak ada salahnya. Sebab aku adalah istrinya," ucap Thalita menatap Fara dengan senyum mengejek. Lalu dia menatap kearah suaminya lagi dan berkata. "Suamiku, jika kamu ingin bayi lucu seperti itu, kita masih bisa membuatnya seperti tadi malam," Thalita semakin melebarkan senyumnya. Apalagi melihat keterkejutan Fara dan Adriel.


"Thalita, jaga ucapan mu! Jangan mencoba mempengaruhi hubungan aku dan Adriel," seru Fara ingin sekali menampar Thalita. Untungnya ada Adriel, jadi Fara berusaha agar tidak bar-bar. Sebab dia sering mendengar Adriel yang menceritakan tidak menyukai Thalita karena sahabatnya itu adalah gadis bar-bar. Bila dia juga bersikap seperti itu, sudah pasti Adriel juga tidak akan menyukainya. Lalu bagaimana dia bisa menjadi Nyonya Afkar. Istri dari pewaris tunggal dari keluarga itu.


"Aku tidak berbohong, coba saja tanyakan sendiri pada kekasihmu, eh salah! Maksudku tanyakan sendiri pada suamiku," jawab Thalita menerima minuman miliknya yang baru saja diantarkan oleh pelayan.


"Adriel, apakah benar?" tanya Fara dengan suara bergetar. Apa ini yang ingin Adriel buktikan. Bahwa tadi malam dia sudah malam pertama bersama Thalita. Pikiran Fara berkecamuk tidak karuan.


"Benar apa? A--aku dan dia tidak melakukan apa-apa. Kami hanya---"


"Adriel, sudah cukup! Masalah ranjang kita jangan kamu ceritakan pada orang lain. Aku berjanji akan belajar tutorial saat kita... astaga! Aku hampir saja," Thalita menyela ucapan Adriel dan menutup mulutnya seperti malu-malu. Padahal dia lagi menyembunyikan senyum menyeringai karena berhasil membuat Adriel dan Fara hampir bertengkar.


"Thalita apa maksudmu? Aku berk---"


"Wah, ternyata ada pengantin baru juga makan di Restoran ini." ucap seorang laki-laki yang baru saja datang. Dia adalah rekan kerja Adriel yang hadir saat acara pernikahan Adriel dan Thalita kemarin siang.


"Tuan Wily," seru Adriel menyalami rekan kerjanya itu. "Mau sarapan juga? Ayo gabung saja bersama kami," ajak Adriel, agar bisa membuat Fara melupakan masalah malam pertama dia dan Thalita.


Adriel benar-benar merutuki dirinya sendiri, yang sudah membawa istrinya datang ke sana. Seharusnya dia sudah tahu bahwa Thalita tidak mungkin bisa dikalahkan dengan mudah.


Niat hati ingin membuktikan pada Fara bahwa dia dan Thalita tidak melakukan apa apa, dan sekalian ingin menyakiti istrinya dengan cara memperlihatkan kemesraan dia bersama sang kekasih. Namun, semuanya berjalan tidak sesuai rencana. Justru diibaratkan senjata malah menyerang balik kepada dirinya.


"Apakah tidak apa-apa? Saya takutnya mengganggu kalian bertiga," jawab Willy menatap Thalita tanpa berkedip. Hal itupun diketahui oleh Adriel. Lalu tanpa banyak bicara dia pindah duduk di sebelah istrinya sendiri sambil berkata. "Tentu saja tidak Tuan Wily, jarang-jarang kita bisa sarapan bersama bila tidak lagi membahas pekerjaan kan," ucapnya menyakinkan.

__ADS_1


"Iya, baiklah! Tapi kenapa Tuan Adriel malah menjadi pindah tempat duduk?" tanya pria itu heran. Sebab tadinya dia berharap bisa duduk bersebelahan dengan Thalita. Selain ingin menawarkan masalah pekerjaan, dia juga ingin mengenal istri rekannya itu lebih dekat lagi.


"Tidak ada apa-apa, hanya Restoran ini mulai ramai. Takutnya ada salah satu wartawan yang makan di sini juga. Lalu membuat berita miring tentang kita," jawab Adriel bisa mengecoh mereka semua. Sebab apa yang ia katakan memanglah benar. Akan tetapi tidak degan Thalita, dia tumbuh dan besar bersama dengan Adriel, jadi sudah tahu bahwa pemuda itu hanya mencari-cari alasan saja.


"Kurang ajar sekali, ini semua gara-gara Thalita. Gadis ini tidak bisa ku anggap remeh. bila aku biarkan maka bisa-bisa dia akan merebut Adriel dari diriku."


Gumam Faranisa mengepalkan tangannya dibawah meja. Tahu akan seperti ini, maka dia akan mengajak Adriel saja. Tidak perlu membawa Thalita.


"Oh iya anda benar sekali Tuan Adriel. Apalagi Nona Fara ini mantan kekasih Anda bukan. Tapi Saya salut dengan Nyonya Afkar. Dia terlihat baik-baik saja saat bertemu dengan mantan kekasih suaminya," puji Wily yang memang tidak mengetahui ada sesuatu diantara ketiga orang yang ada di hadapannya itu.


"Memangnya saya harus bersikap bagaimana, Tuan? Yang terpenting bagi saya adalah Adriel menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga kami. Tidak perduli berapa banyak mantan kekasihnya di luar sana. Sebab walaupun banyak sekalipun, Saya tetaplah menjadi pemenangnya." jawab Thalita tersenyum ke arah suaminya. Seakan mereka berdua adalah pasangan yang saling mencintai.


Padahal semua kata-kata manis yang diucapkan oleh Thalita, adalah untuk membalas perbuatan Fara dan Adriel tadi, yang sudah berani berpelukan di hadapan dirinya dan sekarang rasakan pembalasan yang dia berikan.


"Anda benar-benar sangat beruntung Tuan Adriel. Bisa memiliki istri secantik dan sebaik Nona Thalita. Andai saja masih ada yang seperti dirinya, maka Saya tidak akan pernah menolak untuk menikah," ungkap Willy apa adanya. Sebab dia memang sangat tertarik pada istri rekannya itu.


"Terima kasih atas segala pujiannya Tuan Willy. Tapi kita ke sini untuk sarapan. Jadi silakan pesankan makanan untuk Anda sendiri. Pagi ini biar Saya yang akan mentraktir, anggap saja sebagai rasa syukur atas pernikahan kami." Adriel yang tidak suka mendengar rekannya itu memuji sang istri, langsung saja mengajak untuk sarapan. Apalagi pesanan mereka bertiga sudah datang sejak tadi.


"Ha... ha... maaf, maaf Tuan Adriel, gara-gara terpesona melihat kecantikan istri Anda, Saya sampai lupa dengan tujuan datang ke sini," tawa Wily sambil membuka buku menu untuk makanan yang akan dia pesankan.


"Huem! Sudah siang sayang, ayo kita makan duluan, soalnya papa sudah menunggu kedatangan kita," sela Thalita dengan sengaja menekankan kata sayang.


Melihat wajah masam Fara dan muka kesal Adriel, membuat dia ingin tertawa. Namun, Thalita meskipun bar-bar bukanlah gadis bodoh. Dia bar-bar juga apabila sedang bersama Adriel saja. Sebab suaminya itu begitu keras kepala. Sama seperti dirinya.


"Iya, baiklah!" Adriel yang tidak mungkin menyangkal panggilan sayang dari istrinya hanya bisa mengangguk saja. "Fara, ayo habiskan makanan mu. Soalnya aku dan Thalita juga tidak bisa berlama-lama," ucapnya lagi pada Fara yang menatapnya tajam.


Perihal masalah membicarakan apakah Adriel dan Thalita malam pertama atau tidak saja belum selesai. Malah harus mendengar kekasihnya di panggil sayang. Benar-benar sial.


"Aaagk!" teriak Fara mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar tidak bisa menahan emosinya. Sehingga mereka berempat menjadi pusat perhatian pengunjung.


"Sa... Eum, Fara, kamu kenapa?" tanya Adriel hampir keceplosan memangil sayang.


"A--aku, aku baik-baik saja. Aku baru ingat belum bersiap-siap untuk berangkat nanti siang. Aku pulang duluan," pamit wanita itu tidak menghiraukan panggilan dari Adriel dan juga Thalita.


"Aaagk! Brengsek! Brengsek kamu Thalita. Kamu sudah merebut Adriel dariku," rutuk nya kesal. Saat ini Fara sudah masuk kedalam mobilnya.


"Apakah kamu baik-baik saja, Fara? Apa yang terjadi?" tanya asistennya yang menunggu di dalam mobil. Ya, Fara datang bersama asistennya yang bernam Niza, dia masih gadis, sama seperti Fara. Hanya saja umurnya sudah dua puluh delapan tahun.


"Aku baik-baik saja. Hanya saja aku lagi kesal dengan istri Adriel. Dia benar-benar sangat menyebalkan," ucapnya menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil. "Ayo jalan! Kenapa kau malah menatap ku seperti itu," titah Fara yang sudah biasa berbicara kasar pada asistennya itu.


"Huh! Fara, sudahlah! Kamu lupakan saja dia. Adriel sudah menikah dan biarkan dia hidup tenang bersama istrinya," Niza menghela nafasnya. Tidak habis pikir dengan cara berpikir bos nya itu.


"Apa katamu, lupakan? Enak saja jika bicara," sentak wanita itu menatap Niza tajam. Dia lagi kesal, malah sang asisten berkata menyuruh dia melupakan Adriel.


"Iya, lupakan saja. Lagian kamu masih punya laki-laki yang sama tampannya seperti Adriel. Daripada harus menjadi pelako---"


"Diam! Berani kau menyebutku seperti itu. Maka aku akan memecat mu sekarang juga. Aku tidak butuh nasehat mu, jangan ikut campur urusan pribadiku." sela Fara disertai ancaman.


"Aku bukankah plakor, tapi Thalita yang sudah merebut Adriel dariku," ucap wanita itu membela dirinya sendiri. ""Lagian mereka yang mengejar aku memang tampan. Akan tetapi mereka bukan pewaris tunggal seperti Adriel," lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Jika kamu hanya mengejar kekayaannya. Kenapa malah tidak langsung menikah saja, biar bisa menjadi Nyonya Afkar?"


"Karena aku ingin dikenal lebih dari Nyonya Afkar. Bila aku memiliki karier yang bagus. Para rekan bisnisnya akan semakin mengagumi aku. Bukan hanya menghormati gara-gara menjadi istri Adriel." ungkap Fara. Itulah alasan dia belum mau diajak menikah, apabila karier nya belum berada dipuncak tertinggi.


"Ck, kamu ini serakah sekali. Aku harap kamu tidak pernah menyesali keputusan mu ini, karena aku takutnya Adriel malah jatuh cinta pada sahabatnya itu." sambil mengendarai mobil menuju ke Apartemen. Mereka berdua terus saja mengobrol, walaupun sesekali menjadi pertengkaran. Sebab Fara merasa tersinggung dengan ucapan asistennya itu.


*


*


Sementara itu kembali ke Restoran XC. Dimana Adriel terlihat panas karena ulah Thalita yang bersandar gurau dengan Wily. Adriel sudah dianggap tidak ada oleh istrinya sendiri.


"Ha... ha... Anda orang yang sangat humoris, Nona Thalita. Jujur Saya semakin mengagumi Anda," Wily kembali tertawa sambil menikmati makanan di dalam piringnya. Sedangkan Thalita dan suaminya sudah selesai. Hanya saja tinggal menunggu Adriel menghabiskan kopinya saja.


"Anda juga orang yang sangat mengasikkan. Oya, bisakah tidak usah bicara formal. Soalnya Saya merasa agak aneh, apalagi kita sudah saling kenal," ucap Thalita yang awalnya hanya ingin membuat Adriel menyadari bahwa dirinya bisa bersama laki-laki lain. Namun, siapa sangka, jika Wily adalah orang yang sangat mengasikkan. Dia tidak seperti Adriel, selalu berkata kasar dan menghina dirinya.


"Tentu, tentu saja sangat boleh! Memang sudah dari tadi Sa.. maksudnya. Aku sudah dari tadi ingin berkata seperti itu. Namun, aku merasa tidak pantas," jawab Wily menyetujui.


"Baiklah, jika begitu lain kali saat bertemu denganku. Kamu tidak perlu bicara formal lagi," Thalita tersenyum kecil. Akan tetapi berbeda tanggapan Adriel. Bagi pemuda itu Thalita sedang tersenyum genit.


"Maaf Tuan Willy, kami sudah selesai. Terima kasih," kata Adriel berdiri lalu menarik tangan Thalita untuk meninggalkan tempat tersebut. Untung saja saat pelayan mengantarkan makanan ke meja lain. Adrie sudah membayar pesanan mereka.


"Adriel, tapi kopi mu belum diminum. Kenapa kita---"


"Papa sudah menelepon ku dan menyuruh untuk pulang sekarang juga," jawab Adriel yang membuat Thalita dan Wily menjadi tersenyum.


"Thalita, pulang saja! Lain kali kita bisa bertemu untuk makan siang sambil berbagi cerita lagi," kata Wily mengetahui bahwa Adriel cemburu pada dirinya.


"I--iya, maaf ya Wil, kami duluan," kata Thalita sambil melihat kearah Wily, karena tangannya sudah ditarik paksa oleh suaminya.


"Adriel, lepas! Aku bisa jalan sendiri," seru Thalita mencoba menahan pergelangan tangannya.


"Diam!" bentak Adriel tidak menghiraukan ucap sang istri. Dia terus saja berjalan sambil menarik tangan Thalita. Tiba di dekat mobil dia membukakan pintu mobilya dan menyuruh Thalita untuk masuk.


Lalu setelah menutup pintu tersebut. Adriel menyusul berjalan memutari mobil dan ikut masuk dan duduk di bangku kemudi.


"Adriel, kamu ini kenapa sih. Tidak baik meninggalkan orang seperti tadi. Apalagi Wily adalah rekan kerjamu," ucap Thalita menegur sang suami.


Thalita tidak tahu bahwa Adriel seperti itu karena ulahnya yang ingin membuat Adriel cemburu dan dia sukses, karena suaminya merasakan terbakar oleh api cinta yang tidak dia sadari.


"Lebih tidak pantas mana lagi, seorang istri bermesraan bersama laki-laki lain di hadapan suaminya?" perkataan Adriel langsung membuat Thalita tertawa.


"Kacang panjang, ha... ha... kamu lagi kesurupan apa? Apakah kamu lagi cemburu pada Wily?" tawa gadis itu dengan bahagianya.


"Ck, percaya diri sekali kamu Burung Merak, aku bukan lagi cemburu. Tapi takut bila ada yang me---"


"Benarkah? Jika kamu takut ada paparazi yang melihatnya. Kenapa disaat kamu berpelukan dengan kekasihmu, tidak takut hal itu?" pertanyaan yang dilemparkan oleh Thalita benar-benar membuat Adriel membeku, tidak bisa menjawab apa-apa. Sebab sekarang dia terjebak pada ucapnya sendiri.


...BERSAMBUNG......

__ADS_1



__ADS_2