Mahligai Cinta Yang Tergoyah

Mahligai Cinta Yang Tergoyah
Penolakan Adriel.


__ADS_3

💐💐💐💐💐💐


...HAPPY READING......


.


.


"Baguslah jika begitu. Jadi aku tidak perlu takut diapa-apakan olehmu. Kata Thalita dengan santainya. Padahal di dalam hati gadis itu sedang merasakan sakit, karena perkataan Adriel yang kembali menghina dirinya secara tidak langsung.


"Ck, aku tidak berselera melihatmu Thalita, jadi buang jauh-jauh mimpimu itu. Nanti apabila berharap terlalu tinggi, aku takutnya kamu akan jatuh setelah gagal meraih mimpimu itu," decak Adriel sebelum masuk kedalam kamar mandi. Dia akan pergi menemui Fara yang akan berangkat ke luar negeri seperti biasanya.


Seharusnya Fara sudah berangkat sore ini. Namun, karena dia belum bisa bertemu dengan Adriel. Wanita itu mengurungkan niatnya dan berencana akan berangkat besok pagi-pagi sekali. Agar bisa tiba tepat waktu saat acara yang ia bintangi dimulai.


Braak!


"Huh! bersabarlah Thalita. terkadang setelah hujan akan ada pelangi dan berharap lah semoga saja hidupmu juga seperti itu. Setelah apa yang dilakukan oleh Adriel sekarang. Semoga suatu saat nanti dia akan mencintai dirimu," lirih Talita untuk mengeluarkan hatinya.


Lalu gadis itu pun membuka koper bajunya untuk ia gantung. Ada beberapa dress yang dia bawa. Thalita sengaja tidak membawa pakaian banyak, sebab dia belum tahu akan berapa lama bisa bertahan di rumah suaminya itu.


Di saat dia masih mengeluarkan barang-barang miliknya l. Adriel sudah keluar dari kamar mandi. Pemuda itu tidak mengucapkan kata, sepatah katapun dan langsung menuju ke lemari pakaian. Lalu ia bawa lagi masuk ke dalam ruangan ganti.


Hanya kurang lebih sepuluh menit. Adriel sudah keluar lagi dengan mengunakan baju kaos berwarna hitam dan celana jeans panjang. Dia berjalan hilir-mudik didalam kamar tersebut sepertinya tidak ada orang. Padahal Thalita lagi duduk dipinggir sofa sambil memperhatikan dirinya.


"Aku akan pergi untuk menemui Fara, nanti kamu makan malam saja bersama papa. Tolong temani dia, karena aku mungkin akan tidak akan pulang disaat jam makan malam," ucap Adriel sambil memakai jam tangannya.


"Adriel, kamu ti---"


"Aku tidak butuh nasehat mu," sela Adriel cepat. Lalu dia mengambil kunci mobilnya dan pergi begitu saja. Tanpa merasa bersalah karena akan bertemu dengan kekasihnya. Sebab bagi Adriel, apa yang dia lakukan adalah benar, yang bersalah adalah Thalita. Kenapa harus menerima perjodohan mereka. Padahal selain karena mencintai dirinya, tentu saja istrinya itu tidak mau membuat Tuan Marcel sampai jatuh sakit.

__ADS_1


"Adriel, kamu mau kemana? Bukannya ini sudah sore?" tanya Tuan Marcel yang kebetulan keluar dari kamarnya.


"Adriel mau pergi sebentar, Pa. Tapi tidak akan lama. Hanya ingin menemui sahabat Adriel yang baru tiba dari luar negeri," dusta nya berbohong. Tidak mungkin Adriel berkata jujur bahwa akan menemui kekasihnya di Apartemen.


"Sahabat mu yang mana? Kamu jangan macam-macam, sekarang kamu sudah memiliki istri dan harus bisa menjaganya," nasehat beliau yang sebetulnya tahu bahwa Adriel lagi berbohong.


"Huem! Papa tidak perlu khawatir, Adriel tidak akan berbuat macam-macam." jawabnya pergi melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti. Adrie kira tidak akan bertemu dengan ayahnya. Namun, malah kebetulan sekali Tuan Marcel keluar dari kamar untuk mengambil air minum.


Braak!


"Pa, maafkan Adriel, terpaksa berbohong pada papa. Semua ini gara-gara Thalita yang membohongi kita. Dia tega berbuat baik selama ini hanya untuk menjalankan niatnya agar bisa menjadi Nyonya Afkar." ucap Adriel berbicara sendiri dan mulai menjalankan kendaraan mewahnya menuju Apartemen milik Fara. Tadi saat mengobrol bersama ayahnya, pemuda itu sudah berbalas pesan bersama sang kekasih.


Makanya saat ini Adriel tinggal pergi menyusul ke sana. Mereka belum menghasilkan waktu bersama karena kemarin siang Adriel menggelar pernikahan mewahnya bersama Thalita.


Tiga puluh menit, mobil mewah Adriel sudah memasuki kawasan Apartemen Faranisa. Dia langsung membawa kendaraannya menunju tempat parkir yang terletak di bawah gedung tersebut. Sebelum turun dari mobil pun, tidak lupa pemuda itu memasang masker karena takut ada orang yang melihat dia memasuki Apartemen gadis lain. Sedangkan dirinya sudah memiliki istri.


Ting!


Kleek!


"Sayang!" seru Fara langsung memeluk Adriel dengan erat. Begitu pula Adriel, dia juga membalas pelukan kekasihnya. Tanpa berpikir bahwa saat ini ada istri yang menagis kerena menahan sakit di khianati terang-terangan.


"Kemana asisten mu?" tanya Adriel merangkul mesra pinggang kekasihnya menuju sofa.


"Dia sudah pulang duluan, agar mempersiapkan untuk penampilan ku besok siang," jawab Fara mulai meraba-raba dada bidang Adriel yang masih tertutup oleh kaos yang dipakainya.


"Fara, apa yang kamu lakukan?" meskipun tahu apa yang akan dilakukan oleh kekasihnya. Adriel sengaja berpura-pura tidak tahu. Sebab dia tidak ingin melakukan hal lebih dari sekedar ciuman.


"Adriel, tadi malam kamu tidak melakukan malam pertama bersama Thalita, 'kan?" bukannya menjawab, tapi Fara melemparkan pertanyaan baru.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, apa kamu tidak percaya padaku?" Adriel menahan tangan Fara yang ingin menyelinap masuk kedalam bajunya.


"Benarkah? Kalau begitu ayo buktikan padaku. Aku ingin menghabiskan malam ini bersama mu," ucap Fara langsung saja mengatakan keinginannya. Dia tidak ingin Thalita menikmati tubuh kekasihnya lebih dulu.


"Buktikan apa! Fara aku tidak bisa melakukannya sebelum kamu resmi menjadi istriku," tolak Adriel langsung. Meskipun dia sangat mencintai kekasihnya itu, sampai saat ini Adriel melakukan lebih dari berciuman saja.


"Adriel, bagaimana mungkin kita bisa menikah dalam waktu dekat ini. Lagian melakukan sekarang ataupun besok tidak ada bedanya juga, kan?" ucap wanita itu enteng.


"Maaf aku tetap tidak bisa sekarang, Fara. Aku sangat mencintaimu, maka dari itu aku tidak akan merusak gadis yang aku sukai," ucapnya menjauhkan tubuh mereka.


"Lalu apakah dirimu akan menyentuh Thalita karena tidak menyukainya?"


Deg!


Pertanyaan kekasihnya tentu saja membuat Adriel bingung mau menjawab apa. Sehingga dia diam terlebih dahulu sebelum menjawabnya.


"Aku... juga tidak akan menyentuh perempuan yang tidak aku sukai. Aku ralat semua kata-kata ku tadi,"


"Baiklah!" seru Fara mempunyai cara lain agar membuat Thalita sakit hati. Rasanya dia belum merasa puas, bila belum melakukan sendiri. "Berhubung aku akan pergi sampai batas waktu yang belum bisa aku pastikan. Malam ini aku ingin kamu tidur di sini menemaniku," lanjut wanita itu dengan kembali memeluk tubuh Adriel.


"Apa! Tidur di sini? Fara, bagaimana mungkin aku menginap di Apartemen mu. Bisa-bisa papaku akan serangan jantung," jawab Adriel tidak mengabulkan permintaan sang kekasih.


"Kenapa tidak bisa, papa mu tidak akan tahu bila kamu bisa meminta bantuan Thalita. Lagian kapan lagi kamu mau membalas perbuatannya sudah menipu kalian," Fara kembali menyakinkan Adriel agar mau tidur bersamanya di Apartemen.


"Bantuan apa?" tanya Adriel belum paham perkataan Fara yang tersenyum manis menatapnya penuh cinta.


"Kamu telepon dia untuk mengatakan bila papamu bertanya. Suruh bilang jika kamu ada masalah perusahaan yang harus di urus,"


"Apakah Thalita akan mau? Dia itu sangat keras kepala. Aku tidak yakin dia mau melakukannya, apalagi bila tahu aku sedang bersamamu," sahut Adriel tidak yakin.

__ADS_1


"Ck, Adriel, dia pasti akan mau. Bukannya alasan dia menerima perjodohan kalian karena tidak ingin papamu merasa kecewa. Jadi mana mungkin Thalita membiarkan ayah mertuanya sakit," beber Fara panjang kali lebar.


... BERSAMBUNG......


__ADS_2