
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
"Fara, apa yang terjadi?" tanya Adriel melihat kekasihnya kembali menangis setelah menerima telepon dari Staf yang sudah banyak membantunya selama ini.
"Adriel, sekarang aku benar-benar hancur," jawab gadis itu semakin menagis. Sehingga Adriel berdiri dari kursinya untuk membujuk Faranisa.
"Hancur seperti apa? Heum! Ayo katakan? Jika hanya pekerjaan, sudahlah biarkan saja," Adriel mengelus punggung wanita itu yang bukannya semakin tenang justru bertambah menangis.
Untungnya Adriel mengajak Fara ke ruang VIP karena tahu bahwa kekasihnya lagi diburu oleh paparazi untuk meminta kejelasan kenapa dia bisa dipecat.
"Fara, sudahlah! Kamu hanya menyiksa dirimu sendiri bila seperti ini," seru pemuda itu karena Fara tidak berhenti menangis.
"Adrie, aku bukan hanya kehilangan pekerjaan saja, tapi juga tempat tinggal. Sekarang apa yang harus aku lakukan. Aku akan tinggal dimana?"
"Bagaimana mungkin? Bukannya itu Apartemen milikmu?" bertanya secara beruntun karena sangat tidak masuk akal bila Fara sampai tidak punya uang.
"Itu memang Apartemen milikku, tapi aku belum menyelesaikan pembayaran sebanyak tiga puluh persen. Makanya Agensi lamaku menyitanya dan bukan karena masalah bayaran saja, tapi juga ini bentuk ganti rugi karena aku membuat mereka kecewa," menjawab jujur setelah dia tidak memiliki apa-apa.
Satu-satunya yang bisa membantunya saat ini hanyalah Adriel. Bagaimana pun caranya Fara harus bisa menjadi Nyonya Afkar secepatnya, itulah yang sedang wanita itu rencanakan.
"Astaga! Fara," Adriel mengusap wajahnya kasar. Untuk saat ini dia benar-benar tidak habis pikir dengan yang dilakukan kekasihnya selama ini. "Ayo cepat habiskan sarapan mu, aku ada rapat penting. Nanti baru kita bahas masalahmu," titahnya lagi sambil melirik jam tangannya.
Tidak mau membuat Adriel marah, Faranisa pun cepat-cepat menghabiskan makanan miliknya. Setelah selesai membayar makanan mereka. Dia dan Adriel langsung pergi dari sana menuju Perusahaan Afkar group.
Malas berdebat karena Adriel tahu sifat kekasihnya. Akhirnya mau tidak mau membawa Fara ke perusahaan. Tidak perduli para karyawan melihat hal itu, karena siapa yang berani bergosip macam-macam maka Adriel akan memecatnya.
__ADS_1
Begitu mereka masuk ke perusahaan. Semua mata memandang kearah mereka berdua. Semua orang tahu jika Fara adalah mantan kekasih bos mereka dan Thalita adalah istri sahnya yang saat ini juga sedang berada di dalam perjalanan bersama Riko untuk mengikuti meeting di Perusahaan Afkar group.
"Fara, nanti tolong jangan keluar dari ruangan ku. Tunggu aku selesaikan rapat biar kita mencari tempat baru untukmu," ucap Adriel. Saat ini mereka lagi berada didalam lift menuju lantai paling atas gedung.
"Huem, iya. Terima kasih," jawab Fara tersenyum.
"Tidak perlu berterima kasih, kamu adalah kekasih ku, wanita yang aku cintai dan calon ibu untuk anak-anak ku kelak,"
"Adriel, aku mencintaimu," Fara memeluk tubuh kekasihnya karena dia memang berkata jujur. Namun, dibalik cinta yang ia punya ada tersimpan keserakahan untuk menjadi Nyonya Afkar.
"Aku pun sama mencintaimu," ungkap Adriel karena setahu dirinya memang mencintai Fara. Sedangkan Thalita adalah gadis yang sangat ia benci.
"Thalita, secepatnya aku akan menendang mu dari kediaman Afkar. Akan aku buat Adriel menceraikan mu lalu setelah itu kami berdua akan menikah,"
Gumam Fara tersenyum jahat. Senyum yang memiliki niat untuk menjadi istri Adriel secepatnya. Jika mau hidup enak, maka dia harus dan Adriel harus segera menikah.
Ting!
"Selamat pagi Tuan," sapa Sekertaris Adriel berdiri menyambut kedatangan mereka dari kursi tempat duduknya.
"Pagi! Apakah semuanya sudah siap?" tanya Adriel pada sekertaris wanita itu.
"Sudah Tuan, Sekertaris Gio sudah ada di sana karena ada beberapa orang rekan kita yang sudah datang," jelas wanita tersebut.
"Oh, iya baiklah! Kalau begitu antarkan proposal kita ke ruang rapat. Nanti kamu tidak usah ikut dan cukup kerjakan tugas mu di sini. Sama tolong layani kebutuhan Nona Fara," titah pemuda itu yang tidak mungkin menyebut Fara sebagai kekasihnya.
"Eum... baik, Tuan," setelah itu Adriel membawa Fara masuk kedalam ruangan kerjanya.
"Fara, kamu tunggu disini, jika membutuhkan sesuatu mintalah pada sekertaris ku tadi dan bila ingin tidur maka kamu masuk saja ke sana, itu kamar ketika aku lelah ingin istrirhat," ucap Adriel yang mau langsung pergi.
"Huem! Pergilah! Aku akan menunggumu," jawab Fara tersenyum. Sebab dia sangat mengantuk dan ingin tidur.
__ADS_1
"Wi, antarkan proposal nya cepat dan nanti kamu tunggu saja di meja kerjamu. Jika ada papa yang datang cepat hubungi Saya," Adriel berkata seperti itu karena tidak ingin membuat keributan bersama ayahnya.
"Iya, ini Saya juga mau ke ruang rapat," jawab Sekertaris Dewi sudah berdiri dan mengikuti Adriel dari belakang.
"Tuan, Anda sudah datang," sambut Sekertaris Gio. Ternyata di dalam ruangan tersebut sudah ada para rekan bisnisnya, yang belum datang adalah Riko dan beberapa orang lainnya.
"Huem," Adriel berdehem. "Selamat pagi semuanya, maaf Saya sedikit terlambat," ucapnya lagi.
"Selamat pagi juga, Tuan Afkar. Tidak apa-apa karena kami juga baru saja datang," jawab mereka penuh hormat. Tidak lama ketika mereka masih berbincang hal diluar rapat, pintu ruangan tersebut kembali dibuka.
Ternyata yang datang adalah rekan kerja yang lainnya dan di susul juga oleh Riko bersama Thalita, desainer handal yang sudah sangat terkenal sepak terjangnya.
"Selamat pagi, maaf sepertinya kami berdua terlambat," ucap Riko. Sedangkan Thalita hanya tersenyum kecil. Untuk beberapa detik dia dan Adriel saling tatap. Namun, tidak lama karena mendengar salah satu dari mereka yang berbicara.
"Wah, ternyata Nyonya Afkar masih bekerjasama dengan perusahaan Tuan Riko? Anda sangat hebat, Nyonya! Tidak hanya cantik, pintar dan bertalenta. Namun, Anda juga sangat mandiri. Padahal sudah menjadi istri Tuan Adriel,"
"Agh, soal itu karena Saya suka dengan pekerjaan ini. Jadi itu semua hanya menurut Anda saja, karena Saya tidak sehebat itu," jawab Thalita sambil menerima uluran tangan pria itu.
Lelaki tersebut mungkin masih seumuran dengan Adriel, karena masih muda. Hanya saja dia memiliki tubuh lebih pendek.
"Apa yang dikatakan oleh Tuan Hengki benar! Anda sangat hebat dan... juga suka merendah diri," puji pria lainya.
Mereka memang sangat kagum pada kecantikan Thalita dan juga kehebatannya dalam bekerja. Benar-benar limited edition. Namun, sayangnya semua pujian itu hanya sampah tidak berguna bagi Adriel.
"Nah, kamu dengan sendiri, kan. Bahwa apa yang aku katakan selamat ini adalah benar," ujar Riko tersenyum seraya menarik kursi untuk sahabatnya itu.
"Jadi ini tujuannya ikut menghadiri rapat? Agar para laki-laki memuji dirinya, di hadapan ku. Benar-benar gadis licik! Tapi apapun yang kamu lakukan, tidak ada arti apa-apa bagi diriku, Thalita. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyukai perempuan licik seperti mu, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan diriku,"
Umpat Adriel tidak suka mendengar semua pujian untuk istrinya itu. Seharusnya dia bangga, bukan marah.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1