
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat empat lima. Namun, Thalita masih berada di balkon kamar. Setelah melakukan panggilan VC via WhatsApp bersama Dokter Reza. Pikirannya sedikit terbuka dan lebih tenang lagi.
Sejak satu jam lalu dia hanya duduk termenung sambil melihat kearah langit malam. Perutnya tidak merasakan lapar, meskipun sudah melewatkan jam makan malam. Padahal terakhir kali dia makan adalah tadi siang, bersama Riko sahabatnya.
Thalita sedang memikirkan langkah apa yang akan diambil untuk selanjutnya. Tidak mungkin menjalani pernikahan mereka seperti saat ini. Jika memang ingin mundur, maka dia juga harus memikirkan alasan yang akan dia katakan pada Tuan Marcel.
Meskipun kecewa pada Adriel. Tetap saja dia tidak mungkin mengambil keputusan semaunya. Untuk pernikahan mereka Tuan Marcel sudah mengeluarkan uang milyaran rupiah. Tidak lucu bukan, jika belum satu minggu umur pernikahan mereka. Dirinya sudah ingin bercerai. Itu sama saja Thalita kalah sebelum berperang dan mempermainkan Tuan Marcel yang menyanyangi nya seperti putri sendiri.
"Apakah aku harus mengikuti saran Reza? mencoba menjadi istri yang baik, agar Adriel menyadari keberadaan ku?" tanyanya pada diri sendiri. Saat ini Thalita berdiri tepat di samping pagar balkon. Sambil kedua tangan memeluk tubuhnya sendiri.
Untuk melindungi dirinya dari rasa dinginnya Angin malam yang mulai bertiup kencang. Tidak memiliki orang tua membuat Thalita harus berpikir keras langkah apa yang akan diambilnya.
"Iya, sepertinya benar! Aku harus mencoba menjadi istri yang baik untuk suamiku. Adriel orangnya keras kepala, sama sepertiku. Jadi apabila aku selalu membangkang padanya, yang ada kami akan terus bertengkar," Akhirnya setelah memikirkan secara matang, dia mengambil keputusan untuk merubah sikapnya yang dia akui selalu menantang Adriel.
hal ini bukan terjadi sekarang saja. Namun, sudah terjadi dari belasan tahun lalu. mungkin apa yang dikatakan Dokter Reza memang benar, mereka berdua bertengkar karena sama-sama memiliki sifat keras kepala tidak mau mengalah satu sama lain.
Terbukti bila bersama Dokter Reza maupun Riko. Thalita tidak pernah bertengkar, karena kedua sahabat laki-lakinya itu selalu mengalah padanya. Sehingga hubungan antara mereka tidak pernah yang namanya ada pertengkaran ataupun sebagainya.
"Semoga apa yang aku putuskan sekarang bisa membuat Adriel menerima diriku. Walaupun harapannya sangat kecil, setidaknya aku sudah mencobanya," gumam Thalita masih betah saja berada di sana.
Entah mengapa untuk bertemu dengan Adriel dia sangat malas. mungkin karena mereka tidak berhenti bertengkar. Hal sepele saja sudah seperti peperangan dunia ketiga.
"Apa yang kamu lakukan? Apakah diam disini perutmu akan kenyang oleh ganasnya Angin malam?" ucap Adriel yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Thalita. Soalnya gadis itu masih melihat ke arah langit malam.
__ADS_1
"Adriel! Sejak kapan kamu berada di sini?" seru Thalita melihat ke arah belakang.
"Ck, saking asyiknya memandang bulan. Kamu sampai tidak tahu sejak kapan aku berada di belakangmu," decak Adriel ikut maju dan berdiri di samping tubuh istrinya. Dia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya dan ikut menatap ke arah langit malam.
"Aku hanya sedang melihat bintang itu, dia mungkin sama seperti diriku. Sedangkan bintang yang berada di sisi bulan. Mungkin dia Fara dan dirimu," telunjuknya di sertai senyum kecil disudut bibirnya.
Sehingga membuat Adriel langsung menoleh ke arahnya dan menatap raut wajah Thalita yang sembab seperti habis menangis.
"Apakah dia hilang sejak tadi karena menangis. Apa dia sedang berbohong padaku dan dirinya sendiri," gumam Adriel kembali melihat kearah langit. Soalnya Thalita juga masih memperhatikan bintang yang ia tunjuk tadi.
Cukup lama keduanya terdiam, mungkin sama-sama larut dengan pikiran mereka masing-masing.
"Adriel, ada hal yang ingin aku katakan padamu," ucap Thalita masih dengan posisi yang sama.
"Huem, katakan saja," jawab Adriel malah melihat ke arah istrinya dengan serius. meskipun si pemilik tubuh tidak mengalihkan pandangannya dari langit.
"Aku... masih ingin mencoba untuk bertahan di sampingmu," saat menyebutkan kata-kata tersebut terdengar Thalita begitu berat untuk mengucapkannya. lidahnya seakan kelu walaupun cuma perkataan biasa menurut Adriel.
"Pertama-tama aku ingin minta maaf sudah mengusik hidupmu. Namun, sekarang semuanya sudah terlambat untuk ku akhiri, bila sampai di sini saja," lanjutnya lagi.
Untuk mengatur emosinya agar tidak menangis Thalita menghirup udara dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan perlahan. Baru setelah itu bicara lagi.
"Eum... mulai saat ini aku ingin menjadi istri yang sesungguhnya. Kamu tenang saja istri yang ku maksud bukan harus melayani mu di tempat tidur saja. Akan tetapi aku akan melakukan kewajiban yang lainnya," ucap Thalita menurunkan pandangannya dari menatap bintang dan bulan.
Gadis itu berjalan ke arah ayunan yang dia duduki sejak tadi. Lalu karena Adriel hanya diam saja Dia pun terus mengungkapkan apa yang ingin dia katakan.
"Jadi meskipun kekasihmu tinggal di sini, tolong hargai status kita sebagai suami istri. Mungkin kamu akan menganggap aku gila, karena masih mengharapkan dirimu. Namun, inilah kenyataannya. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri." Thalita terdiam lagi karena mengira adriel akan mengatakan sesuatu.
Akan tetapi setelah dia tunggu sampai beberapa menit kemudian. Tidak ada tanggapan dari suaminya. Sehingga gadis itu kembali bicara lagi yang entah didengar atau tidak oleh Adriel.
"Maukah kamu memberikan aku kesempatan itu? Jika kamu memperbolehkan, maka aku harap kamu membiarkan aku melayani mu, dari pakaian ataupun yang lainnya. Hanya itu saja tidak lebih," setelah berkata seperti itu Thalita tidak bicara apapun lagi.
__ADS_1
Lalu dia yang tidak tahu harus berkata apalagi. Berdiri sambil membawa ponselnya untuk kembali ke dalam kamar mereka. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan. Adriel yang sejak tadi hanya diam saja tahu-tahunya memeluk tubuh Thalita dari arah belakang agar gadis itu tidak pergi kemana-mana.
Deg!
Thalita membekuk di tempatnya berdiri. Tapi dia tidak menoleh ke arah belakang dan memberikan reaksi apa-apa.
"Lita, aku minta maaf," ucap Adriel tidak melepaskan pelukannya. "Aku minta maaf sudah menyakiti perasaanmu. Jujur, sebetulnya aku tidak ingin melakukan semua ini. Namun, dirimu tahu sendiri jika perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Aku tidak mencintaimu, karena gadis yang aku cintai adalah Faranisa," ungkap Adriel yang membuat Thalita kembali tersenyum getir.
Hanya sesama wanita yang pernah merasakan pernah disakiti oleh pasangannya, yang tahu betapa sakitnya berada di posisi Thalita. Suami yang kita cintai mengakui sendiri bahwa dirinya mencintai wanita lain, yang sekarang sudah di bawa tinggal satu rumah bersama dirinya. Luka tapi tak berdarah itulah yang ia rasakan sekarang.
"Tidak apa-apa, aku mengerti dan sudah tahu jika kamu tidak mencintaiku." jawab Thalita membiarkan Adriel masih memeluk tubuhnya.
"Aku tidak akan memaksamu untuk menoleh ke arahku lagi. Tapi aku hanya sedang mencoba keberuntunganku. Jika memang keberuntungan itu tidak ada, maka aku berjanji akan pergi dengan sendirinya dari sisimu," janji Thalita degan sangat yakin.
Ternyata semua nasehat yang diberikan oleh Dokter Reza sahabatnya tadi. Berhasil membuat gadis itu memiliki keputusan yang akan dia tempuh. Thalita memang akan mencoba terlebih dahulu. Dia tidak akan mundur, sampai hatinya lelah.
...BERSAMBUNG......
.
.
Assalamualaikum Kakak Raeder semuanya. Insya Allah mulai hari ini mau tor akan update setiap hari lagi. Namun, agar Mak semagat buat nulisnya. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya 🥰 Dan buat kalian yang komennya tidak Mak balas satu persatu, mohon dimaklumi. Soalnya terkadang selain lupa, Mak Author sibuk sama dunia nyata juga.
Like.
Vote.
Komen yang tidak membuat Mak Author down.
Subscriber.
__ADS_1
Hadiah bintang lima, kopi dan bunganya. Terima kasih.🙏😘😘😘