
💐💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
Ceklek!
Adriel membuka pintu kamarnya pelan. Namun, saat dia masuk istrinya sedang mandi. Soalnya dia mendengar gemericik air dari arah kamar mandi.
Lalu setelah mengunci kembali pintu kamar tersebut. Adriel berjalan menuju ke arah sofa dan duduk di sana sambil menunggu Thalita keluar dari kamar mandi. Akan tetapi hampir satu jam dia menunggu, sang istri tak kunjung keluar. Bahkan sore pun sudah berganti malam.
Resah takut bila sudah terjadi sesuatu pada Tahlita. Dengan berat hati Adriel pun mengetuk pintu kamar mandi.
Tok!
Kleeek!
__ADS_1
Baru saja Adriel mengetuk pintunya. Thalita sudah keluar dalam keadaan segar. Gadis itu mengunakan Bathrobe dengan handuk kecil membungkus rambutnya yang masih basah.
Thalita yang malas bertengkar karena sangat lelah hati maupun pikirannya. Memilih melewati Adriel begitu saja. Dia mendekati lemari tampat pakainya yang sudah di susun oleh pelayan tadi siang. Atas perintah Tuan Marcel ayah mertuanya.
Beliau takut jika tiba-tiba Thalita kabur membawa koper bajunya. Makanya dia melakukan hal itu. Tidak lupa Tuan Marcel juga meminta sekertaris pribadi nya untuk membawakan dress keluaran terbaru dan termahal untuk menantunya itu.
Walaupun beliau tahu mungkin saja barang-barang tersebut tidak ada gunanya, karena tahu seperti apa menantunya itu.
"Thalita, kita perlu bicara," ucap Adriel kesal karena sang istri mengabaikan keberadaannya.
Sehingga membuat gadis itu menoleh kearah Adriel dan berkata. "Apa yang ingin kamu bicarakan? Bukannya sejak tadi pagi kamu sudah bicara banyak,"
Thalita tidak menjawab, iya, ataupun tidak. Dia malah meneruskan niatnya memilih baju tidur setelan lengan panjang. Setelahnya dia bawa masuk kedalam ruang ganti.
Sekitar sepuluh menit kemudian dia sudah keluar lagi. Namun, rambutnya yang masih basah ia biarkan terurai panjang. Akan tetapi gadis itu bukan kearah sofa. Seperti permintaan suaminya tadi. Namun, dia duduk di pinggir ranjang sambil mengecek ponselnya.
"Ck, Thalita," decak Adriel setengah berteriak.
Gadis itu menoleh dengan tatapan tidak terbaca. "Kamu jika ingin berteriak jangan di sini. Aku mau istirahat," ucap Thalita memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
"Fara akan tinggal di sini," Adriel akhirnya yang pindah dari sofa ke pinggir ranjang seperti istrinya.
"Wah, bagus sekali. Agar kalian bisa terus bersama disetiap waktu," seru Thalita berpura-pura bahagia. Jangan lupakan senyuman mengejek yang ia tujukan pada dirinya sendiri.
"Apakah kamu tidak marah? Atau cemburu?" tanya Adriel seperti orang bodoh. Mana ada istri yang tidak akan cemburu bila seorang suami membawa wanita lain yang merupakan kekasihnya tinggal di satu atap yang sama.
"Tidak! Buat apa aku marah. Aku juga tidak cemburu pada siapapun," jawab Thalita tegas. Dia tidak mau, jika kelemahannya di manfaatkan oleh Adriel.
"Apakah aku tidak salah dengar?" Adriel menatap Thalita tajam.
"Ha... ha... tentu saja tidak," tertawa sumbang untuk menyembunyikan air matanya yang hendak menetes. "Adriel, aku sangat lelah dan ingin istrirhat. Tidak puasakah kamu mengusik ku, sejak tadi pagi?"
"Kamu pantas menerimanya, jadi jangan menganggap bahwa kamu adalah korban dari kejahatan ku," ucap pemuda itu entah mengapa memiliki emosi meluap-luap hanya karena mendengar perkataan Thalita yang tidak cemburu pada kehadiran Fara.
"Jika kamu merasa aku pantas menerimanya. Maka berhentilah mengusikku. Pergi urus kekasihmu sana. Aku mau istrirhat," usir Thalita.
"Aku memang akan mengurusnya. Bahkan... aku dan Fara akan menikah setelah papa memberikan restunya." papar Adriel karena memang seperti itulah niatnya.
Thalita kembali tersenyum. "Lakukanlah! Jika kamu berani," tantang gadis itu yang tahu bahwa ayah mertuanya mana mungkin memberikan restunya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG......