Mahligai Cinta Yang Tergoyah

Mahligai Cinta Yang Tergoyah
Bagai Mengenggam Kaca.


__ADS_3

💐💐💐💐💐💐💐


...HAPPY READING......


.


.


"Selamat sore, semuanya," ucap Thalita menyapa Tuan Marcel, Adriel dan Faranisa yang kebetulan mereka lagi duduk di ruang keluarga.


Sebetulnya yang duduk disana sejak tadi hanya Tuan Marcel. Namun, Adriel ikut duduk disana lalu diikuti oleh Faranisa.


"Sore juga, Nak! Papa sudah menunggu mu sejak tadi." sambut hangat Tuan Marcel dengan tatapan penuh rasa iba dan bersalahnya. Sebab beliau sudah tahu bahwa malam ini adalah malam terakhir menantunya tinggal di sana.


"Selamat sore juga, Thalita syukurlah kamu sudah kembali," seru Fara yang sebetulnya menahan amarahnya karena Thalita masih kembali juga. Tidak sesuai dengan yang ia harapkan.


Sedangkan Adriel hanya diam tidak berkata apa-apa. Dia bingung apa yang hendak dibicarakan. Dua bulan lalu, istrinya sudah meminta untuk diberikan kesempatan. Nyata Adriel sendiri yang membangun dinding pembatas antara hubungan mereka. Sehingga kesempatan tersebut semakin menjauh.


"Duduklah! Selagi masih ada waktu," ucap Tuan Marcel karena apa yang dia ucapkan tentu Tahlita paham.


Soalnya setelah ini Thalita akan pergi membawa patah hati yang pastinya sangat sulit untuk disembuhkan. Dia pergi membawa cintanya yang tidak pernah dianggap oleh Adriel. Pemuda yang merupakan sahabat yang dia cinta ini sejak dulu.


Namun, sebuah takdir kehidupan tak bisa dirubah. Sebesar apapun cinta yang dimiliki oleh Thalita tentu tak akan ada artinya apabila si pemilik hati yang satu tak pernah menanggapi.


"Maaf, Pa, tadi Thalita pergi bersama Riko ke... tempat klinik Reza," jawab gadis itu memaksakan senyumnya karena melihat Adriel yang duduk berdempetan dengan kekasihnya.


"Sabar Tha, ini tidak akan lama. Setelah malam ini, dirimu tidak akan menyaksikan hal ini lagi," gumam Thalita tersenyum getir. Lalu diapun berkata pada ayah mertuanya.


"Pa, Thalita mau membantu Bibi memasak buat makan malam kita," ucapnya kembali berdiri.


"Iya, pergilah! Di usia tua Papa, memang ingin menikmati masakan putrinya," ujar Tuan Marcel sama seperti Thalita tidak menghiraukan Adriel maupun Faranisa.

__ADS_1


Sebetulnya dasar Fara saja yang tidak tahu malu. Semenjak mengusirnya yang tidak mau pergi dari sana. Tuan Marcel tidak pernah lagi menegurnya.


"Iya, malam ini Thalita akan memasak makanan kesukaan kalian," seru Thalita tetap tersenyum. Lalu dia pun pergi dari sana menuju ke kamar Adriel terlebih dahulu. Untuk menyimpan tas kecil yang ia bawa.


"Mencintaimu bagaikan mengenggam serpihan kaca, Adriel. Semakin aku genggam, maka akan semakin menyakitkan,"


Gumamannya lagi saat melewati Adriel dan Fara. Wanita itu dengan tidak tahu malunya semakin memeluk erat tangan Adriel. Tidak ada rasa malu dan bersalah yang dia rasakan.


"Tadinya aku ingin membuktikan jika kamu mungkin memiliki perasaan padaku, walau sedikit saja. Namun, harapan ini ternyata hanya membuat aku semakin terluka dan terlihat bodoh di matamu." sambil menaiki tangga gadis itu terus bergumam untuk menguatkan hatinya.


Ceklek!


Membuka pintu kamar pelan. "Huh! Malam ini adalah malam terakhirku disini," ucapnya menghela nafas dalam-dalam lalu dihembuskan. Seperti itulah dia lakukan berulang-ulang. Sampai sesak di dadanya membaik Thalita keluar lagi dari sana.


Malam ini dia akan memasak untuk makan malam mereka semua. Hal yang selalu dia lakukan selama dua bulan ini.


"Nona Muda sudah kembali," seru si asisten rumah tangga.


"Iya, Bi, apakah kalian belum memasak?" tanyanya terlebih dahulu, karena takut si bibi merasa tersinggung bila dia mengambil alih pekerjaan mereka.


"Baiklah! Kalau begitu kalian bantu Saya saja. Menunya Saya yang memilih," ucap Thalita tersenyum senang, karena dia masih memiliki kesempatan. Soalnya besok pagi dia tidak akan sarapan disana lagi.


Rencananya dia dan Reza akan pergi pagi-pagi sekali. Yaitu jam tujuh mereka akan terbang ke luar negeri. Ke rumah orang tua Reza yang ada disana. Makanya tadi Thalita terlambat datang karena dia ditemani oleh Riko mengantar koper bajunya ke klinik Dokter Reza.


Agar dokter tersebut yang membawa ke bandara. Soalnya Thalita tidak memiliki mobil lagi. Dia sengaja tidak mencari mobil baru karena berniat untuk pergi menenangkan hatinya.


"Nona, eum... apakah Nona tidak lelah, setelah pulang bekerja harus membantu kami memasak?" tanya si bibi sambil melihat Thalita yang begitu cekatan memasak makanan kesukaan Adriel dan ayah mertuanya.


"Tidak, Saya justru merasa senang bisa melakukannya. Jika Saya tidak ada, tolong jaga makanan untuk papa, karena dia tidak boleh makanan yang terlalu banyak mengandung minyak." pesan gadis itu sangat khawatir pada keadaan Tuan Marcel yang terkadang drob secara tiba-tiba.


Selain darah tinggi, Tuan Marcel juga memiliki penyakit kolesterol. Jadi makanan untuknya harus diperhatikan dengan hati-hati.

__ADS_1


"Memangnya Nona mau pergi kemana?" tanya mereka secara bersamaan. Selain Adriel, orang-orang dirumah mewah itu tidak ada yang menyukai Faranisa.


Selain pemalas, wanita itu juga suka menyuruh semaunya. Seolah-olah dialah nyonya dirumah itu.


"Saya tidak akan kemana-mana, hanya buat jaga-jaga saja. Seperti Minggu ini Saya tidak pulang ke sini karena ada urusan mendadak," dusta Thalita.


Para asisten rumah tangga memang tidak tahu kepergiannya yang tidak pulang ke kediaman Afkar.


Setelah hampir satu jam lebih. Thalita sudah memasak beberapa jenis makanan. Semua masakannya disusun rapi diatas meja makan.


"Bibi, yang lainya tolong selesaikan ya, soalnya Saya mau mandi dulu," ucap Thalita melepas celemek yang ia pakai.


"Siap Nona, terima kasih sudah mengerjakan pekerjaan kami," jawab si bibi tersenyum melihat nona muda mereka.


Thalita hanya mengangguk disertai senyuman manis yang terbalut luka.


"Wah, wah! Ternyata kamu tidak memiliki malu, ya. Padahal kekasihku tidak mengharapkan kamu kembali ke rumah ini lagi. Namun, kamu degan tidak tahu malunya datang setelah hampir satu Minggu hilang tidak ada kabar," cibir Faranisa yang degan sengaja menunggu Thalita keluar dari dalam dapur bersih. Jika ada Adriel mana mungkin dia berani berkata demikian.


"Iya, aku memang tidak tahu malu, karena sudah tercemar oleh mu," jawab Thalita balas mencibir.


"Kamu---"


"Kamu apa?" tantang Thalita yang tidak dijawab lagi oleh Faranisa. "Aku datang ke sini, bukan untuk kekasihmu. Tapi buat papa, jadi jangan takut jika aku akan merebut Adriel darimu," seru Thalita yang langsung meninggalkan Fara.


"Thalita!" ucap Fara mengeram kesal. Akan tetapi Thalita tidak menghiraukannya.


Kleeek!


Pintu kamar yang dibuka oleh Thalita. Begitu dia masuk Adriel sedang duduk di atas sofa sambil menatapnya lekat.


"Ada apa? Apakah aku tidak boleh masuk ke sini lagi?" tanya Thalita seakan-akan tidak terjadi sesuatu diantara mereka berdua.

__ADS_1


"Tidak ada yang melarang mu," jawab Adriel yang tidak mengalihkan pandangannya dari sang istri.


... BERSAMBUNG......


__ADS_2