Mahligai Cinta Yang Tergoyah

Mahligai Cinta Yang Tergoyah
Berhentilah, Menyakitiku.


__ADS_3

💐💐💐💐💐💐


...HAPPY READING......


.


.


Sudah lebih dari dua jam Fara masih terus di gempur oleh Tuan Albert. Pria tua yang umurnya sudah kepala lima itu seakan tiada lelahnya meskipun Fara sudah terisak kesakitan karena dia sudah mendapatkan pelepasan berulangkali. Begitu pula dengan Tuan Albert sendiri. Dia sudah menyemburkan lahar panasnya pada rahim Faranisa karena beliau kebetulan tidak mengunakan pengaman.


Setelah merasakan kelelahan dan pelepasan berulangkali. Di dalam hati Fara baru menyesali keputusannya. Kenapa dia harus melayani si tua bangka itu. Kenapa dia tidak kembali saja pada Adriel dan sedikit menurunkan ego-nya.


Biarkan dia di cemooh oleh teman-teman sosialitanya. Tapi Fara tidak perlu menjadi santapan Tuan Albert yang seperti singa kelaparan.


Berbagai macam gaya sudah dia lakukan. Sesuai perintah Tuan Albert, termasuk melakukannya kembali di atas sofa. Setelah itu Tuan Albert mengendong tubuh Fara yang sudah dipenuhi oleh Kiss Mark. Untuk pindah ke atas ranjang tempat tidur yang sudah amburadul. Seperti terkena goncangan gempa lokal yang sengaja dilakukan. Agar bisa sampai pada kenikmatan duniawi.


"Aah... aah... Fara, Saya sangat suka pada tubuhmu," desah lelaki paruh baya yang sudah bau tanah itu. Dia terus memaju mundurkan pinggulnya ke depan dan belakang.


"Oh.. this Fara is very delicious! Aah... aaah!" racau si tua dengan mata terpejam karena merasakan sensasi yang luar biasa. Tidak berbeda jauh, dari Tuan Albert. Fara juga mendesah nikmat.


Meskipun dia sudah merasa begitu perih pada intinya. Namun, kehebatan Tuan Albert yang kembali membuat ia terlena.


"Aagghk... Augh! Yes Om, i also really enjeyod it," ucap Fara mengigit bibirnya sendiri karena sambil berpacu kudanya. Mulut Tuan Albert kembali melahap Gunung kembar yang tidak bersalah itu dengan gigitan-gigitan kecil.


Sehingga Faranisa terus melenguh nikmat, sama seperti Tuan Albert. Tidak tahu saja jika kasur busa tempat mereka melakukan perang. Sudah basah oleh peluh dan juga akibat kebanjiran lahar panas mereka yang sudah bercampur menjadi satu.

__ADS_1


"Aaagh... Om!" wanita yang sudah seperti seorang sapi perah itu kembali mengeluarkan suara merdunya.


"Sebentar lagi, Fara. Om sudah hampir sampai," meskipun dengan nafas terengah-engah Tuan Albert masih bisa menjawab ucapan Faranisa.


"Tapi Fara sudah mau keluar lagi, Om," Fara mencengkram erat pinggang Tuan Albert yang terus berpacu karena dia sudah mau mendapatkan pelepasan lagi.


"Aaagh... ayok kita keluarkan bersama! Cup, Cup! Muuuah!" dengan cara paksa lelaki paruh baya itu melahap bibir Faranisa yang sudah sedikit membengkak karena dia sebetulnya menolak harus bercumbu dengan Albert. Namun, tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Boleh dikatakan juga wanita tersebut setengah diperkosa oleh Albert.


Tidak lama setelah mereka bersilat lidah. Tuan Albert melepas pangutan mereka dan semakin menambahkan kecepatan berkuda nya. Beliau memberikan hentakan cukup keras, meskipun Fara merintih kesakitan bercampur nikmat dan akhirnya terdengarlah erangan panjang dari mereka berdua.


"Aaaaghkk!" Faranisa ikut mengerang panjang dan tubuhnya kembali lemas bagaikan tidak memiliki tulang. Sedangkan Tuan Albert juga ambruk di atas tubuh wanita itu. Semua biasanya ia buang kedalam tempat yang tepat. Sehingga rasa nikmat dari peperangan tersebut sangatlah terasa sampai ke ubun-ubun.


*


*


"Adriel, kamu apa-apaan, sih. Lepas! Aku bisa turun sendiri," seru Thalita menarik tangannya kembali. Akan tetapi bukannya terlepas, tapi justru Adriel mencekalnya semakin erat.


"Diam lah! Atau aku akan mengendong mu seperti karung beras," bentak Adriel kesal. Dia menatap kearah Riko yang menyusul turun dari mobil.


"Adriel, lepaskan Thalita. Jika kamu memegang tangannya seperti itu dia akan kesakitan," ucap Riko tidak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu.


"Pulanglah! Ini urusan aku dan istriku. Jadi kamu tidak perlu ikut campur," usir Adriel karena dia tiba-tiba kesal melihat istrinya pulang malam bersama sang sahabat. Apalagi disaat Adriel menelepon, Thalita tidak mengangkat panggilan darinya.


"Ck, tentu saja ini urusanku, karena Thalita adalah sahabatku," decak Riko merasa kesal pada ucapan Adriel. "Adriel, jika kamu marah gara-gara merasa cemburu pada kami yang pulang malam. Maka aku akan jelaskan, tapi kamu tidak perlu memperlakukan Thalita dengan kasar." lanjut Riko mencoba bersikap tenang. Meskipun tangannya sudah gatal ingin memukul wajah tampan Adriel.

__ADS_1


"Tadi aku hanya membawa Thalita pergi jalan-jalan ke tempat baru yang aku datangi kemarin malam. Jadi kamu tidak perlu cemburu, karena aku tidak mungkin menghianati sahabatku sendiri," tutur Riko menjelaskan.


Melihat Thalita diperlakukan kasar, membuat pemuda itu merasa bersalah telah mengajaknya mencari hiburan. Walaupun niat Riko baik karena tidak mau Thalita bersedih atas sikap Adriel yang masih memilik hubungan dengan Fara.


"Ha... ha... cemburu katamu? Riko, aku rasa matamu mulai bermasalah, karena tidak bisa membedakan lagi cemburu atau marah gara-gara Thalita tidak mengangkat panggilan telepon dariku," Adriel tertawa sumbang. Tidak terima dikatakan bahwa dia cemburu pada istrinya sendiri.


"Oya! Benarkah kamu tidak cemburu? Kalau begitu bagus sekali. Lain kali aku akan membawa Thalita pergi ketempat yang jauh lebih indah lagi," ujar Riko menantang perkataan Adriel yang seakan merendahkan istrinya sendiri.


"Tentu saja aku benar! Buat apa aku cemburu pada kalian, karena aku tidak pernah menyukai Thalita. Mau sampai kapanpun aku hanya mencintai Fara kekasihku," jawab Adriel begitu yakin. Tidak tahu saja dia, jika Mak Author sudah menyiapkan kejutan besar untuknya.


Deg!


Rasa sakit karena perbuatan Adriel tadi malam belum saja hilang. Akan tetapi Adriel kembali membuat luka yang baru. Thalita mengenggam satu tangannya yang tidak di cekal oleh suaminya. Dia berusaha menahan diri agar tidak menangis dihadapan Adriel. Jika itu sampai terjadi pasti Adriel akan senang karena sudah berhasil menyakitinya.


"Adriel, aku harap kamu tidak akan menyesali apa kamu katakan malam ini," kata Riko tersenyum kecil.


"Tentu aku tidak akan menyesali ucapanku. Jika kamu menyukai Thalita, maka tunggulah Fara kembali. Sebab bila dia sudah menyelesaikan kontrak kerjanya. Maka aku akan menikahi Fara. Sedangkan kamu... boleh menikahi Thalita. Aku akan menceraikan dia---"


Plaaak!


"Jika kamu ingin menceraikan aku, maka lakukanlah! Tapi kamu tidak ada hak untuk berbicara jika aku dan Riko boleh menikah," seru Thalita menarik paksa tangannya dengan sekuat tenaga dan setelah berhasil terlepas dari cengkraman Adriel. Dia langsung menampar sang suami cukup keras. Sampai-sampai telapak tangannya terasa kram.


"Perlu kamu ketahui Adriel, bila sampai waktu itu tiba. Maka aku sendiri yang akan mengajukan perceraian kita. Jadi berhentilah menyakitiku hanya gara-gara kamu tidak suka padaku," setelah berkata demikian. Thalita berlari masuk kedalam rumah. Sebab dia membutuhkan tempat untuk menumpahkan air matanya.


...BERSAMBUNG......

__ADS_1



__ADS_2