
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
"Berhenti!" teriak Thalita berdiri dari tempat duduknya. Sejak tadi gadis itu hanya diam saja menyimak apa yang akan terjadi. setelah Adriel suaminya sendiri berkata akan menggantikan dia hanya karena masalah bahan yang dia minta.
"Jika kalian tidak setuju dengan permintaan Saya, dan juga ingin menggantikan Saya dengan orang lain. Maka tidak menjadi masalah. Saya akan berhenti sekarang juga dan semuanya Saya serahkan kepada atasan Saya bapak Riko, karena beliaulah bos yang sudah merekomendasikan Saya untuk menangani kerjasama ini," ucap Thalita menatap Adriel dengan tatapan kecewanya.
Ini bukanlah tentang dia yang tidak bisa memegang pekerjaan tersebut. Namun, harga dirinya sebagai seorang istri sudah dijatuhkan oleh Adriel dihadapan rekan-rekan kerjanya.
"Apa! Anda tidak bisa mengambil keputusan seperti ini Nona Thalita, kita masih bisa membicarakan hal ini," jawab seorang pria paruh baya yang sudah puas dengan hasil kerja keras Thalita selama ini.
__ADS_1
Mendengar ucapan pria tersebut membuat Thalita tersenyum kecil dan kembali berkata. "Maafkan Saya, Tuan Burhan, Saya putuskan tidak akan ikut kerjasama dengan kalian lagi. Sebab diantara kita sudah tidak ada kecocokan lagi," ujar Thalita sambil memasukkan kembali contoh desain terbaru yang sudah ia buat.
Namun, melihat hal tersebut Riko yang merupakan bos dari gadis itu ikut berdiri. Sehingga membuat panik para rekan kerja lainnya.
"Tuan Riko, apa yang Anda lakukan?" Tanya laki-laki yang bernama Burhan.
"Saya juga akan berhenti dari kerjasama kita. Sebab apa yang dikatakan oleh sahabat Saya memang benar. Diantara kita sudah tidak ada kecocokan lagi untuk melanjutkan kerjasama ini," Riko sengaja menekankan kata sahabat saya. Agar Adriel tahu seberapa pentingnya seorang Thalita baginya.
Riko lebih baik kehilangan kerjasama mereka, daripada harus melihat sahabatnya dihina secara terang-terangan seperti hari ini.
"Tidak! Tolong jangan batalkan kerjasama ini, Tuan Riko," seru Pak Burhan ikut berdiri. Dia adalah orang pertama yang tidak setuju dengan keputusan Adriel.
"Tidak, Tha. kita masih bisa mencari perusahaan lain yang mau bekerjasama dengan kita tanpa harus saling menjatuhkan seperti ini." Riko tersenyum dan dia mengambil alih barang yang dibawa Thalita. Setelah itu ia genggam tangan gadis itu untuk dibawa pergi keluar dari ruangan tersebut.
"Riko," lirih Thalita tersenyum menatap sahabatnya itu. "Terima kasih," lanjutnya merasa terharu dengan keputusan pemuda itu.
__ADS_1
"Maaf Tuan Adriel, Saya mengundurkan kerjasama kita. Dan... hari ini juga Saya mencabut kembali semua saham perusahaan kami," karena Adriel berbicara padanya dengan formal. Makanya Riko berbicara seperti itu juga.
"Riko, apa yang kamu lakukan. Aku tidak---"
"Tidak bisa menerima usul dari sahabat Saya, kan?" sela Riko tersenyum kecil. "Karena itu Saya juga tidak bisa melanjutkan kerjasama kita lagi. Sebentar lagi Sekertaris pribadi Saya akan datang untuk mengurus surat pencabutan saham. Jadi jika ada sesuatu bicarakan saja padanya. Kami permisi dulu," Riko langsung menarik lembut tangan Thalita.
Namun, baru saja mereka Mela ngkah menuju pintu keluar. Pak Burhan kembali berkata. "Tuan Riko, jika Anda keluar dari kerjasama ini. Maka Saya juga akan berhenti sampai disini. Nanti siang Saya akan datang ke perusahaan Anda mengajukan kerjasama yang baru," ucapannya yang tidak dihiraukan oleh Riko.
Setelah kepergian Riko dan Thalita. Akhirnya ruangan tersebut kembali ricuh, karena mereka mulai saling menyalakan satu sama lain.
"Ini gara-gara kalian yang berlebihan. Akhirnya Nona Thalita tersinggung dan membuat Tuan Riko membatalkan kerjasama Kita," ucap dua orang yang berpihak pada Thalita.
"Maaf Tuan Afkar, Saya juga tidak akan melanjutkan kerjasama ini lagi. Hari ini juga Saya menarik kembali saham Saya," sela Pak Burhan. Diikuti juga oleh beberapa orang dari mereka.
"Thalita! Ini semua gara-gara dirimu," umpat Adriel malah menyalakan istrinya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG......