
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
"Aku kerja dulu, terima kasih sudah mengantar ku dan... kamu hati-hati," ucap Thalita begitu mobil mereka sudah tiba di depan loby perusahaan milik Riko.
"Iya, kamu juga hati-hati. Jagan terlalu lelah karena meskipun kamu tidak bekerja aku masih bisa memenuhi semua kebutuhan mu," jawab Adriel yang membuat Thalita begitu bahagia mendengarnya.
Namun, satu hal yang tidak pemuda itu sadari. Bahwa perbuatannya seakan-akan sedang memberi harapan pada Thalita. Padahal apa yang ia katakan semata-mata hanya untuk menyenangkan hati istrinya yang sudah ia kecewakan kemarin malam.
Menurut Adriel sendiri apa yang dia lakukan dan katakan hari ini. Tidak ada arti apa-apa, karena cintanya kepada Faranisa tentu tidak akan pernah terbagi. Apalagi pada Thalita yang dia benci. Iya, benci! Entah pemikiran seperti apa yang dimiliki oleh Adriel. Sebab dalam perasaan benci yang dia miliki, terkadang Adriel juga merasa bersalah telah menyakiti hati istrinya. Alhasil karena dia tidak memiliki pendirian justru akan semakin menyakiti Thalita.
"Huem, aku keluar sekarang," kata gadis itu mencium punggung tangan suaminya sekilas. Setelah itu dia langsung keluar meninggalkan Adriel yang masih terpaku melihat kepergiannya.
"Perasaan apa ini? Kenapa jantungku berdetak kencang, hanya gara-gara Thalita mencium tangan ku,"
Gumam Adriel menatap terus istrinya yang berjalan tidak menoleh kebelakang lagi.
Ttttddd!
Ttttddd!
Baru saja Adriel akan menjalankan kendaraan nya lagi. Ponsel pemuda itu kembali berdering. Ternyata yang menghubungi nya adalah Faranisa sang kekasih yang saat ini sudah berada di bandara ibukota mereka.
Ya, setelah mendapatkan kenyataan pahit bahwa dirinya hanya dimanfaatkan saja oleh Tuan Albert. Membuat Fara memutuskan untuk kembali dan minta Adriel menikahinya.
Fara takut apabila dia tiba-tiba hamil anak laki-laki brengsek yang sudah mengambil keperawanannya tadi malam sampai jam dua dini hari pria paruh baya itu kembali melakukannya.
__ADS_1
Fara baru sadar satu hal saat si tua bangka tersebut sudah pergi. Begitu dia menyingkap selimut untuk membersihkan tubuhnya yang tiba-tiba terasa kotor. Wanita itu melihat pada ranjang yang ia tempati basah oleh percintaan mereka.
Ceceran lahar Tuan Albert membuat Fara menyadari hal tersebut. Dia kembali mengigat jika saat melakukannya pria itu tidak mengunakan pengaman.
Ttttddd!
📱 Faranisa : Adriel, kamu ada dimana? Kenapa tidak mengangkat panggilan dari ku?" begitu Adriel menggeser layar ponselnya yang berwarna hijau. Fara sudah mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan.
📱 Adriel : "Aku sedang berada di perjalanan, ada apa? Bagaimana dengan masalah pekerjaan mu, apakah sudah---"
📱 Faranisa : "Aku sudah berada di bandara, sekarang cepat jemput aku. Ada hal penting yang harus kita bicarakan," sela wanita itu dengan isak tangisnya.
Sebetulnya jika saja tidak takut Adriel meninggalkan dia. Fara ingin bercerita bahwa dia sudah diperkosa oleh Tuan Albert. Walaupun awalnya dia sendiri yang mau, dengan bayaran sebuah tanda tangan kontrak pekerjaan.
Namun, apa yang ia harapkan semuanya tidak sesuai rencana, karena Tuan Albert hanya ingin balas dendam atas perbuatannya yang pernah membuat agensi beliau mengalami kerugian besar
📱 Adriel : "Apa! Fara, kamu jangan bercanda, masa' iya jam segini kamu sudah ada di bandara?" seru pemuda itu sambil melirik jam tangannya yang baru menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit.
📱 Adriel : "Baiklah! Aku akan menyusul ke bandara. Kamu tunggu saja di tempat biasanya aku menjemputmu," setelah itu Adriel langsung memutar arah setir mobilnya menuju Bandara buat menjemput sang kekasih.
"Fara, kenapa bisa dipecat secara tiba-tiba seperti ini, ya?"
Tanya Adriel pada dirinya sendiri. Sekarang mendengar kekasihnya di pecat, hatinya merasa was-was takut bila Fara mengajaknya menikah. Sedangkan Adriel akan menceraikan Thalita lebih dulu baru setelah itu menikahi wanita yang ia cintai.
Tidak membutuhkan waktu yang lama. Hanya sekitar tujuh belas menit perjalanan. Mobil mewah Adriel sudah tiba di bandara. Terlihat Thalita langsung berjalan mendekat. Meskipun mengenakan masker penutup wajah. Namun, Adriel tahu bahwa wanita itu adalah kekasihnya.
Lalu dia langsung membukakan pintu mobil dari arah dalam. Sebab bila ia turun hanya memperlambat waktu saja. Sedangkan Adriel harus ke perusahan, karena ada rapat yang harus ia pimpin sendiri.
Hari ini Riko juga akan ke perusahaannya. Sebab meeting kali ini bersama para pemimpin perusahaan lainnya yang bekerja sama dengan Afkar group.
"Adriel," seru wanita itu begitu masuk dan menutup pintunya dia langsung memeluk sang kekasih yang telah ia khianati demi pekerjaannya.
__ADS_1
"Maaf, Maafkan aku," meminta maaf. Namun, tidak menyebutkan kesalahan yang telah ia perbuat.
"Fara, ada apa? Heum!" tanya Adriel balas mendekap cukup erat dan menciumi pucuk kepala wanita itu.
"Aku... aku minta maaf sudah menolak saat kamu mengajakku menikah," akhirnya Fara menyesal jalan yang ia pilih.
"Sudahlah, tidak apa-apa! Sekarang ayo kita tinggalkan tempat ini terlebih dahulu dan ceritakan padaku ada masalah apa?" andai saja semua perlakuan manis Adriel ia tunjukkan pada Thalita. Pasti semua ceritanya akan berbeda.
"Iya, ayo kita pergi dari sini," ajaknya langsung setuju. Fara kembali hanya dengan satu buah koper kecil. Soalnya pakaian dia yang lainya ada di Apartemen.
Di saat melakukan pekerjaannya, dia hanya memakai gaun untuk melakukan sponsor saja. Jadi tidak perlu menyiapkan ini dan itu.
"Apa kamu sudah sarapan?" sambil mengendarai mobilnya. Mata Adriel sesekali menoleh kearah Fara yang masih terisak kecil. Dia sangat menyesal telah melayani Tuan Albert, dan merasa benar-benar menjadi wanita murahan.
Seluruh tubuhnya sudah dipenuhinya Kiss Mark dari pria paruh baya itu. Makanya Fara sangat menyesali semuanya. Termasuk menolak Adriel yang mengajaknya menikah Minggu lalu
"Belum, aku belum makan apapun sejak kemarin siang," jawab Fara jujur. Gara-gara dipecat karena terlambat datang. Akhirnya membuat Fara merasa kacau dan sampai melupakan untuk mengisi perutnya.
Sebab biasanya yang mengurus semuanya adalah staf dan juga Manajernya yang saat ini langsung berhenti bekerjasama. Sebab sudah tahu jika Fara sudah hancur dengan kesombongannya.
"Fara... apa kamu sudah gila! Kamu hanya dipecat dari pekerjaan mu. Tapi kenapa malah tidak makan dan menyiksa dirimu," seru Adriel langsung membelokkan mobilnya kearah Restoran terdekat.
"Aku adalah seorang Presdir perusahaan besar. Kamu tidak akan pernah kekurangan uang, jadi apa yang kamu takutkan," lanjut pemuda itu lagi.
"Adriel, ayo kita menikah sekarang juga, aku sangat membutuhkan dirimu. Aku takut kehilanganmu," ucap Fara merasa ada kesempatan untuk mengajak Adriel menikah.
Deg!
Adriel yang diajak menikah hanya menelan Saliva nya sendiri. Tidak tahu apa yang akan dia jawab.
BERSAMBUNG...
__ADS_1