
💐💐💐💐💐💐💐
.
.
"Thalita, apa kamu sadar pada ucapan mu?" seru Adriel terbawa emosi pada ucapan istrinya. Dia menaruh kembali kertas putih tersebut dan belum menandatanganinya.
Mendengar pertanyaannya Adrie, tentu membuat Thalita tersenyum miris. Saat ini perkataan suaminya seakan-akan sangat mencintainya. Padahal sudah jelas mungkin Adriel ingin tertawa terbahak-bahak dan merayakan atas perpisahan mereka.
"Tentu! Tentu aku sesadar-sadarnya, Adriel. Justru karena aku barus sadar makanya memilih mundur." jawab gadis itu masih pada posisi duduk dihadapan pemuda yang masih menjadi suaminya.
"Tapi kenapa? Bukannya kamu bilang ingin mencobanya? Apakah hanya segini cintamu terhadapku?" tanya Adriel degan menggebu-gebu. Rasanya dia ingin menghancurkan seisi kamarnya pada saat itu juga.
"Jika kamu harap istri yang setia, mungkin akulah orangnya. Tapi itu jika kamu mau menoleh ke arahku. Namun, selama ini kamu malah membangun benteng diantara kita," gadis itu terdiam sesaat agar bisa tetap tenang. Meskipun badai yang akan menghantam biduk rumah tangganya sudah ada didepan mata.
"Jika kita sama-sama berniat untuk mencoba. Mungkin tidak akan sulit. Tapi ini aku berjuang diatas bara api seorang diri. Semakin aku memperjuangkan cintaku. Maka sekuat itu pula kamu menunjukkan hubunganmu dan Fara." ungkap wanita itu karena tidak ada gunanya dia menyembunyikan perasaannya lagi.
"Aku mengalah, tidak! Aku kalah pada kekuatan cinta kalian. Kamu terlalu tinggi untuk ku gapai. Sehingga membuat aku terjatuh dan terluka," Thalita tersenyum getir.
"Sekuat apapun aku berjuang, bila kamu tidak berniat untuk memberiku kesempatan. Maka aku bisa apa? Selama ini aku bertahan karena sangat berharap akan cintamu. Akan tetapi setelah mendengar ucapan mu malam itu, aku sadar bahwa aku benar-benar tidak ada artinya sama sekali." demi menahan rasa sesaknya. Thalita sampai menekan kukunya yang panjang pada telapak tangannya sendiri.
"Fara sudah memberimu segalanya. Dialah cinta sejati mu, Adriel. Sebesar apapun cinta yang ku punya. Kamu tetap akan memilihnya sebagai pelabuhan cintamu." setalah itu Thalita diam sambil berdiri dari tempat duduknya untuk mengambil pulpen dan dia letakkan dihadapan Adriel.
"Tanda tangani kertas ini. Agar kamu terbebas dariku. Aku mengalah, aku menyerah sampai disini saja," ucapnya lagi yang belum juga ada reaksi apa-apa dari Adriel.
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin berpisah dariku? Apakah karena Reza atau Riko?" bukannya segera menandatangani surat tersebut. Tapi Adriel menatap istrinya penuh selidik dan harapan semoga Thalita membatalkan niatnya.
"Tidak! Mereka bukanlah alasanku untuk berpisah. Tapi aku tidak ingin membuat mu tersiksa karena aku," jawab gadis itu cepat.
"Mungkin jika aku tidak menerima perjodohan kita. Maka kamu dan Fara sudah hidup bahagia. Maafkan aku yang egois karena terlalu mencintaimu. Terima kasih juga karena selama dua bulan ini sudah memberiku kesempatan buat menjadi istrimu." Thalita yang matanya terasa perih akibat menahan tangisnya. Memilih berjalan mendekati lemari. Buat membereskan semua barang-barang miliknya.
__ADS_1
"Huem! gadis itu berdehem agar terlihat keren. Supaya Adriel tidak mentertawakan dirinya yang kalah.
"Kamu tanda tangani saja, aku mau membereskan barang-barang ku dulu. Besok pagi-pagi sekali. Aku akan meninggalkan rumah mu." ucap Thalita yang diam-diam meneteskan air matanya.
Sekarang dia tidak menyebutkan rumah ini, atau rumah mertuanya lagi. Dia sudah mengatakan rumah mu yang artinya diantara mereka bukanlah siapa-siapa lagi.
Adriel yang mendengarnya cuma mengepalkan tangannya sendiri. Dia tidak menyangka bahwa apa yang membuat Thalita terlihat aneh sejak tadi sore, karena untuk terakhir kalinya. Sebagai perpisahan diantara mereka.
Besok gadis itu akan pergi yang tidak mungkin akan kembali lagi ke rumah itu. Meskipun Adriel tidak menandatangani surat tersebut. Tetap saja tidak ada gunanya lagi.
"Aku do'akan agar kamu bahagia hidup bersamanya, Adriel. Terima kasih sudah memberikan luka ini. Akan aku jadikan kenangan indah karena pernah menjadi istrimu." gumam Thalita mulai memasukkan barang-barangnya kedalam koper.
Hampir satu jam dia sudah selesai membereskan semuanya. Satu-satunya yang tersisa hanyalah pakaian yang akan dia gunakan besok pagi setelah mandi.
"Apakah sudah kamu tanda tangani?" tanyanya yang sudah lebih baik dari tadi.
"Aku... baiklah! Kamu sendiri yang menyerah," jawab Adriel langsung menanda tangani kertas tersebut meskipun sempat ragu.
Tes!
Tes!
"Ini, kamu urus saja sisanya. Aku tidak mau mengurus hal sepele seperti ini, karena pekerjaan ku bukan ini saja," ucap Adriel berdiri dan hendak keluar dari kamarnya.
Namun, baru beberapa langkah dia berjalan. Thalita menyerukan namanya.
"Terima kasih! Terima kasih untuk semuanya. Setelah aku pergi tolong jaga Om Marcel dengan baik. Kamu harus sering-sering meluangkan waktu untuknya," ucap Thalita yang masih memikirkan keadaan Tuan Marcel.
"Kamu tidak perlu khawatirkan hal itu. Dia ayahku, tentu aku akan menjaganya dengan baik," jawab Adriel tanpa menoleh kebelakang lagi.
Braak!
__ADS_1
Suara pintu kamar yang dia banting sangat keras. Sampai-sampai Thalita mengelus dadanya karena kaget.
"Hick... hick... Thalita terisak dan menjatuhkan tubuhnya pada lantai kamar yang dingin. Air mata yang sejak tadi dia tahan-tahan akhirnya tumpah juga.
Wanita mana yang akan baik-baik saja setelah rumah tangganya kandas. Hanya karena suaminya lebih memilih wanita lain daripada dirinya. Dia kalah setelah beberapa bulan berjuang untuk mendapatkan cinta sang suami.
Namun, nyatanya semua itu hanya membuang waktu sia-sia. Cinta yang dia miliki tidak dibalas sama sekali.
Thalita mengungkapkan kesedihannya dengan cara menangis di dalam kamar Adriel. Sedangkan pemuda itu sendiri pergi ke ruang olahraganya yang masih terletak di lantai atas sama seperti kamarnya.
Jaraknya pun tidak terlalu jauh, mungkin hanya sekitar beberapa puluh meter dari kamarnya.
Aaaaaaaa!
Adriel membanting semua barang-barang kecil yang ada di dalam ruangan tersebut. Hanya untuk meluapkan rasa emosi di dalam hatinya.
'Kenapa kamu harus menyerah? Kenapa kamu menyerah setelah melalui begitu banyak perjuangan. Kenapa Thalita? Kenapa?" teriaknya seperti orang yang lagi kesurupan.
Seharusnya dia senang, kan? Karena sekarang Thalita tidak akan menjadi penghambat hubungannya dan Fara lagi.
Aaaggh!
Adriel kembali berteriak sambil memukul-mukul keras samsak yang ada di hadapannya. Dia seakan tidak merasakan sakit meskipun tangannya tidak ada penyangga agar tidak terluka.
"Apa selama ini kamu hanya sedang berbohong dengan perasaanmu sendiri? Ayo jawab jujur?" teriaknya lagi.
Untungnya saat ini sudah tengah malam. Jadi tidak ada para asisten rumah tangga yang mendengar kegilaannya.
"Dasar kamu memang tukang bohong sejak awal," maki Adriel yang tidak tahu kenapa sangat kesal. Namun, untuk menahan gadis itu. Dia juga tidak memiliki alasan, karena setahu Adrie, dia sangat mencintai Faranisa.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1