
💐💐💐💐💐💐
...HAPPY READING......
.
.
Praaank!
Suara barang-barang didalam kamar Adriel yang dia banting untuk meluapkan rasa sesal pada dirinya sendiri. Penyesalan yang sudah tiada gunanya. Sangat menyakitkan setelah kehilangan Thalita bahkan sebagai seorang sahabat.
"Selamat tinggal, Adriel... daripada aku harus memperjuangkan dirimu yang sudah membentengi diantara kita. Maka lebih baik aku melepas mu dan membiarkan dirimu bersama nya. Karena melihatmu hancur bersama orang yang kamu pilih, itu jauh lebih menarik."
Perkataan Thalita yang kecewa padanya kembali terngiang-ngiang seperti mana sebuah kaset.
"Aaakk! Tha, tolong maafkan aku, aku menyesal karena sudah menyia-nyiakan dirimu." Adriel berteriak sambil menjatuhkan tubuhnya disamping barang-barang yang sudah berhamburan di atas lantai kamarnya.
"Maafkan aku, maafkan aku, Tha," disela teriakannya. Adriel menangis dengan penyesalannya.
Sungguh ini semua sangat menyakitkan untuk dirinya yang tadinya suka berbuat semaunya pada Thalita. Sekarang gadis itu sudah pergi bersama suaminya.
Tok!
Tok!
"Adriel, Adriel... kamu kenapa? Tolong buka pintunya." panggil Fara saat mendengar suara Adriel berteriak.
Namun, tidak ada sahutan dari pemuda itu. Adriel hanya ingin sendiri, dia butuh waktu buat menenangkan hatinya.
Tok!
Tok!
"Adriel, buka pintunya. Kamu jangan membuatku khawatir." panggil wanita itu tidak mau menyerah.
Berbeda dengan Tuan Marcel. Meskipun dia mendengar suara barang-barang yang dibanting oleh anaknya. Dia abaikan saja karena rasa kecewanya yang terlalu besar. Membuat rasa sayang itu hilang begitu saja.
Tok!
Tok!
"Adriel, tolong buk---"
Kleeek!
"Adriel, a--apa yang terjadi? Ke---"
"Fara, pergilah! Aku hanya ingin sendirian." usir Adriel pada wanita yang tadinya sangat dia manja dan sanjung.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan pergi. Apa yang terjadi? Kenapa kamu menghancurkan barang-barang seperti ini?" Fara bukanya pergi, tapi malah menerobos masuk kedalam.
"Adriel, apa yang terjadi? Kenapa kamu menghancurkan barang-barang mahal milik mu?" wanita itu kembali bertanya.
Namun, yang ditanya tidak juga menjawab, malahan Adriel hanya diam sambil membelakangi kekasihnya. Sehingga membuat wanita itu kesal dan membalikkan kasar tubuh Adriel.
"Adriel.. apa yang sudah terjadi? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku? Apa semua ini gara-gara wanita ja lang itu? Apakah dia sudah mencuci otakmu, sehingga kamu menjadi bodoh." sentak Faranisa yang tak juga digubris oleh laki-laki itu.
"Ayo jawab aku, Adriel. Apakah karena perempuan murahan it---"
Plaaak!
"Yang murahan itu adalah kamu, Fara. Bukan Thalita." ucap Adriel setelah menampar keras pipi Faranisa.
"Adriel, sayang kamu menamparku karena wanita itu? Ka---"
"Karena kamu memang pantas menerimanya. Gara-gara ak---" adriel tidak melanjutkan lagi perkataannya karena melihat tubuh Fara hampir jatuh ke lantai apabila dia tidak menahannya cepat.
"Fara, Fara... kamu kenapa? Fara..." Adriel langsung mengangkat tubuh gadis itu ke atas ranjang tempat tidur, karena Fara sudah pingsan tidak sadarkan diri.
"Kenapa pakai acara pingsan segala, sih." Rutuknya sambil menelpon dokter pribadi keluarga Afkar untuk memeriksa keadaan wanita itu.
Setelah menelepon dokter dan menyuruhnya datang. Adriel kembali lagi ke arah ranjang tempat tidur dan duduk di sisi Faranisa.
"Wajahnya pucat sekali, apakah dia lagi sakit?" tanya Adriel baru mengetahui hal tersebut. Untung saja pipi Faranisa yang ditamparnya tidak meninggalkan luka lebam, hanya sekedar memerah saja.
Tidak lama menunggu, hanya sekitar lima belas menit kemudian. Dokter keluarga Afkar yang dihubungi sudah datang diantar oleh asisten rumah tangga. Soalnya jarak dari rumah sang dokter ke rumah keluarga Afkar tidak jauh. Hanya masih satu jalur kompleks perumahan.
sudah seperti kapal pecah. Barang-barang berserakan di mana-mana.
"Masuk saja," jawab Adriel singkat. Sehingga membuat Dokter Ronal yang umurnya sekitar tiga puluh dua tahun itu masuk ke dalam kamar.
"Selamat siang Tuan Muda, apakah Nona Fara yang sakit?" tebak si dokter karena melihat Fara baring di atas ranjang tempat tidur.
"Iya benar! Cepat periksa dia, apakah perlu dibawa ke rumah sakit atau tidak?" titah Adriel yang khawatir bila wanita itu tiba-tiba meninggal dunia karena tamparannya.
"Baiklah, kalau begitu Saya permisi. Tolong Anda disebelah kanan saja." jawab dokter tersebut karena dia membutuhkan ruang untuk memeriksa keadaan pasiennya.
Sehingga mau tidak mau Adriel pindah tempat duduk ke sebelah kanan Faranisa dan membiarkan dokter melakukan tugasnya.
Setelah melakukan pemeriksaan secara berulang kali, dokter tersebut diam sesaat.
"Bagaimana, Dok. Fara sakit apa?" Adriel bertanya tidak sabaran.
"Sepertinya nona lagi hamil, Tuan Muda. Soalnya suhu tubuh dan darahnya semuanya malah sangat normal. Tapi saat diperiksa denyut nadinya di tangan, itu ada dua kali. Pertanda bahwa di dalam tubuhnya ada nyawa lain." jawaban dokter tersebut langsung membuat tubuh Adriel membeku.
"A--apa! Hamil?" seru Adriel terbata-bata karena kaget. Dia baru meniduri gadis itu beberapa hari lalu. Bagaimana mungkin jika hari ini sudah hamil? kira-kira seperti itulah yang dipertanyakan oleh pemuda itu pada dirinya sendiri.
"Iya, lagi hamil. Apabila Anda tidak percaya, maka langsung saja ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Nanti Saya akan langsung menghubungi dokter kandungan." jawab Dokter Ronal sudah menyimpan kembali alat pemeriksaannya.
__ADS_1
"Oh, baiklah! Anda tidak perlu melakukannya Saya sudah percaya. Lalu apa yang membuatnya bisa pingsan?" tanya Adriel yang tidak bisa memungkiri bahwa Fara bisa hamil.
"Mungkin karena dia banyak pikiran dan setres itu hal yang paling biasa terjadi pada ibu hamil." jelas si dokter mengeluarkan obat-obatan dari dalam tasnya.
"Setelah dia siuman, beri makan dan meminum obat ini. Saya akan tambahkan resep yang bisa Anda tebus di apotik terdekat, sekaligus untuk vitaminnya."
"Iya, baiklah! Terima kasih," jawab Adriel menerima obat dari dokter tersebut.
"Sama-sama, Tuan Muda. Kalau begitu Saya akan pergi sekarang karena Saya masih ada pasien yang menunggu di rumah sakit." pamit Dokter Ronal diantar lagi oleh asisten rumah tangga sampai keluar dari rumah itu.
"Fara... kamu harus menjelaskan anak siapa yang kamu kandung." seru Adriel menahan rasa emosinya pada sang kekasih.
Setelah menunggu hampir satu jam. Faranisa pun sudah siuman dan begitu matanya terbuka, gadis itu sangat kaget karena melihat Adriel menatapnya tajam.
"Sayang, ap---"
"Siapa ayah bayi yang kamu kandung Fara?" tanya pemuda itu langsung.
"A--ayah bayi si--siapa? Ak---"
"Kamu lagi hamil kan? Jangan berpura-pura tidak tahu. Ayo cepat katakan." desak pemuda itu dengan suara membentak. Sehingga membuat Fara langsung duduk meskipun kepalanya masih pusing.
"Adriel... ini anak mu, bukannya kita sudah melakukannya." dusta Fara karena tidak mungkin mengatakan bahwa bayi tersebut adalah anak Tuan Albert.
"Haa .. haaa... anakku? Fara, apa kamu pikir aku bodoh? Bukannya kita melakukannya beberapa hari lalu. Bagaimana mungkin hari ini kamu sudah hamil." tawa Adriel yang sebetulnya lagi marah.
"Tapi aku---"
"Sekarang juga cepat kamu kemasi semua barang-barang mu dan pergilah dari sini." usir Adriel yang sudah pusing memikirkan Thalita yang menolak untuk bersahabat dengannya dan harus mendapati kenyataan Fara hamil anak laki-laki lain.
"Adriel, aku tidak mau pergi dari sini. Kamu harus menikahi ku, ini adalah anakmu."
"Fara, itu bukan anakku, jadi ini alasanmu mau kita segera melakukan hubungan suami-istri, karena ingin menjadikan aku ayah anakmu?" Adriel menatap Fara dengan tatapan tajam nya.
"Adriel, maafkan aku, Aku asli aku salah karena sudah tidak jujur dari awal. Tapi aku bisa hamil karena sudah diperkosa oleh seseorang, bukan karena aku menghianati cinta kita." ucap wanita itu menagis.
"Apapun alasannya aku tidak peduli, yang jelas mulai sekarang kita putus dan kamu pergilah dari rumahku."
"tidak aku tidak akan pergi dari sini karena kamu harus menikahi ku. Bila ada orang lain yang mengetahui aku hamil diluar nikah. Maka pasti saham perusahaan Afkar akan jatuh, karena semua penduduk kota ini mengetahui bahwa aku tinggal di sini dan juga sebagai kekasihmu."
Tidak ada cara lain selain untuk bisa menikah dengan Adriel. Akhirnya Fara mengancam dengan status mereka.
"Tidak! Aku tetap tidak---"
"Kamu harus menikahinya Adriel, jika tidak ingin perusahaanku hancur karena ulahmu. Lagian bukankah wanita ini adalah kekasih yang sangat kamu cintai? Jadi penuhilah keinginanmu untuk menikahinya." sela Tuan Marcel yang membuat tubuh Adriel langsung menegang.
"Sial! Fara benar-benar sudah berhasil menjebakku. sekarang meskipun terpaksa, maka aku harus menikahinya."
Gumam Adriel merutuki dirinya sendiri yang sudah membawa gadis itu tinggal bersama.
__ADS_1
... BERSAMBUNG......