
Setelah pertemuan antara keluarga Dara dan keluarga Elang. Akhirnya mereka pun menikah secara sederhana. Tamu yang di undang hanyalah keluarga dekat dan kerabat kenalan keluarga Kusuma dan juga Dara. Teman-teman Dara maupun Elang tidak di undang dikarenakan Dara dan Elang sama-sama tidak mempunyai begitu banyak teman. Bisa dihitung dengan jari, dan tidak terlalu akrab karena kepribadian mereka yang tertutup.
Dara duduk di samping Elang dengan tatapan kosong. Dia begitu cantik, hingga orang-orang menatap kagum. Pujian demi pujian terlontarkan untuknya, juga untuk pria di sebelahnya, yang sudah menjadi suaminya secara resmi di mata hukum. Tentu pernikahan ini hanyalah sebuah formalitas, menutupi kehamilan Dara yang menginjak bulan ke dua. Setidaknya di mata hukum dan juga orang-orang sekitarnya, Dara memiliki suami. Meski dalam agama mungkin berbeda lagi ceritanya.
Elang melirik sekilas ke arah wanita yang sudah menjadi istrinya. Dia tampak murung, membuatnya mengurut kening berpikir bagaimana caranya agar Dara bisa menikmati pesta ini. Setidaknya di hari ini, jangan pasang wajah cemberut, itu yang Elang inginkan.
"Wanita hamil harus bahagia. Jangan cemberut." Elang berbisik seketika membuat lamunan Dara pecah.
"I-iya, Kak." Dara mengangguk reflek.
"Senyum. Jangan cemberut gitu. Nanti orang mikir kamu terpaksa nikahin saya. Meski emang terpaksa, seenggaknya kamu harus terlihat bahagia, dan cobalah untuk bahagia, Dara."
Kata-kata Elang ambigu menurut Dara. Bagaimana dia bisa bahagia, toh ini hanya pernikahan settingan, meski secara hukum mereka sah. Tapi, tak akan ada yang berubah dengan status dirinya yang hanyalah wanita kotor, bagi Dara.
"Iya, Kak." Dara hanya mengiyakan dengan menyunggingkan sedikit senyuman tipisnya.
"Nah kalau gitu kan, cantik."
Dara langsung menatap Elang. Saat itulah fotografer mengambil momen itu untuk diabadikan.
...****...
Meski berat rasanya melepaskan Dara, putri satu-satunya itu. Damian dan Elis pada akhirnya harus ikhlas membiarkan Dara tinggal di rumah mertuanya. Rumah keluarga Kusuma sebagai menantu keluarga Kusuma. Meski banyak juga yang membicarakan pernikahan itu seperti terburu-buru, bahkan tidak menunggu hingga putra sulung Kusuma siuman dari komanya. Tapi omongan yang seperti itu tidak dipedulikan Elang. Baginya ini justru dia lakukan demi kebaikan abangnya juga.
Kusuma dan Rania tidak berbincang dengan Dara sampai wanita itu masuk ke dalam kamar yang telah di siapkan oleh Elang. Kamar untuknya sendiri, karena Elang tidur di kamar yang berbeda. Tentu saja, tidak mungkin Elang tidur bersama Dara selayaknya pasangan suami-istri.
"Dara. Ini kamar kamu ya. Kalau kamu butuh apa-apa kamu cukup panggil pelayan. Tapi, tanpa kamu panggil pun pelayan akan selalu tanya apa yang kamu butuhkan. Jadi, kamu nggak perlu sungkan. Maafkan sikap mama papa yang cuek seperti itu ya. Mereka bukan begitu terhadap kamu saja, terhadap saya pun sama."
Dara terdiam lalu mengulas senyuman manisnya. "Iya, Kak. Dara ngerti kok. Makasih ya."
Masih segar dalam ingatan Dara saat Elang mengecup keningnya di depan pak penghulu tadi. Saat itu Dara menangis, ia merasa terharu, pria di depannya begitu besar mengorbankan dirinya sendiri demi abangnya. Elang begitu baik, Dara tidak ingin menyusahkan Elang lagi.
"Maafin aku ya, Kak."
__ADS_1
"Hm?? Kenapa minta maaf?" tanya Elang.
"Karena aku banyak merepotkan Kakak."
Dara menyeka air matanya. "Karena aku bikin hidup Kakak jadi susah. Aku yang buat Kakak menanggung akibatnya. Ini salah aku, Kak."
Melihat Dara menangis membuat Elang ikut merasakan sedih. Refleks ia langsung memeluk Dara. Wanita hamil itu hanya semakin terisak di dalam pelukan Elang. "Jangan ngomong gitu. Kamu nggak menyusahkan saya," kata Elang.
"Seharusnya Kakak menikahi wanita yang Kakak cintai, bukan aku," ucap Dara, lirih.
Entahlah tapi Elang tidak memiliki wanita yang benar-benar ia cintai dan ingin ia nikahi. "Saya nggak ada wanita yang seperti itu. Kamu jangan terlalu banyak berpikir. Nggak baik untuk janin yang ada di kandungan kamu. Ingat kan, kata dokter apa? Kamu harus bahagia dan berpikir positif."
Ya. Sebelum menikah Elang mengajak Dara memeriksakan kandungannya ke dokter. Keadaan bayi Dara sehat dan normal. Tapi Dokter berpesan agar Dara tidak boleh banyak berpikir yang berat-berat, harus lebih rileks dan bahagia.
Dara tidak tahu, meski dia mencintai Guntur tapi setelah keberadaan Elang di sisinya. Perasaannya mulai berubah pada Guntur. Justru sekarang Dara seringkali memikirkan Elang dibandingkan Guntur. Tapi dia sadar diri, ini semua tidak boleh diteruskan. Bagaimana pun Guntur adalah ayah dari bayi yang ada di kandungannya, bukan Elang.
"Kamu istirahat ya. Kalau ada apa-apa kamu telpon saya, kamu bisa panggil saya juga, kamar saya di sebelah kamu. Ingat kamu jangan mikir yang macam-macam ya. Minum susu hamilnya, sama vitaminnya juga."
Semakin Elang berbuat baik padanya. Membuat Dara semakin sulit untuk tidak menatap Elang. Dara mulai merasakan kebaikan Elang itu sangat berbeda untuknya. Padahal jelas-jelas Dara mengetahui bahwa Elang berlaku seperti itu karena kasian padanya. Murni karena amanat Guntur, bukan yang lain.
"Iya, Kak."
"Sudahlah, Dara... Ini adalah takdir mu." Malam itu dia hanya meringkuk di atas tempat tidur yang begitu luas dan empuk, dengan Isak tangis yang tidak bisa dia hentikan. Terlalu lelah, sampai akhirnya ia terlelap dengan sendirinya.
...****...
Suara kicau burung terdengar oleh Dara, sayup-sayup dibarengi suara lain yang ada di dalam kamarnya. Kenapa ramai sekali? Dara membuka matanya. Rupaya dua pelayan sudah berdiri sambil menunggu dia di sisi ranjang.
"Astaga." Dara tersentak kaget, kenapa pelayan itu ada di dalam kamarnya.
"Selamat lagi, nona Dara. Saya di sini ditugaskan untuk menyiapkan semua kebutuhan nona Dara," tutur pelayan itu.
"Ya ampun. Kenapa kalian tidak ketuk pintu dulu? Aku kaget," ucap Dara.
__ADS_1
"Sudah, Nona. Tapi tadi Nona sangat terlelap. Kami harus tetap memastikan Nona baik-baik saja. Karena itu kami berdua masuk untuk melihat keadaan Nona. Maaf kalau kami berdua lancang," sahut pelayan itu berbicara bergantian.
"Tidak. Kalian tidak perlu minta maaf. Lagi pula ini terlalu berlebihan, aku tidak perlu dilayani sampai seperti ini kok," kata Dara.
"Ini juga perintah tuan besar Kusuma dan Ibu Rania, Nona."
"Benarkah?" Dara nyaris tidak percaya. Jadi ini perintah mertuanya juga.
"Benar, Nona. Hari ini Tuan dan Nyonya sedang mengurus keberangkatan ke luar negeri. Tuan muda Guntur akan di pindahkan ke rumah sakit luar negeri untuk di rawat di sana. Tuan dan Nyonya akan lama menetap sampai tuan guntur siuman, Nona."
Deg.
Dara baru mengetahui hal itu karena Elang atau siapapun juga tidak ada yang memberitahunya. Jadi dia tidak akan bisa bertemu dengan Guntur?
"Apa mereka sudah berangkat?" tanya Dara.
"Seharusnya sudah, Nona. Tuan dan Nyonya sengaja tidak menundanya begitu pesta selesai," pungkas pelayan.
Dara tidak bisa berbuat apa-apa. Toh itu demi kebaikan Guntur. Dia juga berharap Guntur segera sadar dan pulih kembali seperti sedia kala.
"Kalau Kak Elang dimana?" tanya Dara.
"Tuan Elang sudah berangkat ke kantor. Beliau berpesan kalau Nona sudah bangun agar menyampaikan bahwa dia ke kantor mendesak karena ada urusan pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan. Dia akan pulang untuk makan siang bersama dengan Nona nanti."
Dara mengangguk. "Baik. Terima kasih informasinya."
"Sama-sama Nona. Sekarang Nona mau mandi atau mau langsung sarapan?" tanya pelayan.
"Saya mau mandi dulu. Sebaiknya kalian di luar saja ya. Saya bisa mengurusnya sendiri kok."
"Baik, Nona. Kalau begitu kami permisi dulu."
"Iya, terima kasih."
__ADS_1
Dara masih sangat canggung dengan semua yang ada di rumah mewah itu. Pelayan yang melayani bak putri raja. Apakah ini tidak berlebihan untuknya? Tapi, inilah kehidupan keluarga Kusuma, keluarga terpandang yang jauh dari kata biasa-biasa saja. Semua yang ada di rumah itu sangatlah luar biasa bagi Dara. Meski dia merasa tidak pantas mendapatkan itu semua.
...________...