Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
06 - Aib : Kamu Hamil?


__ADS_3

Elang akhirnya sampai di depan Indekost Dara. Setelah puas menangis, dan Elang juga membiarkan perempuan itu meluapkan rasa sedih juga emosinya. Elang harap Dara sudah merasa lebih baik sekarang.


"Makasih ya, Kak." Dara membuka sabuk pengaman lalu menatap sekilas ke arah Elang.


"Iya. Sama-sama. Kamu ada waktu kan besok?"


"Besok? Emangnya ada apa, Kak?"


"Saya mau ajak kamu ketemu orang tua saya. Kita harus bicarakan masalah pernikahan."


Dara terdiam. Dia tentu beruntung jika bisa menikah dengan pria sebaik Elang. Tapi dia sendiri merasa tidak pantas. Anak di dalam kandungannya adalah hasil perbuatan Guntur. Dara sampai kapanpun tidak akan tega membiarkan Elang yang menanggung semuanya.


"Kak. Bertanggung jawab tidak harus menikahi aku. Bukan aku tidak mau menikah dengan Kakak. Kakak sangat baik, aku hanya tidak ingin Kakak menyia-nyiakan status Kakak sebagai pria berkualitas, dengan menikahi perempuan yang sudah tidak suci lagi seperti aku."


Kali ini Dara tidak menangis. Ia hanya terlihat sendu.


Elang menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya. "Saya udah bilang kan tadi. Ini satu-satunya cara. Lagi pula ini sama sekali nggak mengganggu saya. Maksud saya di usia saya yang udah cukup untuk menikah. Nggak masalah saya menikahi lu. Emang kamu mau kalau orang membicarakan negatif tentang kamu. Kandungan kamu makin lama pasti keliatan. Itu aja yang saya pikirkan."


"Tapi kenapa, Kak?" Dara menatap kedua mata Elang begitu dalam. Tidak biasanya, kali ini sorot mata Dara terlihat berbeda.


"Kenapa?" Elang balik bertanya, bingung.


"Kenapa Kakak berkorban. Kakak bisa aja biarkan aku, tinggalkan aku. Abaikan aja omongan Kak Guntur. Ini bukan kesalahan Kakak. Meski Kak Guntur berpesan agar aku mencari Kakak. Tapi, tetap aja bagiku ini nggak adil buat Kakak." Dara mengalihkan pandangannya sambil membuka pintu mobil.


"Dara masuk dulu ya, Kak. Makasih untuk semuanya."


Dara berlari menaiki anak tangga menuju rumah kost-nya. Perasaannya saat ini hancur. Tidak mudah, ini bahkan terlalu menyakitkan baginya. Dara tidak sanggup untuk menghadapi semuanya. Dia menyentuh perutnya, dia ingin marah, tapi yang ada di dalam sana tidak bersalah. Ini semua bukan salah bayinya.


Elang tertegun sambil menatap Dara. Sambil memijat kening, kata-kata Dara malah membuat dia pening.


"Kamu mau saya biarin kamu hamil terus kamu di bully sama orang-orang, juga keluarga kamu. Sebagai adik dari orang yang harus bertanggung jawab atas anak kamu. Apa saya salah? Saya cuma... Kasian?" Elang mengusap kasar wajahnya merasa serba salah.


"Apa saya bodoh banget ya, mau nikahin dia?"


Yang membuat Elang heran. Semakin Dara menolaknya, hal itu malah membuatnya ingin terus bertanggung jawab. Padahal hari-harinya sudah cukup nyaman selama ini, semenjak kehadiran Dara beberapa hari di kehidupannya. Hari-hari Elang berubah.


"Saya nggak ngerti. Demi Tuhan." Elang memilih melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


...******...


Dara berjalan menaiki anak tangga rumah kostnya menuju ke kamarnya. Saat itu kedua matanya terbelalak melihat dua orang yang berdiri di depan kamarnya.


"Papah, Mamah."

__ADS_1


"Dara, duh anak mamah ni geulis pisan," kata Mamah Dara yang bernama Elis. Dia langsung memeluk putrinya. "Mamah kangen, Neng." Sedang Dara tak berkata dan berekspresi, dia hanya terdiam.


"Papah Mamah kesini nggak bilang-bilang," kata Dara masih mencoba menyembunyikan rasa gugupnya yang luar biasa.


Bukannya menjawab, orang tuanya malah memperhatikan penampilan Dara.


"Kamu abis dari pesta, Neng?" tegur Elis sambil memegang gaun mahal yang dikenakan putrinya. Uang dari mana putrinya bisa membeli gaun yang bagus itu, harganya pasti mahal, pikir Elis.


"Dara abis ke pesta ulang tahun temen," jawabnya tidak ingin membuat orang tuanya semakin curiga.


"Oh gitu. Baju kamu bagus banget," kata Elis.


"Dikasih sama temen, Mah."


"Bageur pisan temen kamu ih. Mahal pasti ini," senyum Elis. Papahnya hanya memerhatikan raut putrinya yang terlihat gugup.


"Papah dan Mamah udah nunggu kamu lama," sambung papahnya yang bernama Damian. Papah Dara pria keturunan alias blasteran. Sedangkan mamahnya asli Bandung, Sunda.


"Maaf ya Pah. Dara nggak tahu kalau mamah dan papah mau datang." Sikap Dara terlihat canggung, seperti linglung, membuat kedua orang tuanya merasa aneh.


"Neng, kamu nggak apa-apa kan?" tegur Elis.


"Buka pintunya dulu," ucap Damian.


Dara tersentak langsung mengambil kunci dari tasnya, lalu membuka pintu kamarnya.


"Mamah sama Papah duduk dulu ya. Dara mau ganti baju."


"Iyah. Kamu ganti baju dulu sok." Elis mengangguk sambil duduk di kursi ruangan kost dara yang kecil itu.


"Kamu tinggal di kost kecil gini. Semenjak nggak ada teteh kamu. Seharusnya kamu pindah lagi aja ke Bandung, Neng."


"Iya, kamu perempuan tinggal sendiri. Terus pacar kamu siapa itu namanya?" ucap Damian ketika lupa nama pacar Dara yang sering putrinya itu ceritakan di telepon.


"Guntur, Pah." Elis mengingatkan.


Dara yang sedang mengganti pakaian di kamar terhenyak saat nama Guntur di sebut.


"Nah itu tuh. Apa Guntur nggak sering main?" tanya Damian. Elis mengangkat bahunya. "Teuing atuh. Tapi anak kita mah kan baik, cantik, nggak mungkin macam-macam. Iya kan Neng?" sahut Elis.


Dara semakin gemetar sambil mengusap perutnya. Apa dia akan di buang oleh orang tuanya kalau sampai orang tuanya mengetahui bahwa dia hamil?


"Dara, tos acan ganti bajuna?" tegur Elis dari luar pintu kamar anaknya.

__ADS_1


"Ya, Mah." Dara keluar dari kamarnya dengan wajah pucat.


"Kamu sakit hei?" tanya Elis sambil menyentuh pipi Dara. "Pucat gini."


Dara menggeleng. "Enggak kok. Dara sehat." Sebisa mungkin dia tersenyum meski terlihat memaksakan. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.


"Sini duduk dekat Papa." Damian meminta putrinya untuk duduk di sisinya. Dara pun duduk di sana. "Iya, Pah."


Elis tersenyum sambil mengusap tangan Dara. "Teh Nessy kan udah nggak nemenin kamu lagi setelah nikah. Kamu pulang ya ke Bandung? Dulu mamah dan papah izinin kamu ambil beasiswa di Jakarta dan tinggal di kost begini karena ada teh Nessy, sepupu kamu itu. Tapi sekarang dia udah dibawa suaminya keluar negeri. Ari kamu ngapain sendirian? Papah mamah cemas."


"Benar. Papah juga cemas. Dulu juga waktu ada Nessy kan dia jarang pulang ke kost. Itu pikiran papah melayang ke mana-mana. Takut kamu terkena pergaulan bebas, Dara." Damian ikut berkomentar.


Kali ini dipastikan kedua orang tuanya dapat merasakan juga melihat keanehan dalam diri Dara. Wajah pucat dan berkeringat, tangan gemetar dan terus membisu menandakan Dara gugup dan tak tahu harus mengatakan apa.


"Neng. Kenapa?" tegur Elis.


Saat itu Elis melihat kening anaknya, entah kenapa dia merasa aura putrinya itu berbeda. Dia juga merasa putrinya itu lebih berisi dari pada saat sebelumnya dia melihat Dara sewaktu pulang ke Bandung lima bulan lalu. Semoga saja itu karena anaknya sehat, dan gemukan.


"Kamu sakit?" tanya Damian.


Dara memegang perutnya, dia tiba-tiba merasa mual. Kenapa di saat seperti ini dia malah mual. Sebisa mungkin Dara tidak ingin kedua orang tuanya melihat itu. Tapi Elis adalah bidan, dia tidak semudah itu bisa di tutup-tutupi.


"Dara, kamu mual ya?" tanya Elis dengan tatapan menelisik. "Masuk angin? Mau mamah kerokin?"


Dara sudah tidak tahan lagi, dia langsung berlari ke kamar mandi. Memang sudah biasa di malam hari seperti ini Dara akan mengalami mual muntah. Juga saat pagi hari mualnya akan semakin bertambah parah.


Elis makin curiga. Tapi dia tidak mau kalau kecurigaannya itu benar terjadi pada putrinya. Bagaimana pun Elis percaya putrinya adalah anak baik-baik.


"Pah. Mamah liat si Eneng dulu ya."


"Iya, Mah."


Elis menyusul Dara ke kamar mandi. Setelah puas memuntahkan cairan dari dalam perutnya. Dara menangis sambil menghadap ke cermin. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang. Sampai kapan dia harus bungkam tentang keadaannya.


"Dara. Kamu kenapa?" tegur Elis sontak membuat Dara terkejut.


"Mamah."


Elis menatap putrinya yang menangis sambil memegangi perutnya. "Neng. Kamu?"


Dara semakin gugup dan bingung. Apakah mamahnya sudah tahu?


"Neng, kamu nggak lagi?" Elis menutupi mulutnya, mendadak tubuhnya melemas.

__ADS_1


"Kamu hamil?" teriak Elis membuat Damian terkejut dan langsung menghampiri anak dan istrinya.


Dara memaku di posisinya dengan tatapan kosong. Hancur, hidupnya sudah selesai.


__ADS_2