Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)

Mantan Suami Terbaik ( TAMAT)
43 - Berbicara : Aku Janji Ini Terakhir Kalinya


__ADS_3

"Lang, gue boleh kan peluk lo. Kita bakalan jarang ketemu lagi, entah kapan gue balik dan bisa ngobrol kayak gini sama lo." Alexa tidak kuasa menahan air matanya. Melihatnya membuat Elang jadi tidak tega juga.


Elang pun melebarkan bahunya. "Sini biar gue peluk."


Alexa segera melangkah menuju ke pelukan Elang. Tangisnya pecah entah karena dia akan meninggalkan Elang, atau karena sebenarnya dia merasa patah hati untuk ke sekian kalinya. "Gue bahagia bisa punya sahabat kayak lo."


"Gue juga, Lex."


Mereka sedang berpelukan tepat di sebuah cafe dan saat itu kebetulan Dara sedang pulang bekerja melewati cafe tersebut. Itu karena Alexa sedang ada di Bandung, karena itu dia mengajak Elang bertemu di Bandung juga. Dara memperhatikan seksama kedua orang yang sedang berpelukan itu. Apakah dia salah melihat?


"Bukannya itu kak Elang? Wanita itu? Dia kayaknya aku pernah liat deh, tapi dimana ya?"


Sambil mengingat lagi dan akhirnya Dara sudah ingat siapa wanita itu. "Dia yang namanya Alexa."


Matanya memerah dan tubuhnya mendadak lemas. Elang tersenyum sambil mengusap punggung wanita itu. Dara berpikir mungkin saja keduanya sudah berpacaran. "Rupanya begitu, jadi baguslah kalau kak Elang sudah mendapatkan wanita yang cocok dan sebanding."


Meskipun dia harus merelakan apa yang sedang dilihatnya itu. Tapi hatinya tidak dapat berbohong, dia merasakan sakit yang luar biasa. Padahal dia sendiri yang berusaha agar Elang tidak lagi berharap padanya, lalu kenapa sekarang dia malah merasa sedih?


"Udahlah, Dara. Buat apa juga kamu marah."


Elang tidak sengaja melihat seorang wanita yang berdiri di luar jendela. "Dara?"

__ADS_1


Alexa langsung melepaskan pelukannya. "Dimana, Lang?" tanyanya saat Elang menyebutkan nama Dara barusan.


"Sorry, Lex. Gue harus kejar Dara ya."


"Iya, lo kejar deh." Alexa mengangguk cepat.


Tanpa membuang waktu, Elang mengejar Dara yang sudah berlalu menjauh dari pandangannya. Dengan napas yang terengah-engah, Elang mengejar Dara, tapi kemana wanita itu?


"Dara, kamu kok hilang sih." Elang mengusap wajahnya sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan.


Saat dia sedang mengedarkan pandangan mencari-cari keberadaan Dara. Akhirnya pandangannya tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk di depan toko bunga. Dia adalah Dara, sepertinya wanita itu sedang bersedih. Elang makin cemas dan langsung berlari menghampiri wanita itu.


"Dara?"


"Kamu kenapa? Kok, kamu kelihatan sedih?"


Dara menggeleng cepat. "Enggak, aku cuma lagi istirahat sambil nunggu angkot, aku mau pulang."


"Dara, bisa kita bicara? Aku mohon, ini penting banget."


Dara langsung beranjak dari duduknya. "Nggak ada yang perlu di bicarakan, Kak."

__ADS_1


"Please, kamu jangan gini sama aku, Dara. Aku beneran nggak bisa lihat kamu terus mendiamkan aku seperti ini." Elang terus memohon pada Dara, berharap Dara mau luluh kali ini saja.


"Sudahlah, Kak. Bukannya kamu udah bahagia dengan wanita pilihan kamu? Keberadaan ku hanya akan membuat dia salah paham nantinya," kata Dara sambil berusaha menyembunyikan wajah sedihnya.


"Wanita pilihanku? Siapa?"


"Kenapa Kakak malah bertanya sama aku? Bukannya Kakak yang seharusnya lebih tahu," jawab Dara.


"Aku cuma memilih kamu, nggak ada wanita lain."


"Bohong. Tadi aku lihat Kakak berpelukan dengan dia, sudahlah Kak, aku bahagia kok kalau Kakak dapat wanita yang sepadan dengan Kakak."


"Ya Tuhan, maksud kamu Alexa?"


Dara tidak menjawab dia hanya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Elang.


"Dara! Tunggu! Kamu salah paham, tadi Alexa hanya berpamitan mau pergi ke England. Dia akan kuliah di sana, dan itu pelukan persahabatan aja, kamu udah salah menduga."


Mendengar ucapan Elang, reflek Dara menghentikan kakinya. Jadi, dia sudah salah mengira? Lagipula, kenapa dia harus marah sih, seperti orang yang cemburu saja, batinnya.


"Oh. Ya udah, tetap aja aku nggak perlu membicarakan apapun dengan Kakak." Dara tetap saja bersikeras dengan sikapnya.

__ADS_1


"Aku janji ini terakhir kali aku ajak kamu ngomong. Tolong dengerin aku kali ini aja, kalau kamu tetap nggak mau menerima aku, baiklah Dara, aku akan menjauhi kamu. Tapi aku mohon kamu mau ya, ngomong sama aku sekali ini aja."


Hatinya tetap saja terluka. Berulang kali Elang meminta untuk bicara, dan setiap itu juga Dara selalu merasa bersedih. Apa yang dapat mereka bicarakan berdua? Tetap saja dia tidak mungkin lagi bersama dengan Elang? Tapi hatinya? Dara tidak dapat berbohong, dia juga masih sangat mencintai Elang.


__ADS_2